QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 156 [QS. 7:156]

وَ اکۡتُبۡ لَنَا فِیۡ ہٰذِہِ الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ اِنَّا ہُدۡنَاۤ اِلَیۡکَ ؕ قَالَ عَذَابِیۡۤ اُصِیۡبُ بِہٖ مَنۡ اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ شَیۡءٍ ؕ فَسَاَکۡتُبُہَا لِلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ وَ یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ بِاٰیٰتِنَا یُؤۡمِنُوۡنَ
Waaktub lanaa fii hadzihiddunyaa hasanatan wafii-aakhirati innaa hudnaa ilaika qaala ‘adzaabii ushiibu bihi man asyaa-u warahmatii wasi’at kulla syai-in fasaaktubuhaa lil-ladziina yattaquuna wayu’tuunazzakaata waal-ladziina hum biaayaatinaa yu’minuun(a);

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.
Allah berfirman:
“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”.
―QS. 7:156
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Khusuk saat mendengar Al Qur’an
7:156, 7 156, 7-156, Al A’raaf 156, AlAraaf 156, Al Araf 156, Al-A’raf 156

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 156

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 156. Oleh Kementrian Agama RI

Selanjutnya Musa berdoa: “Berilah kami kebajikan di dunia, yaitu sehat jasmani dan rohani, diberi keturunan yang dapat merupakan sambungan hidup dan penyambung cita-cita, diberi kehidupan dalam keluarga yang diliputi oleh rasa kasih sayang, dianugerahi rezeki yang halal, serta taufik dan hidayah sehingga bahagia pula hidup di akhirat.
Sesungguhnya kami berdoa dan bertaubat kepada Engkau, kami berjanji tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan terlarang dan kami kembali kepada iman yang sebenar-benarnya, serta mengamalkan amal yang saleh yang Engkau Ridai.”

Allah berfirman: “Rahmat-Ku lebih cepat datangnya kepada hamba-hamba-Ku daripada amarah-Ku, dan azab-Ku khusus Aku timpakan kepada hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki, yaitu orang-orang yang berbuat kejahatan, ingkar dan durhaka.
Tentang rahmat, nikmat dan keutamaan-Ku, semuanya itu meliputi alam semesta tidak satu pun dari hamba-Ku yang tidak memperoleh-Nya termasuk orang-orang kafir, orang-orang yang durhaka, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang muslim, penyembah patung anak sapi dan sebagainya.
Sesungguhnya jika bukanlah karena rahmat, nikmat dan keutamaan-Ku, niscaya telah aku binasakan seluruh alam ini karena kebanyakan orang kafir, durhaka yang selalu mengerjakan kemaksiatan.” Seperti firman Allah:

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan telapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu.
(Q.S. Faathir [35]: 45)

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa rahmat, nikmat dan keutamaan Allah yang diberikannya kepada orang-orang kafir hanya sementara tidak abadi dan tidak sempurna sedangkan yang sempurna dan abadi akan dianugerahkan-Nya kepada orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menunaikan zakat.

Dalam ayat ini disebut zakat, tidak disebut perbuatan-perbuatan lain yang tidak kalah nilainya dari zakat.
Hal ini ada hubungannya dengan banyaknya orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat dibanding banyaknya orang orang-orang enggan mengerjakan perbuatan-perbuatan lain yang diperintahkan Allah.
Juga merupakan isyarat-isyarat kepada sifat orang Yahudi yang sangat cinta kepada harta enggan menyerahkan sebagian hartanya di jalan Allah.

Penetapan rahmat, nikmat dan keutamaan secara istimewa kepada orang-orang yang takwa dan menunaikan zakat itu adalah seperti Allah telah menetapkan pula secara istimewa kepada orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan mengakui keesaan Allah dan kebenaran rasul-rasul-Nya yang telah diutus-Nya dengan pengakuan yang didasarkan atas pengetahuan yang yakin, bukan berdasarkan taklid dan pengaruh adat kebiasaan nenek moyang mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan Allah menetapkan kami di dunia ini dengan kehidupan yang baik, dan kami pun akan selalu diberi petunjuk untuk menaati-Nya.
Sementara di akhirat nanti, kami akan mendapatkan rahmat dan ganjaran kebaikan.
Kini kami telah kembali dan memohon ampunan-Mu.” Tuhan pun berfirman kepada Musa, “Azab- Ku akan Aku timpakan–sesuai dengan kehendak-Ku–kepada siapa saja yang tidak bertobat.
Rahmat dan kasih-sayang-Ku meliputi segala sesuatu, yang telah Aku tetapkan bagi mereka yang meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan, menunaikan kewajiban zakat, dan mengimani seluruh kitab suci yang diturunkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan tetapkanlah) pastikanlah (untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat) kebaikan (sesungguhnya kami kembali pada jalan hidayah) maksudnya kami telah bertobat (kepada-Mu.

Allah berfirman,) Maha Tinggi Allah (“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki) Aku ingin menyiksanya (dan rahmat-Ku meliputi) menyeluruh (segala sesuatu) yang ada di dunia (Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku) di akhirat kelak (untuk orang-orang yang bertakwa yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau tetapkan bagi mereka amal kebajikan di dunia dan akhirat.
Sungguh kami kembali dalam keadaan bertaubat kepada-Mu.
Allah berfirman kepada Musa :
Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa saja yang Aku kehendaki dari makhluk-Ku, sebagaimana Aku timpakan kepada kaummu.
Sedangkan rahmat-Ku meliputi semua makhluk-Ku, maka Aku akan menganugerahkannya kepada orang-orang yang takut kepada Allah dan kepada siksa-Nya, sehingga mereka menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan (rahmat-Ku juga meliputi) orang-orang yang beriman terhadap keterangan-keterangan dan bukti-bukti keesaan Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat.

Doa tersebut merupakan permohonan untuk dihindarkan dari hal-hal yang dilarang, sedangkan doa berikut ini memohon untuk kesuksesan dalam meraih tujuan, yaitu firman-Nya:

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat.

Maksudnya, putuskanlah dan tetapkanlah bagi kami kebaikan di dunia dan akhirat.
Mengenai pengertian kebaikan, telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al Baqarah.

…sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.

Yaitu kami bertobat dan kembali serta berserah diri kepada Engkau.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, Ibrahim At-Taimi, As-Saddi, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, begitu pula menurut pengertian bahasanya.

Allah subhanahu wa ta’ala.
menjawab apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Itu hanyalah cobaan dari Engkau.), hingga akhir ayat.

Yaitu dengan jawaban pada ayat selanjutnya:

Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.

Maksudnya, Aku melakukan apa saja yang Aku kehendaki, dan Aku putuskan apa pun yang Aku sukai, karena hikmah dan keadilan dalam semuanya itu adalah milik-Ku semata.
Tidak ada Tuhan selain Dia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.

Ayat ini merupakan suatu ayat yang besar peliputan dan keumuman maknanya, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam menceritakan perihal para malaikat penyangga Arasy.
Mereka mengatakan:

Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 7)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Abdullah Al-Jusyami, telah mencerita­kan kepada kami Jundub —yaitu Ibnu Abdullah Al-Bajali r.a.— yang menceritakan bahwa seorang Arab Badui datang, lalu mengistirahatkan unta kendaraannya dan menambatkannya.
Lalu ia salat di belakang Rasulullah ﷺ, setelah salam dari salatnya, maka lelaki Badui itu mendatangi unta kendaraannya dan melepaskan tambalannya, lalu menaikinya, kemudian ia berdoa, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau sertakan seorang pun dalam rahmat kami.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang ini, dia atau untanyakah yang sesat, tidakkan kalian dengar apa yang dikatakannya?”
Mereka menjawab, “Ya, kami mendengarnya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya engkau telah membatasi rahmat yang luas.
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menciptakan seratus rahmat.
Lalu Dia menurunkan satu rahmat, yang dengan satu rahmat itu semua makhluk saling mengasihi, baik jin, manusia, maupun hewan-hewan.
Dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat di sisi-Nya.
Bagaimanakah pendapat kalian, apakah orang ini yang sesat, ataukah untanya?”

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id dari ibnu Sulaiman, dari Abu Usman, dari Salman, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
mempunyai seratus rahmat, di antaranya dengan satu rahmat itu” semua makhluk saling mengasihi, dan dengan satu rahmat itu semua hewan liar sayang kepada anak-anaknya.
Dan Allah menangguhkan yang sembilan puluh sembilannya untuk hari kiamat nanti.

Hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Muslim.
Imam Mus­lim meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman ibnu Tarkhan dan Daud ibnu Abu Hindun, kedua-duanya dari Abu Usman yang nama aslinya adalah Abdur Rahman ibnu Mal, dari Salman Al-Farisi, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, di sisi-Nya tersimpan sembilan puluh sembilan rahmat, dan menjadikan yang satu rahmat buat kalian, yang dengan satu rahmat itu kalian saling menyayangi, baik jin.
manusia, dan makhluk lainnya.
Dan apabila hari kiamat tiba, maka Allah menggabungkannya dengan yang ada di sisi-Nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada, kami Abdul Wahid, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Sa’id yang mencerita­kan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Allah mempunyai seratus rahmat, di antaranya satu bagian dibagikan di antara manusia, dengan satu rahmat itulah manusia, hewan liar dan burung saling menyayangi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.

Artinya, Aku akan menetapkan rahmat-Ku buat mereka sebagai karunia dan kebajikan dari-Ku.
Sama artinya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Tuhan kalian telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.
(Q.S. Al-An’am [6]: 54)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…untuk orang-orang yang bertakwa.

Maksudnya, Aku akan memberikan rahmat-Ku itu untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, mereka adalah umat Nabi Muhammad ﷺ Yang dimaksud dengan ‘bertakwa’ ialah menjauhi kemusyrikan dan dosa-dosa besar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…yang menunaikan zakat.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah zakat diri, sedangkan menurut pendapat lain adalah zakat harta benda.
Tetapi barangkali makna yang dimaksud bersifat umum, mencakup kedua zakat tersebut, mengingat ayat ini adalah ayat Makkiyyah.

…dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.

Yakni percaya kepada ayat-ayat Kami.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 156 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 156 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 156 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:156
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.9
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending







Pembahasan ▪ tafsir surat 7:156

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim