Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al A'raaf

Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) surah 7 ayat 148


وَ اتَّخَذَ قَوۡمُ مُوۡسٰی مِنۡۢ بَعۡدِہٖ مِنۡ حُلِیِّہِمۡ عِجۡلًا جَسَدًا لَّہٗ خُوَارٌ ؕ اَلَمۡ یَرَوۡا اَنَّہٗ لَا یُکَلِّمُہُمۡ وَ لَا یَہۡدِیۡہِمۡ سَبِیۡلًا ۘ اِتَّخَذُوۡہُ وَ کَانُوۡا ظٰلِمِیۡنَ
Wa-attakhadza qaumu muusa min ba’dihi min hulii-yihim ‘ijlaa jasadan lahu khuwaarun alam yarau annahu laa yukallimuhum walaa yahdiihim sabiilaa-attakhadzuuhu wakaanuu zhaalimiin(a);

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara.
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?
Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
―QS. 7:148
Topik ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
7:148, 7 148, 7-148, Al A’raaf 148, AlAraaf 148, Al Araf 148, Al-A’raf 148
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A'raaf (7) : 148. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Bani Israil telah menyembah patung anak sapi selama kepergian Musa ke bukit Sinai menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta'ala Patung anak sapi itu dibuat oleh Samiri yang berasal dari suku Assamirah, salah satu dari suku-suku yang ada di kalangan Bani Israil.
Samiri membuat patung itu atas anjuran para pemuka Bani Israil.
Nama Samiri disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah berfirman: "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.
(Q.S Taha: 85)

Patung anak sapi itu dibuat dari emas yang berasal dari emas-emas perhiasan wanita-wanita Mesir yang dipinjam oleh wanita-wanita Bani Israil yang dibawanya waktu mereka meninggalkan negeri Mesir itu.
Emas-emas perhiasan itu dilebur dan dibentuk oleh Samiri menjadi patung anak sapi.

Keinginan Bani Israil menyembah patung anak sapi sebagai tuhan selain Allah ini adalah pengaruh dari kebiasaan mereka di Mesir dahulu.
Sebetulnya nenek moyang mereka adalah orang-orang muwahiddin (ahli tauhid) karena mereka adalah keturunan Nabi Yakub.
Akan tetapi setelah bergaul dengan orang Mesir, maka menjalarlah gejala-gejala wasaniyah (menyembah selain Allah) itu kepada mereka.
Ibadah wasaniyah ini telah menjadi kebiasaan saja dan telah mendarah daging dalam diri mereka sehingga sebentar saja mereka jauhi, maka timbullah keinginan mereka hendak melakukan kebiasaan tersebut.

Ada perbedaan pendapat antara ahli tafsir tentang patung anak sapi sebagai tuhan selain Allah ini yang disembah Bani Israil itu, apakah berupa anak sapi yang sebenarnya, yang hidup dan dapat bersuara atau berupa patung anak sapi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga jika ditiupkan angin ke dalamnya ia akan dapat bersuara.

Menurut Qatadah, Hasan Al-Basri dan perawi-perawi yang lain bahwa anak sapi yang disembah Bani Israil itu adalah anak sapi yang sebenarnya, yang hidup dan dapat bersuara seperti suara anak sapi yang sebenarnya.

Anak sapi itu berasal dari patung anak sapi yang terbuat dari emas perhiasan yang dibawa Bani Israil.
Emas perhiasan itu dikumpulkan oleh Samiri, dilebur dan dibuat patung yang berbentuk anak sapi.
Diceritakan bahwa Samiri telah melihat malaikat Jibril mengendarai kuda menolong Bani Israil dari pengejaran Firaun dan tentaranya, menyeberang laut Qulzum.
Menurut kepercayaan Samiri: setiap benda mati yang terpijak atau terkena bekas telapak kuda itu akan hiduplah dia, seperti makhluk hidup biasa ini.
Maka Samiri mengambil tanah bekas telapak kuda Jibril itu.
Sewaktu ia membuat patung anak sapi itu, maka dimasukkannyalah sebagian tanah bekas telapak kuda ke dalam patung anak sapi itu, sehingga patung anak sapi itu hidup, bertubuh, bersuara sebagaimana anak sapi biasa.
Inilah yang disembah oleh Bani Israil.

Menurut pendapat kedua: Suara dari patung anak sapi itu adalah karena masuknya angin ke dalam rongganya dan keluar dari lobang yang lain, sehingga menimbulkan suara.
Hal ini dapat dibuat dengan memasukkan alat semacam pipa yang dapat berbunyi dalam rongga patung anak sapi itu.
Jika pipa itu dihembus angin, maka berbunyilah patung anak sapi seperti bunyi anak sapi sebenarnya.
Karena hal seperti itu dipandang aneh oleh Bani Israil, maka dengan mudah timbul kepercayaan pada diri mereka bahwa patung anak sapi itu berhak disembah, sebagaimana halnya menyembah Allah.
Dari kedua pendapat ini maka pendapat kedua adalah pendapat yang sesuai dengan akal pikiran.

Allah subhanahu wa ta'ala mencela perbuatan Bani Israil yang lemah iman itu, yang tidak dapat membedakan antara Tuhan yang berhak disembah dengan sesuatu yang ganjil yang baru pertama kali mereka lihat dan ketahui.
Mereka tidak dapat membedakan antara Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para Rasul dan makhluk Tuhan yang hanya dapat bersuara yang tidak diketahui maksud dari suara itu.
Jika mereka pikir kemampuan diri mereka sendiri mungkin diri mereka lebih baik, lebih mempunyai kesanggupan berbicara dari patung anak sapi itu.

Bani Israil berbuat demikian itu bukanlah berdasar sesuatu dalil yang kuat, mereka berbuat demikian hanyalah karena pengaruh adat kebiasaan nenek moyang mereka yang ada di Mesir dahulu yang menyembah anak sapi.
Padahal kepada mereka telah diturunkan bukti-bukti yang nyata, seperti membelah laut, tongkat menjadi ular dan sebagainya.
Karena mereka tidak mau memperhatikan bukti-bukti dan dalil-dalil, mereka mengingkari Allah yang berakibat buruk pada diri mereka sendiri.

Al A'raaf (7) ayat 148 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al A'raaf (7) ayat 148 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al A'raaf (7) ayat 148 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah kepergian Musa ke bukit untuk bermunajat kepada Tuhan, kaumnya membuat sebuah patung anak lembu yang tidak dapat berpikir dan merasa dari perhiasan-perhiasan mereka.
Patung anak lembu itu--yang dirancang dengan teknik yang dapat mengeluarkan suara karena bantuan angin yang masuk ke dalamnya--mengeluarkan suara seperti lembu.
Inilah teknik yang dibuat oleh al-Samiriy, pembuat patung yang menyuruh orang menyembahnya.
Alangkah dungunya mereka! Bagaimana mungkin mereka menjadikan patung itu sebagai tuhan dan menyembahnya, sementara ia tidak dapat diajak bicara dan tak mampu menunjukkan mereka jalan yang benar.
Sesungguhnya mereka, dengan melakukan perbuatan tercela itu, telah menzalimi diri mereka sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa, mereka membuat) setelah pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat (dari perhiasan mereka) yang telah mereka pinjam dari kaumnya Firaun dengan alasan untuk perkawinan (berhala) yang kemudian dipuja-puja oleh mereka (anak lembu) Samirilah yang mencetaknya berdasarkan permintaan mereka (yang bertubuh) sebagai ganti dari daging dan darah (dan bersuara) artinya suara yang dapat didengar, dan dapat bergerak sebab Samiri menaruh debu di mulutnya dari bekas teracak kuda malaikat Jibril, sebagai pengaruhnya berhala itu dapat hidup.
Maf'ul dari lafal ittakhadza dibuang yang asalnya ialah lafal ilaahan, yakni sebagai tuhan.
(Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat pula menunjukkan jalan kepada mereka?) lalu mengapa mereka menganggapnya sebagai tuhan mereka (Mereka menjadikannya) sebagai sesembahan (dan mereka adalah orang-orang yang lalim) disebabkan mengambilnya sebagai sesembahan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Setelah Musa meninggalkan kaumnya untuk bermunajat kepada Rabbnya, mereka justru membuat sesembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas yang tidak bernyawa, tetapi memiliki suara.
Apakah mereka tidak mengetahui kalau patung itu tidak dapat berbicara kepada mereka dan tidak dapat menunjukkan mereka kepada kebaikan?
Begitulah, mereka melakukan perkara yang sangat buruk.
Dan mereka adalah orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menceritakan perihal kesesatan orang-orang yang sesat dari kalangan kaum Bani Israil karena mereka menyembah patung anak lembu yang dibuat oleh Samiri dari perhiasan bangsa Qibti.
Perhiasan emas itu asal mulanya mereka pinjam dari orang-orang Qibti di negeri Mesir, kemudian Samiri meleburnya dan menjadikannya patung anak lembu.

Kemudian Samiri memasukkan debu dari bekas teracak kuda Malaikat Jibril 'alaihis salam ke dalam leburan emas itu sehingga jadilah sebuah patung yang berbentuk dan bersuara.
Al-khuwar ialah suara lembu.
Hal ini terjadi setelah kepergian Musa untuk memenuhi janji Tuhannya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan hal tersebut kepada Musa ketika Musa berada di Bukit Tur.
Hal ini diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala., menceritakan perihal apa yang telah dilakukan oleh diri-Nya:

Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri."(Thaahaa:85)
Para ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan anak lembu ini, apakah ia mempunyai darah dan daging serta dapat bersuara, ataukah ujudnya tetap seperti patung emas, hanya di dalam rongganya terdapat udara sehingga bersuara seperti suara sapi.
Ada dua pendapat mengenai­nya, hanya Allah yang lebih mengetahui.
Menurut suatu pendapat, ketika anak lembu itu bersuara, maka mereka menari-nari di sekelilingnya dan teperdaya oleh buatan Samiri itu, lalu mereka mengatakan bahwa inilah tuhan kalian dan tuhan Musa, tetapi Musa melupakannya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudaratan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan.
(Thaahaa:89)
Dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?
(Al A'raf:148)
Allah subhanahu wa ta'ala.
mengingkari kesesatan mereka karena anak lembu itu dan kealpaan mereka kepada Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang memilikinya, sebab mereka menyembah dan mempersekutukan-Nya dengan patung anak lembu yang bersuara itu, padahal anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka, tidak pula menunjukkan jalan kebaikan kepada mereka.
Tetapi memang gelapnya kebodohan dan kesesatan telah menutupi pandangan hati mereka, seperti yang di­sebutkan di dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Abu Daud, dari Abu Darda yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ pemah bersabda:

Cintamu kepada sesuatu dapat membualmu buta dan pekak (tuli).

Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 148

JASAD
جَسَد

Arti lafaz jasad adalah tubuh yang tidak bergerak, tidak makan dan tidak minum.

Kata jasad diulang empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 148;
-Tha Ha (20), ayat 88;
-Al­ Anbiyaa (21), ayat 8;
-Shad (38), ayat 34.

Dalam surah Al A'raaf (7), ayat 148 dan surah Tha Ha (20), ayat 88 menceritakan perilaku Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ke Gunung Thur. Mereka terlepas dari ajar­an Nabi Musa karena mereka menyembah patung anak lembu yang ('ijlan jasad) dan dapat bersuara yang dibuat oleh Samiri. Mereka menganggap patung anak lembu itu adalah tuhan mereka.

Ahli tafsir berbedza pendapat mengenai bentuk patung anak lembu itu. Sebahagian dari mereka berpendapat patung itu kemudian berubah menjadi anak lembu yang mempunyai daging, darah dan dapat bersuara. Sedangkan sebahagian yang lain berpendapat patung itu tetap berbentuk emas dan suara yang muncul adalah akibat tiupan angin yang melalui rongga bahagian dalamnya. Diceritakan juga, ketika patung anak lembu itu bersuara, kaum Bani Israil menari-nari mengelilinginya dan mengatakan ia adalah tuhan yang dilupakan oleh Nabi Musa.

Dalam surah Al Anbiyaa (21), ayat 8, Allah menegaskan para rasul yang diutus kepada manusia adalah dari kalangan manusia sendiri, bukan dari penduduk langit (malaikat) seperti yang diyakini oleh orang kafir. Sehingga para rasul bukan badan yang tidak makan makanan. (jasadan laa ya'kuluunal tha'aam) melainkan mereka adalah manusia yang makan dan minum seperti manusia yang lain dan juga pergi ke pasar untuk bekerja dan berdagang. Hal itu tidaklah mengurangi kehormatan mereka seperti yang disangka oleh orang musyrik.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 34 menerangkan ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman. Ujian itu adalah karena Nabi Sulaiman berkata,
"Pada malam ini saya akan menggilir isteri-isteriku yang berjumlah 90, nanti mereka akan melahirkan seorang anak yang menjadi tentara berkuda dan berperang di jalan Allah" Namun, beliau tidak mengucap­kan Insya Allah. Akhirnya, Allah menguji beliau dengan mendatangkan sesosok tubuh ("jasadan") di singgahsana kerajaannya.

Ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan lafaz jasadan. Diantara pen­dapat mereka mengenai "tubuh" pada ayat itu adalah tubuh anak yang tidak sempurna yang dilahirkan oleh salah seorang dari 90 isteri Nabi Sulaiman, sedangkan yang lainnya tidak melahirkan.

Sebahagian ahli tafsir mengatakan sesosok tubuh itu adalah syaitan yang wajahnya seperti Nabi Sulaiman. Hal ini terjadi semasa Nabi Sulaiman hendak membuang hajat, beliau menyerahkan cincinnya kepada isterinya. Lalu syaitan itu berubah wajah seperti Nabi Sulaiman dan meminta cincin itu dari isteri Nabi Sulaiman. Akhirnya, syaitan itu memerintah kerajaan selama 40 hari dan Nabi Sulaiman pula bersembunyi hingga cincinnya kembali kepadanya. Setelah itu, beliau pun meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukannya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:147-148

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A'raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan "Al A 'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A 'raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di 'Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.

Lain-lain:

Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah


Gambar Kutipan Surah Al A’raaf Ayat 148 *beta

Surah Al A'raaf Ayat 148



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al A'raaf

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku