Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 46


وَ بَیۡنَہُمَا حِجَابٌ ۚ وَ عَلَی الۡاَعۡرَافِ رِجَالٌ یَّعۡرِفُوۡنَ کُلًّۢا بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ وَ نَادَوۡا اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ اَنۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ ۟ لَمۡ یَدۡخُلُوۡہَا وَ ہُمۡ یَطۡمَعُوۡنَ
Wabainahumaa hijaabun wa’alal a’raafi rijaalun ya’rifuuna kulaa bisiimaahum wanaadau ashhaabal jannati an salaamun ‘alaikum lam yadkhuluuhaa wahum yathma’uun(a);

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.
Dan mereka menyeru penduduk surga:
“Salaamun ‘alaikum”.
Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
―QS. 7:46
Topik ▪ Azab orang kafir
7:46, 7 46, 7-46, Al A’raaf 46, AlAraaf 46, Al Araf 46, Al-A’raf 46
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 46. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa antara penghuni surga dan penghuni neraka ada batas yang sangat kokoh sekali.
Batas itu berupa pagar tembok yang tidak memungkinkan masing-masing mereka untuk membuat jalan keluar dan untuk berpindah tempat.
Di atas pagar tembok itu ada suatu tempat yang tertinggi, tempat orang-orang yang belum dimasukkan ke dalam surga.
Mereka bertahan di sana menunggu keputusan dari Allah.
Dari tempat yang tinggi itu mereka bisa melihat penghuni surga dan bisa pula melihat penghuni neraka.
Kedua penghuni itu kenal dengan tanda yang ada pada mereka masing-masing.
Seperti mengenal mukanya yang telah disifatkan Allah dalam Alquran.
Firman Allah:

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira.
Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu.
Dan ditutup lagi oleh kegelapan.
Mereka itulah orang-orang yang kafir lagi durhaka.

(Q.S Abasa: 38-42)

Mereka yang tinggal di tempat yang tinggi di atas pagar batas itu mempunyai kebaikan yang seimbang dengan kejahatannya, belum bisa dimasukkan ke dalam surga tetapi tidak menjadi penghuni neraka.
Mereka sementara ditempatkan di sana sambil menunggu rahmat dan karunia Allah untuk dapat masuk ke dalam surga.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Diletakkan timbangan pada hari kiamat lalu ditimbanglah semua kebaikan dan kejahatan.
Maka orang-orang yang lebih berat timbangan kebaikannya daripada timbangan kejahatannnya meskipun sebesar biji sawi/atom dia akan masuk surga.
Dan orang yang lebih berat timbangan kejahatannya daripada timbangan kebaikannya meskipun sebesar biji sawi/atom ia akan masuk neraka.
Dikatakan kepada Rasulullah, "Bagaimana orang yang sama timbangan kebaikannya dengan timbangan kejahatannya?"
Rasulullah menjawab: "Mereka itulah penghuni A`raf, mereka itu belum memasuki surga tetapi mereka sangat ingin memasukinya."
(H.R Ibnu Jarir dari Ibnu Mas'ud)

Sesudah itu Ibnu Masud berkata: "Sesungguhnya timbangan itu bisa berat dan bisa ringan oleh sebuah biji yang kecil saja.
Siapa-siapa yang timbangan kebaikan dan kejahatannya sama-sama berat, mereka penghuni A'raf, mereka berdiri di atas jembatan.

Kemudian mereka dipalingkan melihat penghuni surga dan neraka.
Apabila mereka melihat penghuni surga, mereka mengucapkan: "Keselamatan dan kesejahteraan bagimu." Dan apabila dipalingkan pemandangan mereka ke kiri, mereka melihat penghuni neraka seraya berkata: "Ya tuhan kami janganlah jadikan kami setempat dengan orang-orang zalim." Mereka sama-sama berlindung diri kepada Allah dari tempat mereka.
Berkata Ibnu Masud: "Ada orang yang mempunyai kebaikan, mereka diberi cahaya yang menerangi bagian depan dan kanan mereka.
Tiap-tiap orang dan tiap-tiap umat diberi cahaya setibanya mereka di atas jembatan, Allah padamkan cahaya orang-orang munafik laki-laki dan munafik perempuan.
Tatkala penghuni surga melihat apa yang di hadapan orang-orang munafik, berkata: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami." Adapun penghuni A'raf, cahaya mereka ada di tangan mereka, tidak akan tanggal-tanggal.
Di waktu itu berfirman Allah subhanahu wa ta'ala:

Mereka belum lagi memasuki sedang mereka ingin segera (memasukinya).
(Q.S Al A'raf: 46)

Inilah yang dimaksud dalam ayat ini, bahwa penghuni A'raf itu menyeru penghuni surga mengucapkan selamat sejahtera, karena kerinduan mereka atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada penghuni surga.
Mereka belum juga dapat masuk ke dalamnya, sedang hati mereka sudah sangat rindu untuk masuk.

Al A'raaf (7) ayat 46 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat pembatas.
Tempat tertinggi dari pembatas itu, yang disebut a'raf, telah ditempati lebih dulu oleh orang-orang Mukmin yang terpilih dan terhormat.
Dari situ mereka bisa melihat keadaan seluruh makhluk.
Mereka juga mengetahui orang-orang yang berbahagia dan sengsara melalui tanda-tanda bekas ketaatan dan kemaksiatan.
Kemudian mereka menyeru calon-calon penghuni surga yang selalu berharap untuk bisa masuk.
Dari a'raf itu mereka memberi kabar gembira berupa keselamatan, ketenangan dan surga yang akan dimasuki oleh mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan di antara keduanya) yaitu antara para penghuni surga dan para penghuni neraka (ada batas) penghalang, menurut suatu pendapat batas itu berupa tembok vang diberi nama Al-A'raaf (di atas Al-A`raaf itu) yakni nama tembok surga (ada orang-orang) yang amat tampan dan amat buruk rupanya, rupa mereka sama, artinya yang cantik sama cantiknya dan yang buruk sama pula buruknya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis (yang mengenal masing-masing dari kedua golongan itu) penduduk surga dan neraka (dengan tanda-tanda mereka) ciri-ciri khas mereka, yakni berbadan putih bagi orang-orang yang beriman dan berbadan hitam bagi orang-orang kafir, oleh sebab orang-orang yang di atas Al-A`raaf itu dapat langsung melihat kedua golongan itu mengingat mereka berada di tempat yang tinggi.
(Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu.') Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, ('Mereka belum lagi memasukinya) yakni para penghuni Al-A'raaf itu ke surga (sedangkan mereka ingin segera')" memasukinya.
Hasan mengatakan, "Mereka tidak terdorong oleh rasa keinginan yang sangat melainkan karena memang Allah telah menghendakinya untuk mereka." Dan Imam Hakim telah meriwayatkan dari Hudzaifah yang telah mengatakan, "Tatkala calon penghuni surga itu dalam keadaan demikian berada di Al-A'raaf, kemudian Tuhanmu muncul di hadapan mereka seraya berfirman, 'Masuklah kamu sekalian ke dalam surga, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu.'"

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan di antara penghuni surga dan neraka terdapat sekat penghalang besar yang disebut al-A raf (tempat-tempat yang tinggi).
Di atas sekat ini ada orang-orang yang dapat melihat keadaan para penghuni surga maupun neraka dengan tanda-tanda yang ada pada mereka, seperti terangnya wajah-wajah para penghuni surga dan gelapnya wajah-wajah para penghuni neraka.
Ashhaabul A raaf (orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tinggi) itu adalah mereka yang kebaikan dan kejahatannya sebanding dan mereka (sedang) memohon rahmat Allah.
Orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tinggi menyapa para penghuni surga dengan ucapan salam dengan mengatakan :
Semoga keselamatan atas kalian, sedangkan mereka belum bisa memasukinya dan mereka sangat berharap dapat memasukinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah menyebutkan dialog (pembicaraan) ahli surga dengan ahli neraka, lalu Allah mengingatkan bahwa di antara surga dan neraka terdapat batas, yaitu tembok tinggi yang menghalang-halangi ahli neraka untuk sampai ke surga.

Menurut Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan hijab dalam ayat ini ialah tembok tinggi yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya:

Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu.
Di sebelah dalamnya ada rahmat, dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
(Al Hadiid:13)

Inilah A'raf yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya:

...dan di atas A'raf itu ada orang-orang.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan berikut sanadnya dari As-Saddi, bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas.
(Al A'raf:46) Yang dimaksud dengan hijab ialah tembok tinggi, yang juga disebut A'raf.

Mujahid mengatakan bahwa A'raf ialah batas yang menghalang-halangi antara surga dan neraka, yaitu berupa tembok tinggi yang mempunyai sebuah pintu.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa الْأَعْرَافُ adalah bentuk jamak dari' عُرْف yang artinya setiap tanah yang tinggi, menurut orang Arab disebut demikian.
Sesungguhnya jengger ayam jago dinamakan عُرْفًا karena ia berada di tempat yang paling tinggi.

Telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki', telah mence­ritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Abdullah ibnu Abu Yazid yang telah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa A'raf ialah sesuatu yang tinggi.

As-Sauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa A'raf ialah sebuah tembok yang paling tinggi, sama seperti jenggernya ayam jago.

Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas, A'raf adalah bentuk jamak, artinya sebuah tebing yang tinggi terletak di antara surga dan neraka.
Di tempat itu disekap sejumlah manusia dari kalangan orang-orang yang berdosa.

Menurut riwayat yang lainnya lagi dari Ibnu Abbas, A'raf ialah sebuah tembok yang tinggi antara surga dan neraka.
Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama tafsir.

As-Saddi mengatakan, dinamakan A'raf karena para penduduknya mengenal semua orang.

Ungkapan ulama tafsir berbeda-beda sehubungan dengan penduduk A'raf ini, siapakah mereka itu sebenarnya?
Tetapi semua pendapat saling berdekatan pengertiannya yang bermuara kepada suatu pendapat, yaitu mereka adalah kaum-kaum yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama.
Demikianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Huzaifah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf.

Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur lain:

dari Sa'id ibnu Salamah, dari Abul Hisam, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Muzayyanah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai orang yang sama amal kebaikan dan amal keburukannya, juga mengenai para penghuni A'raf.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya mereka adalah suatu kaum yang berangkat (berperang di jalan Allah) dalam keadaan durhaka karena tanpa seizin orang tua-orang tua mereka, lalu mereka gugur di jalan Allah.

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Syibl, dari Yahya ibnu Abdur Rahman Al-Muzani, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai para penghuni A'raf.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Mereka adalah orang-orang yang gugur di jalan Allah dalam keadaan durhaka terhadap orang tua-orang tua mereka.
Maka mereka tidak dapat masuk surga karena telah durhaka terhadap orang tua-orang tua mereka, dan mereka tidak dapat masuk neraka karena mereka telah gugur dalam membela jalan Allah.

Ibnu Murdawaih, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Ma'syar dengan lafaz yang sama.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara marfu' melalui hadis Abu Sa'id Al-Khudri dan Ibnu Abbas.
Hanya Allah yang lebih mengetahui kesahihan hadis-hadis marfu ini.
Tetapi yang lebih jelas semuanya itu berpredikat mauquf di dalamnya terkandung dalil mengenai apa yang telah kami sebutkan di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Asy-Sya'bi, dari Huzaifah, bahwa ia pernah ditanya mengenai penghuni A'raf.
Maka ia menjawab bahwa mereka adalah kaum-kaum yang sama kebaikan dan keburukannya, sehingga amal keburukannya mencegahnya untuk masuk surga, sedangkan amal kebaikannya menahannya hingga tidak masuk neraka.
Huzaifah me­lanjutkan kisahnya, bahwa karena itulah mereka diberhentikan di atas tembok yang tinggi itu untuk menunggu apa yang diputuskan oleh Allah kepada mereka.

Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur lain dengan keterangan yang lebih rinci daripada ini.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abu Ishaq yang mengatakan bahwa Asy-Sya'bi pernah menceritakan, "Abdul Humaid ibnu Abdur Rahman mengirimkan utusannya kepadaku, sedangkan saat itu di sisinya terdapat Abuz Zanad (yakni Abdullah ibnu Zakwan, maula orang-orang Quraisy).
Tiba-tiba keduanya mem­bicarakan suatu pembicaraan mengenai penghuni A'raf tidak seperti apa yang disebutkan.
Maka saya berkata kepada keduanya, 'Jika kamu berdua suka, maka saya akan menceritakan kepada kalian mengenai apa yang pernah diceritakan oleh Huzaifah.' Keduanya menjawab, 'Ceritakanlah.' Saya mengatakan bahwa sesungguhnya Huzaifah pernah menceritakan tentang penghuni A'raf, Huzaifah mengatakan, 'Mereka adalah suatu kaum yang diselamatkan oleh amal kebaikannya dari neraka, tetapi dihalang-halangi masuk surga oleh amal keburukannya.' Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu ' (Al A'raf:47) Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tuhanmu menjenguk mereka dan berfirman kepada mereka, 'Pergilah kalian dan masuklah kalian ke dalam surga, karena sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan kepada kalian'."

Abdullah ibnul Mubarak meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Huzali yang mengatakan bahwa Sa'id ibnu Jubair pernah menceritakan hal tersebut dari Ibnu Mas'ud.
Ibnu Mas'ud mengatakan, "Kelak di hari kiamat manusia dihisab, maka barang siapa yang amal kebaikannya lebih banyak satu tingkatan daripada amal keburukannya, maka ia masuk surga.
Barang siapa yang amal keburukannya lebih banyak satu tingkat daripada amal kebaikannya, maka ia masuk neraka." Kemudian Ibnu Mas'ud membacakan firman-Nya: Barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya.
((Al Mu'minun:102), hingga akhir ayat berikutnya.
Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa timbangan amal dapat menjadi berat dan ringan hanya dengan sebiji buah sawi.
Ibnu Mas'ud mengatakan pula, "Barang siapa yang amal kebaikannya sama dengan amal keburukannya, maka dia termasuk penghuni A'raf." Para penghuni A'raf diberhentikan di atas sirat, karena itu mereka mengetahui ahli surga dan ahli neraka.
Apabila mereka melihat kepada ahli surga, maka mereka mengatakan, "Salamun 'alaikum" Apabila mereka menolehkan pandangan mereka ke arah kiri mereka, maka mereka melihat ahli neraka, lalu mereka mengatakan: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim.
(Al A'raf:47) Mereka meminta perlindungan kepada Allah agar jangan ditempatkan bersama ahli neraka.
Ibnu Mas'ud mengatakan, "Adapun orang-orang yang mempunyai amal kebaikan, mereka diberi nur yang dengannya mereka dapat berjalan, nur itu menyinari bagian depan dan sebelah kanan mereka.
Pada hari itu setiap hamba diberi nur, demikian pula setiap umat.
Tetapi apabila mereka sampai di sirat, maka Allah mencabut nur setiap orang munafik laki-laki dan perempuan.
Ketika ahli surga melihat bahwa mereka tidak bersua dengan orang-orang munafik, maka mereka berkata: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.
(At Tahriim:8) Adapun penghuni A'raf, nur (cahaya) mereka tidak dicabut dari mereka dan masih tetap berada di hadapan mereka.
Maka di tempat itulah Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan keadaannya melalui firman-Nya: Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
(Al A'raf:46) Mereka hanya mampu berkeinginan untuk memasukinya.
Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya seorang hamba apabila mengerjakan suatu amal kebaikan, dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan.
Apabila ia berbuat suatu keburukan, maka tidak dicatatkan melainkan hanya dosa satu keburukan.
Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan, "Binasalah orang yang satuannya (amal keburukannya) mengalah­kan puluhannya (amal kebaikannya)." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Abdullah ibnul Haris, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa A'raf adalah tembok yang terdapat di antara surga dan neraka.
Para penghuni A'raf berada di tembok tersebut hingga manakala Allah memulai memaafkan mereka, maka Allah membawa mereka ke sebuah sungai yang dinamakan Nahrul Hayat (Sungai Kehidupan).
Kedua sisi sungai itu terbuat dari batangan emas yang dihiasi dengan mutiara-mutiara, sedangkan tanahnya adalah minyak kesturi.
Lalu mereka dilemparkan ke dalamnya hingga warna tubuh mereka menjadi bagus dan pada leher mereka terdapat tahi lalat (tanda) putih yang menjadi pengenal mereka.
Manakala warna tubuh mereka telah bagus, lalu mereka dihadapkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Maka Tuhan berfirman, "Harap­kanlah sesuka hati kalian!" Maka mereka pun berharap, hingga setelah harapan (cita-cita) mereka habis.
Tuhan berfirman kepada mereka, "Bagi kalian semua apa yang kalian harapkan (menjadi kenyataan) dan hal yang semisal sebanyak tujuh puluh kali lipat." Mereka masuk ke dalam surga, sedangkan pada leher mereka terdapat tanda putih yang menjadi pengenal mereka, mereka dinamakan orang-orang miskin ahli surga.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Yahya ibnul Mugirah, dari Jarir dengan sanad yang sama.
Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Mujahid dan dari Abdullah ibnul Haris.
Disebutkan bahwa asar ini adalah perkataan Ibnu Abbas (yakni mauquf), dan inilah yang lebih sahih.
Hal yang sama diriwayatkan dari Mujahid dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Sa'id ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepadaku Jarir, dari Imarah ibnul Qa'qa', dari Abu Zar'ah, dari Amr ibnu Jarir yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai penghuni A'raf.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling akhir mendapat keputusan perkaranya di antara sesama mereka.
Apabila Tuhan semesta alam telah selesai dari melakukan keputusan di antara sesama hamba-Nya, maka Allah berfirman, "Kalian adalah suatu kaum yang dikeluarkan dari neraka berkat amal-amal kebaikan kalian, tetapi kalian masih belum dapat masuk surga.
Kalian sekarang adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh-Ku (dari neraka), maka bermain-mainlah di dalam surga sekehendak kalian.

Hadis ini mursal lagi hasan.
Menurut suatu pendapat, mereka adalah anak-anak zina.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Qurtubi.

Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam biografi Al-Walid ibnu Musa, dari Syaibah ibnu Uzman, dari Urwah ibnu Ruwayyim, dari Al-Hasan, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi ﷺ,

bahwa jin yang mukmin ada yang beroleh pahala, ada pula yang beroleh siksaan.
Maka kami bertanya kepadanya tentang pahala kaum jin dan kaum yang beriman dari kalangan mereka.
Rasulullah ﷺ menjawab, "Mereka berada di A'raf dan tidak dikumpulkan di dalam surga bersama-sama umatku." Kemudian kami bertanya kepada beliau tentang A'raf, maka beliau ﷺ menjawab, "A'raf adalah tembok surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan dipenuhi oleh pohon-pohon yang berbuah." Imam Baihaqi meriwayatkannya dari Ibnu Bisyran, dari Ali ibnu Muhammad Al-Masri, dari Yusuf ibnu Yazid, dari Al-Walid ibnu Musa dengan sanad yang sama.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Khasif, dari Mujahid, bahwa penghuni A'raf adalah kaum yang saleh dan ulama fiqih.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah.
dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Mijlaz sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.
(Al A'raf:46) Abu Mijlaz mengatakan bahwa mereka adalah sejumlah malaikat yang mengenal semua ahli surga dan ahli neraka.
Dan mereka menyeru penduduk surga, "Salamun 'alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.” Dan orang-orang yang di atas A’raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya seraya mengatakan, "Harta yang kalian kumpulkan dan apa yang selalu kalian sombongkan itu tidaklah memberi manfaat kepada kalian.” (Orang-orang di sisi A'raf bertanya kepada penghuni neraka), "Itukah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Al A'raf:46-48), Abu Mijlaz mengatakan bahwa ketika ahli surga masuk ke dalam surga, dikatakan: Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadap kalian dan tidak (pula) kalian bersedih hati.
(Al A'raf:49)

Sanad asar ini sahih sampai kepada Abu Mijlaz yang nama aslinya ialah Lahiq ibnu Humaid, salah seorang tabi'in.

Asar ini garib dan merupakan ucapan Abu Mijlaz sendiri, serta bertentangan dengan makna lahiriah konteks ayat.
Pendapat jumhur ulama lebih diprioritaskan daripada perkataan Abu Mijlaz sendiri, karena berdasarkan makna ayat sesuai dengan pendapat yang mereka utarakan.
Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, yaitu sesungguhnya mereka adalah kaum yang saleh lagi ulama fiqih.
Tetapi di dalamnya terkandung garabah pula.

Al-Qurtubi dan lain-lainnya meriwayatkan sehubungan dengan pengertian mereka (ahli A'raf) dua belas pendapat, antara lain ada yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik-baik yang panik dalam menghadapi keadaan yang menakutkan di hari akhirat, dan mereka adalah sejumlah manusia yang melihat-lihat keadaan manusia.
Menurut pendapat yang lainnya mereka (penghuni A'raf) adalah para nabi.
Menurut pendapat yang lainnya lagi mereka adalah para malaikat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa mereka mengenal ahli surga melalui wajahnya yang putih-putih lagi bercahaya, sedangkan ahli neraka melalui wajahnya yang hitam legam.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menempatkan mereka pada kedudukan tersebut agar mereka mengenal orang-orang yang berada di surga dan orang-orang yang berada di neraka.
Agar mereka mengenal bahwa semua penghuni neraka itu wajahnya hitam legam, kemudian mereka meminta perlindungan kepada Allah agar Dia jangan menempatkan mereka bersama-sama orang-orang yang zalim.
Tetapi dalam waktu yang sama mereka pun mengucapkan salam penghormatan kepada ahli surga.
Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
Tetapi mereka akan segera memasukinya, insya Allah.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak As-Saddi, Al-Hasan, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.

Ma'mar meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa ia pernah membaca firman-Nya berikut:

Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).

Kemudian Al-Hasan berkata, "Demi Allah, tidak sekali-kali keinginan itu timbul dalam hati mereka melainkan karena kemuliaan yang dikehendaki oleh Allah buat mereka."

Qatadah mengatakan bahwa Allah telah menceritakan kepada kalian mengenai kedudukan mereka yang membuat mereka mempunyai keinginan tersebut.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 46

HIJAAB
حِجَاب

Lafaz hijaab dalam bahasa Arab berarti pembatas yang menghalangi, baik pembatas itu hissi (dapat dicapai oleh pancaindera) maupun maknawi (tidak dapat dicapai oleh pancaindera).

Di dalam Al Qur'an, lafaz hijaab disebut sebanyak tujuh kali yaitu dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 46;
-Al Israa (17), ayat 45;
-Maryam (19), ayat 17;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Shad (38), ayat 32;
-Fushshilat (41), ayat 5;
-Asy Syuara (42), ayat 51.

Sebahagian ayat Al Qur'an di atas menggunakan hijaabun untuk menunjukkan pembatas yang berbentuk hissi (dapat dicapai oleh panca indera) yaitu dalam surah:
-Maryam (19), ayat 17;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Shad (38), ayat 32.

Dalam surah Maryam (19), ayat 17 diceritakan ketika Maryam mengandung, dia menjauhkan diri dan menyendiri dari kaumnya dan pergi ke suatu tempat di sebelah timur Baitul Muqaddis bagi beribadah.

Diceritakan juga Maryam duduk di atas dataran yang tinggi untuk bersuci dan berlindung di balik hijab berupa dinding atau gunung (sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn Abbas) atau di balik kain.

Imam Asy Syaukani juga menegaskan, Maryam membuat tabir yang dapat menghalangnya dari pandangan kaumnya supaya mereka tidak dapat melihatnya ketika dia beribadah atau bersuci.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 53, Allah menerangkan adab bermu'amalah dengan Rasulullah dan isteri-isteri beliau yang perlu dilakukan oleh para sahabat. Diantaranya adalah apabila para sahabat meminta suatu keperluan kepada isteri- isteri nabi, mereka tidak boleh melihat isteri-isteri nabi dan hendaklah memintanya dari balik tabir karena cara yang demikian itu lebih menjaga kesucian hati para sahabat dan juga hati isteri-isteri nabi.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 32 diceritakan Nabi Sulaiman menyukai kudanya sehingga beliau lalai mengingat Allah sehingga matahari tidak terlihat oleh mata karena hilang di balik hijab.

Qatadah dan Ka'ab menyatakan yang dimaksudkan hijab di sini adalah gunung hijau yaitu Gunung Qaf selain daripada itu waktu malam juga dinamakan dengan hijab karena ia menutupi segala sesuatu dari pandangan mata.

Adapun selain tiga ayat itu, lafaz hijaabun digunakan untuk menunjukkan batas maknawi yaitu pembatas yang tidak dapat dicapai oleh panca indera.

Lafaz hijaab dalam surah Al A'raaf maksudnya ialah perkara yang mem­batasi antara ahli syurga dan ahli neraka, namun maknanya bukan pembatas yang menghalangi pandangan mata mereka me­lainkan keadaan yang menyebabkan nikmat ahli syurga tidak dapat dirasakan oleh ahli neraka dan sakitnya siksa yang diderita oleh ahli neraka tidak dirasakan oleh ahli syurga.

Lafaz hijaaban dalam surah Al Israa (17), ayat 45 disifatkan dengan lafaz mastuura yang salah satu maknanya adalah pembatas yang tidak terlihat oleh mata. Pembatas seperti ini berada pada diri orang musyrik sehingga mereka terhalang dari memahami Al­ Quran yang diajarkan oleh Rasulullah karena mereka memang tidak mau mendengar bacaan Al Qur'an dan juga karena mereka tidak memperhatikan bacaannya.

Qatadah dan Ibn Zaid menerangkan yang dimaksud­ dengan hijaaban mastuura dalam ayat ini ada­lah penutup atau penghalang yang menutupi hati.

Lafaz hijaab dalam surah Fushshilat (41), ayat 5 mempunyai makna yang serupa dengan yang berada dalam surah Al Israa (17), ayat 45 yaitu pembatas yang menghalangi sampai­nya ajaran Nabi Muhammad kepada orang musyrik. Dalam ayat ini diceritakan orang musyrik memang enggan menerima ajaran Rasulullah dengan mengatakan, "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan teli­nga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada pembatas, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula)"

Makna lafaz hijaab dalam surah Asy Syuura (42), ayat 51 adalah pembatas yang menyebabkan seseorang yang diajak bicara oleh Allah di balik hijaab tidak dapat me­lihatnya meskipun dia mendengar kalam Ilahi itu seperti yang dialami oleh Nabi Musa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:195-196

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 46 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 46



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku