QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 100 [QS. 7:100]

اَوَ لَمۡ یَہۡدِ لِلَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِ اَہۡلِہَاۤ اَنۡ لَّوۡ نَشَآءُ اَصَبۡنٰہُمۡ بِذُنُوۡبِہِمۡ ۚ وَ نَطۡبَعُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَہُمۡ لَا یَسۡمَعُوۡنَ
Awalam yahdi lil-ladziina yaritsuunal ardha min ba’di ahlihaa an lau nasyaa-u ashabnaahum bidzunuubihim wanathba’u ‘ala quluubihim fahum laa yasma’uun(a);

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
―QS. 7:100
Topik ▪ Takdir ▪ Allah menggerakkan hati manusia ▪ Watak-watak Yahudi
7:100, 7 100, 7-100, Al A’raaf 100, AlAraaf 100, Al Araf 100, Al-A’raf 100

Tafsir surah Al A'raaf (7) ayat 100

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 100. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa umat yang mewarisi suatu negeri setelah lenyapnya penduduk negeri itu karena ditimpa siksaan Allah akibat keingkaran mereka kepada-Nya, umat tersebut memahami dan meyakini bahwa Allah Kuasa untuk menimpakan azab tersebut kepada mereka karena dosa-dosa mereka apabila Dia menghendakinya.
Juga Allah Kuasa untuk mengunci mati hati nurani mereka sehingga mereka tak dapat lagi menerima pelajaran dan nasihat agama dan tidak mau beriman.

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus beberapa orang rasul kepada umat mereka sebelum diutusnya Nabi Syuaib kepada kaumnya.
Umat-umat terdahulu telah ditimpa siksaan Allah lantaran dosa-dosa dan keingkaran mereka kepada Allah.
Siksaan yang menimpa mereka adalah sedemikian hebatnya memusnahkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah tidak pernah ada di muka bumi ini.
Setelah mereka itu lenyap, maka Allah mendatangkan umat yang baru untuk menghuni negeri tersebut.
Umat yang baru ini mengetahui sejarah umat terdahulu itu karena buku-buku dan kitab-kitab suci mereka menyebutkan hal itu.
Mereka mengetahui apa yang dialami umat tersebut, yaitu azab yang dahsyat.
Dan mereka tahu pula hal-hal yang menyebabkan didatangkannya azab tersebut kepada mereka, yaitu lantaran dosa-dosa dari keingkaran mereka kepada Allah dan rasul-Nya.

Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari kesemuanya itu, dan dapat memahami bahwa Allah kuasa untuk menimpakan azab yang serupa itu kepada diri mereka bila mereka berbuat dosa dan kemaksiatan pula seperti umat yang terdahulu itu.
Semuanya takluk di bawah kekuasaan Allah.
Ia kuasa menimpakan azab kepada mereka bila Ia menghendakinya sebagaimana Ia telah menimpakan azab kepada umat terdahulu.

Ayat tersebut tidak hanya merupakan peringatan bagi orang-orang kafir melainkan juga bagi orang-orang muslimin.
Setelah mengetahui sebab-sebab ditimpakan-Nya azab kepada umat para rasul yang terdahulu itu dan setelah mengetahui sunnatullah mengenai umat-umat yang berdosa, maka seharusnyalah kita menjauhkan diri dari kesalahan-kesalahan serupa itu agar kita tidak ditimpa siksa Allah yang akan menyebabkan kita kehilangan segala-galanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apakah orang-orang yang meneruskan bangsa-bangsa terdahulu lupa akan ketentuan Allah yang berlaku untuk mereka, bahwa sikap Kami terhadap mereka sama seperti terhadap para pendahulu mereka?
Yaitu, mereka semua tunduk kepada kehendak Kami.
Jika Kami berkehendak menyiksa mereka karena dosa, maka niscaya kami siksa mereka seperti yang lainnya.
Kami kunci hati mereka karena kelewat rusak sehingga tidak bisa lagi menerima petunjuk.
Dengan kunci dan penutup tersebut mereka tidak bisa mendengarkan nasihat untuk dipahami dan dipetik pelajarannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apakah belum jelas) artinya belum terang (bagi orang-orang yang mempusakai bumi ini) sebagai tempat tinggalnya (sesudah) binasanya (penduduknya bahwa) menjadi fa’il berasal dari anna yang ditakhfifkan sedangkan isimnya dibuang, artinya bahwasanya (kalau Kami menghendaki tentu Kami timpakan kepada mereka siksaan) yakni azab (karena dosa-dosanya) sebagaimana telah Kami timpakan siksaan kepada orang-orang sebelum mereka.

Kesemua hamzah di empat tempat tersebut semuanya bermakna lit-taubikh/mencela, dan huruf fa dan wawu yang memasuki pada kedua di antaranya untuk tujuan athaf.

Menurut suatu qiraat dibaca dengan wawu yang disukunkan pada tempat yang pertama karena diathafkan kepada huruf aw.

(Dan) Kami (kunci) Kami lak (hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar) nasihat dengan pendengaran yang sehat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah belum jelas bagi orang-orang yang berdiam di bumi sesudah dihancurkannya penduduk bumi yang terdahulu disebabkan kedurhakaan mereka, lalu mereka malah mengikuti cara hidup mereka?
Jika Kami menghendaki, Kami timpakan siksa kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka, sebagaimana Kami timpakan siksa kepada para pendahulu mereka.
Kami kunci mati hati mereka sehhingga tidak dapat menerima kebenaran dan tidak bisa mendengar nasihat dan peringatan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas r.a.
pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 100) Yakni apakah masih belum terang bagi mereka.
bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 100)

Ha! yang sama dikatakan pula oleh Mujahid dan lain-lainnya.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan bahwa apakah masih belum terang bagi orang-orang yang menjadi pengganti di tempat itu sesudah kebinasaan orang-orang sebelum mereka yang mendiaminya?
Kemudian pada akhirnya mereka mengikuti perjalanan hidup mereka, dan mengerjakan perbuatan yang sama dengan mereka, yakni mereka berbuat durhaka terhadap Tuhannya.
bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 100) Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami akan menimpakan atas mereka azab seperti apa yang pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.
dan Kami kunci mati hati mereka.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 100) Maksudnya, Kami tutup rapat-rapat dan Kami lak hati mereka.
sehingga mereka tidak dapat mendengar?
(Q.S. Al-A’raf [7]: 100) Yakni tidak dapat mendengar pelajaran dan peringatan lagi.

Menurut hemat kami, hal yang semakna telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat-ayat lain, yaitu:

Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrik) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu.
Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
(Q.S. Thaa haa [20]: 128)

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan ditempat-tempat kediaman mereka itu Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan).
Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memper­hatikan)?
(Q.S. As-Sajdah [32]: 26)

(Kepada mereka dikatakan), “Bukankah kalian telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kalian tidak akan binasa.” dan kalian telah terdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri.
(Q.S. Ibrahim [14]: 44-45), hingga akhir ayat.

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka.
Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?
(Q.S. Maryam [19]: 98)

Artinya, apakah kamu melihat seseorang dari mereka, atau apakah kamu mendengar suara mereka?

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepada kalian, Kami curahkan higanyang lebat atas mereka, dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.
(Q.S. Al-An’am [6]: 6)

Sesudah menceritakan kebinasaan kaum ‘Ad Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan kalian dalam hal itu, dan Kami memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian, dan Kami telah datangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat).
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 25-27)

Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, sedangkan orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu, yaitu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku.
Makaalangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku (Saba : 45)

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya).
Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 18)

Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membmasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi, maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(Q.S. Al-Hajj [22]: 45-46)

Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokkan mereka.
(Q.S. Al-An’am [6]: 10)

Masih banyak ayat Al-Qur’an lainnya yang menunjukkan bahwa azab Allah menimpa musuh-musuh-Nya, dan nikmat-Nya selalu diberikan kepada kekasih-kekasih-Nya.
Karena itulah dalam firman-firman selanjutnya disebutkan seperti berikut:


Informasi Surah Al A'raaf (الأعراف)
Surat Al A’raaf yang berjurnlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An’aam dan termasuk golongan surat “Assab ‘uththiwaal” (tujuh surat yang panjang).

Dinamakan “Al A ‘raaf” karena perkataan Al A’raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al A ‘raaf yaitu:
tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Mereka itu ialah golongan yang sama banyak kebaikan dan kejahatan mereka.

Keimanan:

Mentauhidkan Allah dalam berdo’a dan beribadat
hanya Allah sendiri yang menga­tur dan menjaga alam
Allah menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat
Allah bersemayam di ‘Arasy
bantahan terhadap kepalsuan syirik
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manu­sia
Musa berbicara dengan Allah
tentang melihat Allah
perintah beribadat sam­bil merendahkan diri kepada Allah
Allah mempunyai al asmaaul husna.

Hukum:

Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk
kewajiban mengikuti Allah dan rasul
perintah berhias waktu akan shalat
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah
perintah memakan ma­kanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya

Kisah:

Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis
kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’aib a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Lain-lain:

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya
Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia
adab orang mukmin
adab mendengar pembacaan Al Qur’an dan berzikir
rasul bertanggung jawab menyam­paikan seruan Allah
balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan menging­kari rasul
da’wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 100 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 100 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 100 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-A'raaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 206 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 7:100
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al A'raaf.

Surah Al-A'raf (bahasa Arab:الأعراف, al-A'rāf, "Tempat Tertinggi") adalah surah ke-7 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 206 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sebelum turunnya surah Al-An'am dan termasuk golongan surah Assab 'uththiwaal (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan Al-A'raf karena perkataan Al-A'raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al-A'raf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

Nomor Surah 7
Nama Surah Al A'raaf
Arab الأعراف
Arti Tempat yang tertinggi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 39
Juz Juz 8 (ayat 1-87), juz 9 (ayat 88-206)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 206
Jumlah kata 3346
Jumlah huruf 14437
Surah sebelumnya Surah Al-An'am
Surah selanjutnya Surah Al-Anfal
4.7
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta