Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 30


فَرِیۡقًا ہَدٰی وَ فَرِیۡقًا حَقَّ عَلَیۡہِمُ الضَّلٰلَۃُ ؕ اِنَّہُمُ اتَّخَذُوا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ یَحۡسَبُوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ
Fariiqan hada wafariiqan haqqa ‘alaihimudh-dhalaalatu innahumuut-takhadzuusy-syayaathiina auliyaa-a min duunillahi wayahsabuuna annahum muhtaduun(a);

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.
―QS. 7:30
Topik ▪ Takdir ▪ Allah menggerakkan hati manusia ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
7:30, 7 30, 7-30, Al A’raaf 30, AlAraaf 30, Al Araf 30, Al-A’raf 30
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 30. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa manusia itu terbagi atas dua golongan.
Golongan pertama yaitu golongan yang telah diberi petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dunia ini dan diberi taufik mengerjakan salat, menyembah-Nya dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
Sedang golongan kedua ialah golongan yang telah sesat karena mengikuti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah Penciptanya.
Setan itulah yang dijadikan pelindungnya, bukan Allah subhanahu wa ta’ala Anehnya mereka sudah sesat menempuh jalan yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengerjakan perbuatan yang tidak diridai-Nya, tetapi masih menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk.
Orang yang demikian itu adalah orang yang paling merugi sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan di dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

(Q.S Al Kahfi: 103-104)

Al A'raaf (7) ayat 30 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari kiamat manusia terbagi ke dalam dua golongan.
Pertama, golongan yang diberi hidayah oleh Allah karena memilih jalan kebenaran, beriman dan beramal saleh.
Kedua, golongan yang ditetapkan sesat karena memilih jalan kebatilan yaitu kufur dan maksiat.
Golongan yang sesat itu menjadikan setan sebagai pemimpin mereka selain Allah dan mengikutinya.
Mereka mengira diri mereka benar karena terbuai oleh tipu daya setan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sebagian) dari kamu (diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.
Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung mereka selain Allah) (dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah menjadikan hamba-hamba-Nya dalam dua golongan; Golongan yang pertama adalah mereka yang dituntun oleh Allah untuk mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.
Dan golongan yang kedua adalah mereka yang disesatkan oleh Allah dari jalan yang lurus.
Mereka itu adalah orang-orang yang menjadikan setan-setan sebagai pemimpin-pemimpin selain Allah, mereka menuruti setan-setan itu karena kebodohan dan prasangka belaka, bahwasanya mereka telah berjalan di jalan yang lurus (hidayah).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Makna ayat ini masih diperselisihkan.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayat­kan dari Mujahid mengenai makna firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).
Kelak Allah akan menghidupkan kalian sesudah kalian mati.

Menurut Al-Hasan Al-Basri, sebagaimana Dia menciptakan kalian pada permula­an di dunia ini, demikian pula kalian akan kembali kepada-Nya kelak di hari kiamat dalam keadaan hidup.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).

Yakni Allah memulai penciptaan-Nya, maka Dia menciptakan mereka.
Sebelum itu mereka tidak ada, kemudian mereka mati, lalu Allah mengembalikan mereka dalam keadaan hidup.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, sebagaimana Allah memulai penciptaan kalian pada permulaannya, maka demikian pula Dia akan mengembalikan kalian pada akhirnya.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Abu Ja’far ibnu Jarir yang diperkuat dengan apa yang telah diriwayatkan melalui hadis Sufyan As-Sauri dan Syu’bah ibnul Hajjaj, keduanya dari Al-Mugirah ibnun Nu’man, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan kami untuk menyampaikan suatu nasihat, lalu beliau bersabda:

‘Hai manusia, sesungguhnya kalian akan dihimpun kepada Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang lagi tak bersunat (tak berkhitan).
Sebagaimana Kami telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) Kami akan mengulangi (mengemba­likannya).
Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya’.”

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Syu’bah.
Juga di dalam hadis Bukhari melalui hadis As-Sauri dengan lafaz yang sama.

Warqa ibnu lyas (yaitu Abu Yazid) telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pula) kalian akan kembali (kepada-Nya).
(Al A’raf:29) Bahwa kelak orang muslim dibangkitkan sebagai orang muslim, dan orang kafir dibangkitkan sebagai orang kafir.

Abul Aliyah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pula) kalian akan kembali (kepada-Nya).
(Al A’raf:29) Yaitu mereka dikembalikan berdasarkan pengetahuan Allah tentang diri mereka.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).
Sebagaimana telah ditetapkan atas kalian, maka demikian pulalah keadaan kalian.
Menurut riwayat yang lain, sebagaimana keadaan yang kalian alami, maka kelak kalian akan seperti itu.

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).
Yakni barang siapa yang sejak semula diciptakan oleh Allah dalam keadaan celaka, maka ia akan menjadi orang seperti yang ditakdirkan-Nya semula sejak permulaan kejadiannya, sekalipun ia mengamalkan amalan ahli kebahagiaan (ahli surga).
Barang siapa yang sejak semula ditakdirkan bahagia oleh Allah, maka ia akan dikembalikan kepada apa yang telah ditakdirkan untuknya sejak semula, sekalipun ia mengamal­kan amalan orang-orang yang celaka (penghuni neraka).
Sebagaimana para ahli sihir mengamalkan amalan orang-orang yang celaka, maka pada akhirnya ia pasti akan menjadi orang seperti yang ditakdirkan untuknya sejak semula.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).
Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).Yaitu sebagaimana Kami menciptakan kalian, sebagian dari kalian ada yang mendapat petunjuk, dan sebagian yang lain ada yang disesatkan.
Maka demikian pulalah kelak kalian dikembalikan, dan demikian pulalah keadaannya sewaktu kalian dilahirkan dari perut ibu-ibu kalian.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubung­an dengan firman-Nya:

Sebagaimana Dia telah menciptakan kalian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali (kepada-Nya).
Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
memulai penciptaan Ibnu Adam ada yang mukmin dan ada yang kafir (yakni dicatatkan dalam takdir bahwa di antara mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir).
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang beriman.
(Ath Taghabun:2)

Kemudian Allah mengembalikan mereka pada hari kiamat dalam keadaan seperti permulaan kejadian mereka, yakni ada yang mukmin dan ada yang kafir.

Menurut kami, pendapat ini diperkuat dengan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud di dalam kitab Sahih Bukhari yang mengatakan:

Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang di antara kalian benar-benar mengamalkan amalan ahli surga hingga tiada jarak antara dia dan surga kecuali hanya satu depa atau satu hasta, tetapi takdir telah mendahuluinya, maka ia mengamalkan amalan ahli neraka, hingga ia masuk neraka.
Dan sesungguhnya seseorang di antara kalian benar-benar mengamal­kan amalan ahli neraka, hingga tiada jarak antara dia dan neraka kecuali hanya satu depa atau satu hasta, tetapi takdir telah mendahuluinya, maka ia mengamalkan amalan ahli surga, hingga masuk surga.

Abul Qasim Al-Bagawi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Ja’d, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengamalkan suatu amalan yang menurut penglihatan orang lain dianggap sebagai amalan ahli surga, padahal sesungguhnya dia adalah ahli neraka.
Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengamalkan suatu amalan yang kelihatan oleh orang lain sebagai amalan ahli neraka, padahal sesungguhnya dia termasuk ahli surga.
Sesungguhnya semua amal perbuatan itu hanyalah berdasarkan pungkasan-pungkasannya.

Demikianlah sepotong dari hadis Imam Bukhari yang diriwayatkannya melalui hadis Abu Gassan Muhammad ibnu Mutarrif Al-Madani dalam kisah Qazman di waktu Perang Uhud.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Kelak setiap orang akan dibangkitkan menurut amalan yang dilakukannya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Al-A’masy, dengan sanad yang sama.
Sedangkan lafaznya berbunyi seperti berikut:

Setiap hamba akan dibangkitkan menurut amal perbuatan yang dikerjakannya sampai dia mati.

Dan dari Ibnu Abbas disebutkan hal yang semisal.

Menurut kami, hal ini diperkuat oleh hadis Ibnu Mas’ud.
Sebagai kesimpulannya—menurut kami—jika pendapat ini memang merupakan makna yang dimaksud oleh ayat, maka harus digabungkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
(Ar Ruum:30)

Juga dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Setiap anak dilahirkan menurut fitrah (agama Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, seorang Nasrani, dan seorang Majusi.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam hadis qudsi: ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), tetapi datanglah setan menggoda mereka.
Maka setan membuat mereka menyimpang dari agamanya’.”

Dari penggabungan pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
menciptakan mereka agar di antara mereka ada yang mukmin dan ada pulayang kafir sebagai lawannya.
Sekalipun pada awal kejadian mereka Allah telah membekali mereka secara fitrah untuk mengetahui­Nya dan mentauhidkan-Nya, serta membekali mereka pengetahuan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.
Seperti yang telah Allah ambil dari mereka hal tersebut melalui suatu perjanjian (di zaman azali), dan menjadikan hal itu sebagai fitrah dan insting mereka.
Sekalipun demikian, pada akhirnya Allah menakdirkan bahwa di antara mereka ada yang celaka (kafir) dan ada yang bahagia (mukmin).
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dialah yang menciptakan kalian, maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang beriman.
(Ath Taghabun:2)

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Setiap orang berpagi hari, lalu menjual dirinya, maka adakalanya dia memerdekakannya atau mencelakakannya.

Takdir Allah pasti terlaksana di kalangan makhluk-Nya, karena Dia adalah:

yang menentukan takdir (masing-masing) dan memberi petunjuk.
(Al-A’la: 3)

dan Dia adalah:

yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadian­nya, kemudian memberinya petunjuk.
(Thaahaa:50)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan:

Adapun orang yang telah ditakdirkan termasuk orang-orang yang berbahagia, maka dimudahkan baginya jalan mengerjakan amal orang-orang yang bahagia.
Dan adapun orang yang telah ditakdir­kan termasuk orang-orang yang celaka, maka dimudahkan baginya mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang celaka.

Karena itulah dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan melalui firman-Nya:

Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan penyebab hal tersebut melalui firman selanjutnya, yaitu:

Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah., hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini merupakan dalil yang paling jelas untuk membuktikan kekeliruan orang yang menduga bahwa Allah tidak mengazab seseorang karena maksiat yang dikerjakannya atau kesesatan yang diyakininya, melainkan bila ia melakukannya sesudah adanya pengetahuan darinya yang membenarkan sikapnya itu, lalu ia mengerjakannya dengan penuh rasa keingkaran terhadap Tuhannya.

Seandainya memang demikian, niscaya tidak ada bedanya antara golongan orang-orang yang sesat yang menduga bahwa dirinya mendapat petunjuk, dengan golongan orang-orang yang mendapat petunjuk sesungguhnya.
Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menjelaskan dan membedakan peristilahan keduanya dan hukum-hukum mengenai keduanya dalam ayat ini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 30

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat. Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu’min waliy Allah, memiliki maksud “yang taat kepada Nya.”

Waliyyal ‘ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar’ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa’ disebut 42 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 28, 175;
-An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
-Al Maa’idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
-Al An’aam (6), ayat 121, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 3, 27, 30;
-Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
-At Taubah (9), ayat 23, 71;
-Yunus (10), ayat 62;
-Hud (11), ayat 20, 113;
-Ar Ra’d (13), ayat 16;
-Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
-Al Furqaan (25), ayat 18;
-Al Ankaabut (29), ayat 41;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 3;
-Fushshilat (41), ayat 31;
-Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
-Al Ahqaf (46), ayat 32;
-Al Mumtahanah (60), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur’an, lafaz awliyaa’ dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.

Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa’idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.

Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.

Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibn Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari. Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar. Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi. Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
“Makna awliyaa’ di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong”

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa’ dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibn Katsir berkata,
“Sesungguhnya wali-­wali Allah ialah orang yang beriman dan bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah wali bagi Allah.”

Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas keduanya berkata,
awliyaa’ Allah ialah orang yang apabila dia memandang pasti ingat Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada. Dikatakan, “Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka,” Rasulullah berkata,
“Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih ” Lalu beliau membaca ayat di atas.”

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya’ ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:87-88

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 30 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 30



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (11 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku