QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 117 [QS. 7:117]

وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَلۡقِ عَصَاکَ ۚ فَاِذَا ہِیَ تَلۡقَفُ مَا یَاۡفِکُوۡنَ
Waa-uhainaa ila muusa an alqi ‘ashaaka fa-idzaa hiya talqafu maa ya’fikuun(a);

Dan Kami wahyukan kepada Musa:
“Lemparkanlah tongkatmu!”.
Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.
―QS. 7:117
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Penghinaan dan pengusiran bangsa Yahudi
7:117, 7 117, 7-117, Al A’raaf 117, AlAraaf 117, Al Araf 117, Al-A’raf 117

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 117

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 117. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah Allah menenangkan Nabi Musa, maka Dia berfirman kepadanya, “Jatuhkanlah tongkatmu itu (ke tanah)”,
maka sekonyong-konyong tongkat itu berubah menjadi ular besar yang sebenarnya dan menelan semua yang disulapkan ahli sihir tersebut.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah pun memerintahkan agar Musa melempar tongkatnya.
Tibalah saat yang ditunggu, dan Musa pun segera melemparkan tongkatnya.
Seketika itu juga tongkat itu menelan dengan cepat pengelabuan dan kebohongan sihir mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan) dengan membuang salah satu di antara kedua ta yang asal, yakni:

tongkat itu mencaplok (apa yang mereka sulapkan) apa yang mereka balikkan pada pandangan mata orang dengan tipu sulap mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Lalu Allah mewahyukan kepada hamba dan Rasul-Nya, Musa, pada kejadian yang besar itu, yaitu kejadian di mana Allah membedakan antara yang hak dan yang batil.
Dia memerintahkan Musa untuk melempar apa yang ada pada tangan kanannya, yaitu tongkatnya.
Kemudian Musa melemparnya, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular yang besar dan memakan semua yang dilemparkan oleh para penyihir Fir aun, kejadian ini mengilhami manusia bahwa Musa berada pada kebenaran dan Fir aun berada pada kebatilan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
memberikan wahyu kepada hamba dan rasul-Nya —yaitu Musa ‘alaihis salam— dalam situasi yang kritis itu.
Saat itulah Allah akan membedakan antara perkara yang hak dan yang batil, hendaknyalah Musa melemparkan tongkat yang ada di tangan kanannya.

Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan.

Yakni menelan bulat-bulat.

apa yang mereka sulapkan.

Maksudnya, semua yang mereka lemparkan dan mereka sulapkan itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilemparkan oleh Musa ‘alaihis salam adalah hak (benar), sedangkan yang mereka lemparkan adalah batil.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ular Nabi Musa itu tidak sekali-kali melewati sesuatu dari tali dan tongkat mereka melainkan ia menelannya bulat-bulat.
Sejak itulah para ahli sihir mengetahui bahwa apa yang didatangkan oleh Musa adalah dari langit, bukan sihir.
Lalu mereka menyungkur bersujud seraya berkata, seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:

Kami beriman kepada Tuhan semesta alam (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 121-122)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, ular Nabi Musa terus mengejar semua tali dan tongkat mereka satu demi satu hingga tidak ada sedikit pun —apalagi banyak— melainkan semuanya ditelan bulat-bulat olehnya.
Apa yang mereka lemparkan di lembah itu tiada sedikit pun kelihatan masih tersisa.
Kemudian Nabi Musa memegangnya, maka ular tersebut kembali ke ujud yang semula, yaitu tongkat, sedangkan para ahli sihir menyungkur bersujud seraya berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 121-122) Mereka mengatakan pula, “Sekiranya apa yang dilakukan oleh Musa itu adalah sihir, niscaya dia tidak akan dapat mengalahkan kami.”

Al-Qasim ibnu Abu Burrah mengatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu.” lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (Q.S. Al-A’raf [7]: 107) Ular itu mengangakan mulutnya dan menelan tali-tali serta tongkat-tongkat mereka.
Maka saat itu juga para ahli sihir menyungkur bersujud, dan mereka tidak berani mengangkat kepala mereka sehingga mereka melihat surga dan neraka serta balasan yang diterima oleh para penghuninya masing-masing.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 117 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 117 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 117 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:117
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.6
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al araf 117-122

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim