Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 46 [QS. 7:46]

وَ بَیۡنَہُمَا حِجَابٌ ۚ وَ عَلَی الۡاَعۡرَافِ رِجَالٌ یَّعۡرِفُوۡنَ کُلًّۢا بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ وَ نَادَوۡا اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ اَنۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ ۟ لَمۡ یَدۡخُلُوۡہَا وَ ہُمۡ یَطۡمَعُوۡنَ
Wabainahumaa hijaabun wa’alal a’raafi rijaalun ya’rifuuna kulaa bisiimaahum wanaadau ashhaabal jannati an salaamun ‘alaikum lam yadkhuluuhaa wahum yathma’uun(a);
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya.
Mereka menyeru penghuni surga,
“Salamun ‘alaikum”
(salam sejahtera bagimu).
Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).
―QS. Al A’raaf [7]: 46

Daftar isi

And between them will be a partition, and on (its) elevations are men who recognize all by their mark.
And they call out to the companions of Paradise,
"Peace be upon you."
They have not (yet) entered it, but they long intensely.
― Chapter 7. Surah Al A’raaf [verse 46]

وَبَيْنَهُمَا dan diantara keduanya

And between them
حِجَابٌ dinding/batas

(will be) a partition,
وَعَلَى dan diatas

and on
ٱلْأَعْرَافِ A’raf

the heights
رِجَالٌ beberapa orang laki-laki

(will be) men
يَعْرِفُونَ mereka mengenal

recognizing
كُلًّۢا masing-masing

all
بِسِيمَىٰهُمْ dengan tanda-tanda mereka

by their marks.
وَنَادَوْا۟ dan mereka menyeru

And they will call out
أَصْحَٰبَ penghuni

(to the) companions
ٱلْجَنَّةِ surga

(of) Paradise
أَن bahwa

that
سَلَٰمٌ sejahtera

"Peace
عَلَيْكُمْ atas kalian

(be) upon you."
لَمْ belum

Not
يَدْخُلُوهَا mereka memasukinya

they have entered it
وَهُمْ dan mereka

but they
يَطْمَعُونَ mereka mengharapkan

hope.

Tafsir

Alquran

Surah Al A’raaf
7:46

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 46. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa antara penghuni surga dan penghuni neraka ada batas yang sangat kokoh.
Batas itu berupa pagar tembok yang tidak memungkinkan masing-masing mereka untuk keluar dan untuk berpindah tempat.

Di atas pagar tembok itu ada suatu tempat yang tertinggi, tempat orang-orang yang belum dimasukkan ke dalam surga.
Mereka bertahan di sana menunggu keputusan dari Allah.

Dari tempat yang tinggi itu mereka bisa melihat penghuni surga dan melihat penghuni neraka.
Kedua penghuni itu kenal dengan tanda yang ada pada mereka masing-masing.

Seperti mengenal mukanya yang telah disifatkan Allah dalam Alquran.
Firman Allah:


وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria, dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram), tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).

Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.
(‘Abasa [80]: 38-42)


Mereka yang tinggal di tempat yang tinggi di atas pagar batas itu mempunyai kebaikan yang seimbang dengan kejahatannya, belum bisa dimasukkan ke dalam surga, tetapi tidak menjadi penghuni neraka.

Mereka untuk sementara ditempatkan di sana, sambil menunggu rahmat dan karunia Allah untuk dapat masuk ke dalam surga.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda:



"Diletakkan timbangan pada hari Kiamat lalu ditimbanglah semua kebaikan dan kejahatan.

Maka orang-orang yang lebih berat timbangan kebaikannya dari pada timbangan kejahatannya meskipun sebesar biji sawi/atom dia akan masuk surga".
Dan orang yang lebih berat timbangan kejahatannya dari pada timbangan kebaikannya meskipun sebesar biji sawi/atom, ia akan masuk neraka.
Dikatakan kepada Rasulullah, bagaimana orang yang sama timbangan kebaikannya dengan timbangan kejahatannya?
Rasulullah menjawab:
mereka itulah penghuni A’raf, mereka itu belum memasuki surga tetapi mereka sangat ingin memasukinya."
(Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu Mas’ud)


Sesudah itu Ibnu Mas’ud berkata,
"sesungguhnya timbangan itu bisa berat dan bisa ringan oleh sebuah biji yang kecil saja.
Siapa yang timbangan kebaikan dan kejahatannya sama-sama berat, mereka penghuni A’raf, mereka berdiri menunggu di atas jembatan.


Kemudian mereka dipalingkan melihat penghuni surga dan neraka.
Apabila mereka melihat penghuni surga, mereka mengucapkan:
"Keselamatan dan kesejahteraaan bagimu.
Apabila pandangan mereka dipalingkan ke kiri, mereka melihat penghuni neraka, seraya berkata,
"Ya Tuhan kami janganlah Engkau tempatkan kami bersama dengan orang-orang zalim".
Mereka sama-sama berlindung diri kepada Allah dari tempat mereka.
Ibnu Mas’ud berkata,
"Orang yang mempunyai kebaikan, mereka diberi cahaya yang menerangi bagian depan dan kanan mereka.
Tiap-tiap orang dan tiap-tiap umat diberi cahaya setibanya mereka di atas jembatan, Allah padamkan cahaya orang-orang munafik laki-laki dan munafik perempuan.
Tatkala penghuni surga melihat apa yang di hadapan orang-orang munafik, mereka berkata,
"Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami."
Adapun penghuni A’raf, cahaya mereka ada di tangan mereka, tidak akan tanggal.
Pada waktu itu Allah ﷻ berfirman :


وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ

Mereka menyeru penghuni surga,
"Salamun ‘alaikum"
(salam sejahtera bagimu).
Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).
(al-A’raf [7]: 46)


Yang dimaksud dalam ayat ini, bahwa penghuni A’raf itu menyeru penghuni surga, mengucapkan selamat sejahtera, karena kerinduan mereka atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada penghuni surga.
Mereka belum juga dapat masuk ke dalamnya, sedang hati mereka sudah sangat rindu untuk masuk.

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 46. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Di antara penghuni surga dan penghuni neraka terdapat pembatas.
Tempat tertinggi dari pembatas itu, yang disebut a’raf, telah ditempati lebih dulu oleh orang-orang Mukmin yang terpilih dan terhormat.


Dari situ mereka bisa melihat keadaan seluruh makhluk.
Mereka juga mengetahui orang-orang yang berbahagia dan sengsara melalui tanda-tanda bekas ketaatan dan kemaksiatan.


Kemudian mereka menyeru calon-calon penghuni surga yang selalu berharap untuk bisa masuk.
Dari a’raf itu mereka memberi kabar gembira berupa keselamatan, ketenangan dan surga yang akan dimasuki oleh mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan di antara penghuni surga dan neraka terdapat sekat penghalang besar yang disebut Al A’raf (tempat-tempat yang tinggi).
Di atas sekat ini ada orang-orang yang dapat melihat keadaan para penghuni surga maupun neraka dengan tanda-tanda yang ada pada mereka, seperti terangnya wajah-wajah para penghuni surga dan gelapnya wajah-wajah para penghuni neraka.


Ashhaabul A’raaf (orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tinggi) itu adalah mereka yang kebaikan dan kejahatannya sebanding dan mereka (sedang) memohon rahmat Allah.
Orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tinggi menyapa para penghuni surga dengan ucapan salam dengan mengatakan,
"Semoga keselamatan atas kalian",
sedangkan mereka belum bisa memasukinya dan mereka sangat berharap dapat memasukinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan di antara keduanya) yaitu antara para penghuni surga dan para penghuni neraka


(ada batas) penghalang, menurut suatu pendapat batas itu berupa tembok vang diberi nama Al-A’raaf


(di atas Al-A`raaf itu) yakni nama tembok surga


(ada orang-orang) yang amat tampan dan amat buruk rupanya, rupa mereka sama, artinya yang cantik sama cantiknya dan yang buruk sama pula buruknya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis


(yang mengenal masing-masing dari kedua golongan itu) penduduk surga dan neraka


(dengan tanda-tanda mereka) ciri-ciri khas mereka, yakni berbadan putih bagi orang-orang yang beriman dan berbadan hitam bagi orang-orang kafir, oleh sebab orang-orang yang di atas Al-A`raaf itu dapat langsung melihat kedua golongan itu mengingat mereka berada di tempat yang tinggi.


(Dan mereka menyeru penduduk surga, ‘Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu.’) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


(‘Mereka belum lagi memasukinya) yakni para penghuni Al-A’raaf itu ke surga


(sedangkan mereka ingin segera’)"
memasukinya.
Hasan mengatakan,
"Mereka tidak terdorong oleh rasa keinginan yang sangat melainkan karena memang Allah telah menghendakinya untuk mereka."
Dan Imam Hakim telah meriwayatkan dari Hudzaifah yang telah mengatakan,
"Tatkala calon penghuni surga itu dalam keadaan demikian berada di Al-A’raaf, kemudian Tuhanmu muncul di hadapan mereka seraya berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam surga, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu.’"

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Setelah Allah menyebutkan dialog (pembicaraan) ahli surga dengan ahli neraka, lalu Allah mengingatkan bahwa di antara surga dan neraka terdapat batas, yaitu tembok tinggi yang menghalang-halangi ahli neraka untuk sampai ke surga.


Menurut Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan hijab dalam ayat ini ialah tembok tinggi yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya:

Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu.
Di sebelah dalamnya ada rahmat, dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
(QS. Al-Hadid [57]: 13)

Inilah A’raf yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya:

…dan di atas A’raf itu ada orang-orang.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan berikut sanadnya dari As-Saddi, bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas.
(QS. Al-A’raf [7]: 46)
Yang dimaksud dengan hijab ialah tembok tinggi, yang juga disebut A’raf.

Mujahid mengatakan bahwa A’raf ialah batas yang menghalang-halangi antara surga dan neraka, yaitu berupa tembok tinggi yang mempunyai sebuah pintu.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa الْأَعْرَافُ adalah bentuk jamak dari’ عُرْف yang artinya setiap tanah yang tinggi, menurut orang Arab disebut demikian.
Sesungguhnya jengger ayam jago dinamakan عُرْفًا karena ia berada di tempat yang paling tinggi.

Telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, telah mence­ritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Abdullah ibnu Abu Yazid yang telah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa A’raf ialah sesuatu yang tinggi.

As-Sauri meriwayatkan dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa A’raf ialah sebuah tembok yang paling tinggi, sama seperti jenggernya ayam jago.

Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas, A’raf adalah bentuk jamak, artinya sebuah tebing yang tinggi terletak di antara surga dan neraka.
Di tempat itu disekap sejumlah manusia dari kalangan orang-orang yang berdosa.

Menurut riwayat yang lainnya lagi dari Ibnu Abbas, A’raf ialah sebuah tembok yang tinggi antara surga dan neraka.
Hal yang sama dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan tafsir.

As-Saddi mengatakan, dinamakan A’raf karena para penduduknya mengenal semua orang.

Ungkapan tafsir berbeda-beda sehubungan dengan penduduk A’raf ini, siapakah mereka itu sebenarnya?
Tetapi semua pendapat saling berdekatan pengertiannya yang bermuara kepada suatu pendapat, yaitu mereka adalah kaum-kaum yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama.
Demikianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Huzaifah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan Salaf dan Khalaf.

Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur lain:


dari Sa’id ibnu Salamah, dari Abul Hisam, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari seorang lelaki dari kalangan Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai orang yang sama amal kebaikan dan amal keburukannya, juga mengenai para penghuni A’raf.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Sesungguhnya mereka adalah suatu kaum yang berangkat (berperang di jalan Allah) dalam keadaan durhaka karena tanpa seizin orang tua-orang tua mereka, lalu mereka gugur di jalan Allah.

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Syibl, dari Yahya ibnu Abdur Rahman Al-Muzani, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai para penghuni A’raf.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Mereka adalah orang-orang yang gugur di jalan Allah dalam keadaan durhaka terhadap orang tua-orang tua mereka.
Maka mereka tidak dapat masuk surga karena telah durhaka terhadap orang tua-orang tua mereka, dan mereka tidak dapat masuk neraka karena mereka telah gugur dalam membela jalan Allah.

Ibnu Murdawaih, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Ma’syar dengan lafaz yang sama.


Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara marfu‘ melalui hadis Abu Sa’id Al-Khudri dan Ibnu Abbas.
Hanya Allah yang lebih mengetahui kesahihan hadishadis marfu ini.
Tetapi yang lebih jelas semuanya itu berpredikat mauquf di dalamnya terkandung dalil mengenai apa yang telah kami sebutkan di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Asy-Sya’bi, dari Huzaifah, bahwa ia pernah ditanya mengenai penghuni A’raf.
Maka ia menjawab bahwa mereka adalah kaum-kaum yang sama kebaikan dan keburukannya, sehingga amal keburukannya mencegahnya untuk masuk surga, sedangkan amal kebaikannya menahannya hingga tidak masuk neraka.
Huzaifah me­lanjutkan kisahnya, bahwa karena itulah mereka diberhentikan di atas tembok yang tinggi itu untuk menunggu apa yang diputuskan oleh Allah kepada mereka.

Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur lain dengan keterangan yang lebih rinci daripada ini.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abu Ishaq yang mengatakan bahwa Asy-Sya’bi pernah menceritakan,
"Abdul Humaid ibnu Abdur Rahman mengirimkan utusannya kepadaku, sedangkan saat itu di sisinya terdapat Abuz Zanad (yakni Abdullah ibnu Zakwan, maula orang-orang Quraisy).
Tiba-tiba keduanya mem­bicarakan suatu pembicaraan mengenai penghuni A’raf tidak seperti apa yang disebutkan.
Maka saya berkata kepada keduanya, ‘Jika kamu berdua suka, maka saya akan menceritakan kepada kalian mengenai apa yang pernah diceritakan oleh Huzaifah.’ Keduanya menjawab, ‘Ceritakanlah.’ Saya mengatakan bahwa sesungguhnya Huzaifah pernah menceritakan tentang penghuni A’raf, Huzaifah mengatakan, ‘Mereka adalah suatu kaum yang diselamatkan oleh amal kebaikannya dari neraka, tetapi dihalang-halangi masuk surga oleh amal keburukannya.’ Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu ‘ (QS. Al-A’raf [7]: 47)
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tuhanmu menjenguk mereka dan berfirman kepada mereka, ‘Pergilah kalian dan masuklah kalian ke dalam surga, karena sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan kepada kalian’."

Abdullah ibnul Mubarak meriwayatkan dari Abu Bakar Al-Huzali yang mengatakan bahwa Sa’id ibnu Jubair pernah menceritakan hal tersebut dari Ibnu Mas’ud.
Ibnu Mas’ud mengatakan,
"Kelak di hari kiamat manusia dihisab, maka barang siapa yang amal kebaikannya lebih banyak satu tingkatan daripada amal keburukannya, maka ia masuk surga.
Barang siapa yang amal keburukannya lebih banyak satu tingkat daripada amal kebaikannya, maka ia masuk neraka."
Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:
Barang siapa yang berat timbangan (kebaikannya.
(QS. Al-Mu’minun [23]: 102), hingga akhir ayat berikutnya.
Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa timbangan amal dapat menjadi berat dan ringan hanya dengan sebiji buah sawi.
Ibnu Mas’ud mengatakan pula,
"Barang siapa yang amal kebaikannya sama dengan amal keburukannya, maka dia termasuk penghuni A’raf."
Para penghuni A’raf diberhentikan di atas sirat, karena itu mereka mengetahui ahli surga dan ahli neraka.
Apabila mereka melihat kepada ahli surga, maka mereka mengatakan,
"Salamun ‘alaikum"
Apabila mereka menolehkan pandangan mereka ke arah kiri mereka, maka mereka melihat ahli neraka, lalu mereka mengatakan:
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim.
(QS. Al-A’raf [7]: 47)
Mereka meminta perlindungan kepada Allah agar jangan ditempatkan bersama ahli neraka.
Ibnu Mas’ud mengatakan,
"Adapun orang-orang yang mempunyai amal kebaikan, mereka diberi nur yang dengannya mereka dapat berjalan, nur itu menyinari bagian depan dan sebelah kanan mereka.
Pada hari itu setiap hamba diberi nur, demikian pula setiap umat.
Tetapi apabila mereka sampai di sirat, maka Allah mencabut nur setiap orang munafik laki-laki dan perempuan.
Ketika ahli surga melihat bahwa mereka tidak bersua dengan orang-orang munafik, maka mereka berkata:
Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.
(At Tahriim:
8)
Adapun penghuni A’raf, nur (cahaya) mereka tidak dicabut dari mereka dan masih tetap berada di hadapan mereka.
Maka di tempat itulah Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan keadaannya melalui firman-Nya:
Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
(QS. Al-A’raf [7]: 46)
Mereka hanya mampu berkeinginan untuk memasukinya.
Ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya seorang hamba apabila mengerjakan suatu amal kebaikan, dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan.
Apabila ia berbuat suatu keburukan, maka tidak dicatatkan melainkan hanya dosa satu keburukan.
Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan,
"Binasalah orang yang satuannya (amal keburukannya) mengalah­kan puluhannya (amal kebaikannya)."
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Abdullah ibnul Haris, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa A’raf adalah tembok yang terdapat di antara surga dan neraka.
Para penghuni A’raf berada di tembok tersebut hingga manakala Allah memulai memaafkan mereka, maka Allah membawa mereka ke sebuah sungai yang dinamakan Nahrul Hayat (Sungai Kehidupan).
Kedua sisi sungai itu terbuat dari batangan emas yang dihiasi dengan mutiara-mutiara, sedangkan tanahnya adalah minyak kesturi.
Lalu mereka dilemparkan ke dalamnya hingga warna tubuh mereka menjadi bagus dan pada leher mereka terdapat tahi lalat (tanda) putih yang menjadi pengenal mereka.
Manakala warna tubuh mereka telah bagus, lalu mereka dihadapkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Maka Tuhan berfirman,
"Harap­kanlah sesuka hati kalian!"
Maka mereka pun berharap, hingga setelah harapan (cita-cita) mereka habis.
Tuhan berfirman kepada mereka,
"Bagi kalian semua apa yang kalian harapkan (menjadi kenyataan) dan hal yang semisal sebanyak tujuh puluh kali lipat."
Mereka masuk ke dalam surga, sedangkan pada leher mereka terdapat tanda putih yang menjadi pengenal mereka, mereka dinamakan orang-orang miskin ahli surga.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Yahya ibnul Mugirah, dari Jarir dengan sanad yang sama.
Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Mujahid dan dari Abdullah ibnul Haris.
Disebutkan bahwa asar ini adalah perkataan Ibnu Abbas (yakni mauquf), dan inilah yang lebih sahih.
Hal yang sama diriwayatkan dari Mujahid dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Sa’id ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepadaku Jarir, dari Imarah ibnul Qa’qa’, dari Abu Zar‘ah, dari Amr ibnu Jarir yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai penghuni A’raf.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling akhir mendapat keputusan perkaranya di antara sesama mereka.
Apabila Tuhan semesta alam telah selesai dari melakukan keputusan di antara sesama hamba-Nya, maka Allah berfirman,
"Kalian adalah suatu kaum yang dikeluarkan dari neraka berkat amal-amal kebaikan kalian, tetapi kalian masih belum dapat masuk surga.
Kalian sekarang adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh-Ku (dari neraka), maka bermain-mainlah di dalam surga sekehendak kalian.

Hadis ini mursal lagi hasan.
Menurut suatu pendapat, mereka adalah anak-anak zina.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Qurtubi.

Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam biografi Al-Walid ibnu Musa, dari Syaibah ibnu Uzman, dari Urwah ibnu Ruwayyim, dari Al-Hasan, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi ﷺ,

bahwa jin yang mukmin ada yang beroleh pahala, ada pula yang beroleh siksaan.
Maka kami bertanya kepadanya tentang pahala kaum jin dan kaum yang beriman dari kalangan mereka.
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Mereka berada di A’raf dan tidak dikumpulkan di dalam surga bersama-sama umatku."
Kemudian kami bertanya kepada beliau tentang A’raf, maka beliau ﷺ menjawab,
"A’raf adalah tembok surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan dipenuhi oleh pohon-pohon yang berbuah."
Imam Baihaqi meriwayatkannya dari Ibnu Bisyran, dari Ali ibnu Muhammad Al-Masri, dari Yusuf ibnu Yazid, dari Al-Walid ibnu Musa dengan sanad yang sama.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Khasif, dari Mujahid, bahwa penghuni A’raf adalah kaum yang saleh dan fiqih.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah.
dari Sulaiman At-Taimi, dari Abu Mijlaz sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A’raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.
(QS. Al-A’raf [7]: 46)
Abu Mijlaz mengatakan bahwa mereka adalah sejumlah malaikat yang mengenal semua ahli surga dan ahli neraka.
Dan mereka menyeru penduduk surga,
"Salamun ‘alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata,
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu.” Dan orang-orang yang di atas A’raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya seraya mengatakan,
"Harta yang kalian kumpulkan dan apa yang selalu kalian sombongkan itu tidaklah memberi manfaat kepada kalian.” (Orang-orang di sisi A’raf bertanya kepada penghuni neraka),
"Itukah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (QS. Al-A’raf [7]: 46-48), Abu Mijlaz mengatakan bahwa ketika ahli surga masuk ke dalam surga, dikatakan:
Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadap kalian dan tidak (pula) kalian bersedih hati.
(QS. Al-A’raf [7]: 49)

Sanad asar ini sahih sampai kepada Abu Mijlaz yang nama aslinya ialah Lahiq ibnu Humaid, salah seorang tabi’in.


Asar ini garib dan merupakan ucapan Abu Mijlaz sendiri, serta bertentangan dengan makna lahiriah konteks ayat.
Pendapat jumhur Mujahid, yaitu sesungguhnya mereka adalah kaum yang saleh lagi fiqih.
Tetapi di dalamnya terkandung garabah pula.

Al-Qurtubi dan lain-lainnya meriwayatkan sehubungan dengan pengertian mereka (ahli A’raf) dua belas pendapat, antara lain ada yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik-baik yang panik dalam menghadapi keadaan yang menakutkan di hari akhirat, dan mereka adalah sejumlah manusia yang melihat-lihat keadaan manusia.
Menurut pendapat yang lainnya mereka (penghuni A’raf) adalah para nabi.
Menurut pendapat yang lainnya lagi mereka adalah para malaikat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa mereka mengenal ahli surga melalui wajahnya yang putih-putih lagi bercahaya, sedangkan ahli neraka melalui wajahnya yang hitam legam.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menempatkan mereka pada kedudukan tersebut agar mereka mengenal orang-orang yang berada di surga dan orang-orang yang berada di neraka.
Agar mereka mengenal bahwa semua penghuni neraka itu wajahnya hitam legam, kemudian mereka meminta perlindungan kepada Allah agar Dia jangan menempatkan mereka bersama-sama orang-orang yang zalim.
Tetapi dalam waktu yang sama mereka pun mengucapkan salam penghormatan kepada ahli surga.
Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).
Tetapi mereka akan segera memasukinya, insya Allah.


Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak As-Saddi, Al-Hasan, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.

Ma’mar meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa ia pernah membaca firman-Nya berikut:


Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya).

Kemudian Al-Hasan berkata,
"Demi Allah, tidak sekali-kali keinginan itu timbul dalam hati mereka melainkan karena kemuliaan yang dikehendaki oleh Allah buat mereka."


Qatadah mengatakan bahwa Allah telah menceritakan kepada kalian mengenai kedudukan mereka yang membuat mereka mempunyai keinginan tersebut.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A’raaf (7) Ayat 46

HIJAAB
حِجَاب

Lafaz hijaab dalam bahasa Arab berarti pembatas yang menghalangi, baik pembatas itu hissi (dapat dicapai oleh pancaindera) maupun maknawi (tidak dapat dicapai oleh pancaindera).
Di dalam Al Qur’an, lafaz hijaab disebut sebanyak tujuh kali yaitu dalam surah:
• Al A’raaf (7), ayat 46;
Al Israa (17), ayat 45;
Maryam (19), ayat 17;
Al Ahzab (33), ayat 53;
Shad (38), ayat 32;
Fushshilat (41), ayat 5;
Asy Syuara (42), ayat 51.

Sebahagian ayat Al Qur’an di atas menggunakan hijaabun untuk menunjukkan pembatas yang berbentuk hissi (dapat dicapai oleh panca indera) yaitu dalam surah:
Maryam (19), ayat 17;
Al Ahzab (33), ayat 53;
Shad (38), ayat 32.

Dalam surah Maryam (19), ayat 17 diceritakan ketika Maryam mengandung, dia menjauhkan diri dan menyendiri dari kaumnya dan pergi ke suatu tempat di sebelah timur Baitul Muqaddis bagi beribadah.

Diceritakan juga Maryam duduk di atas dataran yang tinggi untuk bersuci dan berlindung di balik hijab berupa dinding atau gunung (sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas) atau di balik kain.

Imam Asy Syaukani juga menegaskan, Maryam membuat tabir yang dapat menghalangnya dari pandangan kaumnya supaya mereka tidak dapat melihatnya ketika dia beribadah atau bersuci.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 53, Allah menerangkan Rasulullah dan isteri-isteri beliau yang perlu dilakukan oleh para sahabat.
Diantaranya adalah apabila para sahabat meminta suatu keperluan kepada isteri- isteri nabi, mereka tidak boleh melihat isteri-isteri nabi dan hendaklah memintanya dari balik tabir karena cara yang demikian itu lebih menjaga kesucian hati para sahabat dan juga hati isteri-isteri nabi.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 32 diceritakan Nabi Sulaiman menyukai kudanya sehingga beliau lalai mengingat Allah sehingga matahari tidak terlihat oleh mata karena hilang di balik hijab.

Qatadah dan Ka’ab menyatakan yang dimaksudkan hijab di sini adalah gunung hijau yaitu Gunung Qaf selain daripada itu waktu malam juga dinamakan dengan hijab karena ia menutupi segala sesuatu dari pandangan mata.

Adapun selain tiga ayat itu, lafaz hijaabun digunakan untuk menunjukkan batas maknawi yaitu pembatas yang tidak dapat dicapai oleh panca indera.

Lafaz hijaab dalam surah Al A’raaf maksudnya ialah perkara yang membatasi antara ahli syurga dan ahli neraka, namun maknanya bukan pembatas yang menghalangi pandangan mata mereka melainkan keadaan yang menyebabkan nikmat ahli syurga tidak dapat dirasakan oleh ahli neraka dan sakitnya siksa yang diderita oleh ahli neraka tidak dirasakan oleh ahli syurga.

Lafaz hijaaban dalam surah Al Israa (17), ayat 45 disifatkan dengan lafaz mastuura yang salah satu maknanya adalah pembatas yang tidak terlihat oleh mata.
Pembatas seperti ini berada pada diri orang musyrik sehingga mereka terhalang dari memahami Al Quran yang diajarkan oleh Rasulullah karena mereka memang tidak mau mendengar bacaan Al Qur’an dan juga karena mereka tidak memperhatikan bacaannya.

Qatadah dan Ibnu Zaid menerangkan yang dimaksud dengan hijaaban mastuura dalam ayat ini adalah penutup atau penghalang yang menutupi hati.

Lafaz hijaab dalam surah Fushshilat (41), ayat 5 mempunyai makna yang serupa dengan yang berada dalam surah Al Israa (17), ayat 45 yaitu pembatas yang menghalangi sampainya ajaran Nabi Muhammad kepada orang musyrik.
Dalam ayat ini diceritakan orang musyrik memang enggan menerima ajaran Rasulullah dengan mengatakan, "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada pembatas, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula)"

Makna lafaz hijaab dalam surah Asy Syuura (42), ayat 51 adalah pembatas yang menyebabkan seseorang yang diajak bicara oleh Allah di balik hijaab tidak dapat melihatnya meskipun dia mendengar kalam Ilahi itu seperti yang dialami oleh Nabi Musa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:195-196

Unsur Pokok Surah Al A’raaf (الأعراف)

Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al-An’am dan termasuk golongan surat "Assab ‘uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al-A’raaf" karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

▪ Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat.
▪ Hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam.
▪ Allah menciptakan undang-undang dan hukumhukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
▪ Allah bersemayam di ‘Arasy.
▪ Bantahan terhadap kepalsuan syirik.
▪ Ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia.
▪ Nabi Musa berbicara dengan Allah.
▪ Tentang melihat Allah.
▪ Perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah.
▪ Allah mempunyai al asma’ul husna.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk.
▪ Kewajiban mengikuti Allah dan rasul.
▪ Perintah berhias waktu akan shalat.
▪ Bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah.
▪ Perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Adam `alaihis salam dengan iblis.
▪ Kisah Nabi Nuh `alaihis salam dan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Shaleh `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Syu’aib `alaihis salam dengan kaumnya.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Alquran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya.
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia.
mukmin.
Alquran dan berzikir.
Rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah.
▪ Balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul.
Dakwah rasulrasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah.

Audio

QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 206 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-A'raaf (7) : 1-206 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 206

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al A'raaf ayat 46 - Gambar 1 Surah Al A'raaf ayat 46 - Gambar 2
Statistik QS. 7:46
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al A’raaf.

Surah Al-A’raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A’rāf, “Tempat Tertinggi”) adalah surah ke-7 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An’am dan termasuk golongan surah Assab ‘uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A’raf karena perkataan Al-A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A’raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A’raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An’am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
Sending
User Review
4.9 (13 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

7:46, 7 46, 7-46, Surah Al A'raaf 46, Tafsir surat AlAraaf 46, Quran Al Araf 46, Al-A'raf 46, Surah Al Araf ayat 46

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al A’raaf

۞ QS. 7:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:3 Ar Rabb (Tuhan) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 7:4 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir

۞ QS. 7:5 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman

۞ QS. 7:6 • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:7 • Menafikan sifat kantuk dan tidur • Keluasan ilmu Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 7:8 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 7:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 7:13 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:14 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 7:16 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 7:17 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 7:18 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:20 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 7:21 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 7:22 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 7:23 Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun

۞ QS. 7:25 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 7:27 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 7:28 • Mendustai Allah • Dosa-dosa besar

۞ QS. 7:29 Ar Rabb (Tuhan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Shalat rukun Islam • Ikhlas dalam berbuat •

۞ QS. 7:30 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:33 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa-dosa besar • Dosa batin

۞ QS. 7:34 • Kebenaran dan hakikat takdir • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 7:35 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratHikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:36 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:37 • Mendustai Allah • Tugas-tugas malaikat • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Syirik adalah dosa terbesar • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:38 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka • Pahala jin dan balasannya

۞ QS. 7:39 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 7:40 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Dosa-dosa besar • Dosa terbesar

۞ QS. 7:41 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 7:42 • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Toleransi Islam • Keutamaan iman • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 7:43 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat • Sifat surga dan kenikmatannya

۞ QS. 7:44 • Pahala iman • Allah menepati janji • Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:45 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 7:46 • Batas antara surga dan neraka • Golongan Al A’raf

۞ QS. 7:47 Ar Rabb (Tuhan) • Golongan Al A’raf • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 7:48 • Golongan Al A’raf • Azab orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:49 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Memasuki surga • Golongan Al A’raf

۞ QS. 7:50 Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Sifat ahli surga • Percakapan para ahli surga • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 7:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 7:52 • Keluasan ilmu Allah • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:53 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Beriman ketika datang hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 7:54 Dalil-dalil adanya Allah Ta’alaTauhid RububiyyahArsy • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah

۞ QS. 7:55 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 7:57 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 7:58 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:59 Tauhid Uluhiyyah • Kedahsyatan hari kiamat • Islam agama para nabi

۞ QS. 7:60 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:61 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan)

۞ QS. 7:62 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:63 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:65 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi

۞ QS. 7:66 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:67 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:70 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:71 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah •

۞ QS. 7:72 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kasih sayang Allah yang luas • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:73 Tauhid UluhiyyahDalil Allah atas hambaNya • Ar Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:74 Dalil Allah atas hambaNya

۞ QS. 7:75 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada para rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:76 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:77 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:78 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:79 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:82 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:83 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 7:84 • Azab orang kafir

۞ QS. 7:85 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi

۞ QS. 7:86 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:87 Al Hakam (Maha memberi keputusan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:88 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:89 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al Fattah (Maha Pembuka) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 7:90 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:91 • Azab orang kafir

۞ QS. 7:92 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:93 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:94 Hukum alam

۞ QS. 7:95 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Istidraj (memperdaya) • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:96 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 7:97 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:98 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:99 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:100 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Allah menggerakkan hati manusia • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 7:101 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir

۞ QS. 7:102 • Orang mukmin kelompok minoritas • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:103 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:104 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:105 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:109 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:110 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:111 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:113 • Meminta upah dari sihir

۞ QS. 7:116 Hakikat sihir

۞ QS. 7:117 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 7:118 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 7:121 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:122 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:123 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:125 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:126 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:128 • Pahala iman • Minta tolong kepada Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Kekuatan umat Islam di dunia •

۞ QS. 7:129 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:130 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:131 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Meramal nasib

۞ QS. 7:134 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:136 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:137 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Kekuatan umat Islam di dunia • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 7:139 • Perbuatan orang kafir sia-sia • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 7:140 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 7:141 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:142 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:143 • Gunung akan hancur bila Allah menampakkan diri di atasnya • Sifat Kalam (berfirman) • Allah tidak dapat dilihat di dunia • Ar Rabb (Tuhan) •

۞ QS. 7:144 • Sifat Kalam (berfirman) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 7:145 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:146 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:147 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Mengingkari hari kebangkitan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia

۞ QS. 7:148 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:149 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:150 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:151 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 7:152 • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Siksa orang kafir

۞ QS. 7:153 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 7:154 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:155 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 7:156 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 7:157 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Islamnya ahli kitabIslam agama fitrah • Toleransi Islam

۞ QS. 7:158 Tauhid Uluhiyyah • Segala sesuatu milik Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan •

۞ QS. 7:159 • Islamnya ahli kitab

۞ QS. 7:161 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 7:162 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:163 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:164 Ar Rabb (Tuhan) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:165 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Siksaan Allah sangat pedih • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:166 • Siksaan Allah sangat pedih • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:167 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 7:169 • Mendustai Allah • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 7:170 • Pahala iman • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keadilan Allah dalam menghakimi • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah •

۞ QS. 7:171 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 7:172 Tauhid RububiyyahDalil Allah atas hambaNya • Ar Rabb (Tuhan) • Islam agama fitrah

۞ QS. 7:174 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 7:175 • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 7:176 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 7:177 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:178 • Allah menggerakkan hati manusia • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 7:179 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Pahala jin dan balasannya • Azab orang kafir

۞ QS. 7:180 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Berdoa dengan Asma’ul Husna • Mengingkari nama-nama Allah • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:182 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Istidraj (memperdaya) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 7:183 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Istidraj (memperdaya) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 7:185 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kiamat telah dekat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian •

۞ QS. 7:186 • Allah menggerakkan hati manusia • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafir • Siksa orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 7:187 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Ar Rabb (Tuhan) • Waktu kiamat tidak diketahui • Hari kiamat datang tiba-tiba •

۞ QS. 7:188 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib

۞ QS. 7:189 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:190 • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Muta’ali (Maha Luhur)

۞ QS. 7:191 Al Khaliq (Maha Pencipta) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:192 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:193 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:194 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:195 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:196 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Wali Allah dan wali syetan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan •

۞ QS. 7:197 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:198 • Kebodohan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 7:200 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 7:201 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Lemah iman • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 7:202 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 7:203 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 7:205 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 7:206 Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

Ayat Pilihan

Dan jika kamu memutuskan perkara mereka,
maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
QS. Al-Ma’idah [5]: 42

Jangan suka mencela dirimu sendiri & jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman, dan siapa yang tak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS. Al-Hujurat [49]: 11

Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) & segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sungguh manusia itu sangat zalim & sangat mengingkari (nikmat Allah)
QS. Ibrahim [14]: 34

Bani lsrail berkata:
“Hai Musa.
buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”.
Musa menjawab:
“Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.
QS. Al-A’raf [7]: 138

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang tidak diawali basmalah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah At-Taubah adalah surah ke-9 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat. Dinamakan At-Taubah yang berarti 'Pengampunan' karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.

Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kausar adalah surah ke-108 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Alquran.

Proses turunnya wahyu berlangsung selama ... tahun.

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #27
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #27 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #27 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna …Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu … Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu …

Kamus

Washi

Apa itu Washi? Washi artinya orang yang diberi kuasa melaksanakan suatu pesan yang dilakukan setelah orang yang berpesan itu meninggal dunia. Syarat orang yang menjadi washi adalah: 1. Baligh 2. Isla...

hudud

Apa itu hudud? hu.dud hukum yang telah ditentukan bentuk dan kadarnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala., seperti hukum potong tangan bagi pencuri… >>

Shahihain

Apa itu Shahihain? Shahihain merupakan Istilah Islam yang digunakan untuk menyebut kedua kitab Shahih milik Imam Bukhari dan Imam Muslim. Yang lebih dahulu menyusun kitab shahih adalah Imam Al-Bukhari...