QS. Al Ankabut (Laba-laba) – surah 29 ayat 64 [QS. 29:64]

وَ مَا ہٰذِہِ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا لَہۡوٌ وَّ لَعِبٌ ؕ وَ اِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ لَہِیَ الۡحَیَوَانُ ۘ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ
Wamaa hadzihil hayaatud-dunyaa ilaa lahwun wala’ibun wa-innaddaara-aakhirata lahiyal hayawaanu lau kaanuu ya’lamuun(a);

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.
―QS. 29:64
Topik ▪ Zuhud ▪ Kerendahan dunia ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
29:64, 29 64, 29-64, Al Ankabut 64, AlAnkabut 64, Al-Ankabut 64

Tafsir surah Al Ankabut (29) ayat 64

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 64. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan hakikat kehidupan duniawi, terutama kepada orang-orang musyrik yang terpedaya dengan kehidupan duniawi itu.
Diterangkan bahwa kehidupan duniawi itu hanyalah permainan dan senda gurau saja, bukan kehidupan yang sebenarnya.
Pandangan dan pikiran orang-orang musyrik telah tertutup, sehingga mereka telah disibukkan oleh urusan duniawi.
Mereka berlomba-lomba mencari harta kekayaan, kekuasaan dan kesenangan serta kelezatan yang ada padanya, seakan-akan kehidupan dunia ialah kehidupan yang sebenarnya bagi mereka.
Andai kata mereka mau mengurangi perhatian mereka kepada kehidupan duniawi itu agak sedikit saja, dan memandang kehidupan duniawi ini sebagai jembatan untuk sampai kepada kehidupan lain yang lebih kekal dan abadi, serta mau pula mendengarkan ayat-ayat Allah, tentulah mereka tidak akan durhaka dan tidak akan mempersekutukan Allah.
Andai kata mereka mendengarkan seruan Rasul dengan menggunakan telinga, akal dan hati, mereka tidak akan tersesat dari jalan Allah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa kehidupan yang hakiki itu adalah kehidupan akhirat, kehidupan akhirat itu merupakan segi yang lain dari kehidupan manusia itu, yaitu kehidupan yang diliputi oleh kebenaran yang mutlak.
Kehidupan dunia adalah kehidupan yang di dalamnya masih bercampur baur antara kebenaran dan kebatilan, sedang pada kehidupan akhirat itu telah dipisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Kehidupan akhirat banyak ditentukan oleh corak kehidupan dunia yang dialami seseorang sekarang, dan tergantung kepada amal dan usahanya sewaktu ia masih hidup.
Kehidupan dunia dapat diibaratkan dengan kehidupan masa kanak-kanak, sedang kehidupan akhirat dapat diibaratkan dengan kehidupan masa dewasa.
Jika seseorang pada masa kanak-kanak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, seperti belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, maka kehidupan masa dewasanya akan merupakan kehidupan yang cerah.
Sebaliknya jika ia banyak bermain-main tidak menggunakan waktu-waktu itu sebaik-baiknya, maka ia akan mempunyai masa dewasa yang suram.

Demikianlah halnya dengan kehidupan akhirat, tergantung kepada amal dan usaha seseorang se waktu masih hidup di dunia.
Jika ia selama hidup di dunia beriman dan beramal saleh, maka kehidupannya di akhirat akan baik dan bahagia, sebaliknya jika ia kafir dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang, ia akan mengalami kehidupan yang sengsara di akhirat nanti.

Pada akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kepada orang-orang musyrik agar mereka mengetahui hakikat hidup itu.
Andai kata mereka mendalami dan mengetahui hakikat hidup itu, tentulah mereka tidak akan tersesat, dan tentu pula mereka tidak akan terpedaya oleh kehidupan dunia yang fana ini.
Setiap orang yang berilmu dan mau mempergunakan akalnya dengan mudah dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dan yang salah dan sebagainya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kenikmatan hidup di dunia ini hanya bersifat sementara dan terbatas.
Ia ibarat permainan yang menyenangkan bagi orang-orang lalai, seperti halnya permainan yang melalaikan anak-anak, lalu mereka pun menginggalkannya.
Kehidupan akhiratlah yang merupakan kehidupan yang sebenarnya, sempurna dan abadi.
Hal ini adalah kenyataan yang dapat mereka ketahui kalau mereka benar-benar mau mengetahui.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main) sedangkan amal-amal takarrub termasuk perkara akhirat karena buahnya akan dipetik di akhirat nanti.

(Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan) lafal al-hayawan artinya kehidupan (kalau mereka mengetahui) hal tersebut, niscaya mereka tidak akan memilih perkara duniawi dan meninggalkan perkara akhirat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, dengannya hati manusia bermain-main dan dengannya jasad manusia habis, disebabkan oleh perhiasan dan syahwat padanya, kemudian setelah itu ia pun lenyap dengan sangat cepat.
Namun kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya lagi abadi tanpa kematian.
Sekiranya manusia mengetahui hal ini, niscaya mereka tidak akan mengedepankan alam fana di atas alam baqa (kekal).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan hinanya duniawi dan kefanaannya serta kesudahannya yang akan lenyap, dan bahwa dunia itu tidak kekal, dan bahwa kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah senda gurau dan main-main.

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan.
(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 64)

Yaitu kehidupan yang abadi lagi sebenarnya yang tiada kefanaan serta tiada penghabisannya, bahkan kehidupan akhirat terus berlangsung untuk selama-lamanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kalau mereka mengetahui.
(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 64)

Seandainya mereka mengetahui, tentulah mereka lebih memilih pahala yang kekal daripada imbalan yang fana.


Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al’ Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al’ Ankabuut” berhubung terdapatnya perkataan Al’ Ankabuut yang berarti “laba­ laba” pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua’ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua’ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa’at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ankabut (69 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 64 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 64 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 64 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ankabut - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 69 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 29:64
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ankabut.

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah 29
Nama Surah Al Ankabut
Arab العنكبوت
Arti Laba-laba
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 85
Juz Juz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 69
Jumlah kata 983
Jumlah huruf 4321
Surah sebelumnya Surah Al-Qasas
Surah selanjutnya Surah Ar-Rum
4.5
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending







Pembahasan ▪ lahwun wa laib ▪ al ankabut 64

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim