QS. Al Ankabut (Laba-laba) – surah 29 ayat 24 [QS. 29:24]

فَمَا کَانَ جَوَابَ قَوۡمِہٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوا اقۡتُلُوۡہُ اَوۡ حَرِّقُوۡہُ فَاَنۡجٰىہُ اللّٰہُ مِنَ النَّارِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ
Famaa kaana jawaaba qaumihi ilaa an qaaluuuuqtuluuhu au harriquuhu fa-anjaahullahu minannaari inna fii dzalika li-aayaatin liqaumin yu’minuun(a);

Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan:
“Bunuhlah atau bakarlah dia”,
lalu Allah menyelamatkannya dari api.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.
―QS. 29:24
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
29:24, 29 24, 29-24, Al Ankabut 24, AlAnkabut 24, Al-Ankabut 24

Tafsir surah Al Ankabut (29) ayat 24

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ankabut (29) : 24. Oleh Kementrian Agama RI

Karena Ibrahim tetap saja dengan gigih mengajak kaumnya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengesakan-Nya serta bertakwa kepada-Nya, maka kesabaran merekapun sampailah ke puncaknya.
“Bunuh saja Ibrahim atau campakkan dia ke dalam api”,
teriak mereka.
Demikianlah suatu hari, dibangunlah sebuah rumah tempat pembakaran.
Api dinyalakan, dan menyala tidak lama kemudian.
Ibrahim dengan disaksikan oleh semua orang-orang kafir itu dilemparkan ke dalam api yang sedang berkobar-kobar itu.
Akan tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya.
Ibrahim selamat, dan tidak satupun anggota tubuhnya yang hangus terbakar.
Api diperintahkan menjadi dingin dan memberi keselamatan bagi Ibrahim.
Allah berfirman:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 69)

Selamatnya Nabi Ibrahim dari amukan api yang begitu dahsyat dan mengerikan, adalah Suatu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagi orang yang beriman kepada-Nya.
Tidak hanya itu, justru api yang sedang berkobar malah memberikan keselamatan bagi Ibrahim.
Suatu peristiwa yang tiada duanya di dunia ini.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jawaban kaum Nabi Ibrahim, ketika ia menyuruh mereka untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala, tidak lain hanya berupa semakin kuatnya kekufuran mereka.
Sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Bunuhlah atau bakarlah ia!” Lalu mereka melemparkannya ke dalam api.
Kemudian Allah menjadikan api itu dingin dan memberikan keselamatan baginya serta menolongnya dari api.
Sesungguhnya dalam penggagalan tipu daya mereka dan penyelamatan Ibrahim dari api serta ketiadaan pengaruh api pada dirinya, terdapat bukti-bukti yang jelas bagi kaum yang mempercayai keesaan dan kekuasaan Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Allah berfirman sehubungan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s.:

(Maka tiadalah jawaban kaumnya selain mengatakan, “Bunuhlah atau bakarlah dia,” lalu Allah menyelamatkannya dari api) mereka melemparkannya ke dalam api, sedangkan Allah menjadikan api itu dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.

(Sesungguhnya pada yang demikian itu) yakni diselamatkannya Nabi Ibrahim dari api (benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah) yaitu tidak berpengaruhnya api terhadap diri Nabi Ibrahim, padahal api itu sangat besar nyalanya, kemudian dalam waktu yang sangat singkat Allah menjadikan bekas api itu sebuah taman (bagi orang-orang yang beriman) yakni bagi orang-orang yang percaya kepada keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, karena hanya mereka saja yang dapat mengambil manfaat dari kisah ini.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jawaban kaum Ibrahim kepadanya tidak lain kecuali sebagian berkata kepada sebagian yang lain :
Bunuhlah dia atau bakarlah dengan api.
Maka mereka pun memasukkannya ke dalam api, dan Allah menyelamatkannya darinya, menjadikan api dingin dan memberi keselamatan baginya.
Sesungguhnya penyelamatan Ibrahim dari api mengandung dalil-dalil dan hujjah-hujjah bagi kaum yang membenarkan Allah dan mengamalkan syariat-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal kaum Nabi Ibrahim dalam kekafiran, keingkaran, dan keangkuhan mereka, serta penolakan mereka terhadap perkara hak dengan kebatilan.
Bahwa tiadalah sesudah perkataan Nabi Ibrahim yang mengandung petunjuk dan penjelasan itu,

melainkan mengatakan, “Bunuhlah atau bakarlah dia!” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 24)

Demikian itu karena bukti telah mengalahkan mereka dan alasan Nabi Ibrahim benar-benar mematahkan alasan mereka, maka mereka gunakan kekuasaan dan kekuatan kerajaan mereka sebagai jawabannya:

Mereka berkata, “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” Mereka hendak melakukan tipu daya kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.
(Q.S. As-Saffat [37]: 97-98)

Demikian itu karena mereka menghimpun semua kayu bakar dalam waktu yang cukup lama sehingga terkumpul kayu bakar yang sangat banyak, lalu mereka pagari kumpulan kayu bakar tersebut.
Setelah itu dibakar sehingga nyala apinya menjulang tinggi ke langit, belum pernah ada api sebesar itu.
Kemudian mereka menangkap Nabi Ibrahim dan mengusungnya, lalu menaruhnya di atas pelontar batu besar.
Nabi Ibrahim dilontarkan masuk ke dalam api yang besar itu, lalu Allah menjadikan api itu dingin dan keselamatan baginya.
Nabi Ibrahim akhirnya keluar dari api itu setelah tinggal beberapa hari di dalamnya dalam keadaan selamat.
Hal yang seperti itu dijadikan oleh Allah sebagai suri teladan dan contoh, yang menunjukkan pengorbanan diri demi Tuhan Yang Maha Pemurah dan merelakan dirinya dimakan api.
Dia (Ibrahim) dengan sukarela mengorbankan putranya untuk dikorbankan, dan harta bendanya untuk tamu-tamu yang berkunjung kepadanya.
Karena itulah maka semua agama sepakat untuk menyukainya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

lalu Allah menyelamatkannya dari api.
(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 24)

Yakni menyelamatkan Ibrahim dari panasnya api itu dengan menjadikannya berasa dingin dan keselamatan baginya.


Informasi Surah Al Ankabut (العنكبوت)
Surat Al’ Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al’ Ankabuut” berhubung terdapatnya perkataan Al’ Ankabuut yang berarti “laba­ laba” pada ayat 41 surat ini, di mana Allah mengumpamakan penyembah-penyembah berhala­ berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia ber­lindung dan tempat menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.

Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tem­pat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syua’ib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Keimanan:

Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap orang-orang yang mengingkarinya
tiap-tiap diri akan merasakan mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali
Allah akan menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.

Hukum:

Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa
kewajiban mengerjakan shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar
kewajiban menentang ajakan mempersekutukan Allah sekalipun datang­nya dari ibu bapa.

Kisah:

Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syua’ib a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.

Lain-lain:

Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang
usaha manusia itu manfa’at­ nya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah
perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ankabut (69 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 24 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 24 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ankabut (29) ayat 24 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ankabut - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 69 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 29:24
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ankabut.

Surah Al-'Ankabut (bahasa Arab:العنكبوت) adalah surah ke-29 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah.
Dinamai Al-'Ankabut berhubung terdapatnya kata Al- 'Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur.
Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain.
Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Nomor Surah 29
Nama Surah Al Ankabut
Arab العنكبوت
Arti Laba-laba
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 85
Juz Juz 20 (ayat 1-44) sampai juz 21 (45-69)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 69
Jumlah kata 983
Jumlah huruf 4321
Surah sebelumnya Surah Al-Qasas
Surah selanjutnya Surah Ar-Rum
4.7
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta