Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 70


یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ قُلۡ لِّمَنۡ فِیۡۤ اَیۡدِیۡکُمۡ مِّنَ الۡاَسۡرٰۤی ۙ اِنۡ یَّعۡلَمِ اللّٰہُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ خَیۡرًا یُّؤۡتِکُمۡ خَیۡرًا مِّمَّاۤ اُخِذَ مِنۡکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaannabii-yu qul liman fii aidiikum minal asra in ya’lamillahu fii quluubikum khairan yu’tikum khairan mimmaa ukhidza minkum wayaghfir lakum wallahu ghafuurun rahiimun;

Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 8:70
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat ▪ Sifat orang munafik
8:70, 8 70, 8-70, Al Anfaal 70, AlAnfaal 70, Al Anfal 70, AlAnfal 70, Al-Anfal 70
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 70. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa Abbas, Aqil bin Abu Talib dan Naufal bin Haris.
Abbas tertawan dalam perang Badar dan didapati dia membawa dua puluh auqiah 18) emas yang sengaja disisihkannya untuk memberi makan orang-orang musyrikin yang ikut berperang.
Dia termasuk di antara sepuluh orang yang menjamin makanan tentara musyrikin.
Tetapi belum lagi tiba gilirannya untuk membelanjakan emas itu, dia sudah ditawan oleh kaum Muslimin.
Maka Abbas berkata: "Sebenarnya, saya telah masuk Islam tetapi mereka memaksa saya supaya ikut bersama mereka." Rasulullah menjawab: "Jika benar apa yang kamu katakan itu, niscaya Allah akan membalas keimananmu itu.
Tetapi yang tampak oleh kami, kamu bersama kaum musyrikin telah ikut menentang kami." Abbas meminta kepada Rasulullah supaya emasnya itu dikembalikan kepadanya.
Rasulullah menjawab: "Adapun emas yang telah kamu sediakan untuk memerangi kami, tidak akan kami kembalikan." Lalu beliau perintahkan Abbas menebus keponakannya `Aqil bin Abu Talib sebanyak dua puluh auqiah emas, dan menebus Naufal bin Haris.
Abbas berkata: "Kalau begitu engkau ya Rasulullah telah membuat aku jadi seorang miskin yang terpaksa mengemis-ngemis kepada orang Quraisy." Rasulullah berkata: "Di mana emas yang kamu titipkan pada Ummul Fadl di waktu engkau keluar dari kota Mekah?"
Kamu telah mengatakan kepadanya: "Aku tidak tahu apa yang akan menimpa diriku.
Bila ada yang terjadi terhadapku, maka harta itu untukmu, untuk Abdullah, Ubaidillah, dan Alfadl." Abbas bertanya: "Siapa yang memberitahukan hal itu kepadamu ya Muhammad?"
Rasulullah menjawab: "Tuhankulah yang memberitahukannya kepadaku." Abbas dengan spontan berkata: "Aku mengaku bahwa engkau benar, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa engkau hamba dan Rasul-Nya.
Demi Allah tiada seorang pun yang mengetahui hal itu, kecuali Allah.
Aku menitipkan emas itu kepada Ummul Fadl di malam yang sunyi lagi gelap.
Pada mulanya saya ragu-ragu tentang kata-katamu itu.
Kini karena engkau telah memberitahukannya bahwa Allahlah yang memberitahukan kepada engkau, maka benarlah berita ini dan hilanglah keraguanku." Lalu Abbas melaksanakan perintah Rasul.
Ternyata emas yang dikeluarkan Abbas sebagai pelaksana perintah Rasul diganti Allah dengan berlipat ganda.
Abbas berkata: "Allah telah mengganti pengorbananku (sebanyak dua puluh auqiah emas) dengan yang lebih baik dan yang lebih berharga.
Sekarang aku mempunyai dua puluh orang hamba sahaya, nilai yang paling rendah dari mereka dua puluh ribu dirham.
Allah telah memberikan kepadaku pengurusan sumur zamzam, dan ini bagiku lebih berharga dari semua kekayaan yang ada di Mekah.
Di samping itu saya selalu mengharapkan ampunan dari Tuhanku."

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya mengatakan kepada para tawanan yang merasa berat di hatinya mengeluarkan harta untuk penebus diri mereka, bahwa Allah akan mengganti harta yang mereka serahkan itu dengan yang lebih baik dan lebih bersih serta beriman kepada Allah.
Allah akan mengampuni segala dosamu termasuk dosa syirik, memusuhi kaum Muslimin, memusuhi Islam, agama yang diridai-Nya dan melakukan berbagai macam tindakan yang dimurkai-Nya.
Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Al Anfaal (8) ayat 70 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 70 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 70 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang berada di tanganmu, "Apabila ada niat baik di hati kalian yang Allah pasti mengetahuinya, kalian akan diberi kebaikan yang lebih utama dari yang telah diambil orang-orang Mukmin dari kalian.
Allah juga akan mengampuni dosa-dosa syirik dan keburukan-keburukan masa lalu.
Ampunan dan rahmat Allah amat luas bagi orang-orang yang tobat dari kekafiran dan dosanya."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu,) menurut suatu qiraat lafal al-asraa dibaca al-asaarii ("Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian) yakni keimanan dan keikhlasan (niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah kalian berikan) artinya Dia pasti akan melipatgandakannya buat kalian di dunia ini dan kelak di akhirat Dia akan memberi kalian pahala (dan Dia akan mengampuni kalian.") dosa-dosa kalian (Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai Nabi!! Katakanlah kepada para tawanan kalian saat Perang (Badar) :
Jangan sedih dengan tebusan yang akan diminta dari kalian.
Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Allah akan memberikan yang lebih baik dari pada harta yang telah diambil dari kalian, yaitu dengan memberikan kebaikan yang banyak kepada kalian dari karunia-Nya, (Allah telah memenuhi janji-Nya kepada Abbas dan lainnya) dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-Nya apabila mereka bertaubat, juga Maha Penyayang terhadap mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Abbas ibnu Abdullah ibnu Mugaffal.
dari sebagian keluarganya, dari Abdullah ibnu Abbas r.a..
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam Perang Badar:

Sesungguhnya aku telah mengetahui sejumlah orang dari kalangan Bani Hasyim dan lain-lainnya, mereka berangkat ke medan perang karena dipaksa, padahal tidak ada urusan bagi mereka untuk memerangi kita.
Maka barang siapa di antara kalian menjumpai seseorang dari mereka - yakni dari kalangan Bani Hasyim—, janganlah ia membunuhnya.
Dan barang siapa yang menjumpai Abul Buhturi ibnu Hisyam, janganlah ia membunuhnya.
Dan barang siapa yang menjumpai Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, janganlah ia membunuhnya, karena sesungguhnya dia berangkat ke medan perang karena dipaksa.

Maka Abu Ruiaifah ibnu Atabah berkata.”Apakah kami membunuh bapak-bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami, dan famili kami, lalu kami biarkan Al-Abbas?
Demi Allah, jika aku bersua dengannya, niscaya aku benar-benar akan membunuhnya dengan pedang." Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar ibnul Khattab, "Hai Abu Hafs." Umar mengata­kan, "Demi Allah, sesungguhnya hari itu merupakan hari pertama bagiku menerima julukan Abu Hafs dari beliau ﷺ" Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah wajah paman Rasulullah ﷺpantas dipukul dengan pedang?"
Umar berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal lehernya.
Demi Allah, dia telah munafik." Abu Huzaifah setelah peristiwa itu mengatakan, "Demi Allah, saya tidak merasa aman karena ucapan yang telah saya katakan itu, dan saya masih terus-menerus dicekam oleh rasa takut, kecuali jika Allah menghapusnya dengan menganugerahiku mati syahid." Akhirnya Abu Huzaifah mati syahid dalam Perang Yamamah, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada dia.

Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa pada petang hari Perang Badar semua tawanan orang musyrik telah diikat, dan Rasulullah ﷺ tidak dapat tidur pada permulaan malam harinya.
Maka para sahabat berkata.”"Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak tidur?"
Saat itu Al-Abbas dalam keadaan ditawan oleh seorang lelaki dari kalangan Ansar.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda.”'Aku mendengar rintihan pamanku —Al-Abbas— dalam ikatannya, maka lepaskanlah dia." Beliau diam, lalu tidur.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, tawanan Perang Badar yang paling banyak tebusannya ialah tebusan Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, karena dia adalah seorang hartawan, maka dia menebus dirinya dengan seratus auqiyah emas.

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Musa ibnu Uqbah.
Ibnu Syihab mengatakan, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, bahwa sejumlah lelaki dari kalangan Ansar mengatakan, "Wahai Rasulullah, izinkanlah bagi kami menggantikan Abbas dengan anak saudara perempuan kami sebagai tebusannya." Rasulullah ﷺ men­jawab, "Jangan, demi Allah, kalian jangan mengeluarkan satu dirham pun untuknya."

Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Ruman dari Urwah dari Az-Zuhri dari sejumlah orang yang dia sebutkan nama-namanya, mereka telah menceritakan bahwa orang-orang Quraisy mengirimkan tebusannya untuk menebus tawanan mereka yang ada di tangan kaum muslim, maka tiap-tiap kaum menebus orangnya masing-masing sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Al-Abbas berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang muslim sejak dahulu." Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah lebih mengetahui keislamanmu.
Jika keadaannya memang seperti yang engkau katakan, sesungguhnya Allah akan membalasmu.
Tetapi dari lahiriahmu engkau melawan kami, maka tebuslah dirimu dan kedua keponakanmu, yaitu Naufal ibnul Haris ibnu Abdul Muttalib dan Uqail ibnu Abu Talib ibnu Abdul Muttalib.
serta teman sepaktamu (yaitu Atabah ibnu Amr, saudara lelaki Banil Haris ibnu Fihr.

Al-Abbas berkata.
”Saya tidak memiliki sejumlah itu, wahai Rasulullah." Nabi ﷺ bertanya.”Maka di manakah harta benda yang engkau simpan bersama Ummul Fadl (istrinya), lalu engkau katakan kepadanya, 'Jika aku beroleh keuntungan dalam perjalanan niagaku ini, maka hasilnya harus di simpan untuk anak-anak kita," yaitu Al-Fadl, Abdullah dan Qasam?"

Al-Abbas berkata.”Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sekarang benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah.
Sesungguhnya hal tersebut merupakan suatu rahasia yang tidak ada seorang pun mengetahuinya selain aku sendiri dan Ummul Fadl.
Maka masukkanlah ke dalam hitungan tebusanku apa yang telah engkau rampas dariku yang semuanya berjumlah dua puluh auqiyah emas." Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak, itu adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah kepadaku darimu." Lalu Ibnu Abbas menebus dirinya, dua keponakannya, dan teman sepaktanya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian, dan Dia akan mengampuni kalian.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al-Abbas mengatakan, "Maka Allah memberikan ganti dua puluh auqiyah emas itu dengan dua puluh budak dalam masa Islamku, masing-masing dari budak itu membawa harta yang berlipat ganda, selain dari ampunan Allah subhanahu wa ta'ala.
kepadaku."

Ibnu Ishaq pun telah meriwayatkan hal yang semisal dengan hadis di atas dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dari Ibnu Abu Nujaih.
dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Al-Abbas (yakni ayahnya) mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan, denganku, yakni firman-Nya: Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuh di muka bumi.
(Al Anfaal:67) Lalu aku menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang keislamanku, dan aku meminta kepadanya agar dia memasukkan ke dalam tebusan jumlah dua puluh auqiyah emas yang telah diambilnya (dirampasnya sebagai ganimah) dariku, tetapi Nabi ﷺ menolak.
Dan Allah menggantinya kepadaku dengan dua puluh orang budak, semuanya berdagang untukku dari hartaku yang berada di tangan masing-masing.

Ibnu Ishaq mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas r.a., dari Jabir ibnu Abdullah ibnu Rabbab yang mengatakan, "Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib telah mengatakan bahwa berkenaan dengannyalah ayat ini diturunkan, yaitu di saat ia menceritakan keislamannya kepada Rasulullah ﷺ" Kemudian disebutkan kelanjutannya semisal dengan hadis di atas.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu.
(Al Anfaal:70) Yang dimaksud dengan tawanan-tawanan dalam ayat ini ialah Abbas dan teman-temannya.
Mereka berkata, "Kami telah beriman kepada apa yang engkau sampaikan, dan kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, sesungguhnya kami benar-benar akan menasihati kaum kami demi engkau." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian.
(Al Anfaal:70) Yang dimaksud dengan kebaikan ialah iman dan membenarkan Nabi ﷺ Maka Allah akan memberikan gantinya yang lebih baik kepada kalian daripada apa yang telah diambil dari kalian.
dan Dia akan mengampuni kalian.
(Al Anfaal:70) Yaitu dari kemusyrikan yang dahulu kalian lakukan.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Al-Abbas sering mengatakan, "Saya tidak suka bila ayat yang diturunkan berkenaan dengannya ini ditukar dengan dunia dan seisinya.
karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman:

...niscaya Dia akan memberikan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari tangan kalian
Sesungguhnya Allah telah memberiku yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari tanganku, sebanyak seratus kali lipat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan Dia akan mengampuni kalian.
Al-Abbas mengatakan bahwa dirinya berharap semoga Allah telah mengampuninya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan makna ayat ini, bahwa Al-Abbas menjadi tawanan dalam Perang Badar, lalu ia menebus dirinya dengan harta sejumlah empat puluh auqiyah emas.
Ketika ayat ini dibacakan kepada Al-Abbas, ia mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah memberinya dua perkara, jika dua perkara itu ditukar dengan dunia dan seisinya, ia tidak suka.
Yaitu sesungguhnya ketika dia menjadi tawanan Perang Badar, ia menebus dirinya dengan uang sejumlah empat puluh auqiyah, lalu Allah memberinya empat puluh orang budak.
Dan sesungguhnya dia benar-benar berharap mendapat ampunan Allah yang telah dijanjikan kepadanya.

Qatadah sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa ketika Rasulullah ﷺ menerima kedatangan harta ganimah dari Bahrain sejumlah delapan puluh ribu (dinar), saat itu Rasulullah ﷺ telah berwudu untuk menunaikan salat Lohor.
Maka pada hari itu tidak ada seorang yang sakit pun melainkan beliau beri, dan tidak ada seorang peminta-minta pun melainkan diberi, dan pada hari itu beliau masih belum salat melainkan sesudah membagi-bagikannya.
Kemudian beliau ﷺ memerintahkan kepada Al-Abbas untuk mengambil sebagian dari harta itu.
Maka Al-Abbas mencedukkan kedua tangannya —mengambil harta itu— seraya berkata, "Ini jauh lebih baik daripada apa yang telah diambil dariku, dan aku masih mengharapkan ampunan."

Ya'qub ibnu Sufyan mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, dari Humaid ibnu Hilal yang menceritakan bahwa Ibnul Hadrami mengirimkan sejumlah harta dari Bahrain yang berjumlah delapan puluh ribu dinar kepada Rasulullah ﷺ Beliau ﷺ belum pernah menerima harta sebanyak itu, begitu pula sesudahnya.

Humaid melanjutkan kisahnya, "Lalu harta itu digelarkan di atas sebuah tikar, saat itu bertepatan dengan didengungkannya azan untuk salat.
Rasulullah ﷺ datang, beliau berdiri di depan tumpukan harta itu, ahli masjid pun berdatangan, maka dalam waktu yang singkat di hari itu penuh sesak dengan orang-orang.
Kemudian Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib datang, lalu meraupkan tangannya ke harta itu dan memasukkannya ke dalam bajunya, kemudian ia bangkit dan berdiri, tetapi tidak kuat (karena keberatan).
Lalu Al-Abbas mengangkat kepalanya ke arah Rasulullah ﷺ dan berkata, 'Wahai Rasulullah, bantulah aku untuk bangkit.' Rasulullah ﷺ tersenyum sehingga gigi gerahamnya kelihatan, lalu bersabda kepada Al-Abbas, 'Ambillah sejumlah harta dan bangkitlah dengan membawa apa yang engkau mampu membawanya."

Al-Abbas melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ, lalu ia berkata sambil pergi, 'Adapun salah satu dari kedua perkara yang telah dijanjikan oleh Allah kepada kami telah kami terima dari-Nya.
Dan kami tidak mengetahui apa yang akan dilakukan-Nya terhadap perkara yang lainnya.'

Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu., hingga akhir ayat.

Kemudian Al-Abbas berkata, ini lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kami.
tetapi saya tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Allah terhadap perkara lainnya (yakni ampunan buat dia) "

Rasulullah ﷺ masih tetap berdiri di depan harta itu hingga tidak ada satu dirham pun yang tersisa, dan beliau tidak mengirimkan kepada keluarganya barang sedirham pun.
Setelah itu beliau ﷺ mendatangi tempat salatnya, lalu mengerjakan salat."

Hadis yang lain sehubungan dengan hal ini diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi.
Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepadaku Abut Tayyib Muhammad ibnu Muhammad ibnu Abdullah As-Sa’idi, telah men­ceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isam.
telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Abdullah.
telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Tahman.
dari Abdul Aziz ibnu Suhaib.
dari Anas ibnu Malik yang telah menceritakan bahwa pernah datang sejumlah harta kepada Rasulullah ﷺ dari negeri Bahrain lalu beliau bersabda Gelarkanlah di Masjidku.

Harta tersebut merupakan harta yang paling banyak yang pernah diterima oleh Rasulullah ﷺ Kemudian Rasulullah ﷺ keluar (dari rumahnya) menuju tempat salat tanpa menoleh kepada harta itu.
Setelah beliau menyelesaikan salatnya, beliau datang dan duduk di dekat kumpulan harta itu.
Maka tidak ada seorang pun yang beliau lihat melainkan beliau memberinya harta itu.
Tiba-tiba datanglah Al-Abbas dan berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku, karena sesungguhnya aku baru saja menebus diriku dan Aqil." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Ambillah."

Maka Al-Abbas meraup harta itu dan memasukkannya ke dalam bajunya, lalu bangkit berdiri hendak pergi, tetapi tidak mampu karena keberatan.
Lalu ia berkata, "Perintahlah seseorang untuk membantuku berdiri."Nabi ﷺ menjawab, "Tidak." Al-Abbas berkata, "Kalau begitu, bantulah aku olehmu." Nabi ﷺ menjawab, "Tidak."

Lalu Al-Abbas menaburkan sebagian dari harta itu dan memanggul­nya di atas pundaknya, lalu pergi.
Sedangkan Rasulullah ﷺ hanya memandangnya, dan pandangan mata beliau mengikutinya hingga ia tidak kelihatan, beliau merasa heran dengan ketamakan Al-Abbas terhadap harta benda.

Rasulullah ﷺ baru bangkit meninggalkan tempat itu setelah tidak tersisa barang sedirham pun dari harta itu.

imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini di berbagai tempat dari kitab Sahih-nya secara ta’liq dan dengan siqat yang jazm.
Ia mengatakan bahwa Ibrahim ibnuTahman mengatakan, lalu ia mengetengahkan hadis ini.
Pada bagian teksnya terdapat hadis yang lebih lengkap daripada ini.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 70

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah, ayat ini (al-Anfaal: 70) turun berkenaan dengan diriku ketika aku mengingatkan Rasulullah ﷺ bahwa aku telah masuk Islam, dan meminta kembali hartaku sebanyak 20 uuqiyyah (ons) emas yang dirampas dalam peperangan dan mengharap ampunan dari Allah.
Sebagai penggantinya Rasulullah memberikan kepadaku 20 orang ‘abid yang sekarang memperdagangkan hartaku dengan jujur, yang sangat menguntungkan.” Ayat ini (al-Anfaal: 70) menegaskan bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik daripada apa yang telah dirampas dalam peperangan, kepada tawanan-tawanan yang masuk Islam, dan menjanjikan ampunan-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 70 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 70



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending