Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 72


فَاَنۡجَیۡنٰہُ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ بِرَحۡمَۃٍ مِّنَّا وَ قَطَعۡنَا دَابِرَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ مَا کَانُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ
Faanjainaahu waal-ladziina ma’ahu birahmatin minnaa waqatha’naa daabiral-ladziina kadz-dzabuu biaayaatinaa wamaa kaanuu mu’miniin(a);

Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.
―QS. 7:72
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
7:72, 7 72, 7-72, Al A’raaf 72, AlAraaf 72, Al Araf 72, Al-A’raf 72
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 72. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah kaum Hud menentang dan menuntut azab yang dijanjikan, maka datanglah azab Allah menimpa mereka dan Allah menyelamatakan Hud a.s.
beserta orang-orang yang beriman daripada azab tersebut.

Azab itu berupa angin yang sangat dahsyat yang menghabiskan riwayat kaum Hud disebabkan mereka mendustakan kebesaran Allah bahkan mengingkari utusan-utusan-Nya.
Mereka dilenyapkan dari muka bumi ini dengan angin yang menghancurkan segala sesuatu sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.
Demikianlah Kami memberikan balasan kepada kaum yang berdosa.

(Al Ahqaf: 25)

Al A'raaf (7) ayat 72 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 72 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 72 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu Kami selamatkan Hud dan pengikut-pengikutnya yang beriman dengan kasih sayang Kami.
Dan Kami turunkan kepada orang-orang kafir sesuatu yang memusnahkan mereka sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun.
Mereka tidak termasuk kelompok orang-orang yang beriman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Kami selamatkan dia) Hud (beserta orang-orang yang bersamanya) dari kalangan orang-orang yang beriman (dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas) kaumnya itu (orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami) Kami habiskan mereka dengan akar-akarnya (dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman) diathafkan kepada lafal kadzdzabuu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka terjadilah siksa Allah dengan dihembuskannya angin yang sangat kencang kepada mereka.
Lalu Allah menyelamatkan Nuh bersama orang-orang yang beriman dengan rahmat dan keagungan-Nya.
Kemudian Allah membinasakan seluruh orang-orang kafir dari kaumnya dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.
Dan mereka tidak termasuk orang-orang yang beriman karena mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak beramal shalih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan gambaran tentang pembinasaan mereka di berbagai ayat dari Al-Qur’an, yang intinya menyebutkan bahwa Allah mengirimkan kepada mereka angin besar yang sangat dingin.
Tidak ada sesuatu pun yang diterjang angin ini, melainkan pasti hancur berserakan, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus, maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).
Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.
(Al Haaqqah:6-8)

Setelah mereka membangkang dan durhaka kepada Nabi-Nya, maka Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin.
Angin tersebut dapat menerbangkan seseorang dari mereka, lalu menjatuhkan­nya dengan kepala di bawah sehingga kepalanya hancur dan terpisah dari tubuhnya.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).
(Al Haaqqah:7)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa mereka mendiami negeri Yaman, tepatnya di suatu daerah yang terletak di antara Amman dan Hadramaut.
Tetapi sekalipun demikian, mereka berhasil menyebar ke seluruh penjuru bumi dan dapat mengalahkan penduduknya berkat kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.
Mereka adalah orang-orang yang menyembah berhala, bukan menyembah Allah.
Kemudian Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud ‘alaihis salam yang nasabnya berasal dari kalangan menengah mereka dan berkedudukan’ terhormat di kalangan mereka.

Maka Nabi Hud ‘alaihis salam memerintahkan kepada mereka agar mengesa­kan Allah, jangan menjadikan bersama-Nya tuhan-tuhan selain Dia, dan jangan menganiaya manusia lagi.
Tetapi mereka menolak seruannya, bahkan mendustakannya.
Mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?’

Tetapi ada segolongan orang dari mereka yang mengikuti Nabi Hud ‘alaihis salam, hanya jumlahnya sedikit dan mereka menyembunyikan keimanannya.
Setelah kaum ‘Ad bertambah durhaka terhadap Allah dan mendustakan Nabi-Nya serta banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi, dengan berlaku sewenang-wenang padanya dan meninggalkan jejak-jejak mereka di setiap tanah tinggi tempat-tempat bermainnya tanpa ada gunanya, maka Nabi Hud ‘alaihis salam berkata kepada mereka yang disitir oleh firman-Nya:

Apakah kalian mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kalian membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kalian kekal (di dunia)?
Dan apabila kalian menyiksa, maka kalian menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis.
Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
(Asy Syu’ara:128-131)

Tetapi mereka menjawab, seperti yang disebutkan di dalam ayat-ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Kaum ‘Ad berkata “Hai Hud.
kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.
Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan keburukan kepadamu.” (Huud:53-54)

Yang dimaksud dengan su’ atau keburukan ialah penyakit gila.

Hud menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku.
Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.
Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Huud:54-56)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa setelah mereka membang­kang, tidak mau beriman dan hanya tetap kepada kekufurannya, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun —menurut apa yang didugakan oleh mereka (para perawinya)— sehingga keadaan tersebut membuat mereka benar-benar parah.
Konon di zaman itu apabila orang-orang mengalami musim paceklik yang parah, dan mereka me­mohon kepada Allah agar dibebaskan dari paceklik, maka sesungguhnya mereka hanya mendoa kepada-Nya di tempat suci-Nya, yaitu di tempat bait-Nya.

Tempat tersebut di masa itu telah dikenal, sedangkan di tempat itu terdapat para penghuninya dari golongan amatiq (raksasa).
Mereka adalah keturunan dari ‘Amliq Ibnu Lawuz ibnu Sam ibnu Nuh.
Pemimpin mereka saat itu adalah seorang lelaki yang bernama Mu’awiyah ibnu Bakar.
Sedangkan ibunya berasal dari kaum ‘Ad yang dikenal dengan nama Jahlazah, anak perempuan Al-Khubairi.

Ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, bahwa lalu kaum ‘Ad mengirim­kan suatu delegasi yang jumlahnya kurang lebih tujuh puluh orang menuju tanah suci, untuk meminta istisqa (hujan) di tanah suci buat kaumnya.

Mereka bersua dengan Mu’awiyah ibnu Bakar di luar kota Mekah, lalu mereka tinggal di rumahnya selama satu bulan.
Selama itu mereka mabuk-mabukan dan mendengarkan nyanyian yang didendangkan oleh dua orang penyanyi wanita Mu’awiyah.

Qil berkata, “Saya memilih awan yang hitam ini, karena sesungguh­nya awan hitam ini banyak mengandung air.” Maka dijawablah oleh seruan itu, “Ternyata kamu memilih awan yang mengandung debu yang membinasakan.” Maka tidak ada seorang pun dan tidak ada seorang tua pun dari kaum ‘Ad serta tidak ada seorang anak pun dari mereka melain­kan binasa saat itu, kecuali Bani Wuzyah Al-Muhannada.

Menurut Ibnu Ishaq, Banil Wuzyah adalah suatu kabilah dari kaum ‘Ad yang tinggal di Mekah, maka mereka tidak tertimpa azab yang menimpa kaumnya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Banil Wuzyah adalah orang-orang yang tersisa dari keturunan kaum ‘Ad karena selamat dari azab itu, mereka disebut generasi terakhir dari kaum ‘Ad.

Ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, bahwa Allah lalu mengarak awan hitam itu —menurut kisah mereka— yaitu awan yang dipilih oleh Qil ibnu Anaz.
Di dalam awan itu terkandung azab yang akan membinasakan kaum ‘Ad.
Awan itu muncul dari suatu lembah di tempat mereka yang dikenal dengan nama Lembah Mugis.
Ketika mereka (kaum ‘Ad) melihat awan hitam itu datang bergulung-gulung, mereka merasa gembira dan mengatakan, “Inilah awan yang akan membawa hujan kepada kita.” Tetapi dijawab oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Bukan, bahkan itulah azab yang kalian minta supaya disegerakan.
yaitu angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancur­kan segala sesuatu.
(Al Ahqaaf:24-25)

Yakni yang membinasakan segala sesuatu yang dilewatinya.

Disebutkan bahwa orang yang mula-mula melihatnya dan mengenal bahwa apa yang dikandungnya itu merupakan angin puting beliung, menurut yang dikisahkan para perawinya, ialah seorang wanita ‘Ad yang dikenal dengan sebutan Mumid.

Setelah Mumid melihat dengan jelas apa yang terkandung di dalam awan tersebut, ia menjerit dan pingsan.
Ketika ia sadar, kaumnya ber­tanya, “Hai Mumid, apakah yang telah engkau lihat?”
Mumid menjawab, “Saya melihat angin yang di dalamnya terdapat semisal api digiring oleh banyak kaum laki-laki yang menuntunnya dari depan.”

Maka Allah menimpakan angin itu kepada mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.
(Al Haaqqah:7)

Al-husumah artinya terus-menerus, tiada henti-hentinya.

Maka tidak ada seorang pun dari kaum ‘Ad melainkan binasa.
Sedangkan Nabi Hud ‘alaihis salam menurut kisah yang sampai kepadaku (Ibnu Ishaq) bersama orang-orang yang beriman berlindung di dalam sebuah tempat perlindungan, tidak ada sesuatu pun yang menimpa dia bersama para pengikutnya, melainkan hal-hal yang menyegarkan dan mengenakkan.
Sesungguhnya angin puting beliung itu menimpa perkampungan kaum ‘Ad, lalu mener­bangkannya di antara langit dan bumi, kemudian menghancurkan mereka ke daerah berbatuan.

Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya ini secara panjang lebar hingga selesai, tetapi konteks yang diketengahkannya garib, hanya di dalamnya terkandung banyak faedah yang dapat disimpulkan darinya.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.
(Huud:58)

Memang telah disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya hal yang berdekatan pengertiannya dengan kisah yang diutarakan oleh Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar tadi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, telah menceritakan kepadaku Abul Munzir Salam ibnu Sulaiman An-Nahwi, telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Wail, dari Al-HariS Al-Bakri yang menceritakan bahwa ia berangkat untuk mengadukan perkara kepada Rasulullah ﷺ tentang Al-Ala ibnul Hadrami.
Aku (Al-Haris) melewati Rabzah, ternyata aku bersua dengan seorang nenek tua dari Bani Tamim yang tidak dapat melanjutkan perjalanannya.
Nenek itu berkata, “Hai hamba Allah, sesungguhnya saya mempunyai suatu keperluan dengan Rasulullah, maka sudilah kiranya engkau membawa saya menghadap kepadanya.” Saya membawa nenek itu sampai di Madinah, dan saya menjumpai masjid penuh sesak, lalu saya melihat bendera hitam berkibar dan sahabat Bilal menyandang pedangnya berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ Saya bertanya, “Apakah gerangan yang terjadi dengan orang banyak ini?”
Mereka (yang ditanya) menjawab, “Beliau Saw.
hendak mengirimkan Amr ibnul As (bersama pasukannya) ke suatu daerah.” Maka saya duduk, lalu masuk ke dalam rumahnya atau ke dalam kemahnya dan meminta izin agar diperkenankan masuk, kemudian saya diberi izin untuk masuk menemuinya.
Saya masuk dan mengucapkan salam penghormatan, lalu beliau Saw.
bertanya, “Apakah antara kamu dan Bani Tamim terdapat suatu masalah?”
Saya menjawab, “Ya, dan saya beroleh kemenangan atas mereka.
Kemudian saya bersua dengan seorang nenek tua dari kalangan Bani Tamim yang tidak dapat melanjutkan perjalanannya.
Nenek itu meminta kepada saya untuk membawanya sampai ke hadapanmu, sekarang dia berada di pintu.” Nenek tua itu pun diizinkan masuk.
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika engkau setuju membuat batas antara kami dan Bani Tamim, jadikanlah Dahna sebagai batasannya.” Dengan serta merta si nenek tua itu menjadi panas dan bergejolak, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang hendak dilakukan oleh orang yang meminta kepadamu dengan paksa ini?”
Saya berkata, “Sesungguhnya perumpamaanku sama dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang terdahulu, ‘Orang yang meminta belasungkawa kepadaku ternyata membawa sendiri kematiannya.’ Saya telah membawa nenek ini tanpa menyadari bahwa dia mempunyai rasa permusuhan terhadap diri saya.
Saya berlindung kepada Allah bila diri saya ini seperti delegasi kaum ‘Ad.” Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku, “Apakah yang dimaksud dengan delegasi kaum ‘Ad?”
Padahal Rasulullah ﷺ lebih mengetahui­nya, tetapi hanya meminta ketegasan dariku.
Saya bercerita, bahwa sesungguhnya dahulu kaum ‘Ad mengalami musim paceklik yang sangat parah.
Lalu mereka mengirimkan suatu delegasinya yang dipimpin oleh seseorang dari mereka yang dikenal dengan nama Qil.
Qil bersua dengan Mu’awiyah ibnu Bakar, lalu ia tinggal padanya selama satu bulan, ia menghabiskan hari-harinya dengan minum khamr dan mendengar nyanyian dari dua orang penyanyi.
Setelah satu bulan tinggal, maka Qil berangkat ke Bukit Mahrah, lalu ia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya bukan datang kepada yang sakit, lalu saya mengobatinya, juga bukan kepada tawanan, lalu saya menebusnya.
Ya Allah, siramilahkaum ‘Ad selagi Engkau masih memberi mereka air.” Maka lewatlah kepadanya berbagai kumpulan awan hitam, lalu diserukan kepadanya, “Pilihlah mana yang kamu suka!” Maka Qil mengisyaratkan kepada awan yang paling hitam, lalu diserukan kepadanya, “Ambillah awan yang mengandung debu ini yang tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum ‘Ad.” Al-Haris mengatakan, “Tidak ada yang sampai kepadaku berita yang menyatakan bahwa Allah mengirimkan angin kepada mereka kecuali sekadar apa yang dimasukkan ke dalam cincinku ini (yakni tidak banyak) hingga mereka binasa.” Abu Wail mengatakan bahwa Al-Haris benar.
Sesudah peristiwa itu istilah “Janganlah kamu seperti delegasi kaum ‘Ad” menjadi tenar.
Tersebutlah bahwa lelaki dan wanita itu apabila mengirimkan utusannya (delegasinya) selalu berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu seperti delegasi kaum “Ad.”

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad di dalam kitab musnadnya.
Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Abdu ibnu Humaid, dari Zaid ibnul Hubab dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Salam ibnu Abul Munzir, dari Asim (yaitu Ibnu Bandalah).
Melalui jalur ini pula Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Wail, dari Al-Haris ibnu Hisan Al-Bakri dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Abu Kuraih, dari Zaid ibnu Hubab, tetapi di dalam sanadnya disebutkan dari Al-Haris ibnu Yazid Al-Bakri, lalu ia menceritakannya.
Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Abu Kuraib, dari Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Asim Al-Haris ibnu Hisan, kemudian iamengetengahkannya.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa dia tidak melihat nama Abu Wail dalam salinannya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 72

DAABIR
دَابِر

Lafaz ini adalah ism fai’il dari dabara artinya pengikut, akhir segala sesuatu, yang lalu, asal atau pangkal.

Lafaz ini disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 45;
-Al A’raaf (7), ayat 72;
-Al Anfaal (8), ayat 7;
-Al Hijr (15), ayat 66.

Lafaz daabir dihubungkan dengan lafaz al qath yaitu memotong atau memusnahkan dan al kaafiruunyaitu orang-orang kafir atau al kaadzibuun yaitu pendusta­ pendusta.

Ar Razi berkata,
“Ia bermaksud Allah memusnahkan yang akhir yang tertinggal dari orang kafir.”

Al Isfahani berkata,
Ad daabir bagi yang datang kemudian dan pengikut, baik dari segi tempat, zaman atau tingkatan sehingga maksud ayat di atas adalah “Allah memusnahkan generasi terakhir mereka dan lainnya sehingga tidak tertinggal seorang pun.”

Al Yazidi berkata,
Daabir bermakna yang akhir dari mereka.”

Dalam Tafsfr Al Maraghi, daabiral qaum bermakna yang akhir dari mereka yang berada di belakang mereka qatha’a daabirahum ialah mereka musnah dan hancur dengan azab yang menimpa mereka sampai ke generasi terakhir mereka dan tidak ada yang tertinggal.

Sayyid Qutb berkata,
Daabiral­ qaum adalah orang yang terakhir dari mereka yang datang kemudian dan apabila Allah memusnahkan generasi terakhir mereka maka yang awal dari mereka tentu lebih utama yaitu orang yang melakukan kezaliman atau mensyekutukan Allah karena kebanyakkan ungkapan di dalam Al Qur’an lafaz kezaliman bermakna kemusyrikan dan orang musyrik bermakna orang yang zalim

Kesimpulannya, lafaz daabir di dalam Al­ Quran bermakna generasi yang ter­akhir dari satu kaum.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:218

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 72 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 72



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (11 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku