Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Ankabut

Al Ankabut (Laba-laba) surah 29 ayat 60


وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ دَآبَّۃٍ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَہَا ٭ۖ اَللّٰہُ یَرۡزُقُہَا وَ اِیَّاکُمۡ ۫ۖ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ
Waka-ai-yin min daabbatin laa tahmilu rizqahaallahu yarzuquhaa wa-ii-yaakum wahuwassamii’ul ‘aliim(u);

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.
Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
―QS. 29:60
Topik ▪ Takdir ▪ Usia dan rezeki sesuai dengan takdir ▪ Sifat ahli surga
29:60, 29 60, 29-60, Al Ankabut 60, AlAnkabut 60, Al-Ankabut 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada orang-orang yang beriman di Mekah, ketika orang-orang musyrik menyiksa mereka: "Keluarlah kamu sekalian dan berhijrahlah jangan bertetangga dengan orang yang zalim itu".
Orang-orang mukmin menjawab: "Ya Rasulullah, di sana kami tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai harta yang dimiliki, tidak ada orang yang akan memberi makan dan tidak ada orang yang akan memberi minum".
Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban kekhawatiran orang-orang mukmin itu.

Ayat ini turun untuk menenteramkan hati orang-orang yang beriman yang memperkenankan seruan Rasulullah ﷺ untuk berhijrah, baik mereka yang telah berhijrah, maupun kaum Muslimin yang sedang bersiap-siap untuk berhijrah, seakan-akan Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, tantanglah musuh-musuh Allah itu.
Janganlah sekali-kali kamu takut kepada kepapaan dan kemiskinan karena betapa banyaknya binatang melata yang tidak sanggup mengumpulkan makanan setiap hari untuk keperluannya, tetapi Allah tetap memberinya rezeki.
Maka kamu wahai orang-orang yang beriman, jauh lebih baik dari binatang dan lebih pandai mencari makan, kenapa kamu khawatir tidak akan mendapat makanan.
Walaupun kamu berhijrah tanpa membawa sesuatu, tetapi Allah pasti memberimu rezeki.
Allah Maha Mendengar segala macam doa, mengetahui segala rupa keadaan hamba-hamba Nya.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mahkluk-Nya sedikiptun.
Dia mengemukakan suatu perumpamaan yang sudah ditangkap pengertiannya oleh kaum Muslimin, seperti anak-anak binatang yang tidak sanggup mencari makanannya sendiri.
Allah telah menjadikan induknya sayang kepadanya, sehingga mereka bersedia berusaha dan bersusah payah mencarikan makanan bagi anaknya itu.
Kemudian menyuapkan ke dalam mulut anak-anaknya itu, seperti burung dan sebagainya.
Ada pula binatang yang memberi makan anaknya telah tersedia pada ibunya sendiri seperti susu yang terdapat pada binatang-binatang menyusui.
Semuanya itu merupakan ketentuan yang rapi dari Allah, sehingga dengan demikian setiap makhluk yang ada ini mempertahankan jenis dan kelangsungan hidupnya.

Demikian pula halnya manusia, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tinggal di tempat yang subur, dan ada pula yang tinggal di tempat yang tandus, semuanya diberi.
rezeki oleh Allah, sesuai dengan keperluan mereka.
Inilah yang dimaksud dengan ayat.
Allah memberikan kepadanya dan kepadamu.
Sebagaimana binatang yang tidak berakal diberi rezeki, begitu pula kamu diberi rezeki, hai para Muhajirin, sekalipun harta bendamu tertinggal di Mekah, dan mata pencaharianmu terputus.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz).

(Q.S.
Hud: 6)

Kemudian ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar apa yang kamu minta dan Dia Maha Mengetahui semua keperluanmu.

Dari ayat-ayat di atas dipahami bahwa manusia itu tidak mengetahui dengan pasti apa-apa yang dilakukannya, ada yang diketahuinya dan ada pula yang tidak diketahuinya.
Ia hanya mengetahui keperluan-keperluannya yang lahir saja, sedang keperluan-keperluannya yang batin dan keperluan-keperluannya yang lain banyak yang tidak diketahuinya, seperti keperluan akan udara yang harus ia hirup sehari-hari, keperluan air, keperluan batinnya dan sebagainya.
Karena itu manusia meminta kepada Tuhan hanya keperluan-keperluan dirinya yang diketahuinya saja sedang keperluan-keperluan yang tidak diketahuinya tidak dimintanya.
Bahkan orang-orang yang tidak mengetahui adanya Tuhan tidak pernah meminta keperluan-keperluannya kepada Tuhan yang menciptakannya, namun semua keperluan itu dicukupi dan dilengkapi Allah subhanahu wa ta'ala kepada makhluk-Nya.
Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya

Al Ankabut (29) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Ankabut (29) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Ankabut (29) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara hewan melata yang hidup di bumi bersama kalian banyak yang, karena lemahnya, tidak mampu membawa dan memindahkan rezekinya sendiri untuk dimakan atau disimpan.
Allah menyediakan sarana rezeki dan kehidupan hewan-hewan seperti itu, juga menyediakan sarana rezeki dan kehidupan kalian.
Dialah yang meliputi segala makhluk ciptaan-Nya dengan ilmu dan pendengaran-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berapa banyak) alangkah banyaknya (binatang yang tidak dapat membawa rezekinya sendiri) karena lemah.
(Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian) hai orang-orang Muhajirin, sekalipun kalian tidak membawa bekal dan pula tidak membawa nafkah (dan Dia Maha Mendengar) perkataan-perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) apa yang terpendam di dalam hati kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Berapa banyak hewan melata yang tidak menyimpan makanannya untuk besok seperti yang dilakukan oleh Bani Adam.
Allah memberi rizki kepadanya sebagaimana Dia merizkikan kepada kalian.
Dan Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian, Dia juga Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan kalian dan apa yang terlintas dalam hati kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.
(Al-'Ankabut: 60)

Maksudnya, tidak mampu mengumpulkannya, tidak mampu menghasilkannya, serta tidak mampu menyimpan sesuatu pun dari rezeki itu untuk besok.

Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu.
(Al-'Ankabut: 60)

Allah-lah yang menetapkan rezekinya, sekalipun ia lemah dan Allah memudahkan baginya jalan rezekinya.
Untuk itu Allah mengirimkan bagi setiap makhluk sejumlah rezeki yang diperlukannya, hingga bibit-bibit yang ditanam di dalam tanah, juga burung-burung yang ada di udara serta ikan-ikan yang ada di laut.
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Manfuz).
(Huud:6)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman Al-Harawi, telah menceritakan kepada kami Yazid (yakni Ibnu Harun), telah menceritakan kepada kami Al-Jarrah ibnu Minhal Al-Jazari alias Abul Atuf, dari Az-Zuhri, dari seorang lelaki, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa ia keluar bersama Rasulullah ﷺ hingga masuk ke salah satu kebun kurma Madinah.
Nabi ﷺ memunguti kurma yang terjatuh dan memakannya, lalu bersabda kepadaku, "Hai Ibnu Umar, mengapa kamu tidak makan?"
Aku menjawab, "Saya tidak berselera, wahai Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda, "Tetapi aku menginginkannya, dan hari ini adalah hari keempat sejak aku tidak pernah menjumpai makanan barang sesuap pun.
Seandainya aku suka benar-benar aku akan mendoa kepada Tuhanku, dan Dia pasti akan memberiku kekayaan yang semisal dengan apa yang dimiliki oleh Kisra dan Kaisar.
Bagaimanakah denganmu, hai Ibnu Umar, bila kamu tinggal di antara kaum yang menyimpan rezeki mereka untuk satu tahun, sedangkan keyakinan mereka lemah?"
Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, "Demi Allah, belum lagi kami meninggalkan tempat itu, turunlah firman-Nya: 'Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' (Al-'Ankabut: 60)" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak memerintahkan aku untuk menimbun kekayaan dan tidak pula mengikuti hawa nafsu.
Maka barang siapa yang menimbun kekayaannya dengan tujuan agar hidup kekal, sesungguhnya kehidupan itu berada di tangan kekuasaan Allah.
Ingatlah, sesungguhnya aku tidak menimbun dinar, tidak pula dirham, serta tidak pula menyimpan rezeki untuk hari esok.

Tetapi predikat hadis ini gharib karena Abul Atuf Al-Jazari orangnya daif.

Mereka (para ahli ilmu hewan) mengatakan bahwa apabila burung gagak telah menetaskan telurnya, maka kedua induknya (jantan dan betina) terbang meninggalkan anak-anaknya.
Dan apabila keduanya melihat mereka masih dalam keadaan seperti itu, keduanya terbang lagi selama berhari-hari hingga anak-anak mereka bulunya mulai tampak menghitam.
Sedangkan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil itu selalu membuka mulut mereka mencari-cari kedua induknya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada serangga seperti nyamuk untuk menutupi tubuh mereka, dan anak-anak burung gagak itu memakan nyamuk-nyamuk tersebut sebagai makanannya selama mereka ditinggalkan oleh kedua induknya hingga bulu mereka mulai tampak menghitam.
Sedangkan kedua induk mereka selalu memantau mereka setiap waktunya, bila keduanya melihat mereka masih berbulu putih, keduanya meninggalkan mereka.
Dan bila keduanya melihat anak-anaknya mulai berwarna hitam bulu-bulunya, maka barulah keduanya mengasuh anak-anaknya dan memberinya makanan.
Karena itulah ada seorang penyair yang mengatakan dalam bait syairnya:.

Wahai (Tuhan) Yang memberi rezeki kepada anak-anak burung gagak di sarangnya, (wahai Tuhan) Yang Menyembuhkan tulang yang patah.

Imam Safii dalam sejumlah hadisnya yang menyangkut perintah telah mengatakan, antara lain sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Bepergianlah kalian, niscaya kalian sehat dan mendapat rezeki.

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imla Abul Hasan alias Ali ibnu Ahmad ibnu Idan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Galib, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Yazdad (seorang syekh penduduk Madinah), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bepergianlah, niscaya kalian sehat dan beroleh keberuntungan.

Imam Baihaqi mengatakan, ia telah meriwayatkannya pula melalui Ibnu Abbas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qubaisah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Darij, dari Abdur Rahman ibnu Hujairah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bepergianlah, niscaya kalian beroleh keuntungan, berpuasalah, niscaya kalian sehat, dan berperanglah, niscaya kalian beroleh ganimah.

Hal yang semisal dengan hadis Ibnu Umar telah diriwayatkan pula melalui Ibnu Abbas secara marfu, dan dari Mu'az ibnu Jabal secara mauquf.

Menurut riwayat lain disebutkan:

Bepergianlah kalian bersama orang-orang yang mempunyai keahlian dan kemudahan.

Imam Ahmad mengatakan bahwa hal yang semisal telah kami riwayatkan melalui Ibnu Abbas.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Al-'Ankabut: 60)

Yakni Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Mengetahui semua gerakan dan diamnya mereka.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ankabut (29) Ayat 60

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad yang daif, yang bersumber dari ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah ﷺ berjalan bersama Ibnu ‘Umar hingga sampai di daerah perkebunan Madinah.
Rasulullah ﷺ memungut kurma yang jatuh dan memakannya sambil bersabda: “Mengapai hai Ibnu ‘Umar, engkau tidak mau makan kurma ini?” Ibnu ‘Umar menjawab:
“Saya tidak menginginkannya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku sangat menginginkannya karena sudah empat hari aku tidak merasakan makanan dan tidak mendapatkannya.
Padahal sekiranya aku berdoa kepada Rabb-ku, pasti Ia akan memberikan kepadaku sebanyak yang dimiliki kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi).
Bagaimana pendapatmu hai Ibnu ‘Umar, tentang kaum yang menyimpan makanan untuk satu tahun tapi menyebabkan lemah keyakinannya?” Ibnu ‘Umar berkata: “Demi Allah, aku tidak menginginkannya.” Maka turunlah ayat ini (al-Ankabuut: 60) yang menegaskan bahwa Allah –lah yang memberi rizki kepada makhluk-Nya.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Allah tidak memerintahkan kepadamu untuk menimbun harta dan tidak pula untuk menuruti syahwat.
Aku tidak akan menimbun harta dinar dan dirham, serta tidak menyimpan rizki untuk esok hari.”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ankabut (29) Ayat 60

DAABBAH
دَآبَّة

Lafaz ini berasal dari lafaz dabba, jamaknya adalah dawaabb digunakan untuk mudzakkar dan mu'annats dan al-taa' adalah isyarat untuk menunjukkan mufrad (satu). Maknanya setiap apa yang berjalan dengan perlahan di atas muka bumi dan mayoritasnya ditujukan kepada hewan yang digunakan sebagai tunggangan.

Al Kafawi berkata,
"Ia (dabbah) bermakna setiap yang berjalan di muka bumi secara umumnya dan kuda, baghal dan keledai khususnya."

Lafaz daabbah disebut sebanyak 14 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 164;
-Al An'aam (6), ayat 38;
-Hud (11), ayat 6, 56;
-An Nahl (16), ayat 49, 61;
-An Nur (24), ayat 45;
-An Naml (27), ayat 82;
-Al Ankaabut (29), ayat 60;
-Luqman (31), ayat 10;
-Saba' (34), ayat 14;
-Faathir (35), ayat 45;
-Asy Syuura (42), ayat 29;
-Al­ Jaatsiyah (45) ayat 4.

Al Qurtubi berkata daabbah bermakna merangkum keseluruhan hewan," sedang­kan Asy Syawkani berkata,
"Ia bermakna setiap hewan yang berjalan di muka bumi.

Dalam Tafsir Al Manar, makna lafaz daabbah ada­lah semua benda yang hidup yang merayap dan merangkak di muka bumi yang tidak ter­hitung bilangannya.

At Tabari berpendapat, lafaz daabbah ber­makna nama bagi setiap yang memiliki roh yang berjalan atau merangkak di atas bumi selain burung. Hal ini dikuatkan pemisahan antara lafaz daabbah dan at tayr (burung) dalam surah Al An'aam yang bermaksud, "Dan tidak seekor pun binatang yang melata di muka bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (mereka ialah) umat seperti kamu"

Muhammad Ali As Sabbuni berkata,
"Ad daabbah dalam ayat ini bermakna hewan yang melata di muka bumi dan burung yang terbang di udara." Namun, Al Qurtubi me­nerangkan sebahagian pakar ada yang me­ngeluarkan burung dari termasuk ke dalam makna daabbah adalah ditolak. Allah berkata dalam surah Hud yang berrnaksud, "Dan tiadalah sesuatu pun dari makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jua yang menanggung rezekinya" Sesungguhnya burung dalam beberapa keadaan melata dan berjalan dengan kedua kakinya.

Kesimpulannya, lafaz daabbah apabila di­sebut dengan sendirinya termasuk hewan yang melata, bergerak di muka bumi dan bila disebut dengan hewan yang lain seperti burung ia bermakna hewan yang mayorisanya hanya melata di muka bumi.

Dawaabb disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Anafal (8), ayat 22, 55;
-Al Hajj (22), ayat 18;
-Faathir (35), ayat 28.

Lafaz dalam bentuk jamak ini mengandung dua makna:

Pertama, lafaz ini adalah kiasan bagi orang kafir dan makna itu terdapat dalam surah Al Anfaal.

Ibn Katsir berkata,
"Sesungguhnya sehina-hina hewan di muka bumi adalah mereka yang kufur dan tidak beriman di mana setiap kali mereka membuat perjanji­an, mereka mengingkarinya dan setiap kali mereka diyakinkan dengan ke­imanan, mereka melanggar dan me­rusakkannya. Mereka adalah makhluk yang paling jahat dan hina karana se­tiap binatang dan lainnya tunduk dan taat kepada Allah padahal Dia men­ciptakannya bagi mereka sedangkan mereka dicipta untuk beribadah kepada­ Nya namun mereka kufur.
Oleh karena itu, mereka disamakan dengan binatang.

Allah berfirman, "Dan ban­dingan (orang yang menyeru) orang kafir (yang tidak mau beriman itu) samalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari hanya mendengar suara panggilan saja."

Dalam ayat yang lain yang berarti, "Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih hina; mereka itu­lah orang yang lalai".

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, Mujahid dan Ibnu Jarir, yang di­maksudkan dalam ayat di atas adalah golongan Bani 'Abd Ad Dar dari suku Quraisy.

Muhammad bin Ishaq ber­pendapat mereka ialah orang munafik.

Ibnu Katsir berkata,
"Keduanya tidaklah bertentangan."

Kedua, lafaz dawaabb bermakna binatang yang melata di muka bumi seperti jamak dari pengertian di atas yang mencakup semua hewan.

Ibnu Zaid berkata,
lafaz dawaab bermakna al khalq ialah makhluk. Namun, lafaz jamak yang disebutkan di dalam Al Qur'an kebanyakannya bermakna hewan secara umumnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:216-218

Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al' Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al' Ankabuut" berhubung terdapatnya perkataan Al' Ankabuut yang berarti "laba­ laba" pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua'ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua'ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa'at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.


Gambar Kutipan Surah Al Ankabut Ayat 60 *beta

Surah Al Ankabut Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Ankabut

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah 29
Nama Surah Al Ankabut
Arab العنكبوت
Arti Laba-laba
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 85
Juz Juz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 69
Jumlah kata 983
Jumlah huruf 4321
Surah sebelumnya Surah Al-Qasas
Surah selanjutnya Surah Ar-Rum
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (29 votes)
Sending







✔ tafsiran al ankabut 90

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku