Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 163


وَ سۡـَٔلۡہُمۡ عَنِ الۡقَرۡیَۃِ الَّتِیۡ کَانَتۡ حَاضِرَۃَ الۡبَحۡرِ ۘ اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا وَّ یَوۡمَ لَا یَسۡبِتُوۡنَ ۙ لَا تَاۡتِیۡہِمۡ ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ نَبۡلُوۡہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ
Waasalhum ‘anil qaryatillatii kaanat haadhiratal bahri idz ya’duuna fiissabti idz ta’tiihim hiitaanuhum yauma sabtihim syurra’an wayauma laa yasbituuna laa ta’tiihim kadzalika nabluuhum bimaa kaanuu yafsuquun(a);

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka.
Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
―QS. 7:163
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
7:163, 7 163, 7-163, Al A’raaf 163, AlAraaf 163, Al Araf 163, Al-A’raf 163
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 163. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini diturunkan di Mekah di saat agama Islam mulai disiarkan dan disampaikan Nabi Muhammad ﷺ.
yang waktu beliau belum pernah berhubungan langsung dengan ulama-ulama Yahudi, dan beliau adalah seorang yang tidak tahu menulis dan membaca sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).
(Q.S Al Ankabut: 48)

Oleh karena itu ayat ini menunjukkan kemukjizatan Alquran yang menerangkan berita, peristiwa-peristiwa, atau kejadian yang telah terjadi pada masa yang lalu, tanpa seorang pun yang memberikan beritanya selain dari Tuhan Yang Maha Tahu.

Ayat ini diterangkan dan ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
agar beliau menerangkan kepada orang-orang Yahudi di Madinah pada waktu itu tentang tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu, yang selalu mengingkari seruan para nabi, walau bukti-bukti apa pun yang telah dikemukakan kepada mereka.
Yang menyatakan tentang tindakan dan sikap nenek moyang mereka itu adalah Nabi Muhammad ﷺ.
seorang nabi yang buta huruf, belum pernah berhubungan dengan orang-orang Yahudi di waktu menerima ayat ini.
Apakah hal ini tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah?

Pada masa dahulu nenek moyang Bani Israil yang berdiam di Aylah, yaitu suatu kota pantai laut Merah antara kota Madyan dan Sinai yang bermata pencaharian menangkap ikan, pernah diuji dan dicoba Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan mereka.
Mereka diperintahkan melakukan ibadat-ibadat pada tiap-tiap hari Sabtu, dan dilarang menangkap ikan pada hari itu.
Maka pada saat ketika banyak ikan bermunculan di permukaan air (laut) pada hari Sabtu yang nampak jinak dan mudah ditangkap.
Karena itu mereka melanggar larangan Allah pada hari tersebut untuk menangkap ikan dengan tidak melaksanakan perintah Allah, yaitu melakukan ibadat sebagaimana yang diperintahkan Allah pada hari itu.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta'ala memberi ujian dan cobaan kepada Bani Israil.
Mereka tidak tahan dan tidak tabah menghadapinya, bahkan mereka melanggar larangan Allah dan tidak melaksanakan perintah-Nya.
Karena sikap dan tindakan mereka, maka bagi mereka berlaku sunah Allah (ketentuan Allah), yaitu barang siapa yang menaati perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya akan dianugerahi kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebaliknya barang siapa yang ingkar kepada-Nya akan sengsara hidupnya di dunia, sedangkan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih.
Tentu sunatullah ini berlaku pula terhadap orang-orang yang fasik dan orang-orang Yahudi yang berada di Madinah, sebagaimana yang telah berlaku pada nenek moyang mereka.

Al A'raaf (7) ayat 163 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 163 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 163 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tanyakanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang Yahudi--guna mencela perbuatan nenek-moyang mereka--tentang ihwal penduduk negri Eilah yang terletak di tepi laut, ketika mereka melanggar aturan Allah dengan menangkap ikan pada hari Sabtu, dan ketika pada hari Sabtu itu ikan-ikan besar justru berdatangan dan terapung-apung di atas air--sebagai salah satu bentuk cobaan dari Allah--sementara di hari lain ikan-ikan itu tidak ada.
Melalui cobaan-cobaan di atas, Kami akan terus menguji mereka dengan bentuk lain, karena mereka selalu berbuat fasik.
Melalui cobaan-cobaan seperti itulah akan dapat dipilah mana yang baik dan mana yang jahat."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan tanyakanlah kepada Bani Israel) hai Muhammad, sebagai celaan (tentang negeri yang terletak di dekat laut) di pinggir laut Qalzum yaitu kota Aylah, yang dipertanyakan ialah tentang apa yang terjadi atas penduduknya (ketika mereka melanggar aturan) saat mereka melakukan pelanggaran (pada hari Sabtu) di mana mereka berburu ikan yang pada hari itu mereka dilarang melakukannya (di waktu) merupakan zharaf dari lafal ya'duuna (datang kepada mereka ikan-ikan pada hari Sabtunya dengan terapung-apung pada pinggirannya) yang tampak di permukaan air (dan di hari-hari yang bukan Sabtu) maksudnya di mana mereka sudah tidak lagi terikat dengan pengagungan hari Sabtu, atau dengan kata lain ialah hari-hari selain hari Sabtu (ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka) sebagai ujian dari Allah.
(Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik) dan tatkala mereka hendak berburu ikan para penduduk kota terbagi suaranya menjadi tiga bagian, sebagian berpendapat ikut berburu bersama orang-orang yang berburu, sebagian lainnya mencegah mereka melakukannya dan sebagian lainnya bersikap abstain, tidak ikut dan juga tidak melarang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan tanyakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang Yahudi itu tentang berita penduduk negeri yang tidak jauh dari laut Merah, ketika para penduduknya melanggar hukum-hukum Allah pada hari Sabtu, di mana Allah memerintahkan mereka untuk mengagungkan hari Sabtu dan tidak berburu ikan (pada hari itu).
Lalu Allah mencoba dan menguji mereka dengan mendatangkan banyak ikan-ikan pada hari Sabtu di permukaan air laut.
Apabila hari Sabtu berlalu, ikan-ikan itu pergi dan tidak pernah tampak lagi, sehingga mereka tidak melihat apa pun di laut pada hari itu.
Mereka menunggu ikan-ikan itu pada hari Sabtu di lubang-lubang yang disediakan, kemudian mereka manangkap ikan-ikan itu setelah hari Sabtu.
Sebagaimana Kami sebutkan kepada kalian bahwa penampakan ikan-ikan di permukaan air pada hari di haramkannya berburu dan menyembunyikan ikan-ikan itu pada hari dihalalkannya berburu, termasuk ujian dan cobaan, maka begitulah Kami menguji mereka disebabkan kefasikan dan ketidaktaatan mereka terhadap Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Konteks ayat ini merupakan penjabaran dari apa yang disebutkan oleh Allah dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan sesungguhnya telah kalian ketahui orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari sabtu.
(Al Baqarah:65), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada Nabi-Nya:

Dan tanyakanlah kepada mereka (Bani Israil).

Artinya, tanyakanlah kepada orang-orang Yahudi yang ada di dekatmu tentang kisah teman-teman mereka yang menentang perintah Allah subhanahu wa ta'ala.
lalu mereka ditimpa siksa Allah yang mengejutkan akibat dari perbuatan mereka, pelanggaran mereka, dan tipu daya mereka dalam menentang perintah-Nya.
Allah juga memperingatkan mereka agar jangan menyembunyikan sifat Nabi ﷺ yang mereka jumpai dalam kitab-kitab mereka, agar mereka tidak ditimpa oleh siksaan yang pernah menimpa teman-teman mereka yang terdahulu.

Kota yang dimaksud ialah kota Ailah, terletak di tepi Laut Qalzum (Laut Merah).

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang kota yang terletak di dekat laut.
(Al A'raf:163) Kota tersebut dikenal dengan nama Ailah, terletak di antara kota Madyan dan Bukit Tur.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Qatadah, dan As-Saddi.

Abdullah ibnu Kasir Al-Qari' mengatakan, "Kami mendengarnya disebut Ailah, tetapi menurut pendapat yang lain ada yang menyebutnya Madyan, menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas."

Ibnu Zaid mengatakan bahwa nama kota tersebut adalah Ma'ta, terletak di antara Madyan dan Ainuna.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu.

Maksudnya, mereka melakukan' pelanggaran di hari Sabtu dan menentang perintah Allah yang mengharuskan mereka agar menjaga kesuciannya di masa itu.

di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air pada hari Sabtunya.
(Al-A'rif: 163)

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna syurra'an ialah terapung-apung di permukaan air.
Menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas juga, makna yang dimaksud ialah ikan-ikan itu bermunculan dari semua tempat (di laut itu).

Ibnu Jarir telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini:

...dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka.
Demikianlah Kami mencoba mereka.

Yakni Kami mencoba mereka dan menguji mereka dengan memuncul­kan ikan-ikan itu bagi mereka terapung-apung di permukaan air pada hari larangan melakukan perburuan.
Kemudian Kami lenyapkan ikan-ikan itu dari mereka pada hari-hari lainnya yang membolehkan mereka melakukan' perburuan.

...Demikianlah Kami mencoba mereka.

yaitu Kami menguji mereka.

...disebabkan mereka berlaku fasik.
Artinya, karena kedurhakaan maka mereka tidak mau taat kepada Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Mereka adalah suatu kaum yang menggunakan hailah (tipu muslihat) untuk melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah, yaitu dengan cara menggunakan sarana-sarana fisik yang pengertiannya secara tidak langsung menunjukkan pelanggaran terhadap hal yang diharamkan.

Imam Abu Abdullah ibnu Buttah —seorang ulama fiqih— mengata­kan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah Az-Za'farani, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Janganlah kalian melakukan pelanggaran seperti pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, karenanya kalian akan menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah dengan sedikit kilah (tipu muslihat).

Sanad hadis ini berpredikat jayyid (baik), karena sesungguhnya Ahmad ibnu Muhammad ibnu Salam ini disebutkan oleh Al-Khatib di dalam kitab Tarikh-nya, bahwa dia orangnya siqah.
Sedangkan perawi lainnya berpredikat masyhur lagi siqah Imam Turmuzi menilai sahih kebanyak­an sanad dengan kriteria seperti ini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 163

ZABUUR
زَبُور

Zabuur dari segi bahasa berarti tulisan atau kitab yang ditulis dengan baik. Umumnya disandarkan pada kitab nabi Daud.

Asy Syaukani berkata,
"Asal maknanya at tauthiq yaitu pengukuhan, perjanji­an dan kepercayaan, sebuah kitab yang di­ namakan zabur karena kuatnya pegangan padanya.

Al Kafawi berkata,
setiap kitab yang tebal tulisannya dikatakan az zabur.

Disebut tiga kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-An Nisaa (7), ayat 163;
-Al Israa (17), ayat 55;
-Al Anbiyaa (21), ayat 105.

Dalam Tafsir Al Manaar, makna az zabuur adalah mazbuur.

Hamzah dan Khalf membaca­nya dengan zubuur berdasarkan wazannya seperti 'araq (keringat) jamaknya 'uruq atau kitab (buku) dan maktub (tulisan atau yang ditulis). Zabuur adalah kitab khas yang diberi­kan kepada Nabi Daud dan juga ahli kitab.

Menurut Cyril Glasse, zabuur ialah nama Arab kitab Mazmun kepunyaan nabi Daud. Kata ini berasal dari bahasa Hebrew, zamir (nya­nyian) dan mizmor (melodi). Kedua-duanya digunakan untuk menunjukkan pada mazmur kepunyaan nabi Daud.

Zabuur digambarkan di dalam Al Qur'an sebagai wahyu yang di­berikan oleh Allah kepada nabi Daud.
Allah berfirman:

وَءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ زَبُورًا

yang bermaksud, "Dan kepada Daud kami menganugerahkan zabuur"

Hal ini berarti zabuur diakui oleh Islam sebagai kitab suci yang diwahyukan bersama dengan Taurat dan Injil." Kata "meng­anugerahkan" dan bukan "mewahyukan" seperti kepada nabi yang disebut sebelum beliau membawa isyarat kitab suci itu ada­lah diwahyukan kepada beliau dalam bentuk kitab.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:257

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 163 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 163



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku