Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 109 [QS. 7:109]

قَالَ الۡمَلَاُ مِنۡ قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِیۡمٌ
Qaalal malaa min qaumi fir’auna inna hadzaa lasaahirun ‘aliimun;

Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata:
“Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai,
―QS. 7:109
Topik ▪ Tauhid Uluhiyyah
7:109, 7 109, 7-109, Al A’raaf 109, AlAraaf 109, Al Araf 109, Al-A’raf 109

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 109

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 109. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah pemuka-pemuka kaum Firaun meyakinkan mukjizat yang diperlihatkan Nabi Musa kepada mereka, maka jangankan mereka itu beriman, bahkan mereka menuduh Nabi Musa telah melakukan sihir.
Mereka menganggap bahwa perubahan tongkat Nabi Musa menjadi ular besar yang mereka saksikan, sama halnya dengan apa yang dapat diperbuat oleh ahli-ahli sihir yang terkenal di masa itu.
Sihir dapat dibagi kepada tiga macam, yaitu:

1.
Sihir yang menggunakan benda-benda alam tertentu yang diperlakukan sedemikian rupa dengan cara-cara tertentu pula yang hanya diketahui oleh ahli-ahli sihir sendiri, sehingga menghasilkan efek (kesan) yang sangat menakjubkan bagi masyarakat yang alam pikirnya masih primitif (bersahaja).

2.
Sihir yang didasarkan pada kecepatan tangan dalam menyembunyikan dan menampakkan benda-benda tertentu, sehingga kelihatan lain bentuk dan rupanya dari keadaan yang sebenarnya.
Hal ini sama dengan permainan sulap pada masa kita sekarang.

3.
Sihir yang berdasarkan hipnotisme, yaitu mempengaruhi jiwa yang lemah dengan jiwa yang kuat.
Dan kadang-kadang mereka mempergunakan pengaruh setan, sehingga membuahkan perbuatan yang histeris, itu permainan jailangkung dan sebagainya

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka ketika Musa telah memperlihatkan bukti-bukti dari Allah itu, tercenganglah para kroni dan pembesar Fir’aun.
Mereka pun, dengan menjilat dan bersikap munafik, berkata kepada Fir’aun, “Ini sebenarnya hanya kemahiran sihir saja, bukan bukti dari Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Pemuka-pemuka kaum Firaun berkata, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai) yang ulung di dalam ilmu sihir, dan di dalam surah Asy-Syu`ara disebutkan bahwa perkataan ini adalah perkataan Firaun sendiri.
Seolah-olah para pemuka kaum Firaun itu mengatakan perkataan tersebut bersama Firaun sendiri, setelah mereka dan dia bermusyawarah tentang hal itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para pemuka dari kaum Fir aun berkata :
Sesungguhnya Musa adalah seorang penyihir yang menyihir mata-mata manusia sehingga terbayang bagi mereka bahwa tongkat itu seakan-akan ular dan menjadikan sesuatu tampak seperti benda yang lain.
Dia adalah orang yang pandai dan mahir melakukan sihir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Para pembesar atau para pemuka dari kalangan kaum Fir’aun mengucap­kan kalimat yang senada dengan perkataan Fir’aun sesudah ia terbebas dari rasa takutnya dan kembali duduk di atas singgasananya.
Lalu ia mengatakan kepada pemuka-pemuka kaumnya yang ada di sekitarnya, seperti yang disitir oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai.

Maka mereka pun mengucapkan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh raja mereka, kemudian mereka bermusyawarah untuk menentukan sikap mereka terhadap Musa, yang tujuannya ialah cara tipu muslihat apakah yang akan mereka pakai guna memadamkan cahaya Musa dan kalimahnya, sehingga kedustaan dan buat-buatan mereka beroleh kemenangan.
Mereka merasa khawatir bila orang-orang tertarik dengan apa yang dikemukakan oleh Musa melalui mukjizatnya yang sesuai dengan keyakinan mereka.
Maka hal itu menjadi penyebab bagi kemenangan Musa atas Fir’aun dan golongannya, sehingga Musa kelak akan mengusir Fir’aun dan golongannya dari tanah airnya.
Dan memang apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi, seperti yang di­ungkapkan oleh firman-Nya:

dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.
(Al Qashash:6)

Tatkala mereka telah bermusyawarah sehubungan dengan masalah Musa dan mereka sepakat untuk melancarkan tipu muslihatnya terhadap Musa, hal ini dikisahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman selanjutnya.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Al A'raaf (7) ayat 109 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al A'raaf (7) ayat 109 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al A'raaf (7) ayat 109 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 206 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.4
Ratingmu: 4.8 (20 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/7-109









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta