QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 144 [QS. 7:144]

قَالَ یٰمُوۡسٰۤی اِنِّی اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ بِرِسٰلٰتِیۡ وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ مَاۤ اٰتَیۡتُکَ وَ کُنۡ مِّنَ الشّٰکِرِیۡنَ
Qaala yaa muusa inniiishthafaituka ‘alannaasi birisalaatii wabikalaamii fakhudz maa aataituka wakun minasy-syaakiriin(a);

Allah berfirman:
“Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.
―QS. 7:144
Topik ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
7:144, 7 144, 7-144, Al A’raaf 144, AlAraaf 144, Al Araf 144, Al-A’raf 144

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 144

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 144. Oleh Kementrian Agama RI

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Dia telah memilih Musa di antara manusia yang ada di zaman-Nya dengan memberikan karunia yang tidak diberikannya kepada manusia lainnya, yaitu mengangkat Musa sebagai nabi dan rasul, memberinya kesempatan langsung berbicara dengan Allah, sekalipun dibatas oleh suatu yang membatasinya antara Allah dan Musa.

Di dalam Alquran disebutkan cara Allah subhanahu wa ta’ala menyampaikan wahyu kepada para rasulnya sebagaimana firman Allah:

Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

(Q.S Asy Syura: 51)

Jadi ada tiga macam menurut ayat ini cara Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul yaitu:

1.
Dengan mewahyukan kepada rasul yang bersangkutan, yaitu dengan menanamkan suatu pengertian ke dalam hati seseorang yang disampaikan wahyu kepadanya.

2.
Berbicara langsung dengan memakai pembatas yang membatasi antara Allah dan hamba yang diajak berbicara.

3.
Dengan perantaraan malaikat Jibril a.s.

Mengenai persoalan dapatkah manusia melihat Allah dengan nyata, maka jika dipahami ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.
Mustahil manusia melihat Allah selama mereka hidup di dunia sebagaimana ditegaskan Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Musa a.s.

2.
Orang-orang yang beriman dapat melihat Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat nanti sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya manusia berkata (kepada Rasulullah ﷺ), “Ya Rasulullah, adakah kita melihat Tuhan kita pada hari kiamat nanti?”
Rasulullah menjawab, “Adakah yang menghalangi kalian melihat bulan pada bulan purnama?”
Mereka berkata, “Tidak ya Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Maka sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan seperti melihat bulan purnama itu.”
(H.R Bukhari dan Muslim)

3.
Semua yang ada wujudnya dapat dilihat.
Hanyalah yang tidak ada wujudnya yang tidak dapat dilihat.
Tuhan adalah wajibul wujud, karena itu Tuhan dapat dilihat jika ia menghendakinya.
Dalam pada itu Tuhan melihat segala yang ada termasuk melihat diri-Nya sendiri.
Kalau Tuhan dapat melihat diri-Nya tentu Dia berkuasa pula menjadikan manusia melihat diri-Nya jika Dia menghendaki.

4.
Firman Allah:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S Al Qiyamah: 22-23)

Dari ayat ini dipahami bahwa melihat Tuhan pada hari kiamat itu termasuk nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman.
Karena itu mereka selalu mengharap-harapkannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tatkala Allah menolak permintaan Musa untuk melihat-Nya, Dia telah menyiapkan untuk Musa nikmat- nikmat yang lain sebagai penghibur penolakan itu, seraya berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memberikan keutamaan kepadamu, dan dari sekian banyak orang sezamanmu, Aku memilih kamu untuk menyampaikan sifr-sifr Tawrat dan berbicara langsung dengan-Ku.
Maka terimalah keutamaan yang Kuberikan kepadamu ini, bersyukurlah kepada-Ku sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat-Ku.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah berfirman,) Maha Tinggi Allah (“Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih melebihkan kamu) yakni Aku memilihmu (dari manusia) yang hidup di masamu (untuk membawa risalah-Ku) dengan memakai jamak dan mufrad/tunggal (dan untuk berbicara langsung dengan-Ku) Aku berbicara kepadamu secara langsung (sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu) berupa keutamaan (dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”) atas nikmat-nikmat-Ku.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah berfirman :
Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu atas seluruh manusia untuk menyampaikan risalah dan ayat-ayat-Ku yang Aku firmankan kepadamu tanpa perantara kepada semua makhluk, yang mana Aku mengutusmu kepada mereka.
Ambillah perintah dan larangan yang telah Aku berikan kepadamu, berpegang teguhlah kepadanya dan kerjakanlah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas risalah-Nya yang diberikan kepadamu, dan mengistimewakanmu dengan firman-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa Dia berbicara kepada Musa, Dia memilihnya di atas semua orang-orang yang semasanya untuk membawa risalah-Nya dan untuk berbicara langsung dengan-Nya.
Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penghulu semua anak Adam dari yang pertama hingga yang terakhir.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
menjadikannya sebagai penutup para nabi dan para rasul, dan syariatnya terus berlaku sampai hari kiamat terjadi.
Para pengikutnya lebih banyak daripada para pengikut nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya.
Sesudah beliau ﷺ dalam hal kemuliaan dan keutamaan menyusul Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kekasih Allah, kemudian Musa ibnu Imran yang pernah diajak berbicara langsung dengan Tuhan Yang Maha Pemurah.
Dalam ayat ini disebutkan:

…sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu.
Yakni pembicaraan dan munajat secara langsung ini.

…dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.

Maksudnya, bersyukur atas karunia tersebut, dan janganlah kamu meminta apa yang tidak ada kekuatan bagimu terhadapnya.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa Dia telah menuliskan untuk Musa di dalam luh-luh (kitab Taurat) segala sesuatunya sebagai pelajaran dan keterangan bagi segala sesuatu.
Menurut suatu pendapat, luh-luh tersebut dari pertama, dan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
menuliskan di dalamnya semua pelajaran dan hukum-hukum yang terinci menerangkan tentang halal dan haram.
Dan luh-luh tersebut di dalamnya tercakup isi kitab Taurat yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia.
(Al Qashash:43)

Menurut suatu pendapat, luh-luh itu diberikan kepada Musa sebelum dia menerima kitab Taurat.
Pada garis besarnya luh-luh tersebut merupakan pengganti bagi Musa dari permohonan yang dia mintakan untuk dapat melihat Allah, lalu Allah subhanahu wa ta’ala melarangnya.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 144 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 144 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 144 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:144
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.9
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/7-144









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta