QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 136 [QS. 7:136]

فَانۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ فِی الۡیَمِّ بِاَنَّہُمۡ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ کَانُوۡا عَنۡہَا غٰفِلِیۡنَ
Faantaqamnaa minhum faaghraqnaahum fiil yammi biannahum kadz-dzabuu biaayaatinaa wakaanuu ‘anhaa ghaafiliin(a);

Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.
―QS. 7:136
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya
7:136, 7 136, 7-136, Al A’raaf 136, AlAraaf 136, Al Araf 136, Al-A’raf 136

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 136

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 136. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang datangnya saat bagi Firaun dan kaumnya untuk menghadapi akhir riwayat mereka, setelah ternyata bahwa azab-azab yang ditimpakan kepada mereka sebelumnya tidak merubah sikap dan perbuatan mereka, lantaran kekafiran dan kesesatan mereka yang amat sangat.

Di Atas telah disebutkan bahwa mereka telah mengingkari janji untuk membiarkan Bani Israil meninggalkan negeri Mesir bersama Nabi Musa a.s.
Oleh sebab itu ketika Nabi Musa membawa kaumnya meninggalkan negeri itu menuju Palestina melalui Laut Merah, maka Firaun dan kaumnya mengejar mereka.
Musa dan kaumnya selamat menyeberangi Laut Merah tetapi Firaun dan kaumnya tenggelam ketika berada di tengah-tengah laut itu.
Dengan demikian tamatlah riwayat mereka.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hukuman tersebut dijatuhkan lantaran mereka senantiasa mendustakan ayat-ayat-Nya dan pula tidak mau menyadari akibat yang menimpa mereka lantaran kekafiran dan kelaliman mereka, baik malapetaka di dunia, maupun azab sengsara di akhirat kelak.
Demikianlah sebagian dari kaum Firaun telah binasa bersamanya karena mengikuti kesesatan dan kekafirannya.
Sedang sebagiannya binasa karena kekejaman dan kelaliman Firaun terhadap mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka Kami turunkan hukuman kepada mereka:
Kami tenggelamkan mereka di laut karena pengingkaran yang selalu mereka lakukan terhadap ayat-ayat Kami dan karena keengganan mereka untuk mengimani dan mematuhi ayat-ayat Kami itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut) laut yang airnya asin (disebabkan mereka) dikarenakan mereka (mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami) tetapi mereka tidak mau memikirkannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian ketika tiba batas waktu untuk membinasakan mereka, Kami siksa mereka dengan menimpakan kesengsaraan, Kami tenggelamkan mereka dilautan disebabkan pendustaan mereka terhadap mukjizat-mukjizat yang di bawa oleh Musa.
Mereka lalai dari mukjizat-mukjizat itu sehingga kelalaian itu menyebabkan mereka mendustakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa ketika mereka bersikap sombong dan ingkar, padahal Allah telah menimpakan berbagai ayat (mukjizat) yang bertubi-tubi kepada mereka satu demi satu, dan mereka masih tetap sombong serta ingkar, maka Allah menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka (Fir’aun dan balatentaranya) ke dalam laut.
Laut itu adalah laut yang dibelah oleh Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu ia menyeberanginya bersama kaum Bani Israil yang mengikutinya.
Kemudian Fir’aun dan balatentaranya memakai jalan yang sama untuk mengejar mereka.
Setelah mereka semuanya masuk ke dalam laut itu, maka laut kembali menutup, menenggelamkan mereka sampai habis.
Demikian itu terjadi karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan kelalaian mereka terhadapnya.

Kemudian Allah menceritakan bahwa setelah itu Dia mempusaka-kan belahan timur dan belahan barat bumi kepada orang-orang yang dahulunya hidup tertindas dari kalangan kaum Bani Israil.
Hal ini diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi).
Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka (kaum Bani Israil) itu.
(Al Qashash:5-6)

Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya, demikianlah.
Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.
(Ad Dukhaan:25-28)

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:

…negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya, yang telah Kami beri berkah padanya.
Menurutnya, makna yang dimaksud adalah negeri Syam.


Kata Pilihan Dalam Surah Al A'raaf (7) Ayat 136

YAMM
يَمّ

Arti lafaz yamm ialah lautan berair tawar maupun berair asin.Lafaz yamm diulang delapan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al A’raaf (7), ayat 136;
-Tha Ha (20), ayat 39 (dua kali), 78, 97;
-Al Qashash (28), ayat 7, 40;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 40.

Ada tiga kejadian dalam Al Qur’an yang dikaitkan dengan kata yamm yaitu:

1. Ditenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di laut. Kisah ini diriwayatkan dalam surah Al A’raaf (7), ayat 136; Tha Ha (20), ayat 78; Al Qashash (28), ayat 40; dan Adz Dzariyaat (51), ayat 40. Oleh karena Fir’aun dan pengikutnya tidak mau beriman kepada Nabi Musa, Allah mengazab mereka semua dengan ditenggelamkan di lautan.

2. Nabi Musa semasa bayi diletakkan di dalam peti dan dilepaskan oleh ibunya ke laut yaitu sungai yang lebar. Kisah ini diriwayatkan dalam surah Tha Ha (20), ayat 39 sebanyak dua kali dan Al Qashash (28), ayat 7.

Ibu Nabi Musa melakukan itu karena ilham Allah supaya Nabi Musa selamat dari tentara Fir’aun yang diperintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang lahir.

3. Patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri dan disembah oleh Bani lsra’il dihancurkan dan serpihan abunya di buang ke laut. Dalam surah Tha Ha (20), ayat 97 diterangkan, anak sapi yang dibuat oleh Samiri dan disembah oleh Bani Israel akhirnya dibakar oleh Nabi Musa, kemudian serpihan abunya dihamburkan ke dalam laut. Apa yang dilakukan oleh Nabi Musa ini adalah untuk membuktikan sapi itu bukan Tuhan karena dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk melindungi dirinya sendiri.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:650

Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 136 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 136 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 136 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/7-136









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta