QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 102 [QS. 7:102]

وَ مَا وَجَدۡنَا لِاَکۡثَرِہِمۡ مِّنۡ عَہۡدٍ ۚ وَ اِنۡ وَّجَدۡنَاۤ اَکۡثَرَہُمۡ لَفٰسِقِیۡنَ
Wamaa wajadnaa aktsarihim min ‘ahdin wa-in wajadnaa aktsarahum lafaasiqiin(a);

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji.
Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.
―QS. 7:102
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin kelompok minoritas ▪ Kasih sayang Allah yang luas
7:102, 7 102, 7-102, Al A’raaf 102, AlAraaf 102, Al Araf 102, Al-A’raf 102

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 102

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 102. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Dia tidak mendapati kebanyakan umat-umat yang terdahulu itu suka menepati janji dan sesungguhnya Dia mendapati kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Mengenai janji yang dimaksud dalam ayat ini, ada bermacam-macam penafsiran para ulama Di antaranya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan janji tersebut ialah fitrah ash yang diberikan Allah kepada setiap insan, yaitu kecenderungan yang mendorong manusia untuk kembali kepada Tuhan pada waktu ia menghadapi kesulitan atau bersyukur kepada-Nya pada waktu terhindar dari kesulitan dan memperoleh kesenangan hidup.
Akan tetapi mereka itu ternyata tidak demikian halnya.
Kesusahan dan kesulitan hidup tidak mendatangkan keinsyafan dan kesadaran bagi mereka, melainkan mereka tetap dalam keingkaran dan kemaksiatan.
Sebaliknya, kenikmatan dan kelapangan hidup tidak pula mendorong mereka untuk bersyukur kepada Allah, bahkan mereka tidak mengakui nikmat tersebut sebagai karunia dan rahmat daripada-Nya.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “janji” dalam ayat tersebut ialah sifat yang asli atau fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia, yaitu kecenderungan kepada kepercayaan tauhid, iman kepada ke-Maha Esa-an-Nya dan hanya menyembah kepada-Nya semata-mata serta tidak memperserikatkan-Nya dengan sesuatupun juga.
Akan tetapi kenyataannya, orang-orang kafir tersebut tidak demikian halnya.
Mereka telah meninggalkan fitrah dan melemparkan kepercayaan tauhid dan mempersekutukan Allah dengan yang lain, tanpa menghiraukan seruan-seruan para Rasul serta keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang mereka kemukakan.
Mereka hanya menuruti kehendak nafsu serta bisikan setan belaka bertentangan dengan fitrahnya yang suci.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ.
telah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku beragama tauhid, kemudian datanglah setan lalu memalingkan mereka dari agama semula serta mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah dihalalkan bagi mereka”.
(H.R Muslim)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim disebut pula sabda Rasulullah ﷺ sebagai berikut:

Setiap anak dilahirkan membawa fitrah yang suci, kemudian ibu-bapaknya lah yang menjadikan ia seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.
(H.R Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian jelaslah bahwa apabila manusia telah menyimpang dari kepercayaan tauhid, maka hal itu adalah disebabkan pengaruh-pengaruh dari luar, bukan sifat asli yang dibawanya dari kandungan ibunya, yang dikaruniakan Allah pada setiap insan.
Adapun sifat fasik yang disebut dalam ayat ini ialah tetapnya seseorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, tanpa menghiraukan nasihat dan ajaran agama serta hukum dan ancamannya.

Perlu diperhatikan bahwa firman Allah dalam ayat ini mengatakan bahwa kebanyakan mereka itu fasik.
Ini memberi pengertian bahwa umat-umat yang terdahulu itu tidak semuanya fasik dan meninggalkan kepercayaan tauhid yang merupakan fitrah suci yang dikaruniakan Allah kepada setiap hamba-Nya.
Bahkan sebagian dari mereka tetap dalam fitrah sucinya, sehingga kedatangan para Rasul yang membawa agama tauhid segera mereka sambut dengan baik dan mereka senantiasa menjauhkan diri dari segala macam kemaksiatan dan kemusyrikan.
Mereka inilah yang senantiasa mendampingi para Rasul dalam menghadapi ancaman dan gangguan dari orang-orang kafir dan mereka pulalah yang selalu diselamatkan Allah bersama Rasulnya dari siksaan dan malapetaka yang ditimpakan-Nya kepada kaum yang fasik itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami tidak mendapati kebanyakan mereka itu memenuhi janji berupa keimanan yang Kami pesankan kepada mereka melalui para rasul dan nalar yang sehat.
Tetapi keadaan kebanyakan mereka selalu dalam kefasikan dan melanggar perjanjian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka) maksudnya kebanyakan umat manusia itu (memenuhi janji) menunaikan janji mereka tatkala tiba saat pemenuhannya (Sesungguhnya) ditakhfifkan dari anna (Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan dari umat-umat terdahulu dapat dipercaya dan tidak pula memenuhi janji.
Kami mendapati kebanyakan dari mereka fasik, tidak taat kepada Allah dan tidak menjalankan perintah-perintah-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir.
Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka.

Yakni kebanyakan dari umat-umat terdahulu.

…memenuhi janji.
Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Artinya sesungguhnya Kami menjumpai kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik yang menyimpang dari jalan ketaatan dan keteladanan serta menyimpang dari janji yang telah mereka ambil, yaitu janji yang membuat mereka diciptakan dan telah difitrahkan di dalam diri mereka.
Janji itu telah diambil dari mereka sejak mereka masih berada di dalam tulang sulbi, yaitu bahwa Tuhan dan Penguasa mereka adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia.
Lalu mereka mengikrarkan janji itu dan bersaksi terhadap diri mereka sendiri mengenainya, tetapi mereka melanggar janji itu dan meninggalkannya di belakang mereka.
Kemudian mereka menyemabh selain Allah Bersama-Nya tanpa ada dalil dan bukti yang membenarkannya.
Baik ditinjau dari segi rasio maupun syara’ dan menurut fitrah yang sehat pun hal tersebut jelas ditentang.
Lalu datanglah para rasul yang mulia, mulai dari yang pertama hingga yang terakhir, semuanya melarang hal tersebut, seperti yang disebutkan di dalam hadis Sahih Muslim, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam hadis qudsi:

Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang benar), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya, dan setan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman di dalam ayat lain, yaitu:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.
(Al Anbiyaa:25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”
(Az Zukhruf:45)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasulpada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagul itu.” (An-Nahl:36)

Dan ayat-ayat lainnya yang semakna.

Tetapi ada yang mengemukakan tafsirnya sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.
(Al A’raf:101)

Sebagaimana Abu Ja’far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b sehubungan dengan ayat ini, bahwa hal itu telah diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
sejak hari mereka mengikrarkan janji kepada-Nya.
Dengan kata lain, mereka tidak akan beriman karena sikap mereka yang demikian itu telah diketahui oleh Allah sejak zaman azali.
Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b, dari Anas, kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.
(Al A’raf:101) Menurutnya hal tersebut ialah pada hari ketika Allah mengambil janji dari mereka, lalu mereka beriman secara paksa.

Sedangkan menurut Mujahid, ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali.
(Al-An’ am: 28), hingga akhir ayat.


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 102 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 102 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 102 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah7
Nama SurahAl A'raaf
Arabالأعراف
ArtiTempat yang tertinggi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu39
JuzJuz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat206
Jumlah kata3346
Jumlah huruf14437
Surah sebelumnyaSurah Al-An'am
Surah selanjutnyaSurah Al-Anfal
4.9
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/7-102









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta