Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 7


وَ اِذۡ یَعِدُکُمُ اللّٰہُ اِحۡدَی الطَّآئِفَتَیۡنِ اَنَّہَا لَکُمۡ وَ تَوَدُّوۡنَ اَنَّ غَیۡرَ ذَاتِ الشَّوۡکَۃِ تَکُوۡنُ لَکُمۡ وَ یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّحِقَّ الۡحَقَّ بِکَلِمٰتِہٖ وَ یَقۡطَعَ دَابِرَ الۡکٰفِرِیۡنَ ۙ
Wa-idz ya’idukumullahu ihdath-thaa-ifataini annahaa lakum watawadduuna anna ghaira dzaatisy-syaukati takuunu lakum wayuriidullahu an yuhiqqal haqqa bikalimaatihi wayaqtha’a daabiral kaafiriin(a);

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir,
―QS. 8:7
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
8:7, 8 7, 8-7, Al Anfaal 7, AlAnfaal 7, Al Anfal 7, AlAnfal 7, Al-Anfal 7
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah mengingatkan kaum Muslimin akan suatu peristiwa yang penting, yaitu pada saat Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin melawan salah satu dari dua golongan yang dihadapi itu yaitu salah satu di antara rombongan berkuda yang membawa harta dagangan atau bala tentara Quraisy yang membawa peralatan perang yang lengkap.
Pada saat itu kaum Muslimin cenderung memilih berhadapan dengan rombongan yang membawa dagangan yang jumlahnya tidak lebih dari 40 kuda.
Hal ini adalah sebagai sindiran kepada sebagian kaum muslimin yang takut terlibat dalam peperangan, tetapi mereka ingin mendapat harta yang banyak.

Kecenderungan mereka ini jauh dari kebenaran, karena tujuan mereka telah berbelok pada kesenangan materiil.
Yaitu mereka telah berbelok dari menegakkan tauhid dan menghancurkan kemusyrikan.
Itulah sebabnya Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan kepada mereka bahwa yang dikehendaki Allah tidak seperti yang mereka inginkan.
Allah menghendaki agar kaum Muslimin menegakkan kebenaran sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya yang menyatakan bahwa kemenangan itu akan diperoleh kaum Muslimin dari salah satu di antara dua rombongan.
Sasaran tempur yang harus dipilih itu tidak dijelaskan adalah untuk melatih kaum Muslimin agar dapat menentukan pilihan serta menetapkan strategi perang dengan jalan menanggapi situasi dan menilainya dengan jalan bermusyawarah serta mendidik mereka agar menaati hasil keputusan.

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta'ala menandaskan kehendak-Nya, yaitu untuk memusnahkan orang-orang musyrikin yang membangkang kepada agama Allah secara keseluruhan termasuk pula pendukung-pendukung mereka.
Allah subhanahu wa ta'ala menggambarkan hancurnya keseluruhan bala tentara kafir Quraisy dengan ungkapan hancurnya barisan belakang adalah usaha yang paling sulit, yang hanya dapat dilaksanakan apabila barisan depan telah dihancurkan terlebih dahulu.
Tujuan utama ialah memusnahkan kaum musyrikin karena kemenangan kaum Muslimin melawan mereka dalam perang Badar adalah kemenangan pertama yang akan disusul oleh kemenangan-kemenangan yang lain pada peperangan-peperangan berikutnya, dan berakhir dengan penaklukan Mekah sebagai kemenangan total yang gilang-gemilang bagi kaum Muslimin dan kehancuran orang-orang kafir Quraisy secara menyeluruh.

Al Anfaal (8) ayat 7 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah janji Allah.
Dia akan memenangkan kalian atas salah satu di antara dua golongan musuh, yaitu pasukan yang bersenjata dan berkekuatan.
Sementara kalian bermaksud menyerang pasukan yang tengah membawa komoditi dagang dan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan.
Kalian lebih berkeinginan untuk memerangi mereka yang membawa komoditi dagang dan tidak memiliki kekuatan.
Akan tetapi Allah berkeinginan untuk menyatakan kebenaran dengan kehendak, kekuasaan dan kalimat-kalimat-Nya[1]--yang menyatakan kehendak dan kekuasaan itu--serta membasmi kekufuran dari dunia Arab dengan memenangkan orang-orang Mukmin.
[2].

[1] "Kalimat" yang dimaksud dalam ayat ini adalah ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan perintah memerangi pasukan yang bersenjata dan berkekuatan serta janji-janji kemenangan dari Allah.

[2] Ayat di atas menyinggung apa yang biasa terdetik dalam hati mereka yang hendak terjun ke medan perang, yaitu berupa angan-angan untuk berhadapan dengan musuh yang sedikit jumlahnya, tidak mau bertemu musuh yang lebih kuat dan ingin mendapatkan harta rampasan yang banyak.
Tapi ditegaskan di sini bahwa Allah berkehendak lain.
Dia ingin mengangkat syiar agama, memproklamirkan kebenaran dan membasmi kekufuran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Allah menjanjikan kepadamu salah satu dari dua golongan) yakni rombongan kafilah atau pasukan bersenjata (bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan) kalian hanya menghendaki (bahwa golongan yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah) golongan yang tidak mempunyai kekuatan dan persenjataan, yaitu golongan kafilah dagang (yang untukmu) mengingat pengawalnya sedikit dan persenjataannya pun tidak lengkap, berbeda dengan golongan pasukan bersenjata (dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar) menampakkan yang benar (dengan ayat-ayat-Nya) yang dahulu melalui kemenangan Islam (dan memusnahkan orang-orang kafir) kekuatan mereka dengan mengalahkan mereka, maka Dia memerintahkan kalian untuk memerangi pasukan bersenjata mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membantah, ingatlah janji Allah kepada kalian bahwa kalian akan memperoleh salah satu dari dua golongan yang kalian hadapi, memperoleh al-ier (kafilah dagang) dan harta yang mereka bawa sebagai rampasan, atau annafiir, yaitu berperang melawan musuh dan mengalahkan mereka, sedangkan kalian lebih menyukai mendapatkan al-ier tanpa harus berperang.
Allah menghendaki Islam menjadi tegak dan tinggi dengan memerintahkan kalian untuk memerangi orang-orang kafir dan membinasakan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kaitan yang dimaksud ialah, ketika Rasulullah ﷺ menerima berita tentang keberangkatan pasukan kaum musyrik Mekah, maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi ﷺ untuk memilih salah satu di antara kedua golongan tersebut, yaitu antara kafilah atau pasukan kaum musyrik.
Sedangkan kebanyakan kaum muslim memilih untuk menghadang kafilah, mengingat hasilnya sudah pasti dan tanpa melalui peperangan.
Hal ini diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya:

...sedangkan kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan di dalam kitab Tafsir­nya, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Aslam Abu Imran, bahwa ia pernah mendengar Abu Ayyub Al-Ansari menceritakan hadis berikut: Rasulullah ﷺ bersabda ketika kami (para sahabat) berada di Madinah, "Sesungguhnya aku mendapat berita bahwa iringan kafilah Abu Sufyan telah kembali, maka maukah kalian berangkat untuk menghadang kafilah ini?
Mudah-mudahan Allah menjadikannya sebagai ganimah buat kita." Maka kami (para sahabat) menjawab, "Ya." Lalu Nabi berangkat dan kami ikut bersamanya.
Ketika perjalanan satu atau dua hari telah kami lampaui, Nabi ﷺ bersabda kepada kami, "Bagaimanakah pendapat kalian dengan memerangi kaum itu, karena sesungguhnya mereka telah mendengar keberangkatan kalian (sehingga mereka meminta bala bantuan)?"
Kami menjawab, "Tidak, demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk berperang melawan musuh, tetapi kami hanya menginginkan iringan kafilah itu." Nabi ﷺ bersabda, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang memerangi kaum itu?"
Kami menjawab dengan jawaban yang sama.
Maka Al-Miqdad ibnu Amr mengatakan, "Kalau demikian, kami tidak akan mengatakan kepada engkau, wahai Rasulullah, seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa," yang disebutkan di dalam firman-Nya: pergilah kamu bersama Tuhanmu.
dan berperanglah kamu berdua.
sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.
(Al Maidah:24) Abu Ayyub Al-Ansari mengatakan, "Setelah itu kami —semua golongan Ansar— berharap seandainya saja kami mengatakan seperti apa yang tadi dikatakan oleh Al-Miqdad.
Hal itu lebih kami sukai daripada memiliki harta yang besar." Selanjutnya ia mengatakan, "Lalu Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman kepada Rasul-Nya." yaitu:

Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. (Al Anfaal:5)

Kemudian Ibnu Murdawaih melanjutkan hadis ini hingga selesai.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Luhai'ah dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan pula melalui hadis Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah ibnu Abu Waqqas Al-Laisi, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berangkat menuju medan Badar.
Ketika sampai di Rauha, beliau berkhotbah kepada semua orang, "Bagaimanakah pendapat kalian?"
Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, telah sampai suatu berita kepada kami bahwa mereka (pasukan kaum musyrik) telah berada di tempat anu dan anu." Nabi ﷺ berkhotbah lagi dan mengatakan, "Bagaimanakah pendapat kalian?"
Maka berkatalah Umar seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar.
Rasulullah ﷺ berkhotbah lagi dan mengatakan, "Bagaimanakah pendapat kalian?"
Sa'd ibnu Mu'az berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami yang engkau maksudkan?
Demi Tuhan yang telah memuliakanmu dan telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu, saya hanya mengikuti jalanmu saja dan saya tidak tahu menahu.
Seandainya engkau berjalan sampai ke Barkil Gimad bagian yang jauh dari negeri Yaman, niscaya saya akan berjalan bersamamu.
Dan kami tidak akan seperti orang-orang yang mengatakan kepada Musa: pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.
(Al Maidah:24) Tetapi kami akan mengatakan, 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami akan berperang menyertaimu.' Barangkali engkau berangkat karena suatu perintah, lalu Allah memerintahkan lagi kepadamu hal yang lainnya, maka tunggulah apa yang bakal diputuskan oleh Allah kepadamu, kemudian berangkat­lah menunaikannya.
Hubungkanlah tali orang yang engkau kehendaki, dan putuskanlah tali orang yang engkau kehendaki.
Perangilah orang yang engkau kehendaki, dan berdamailah dengan orang yang engkau kehendaki.
Ambillah dari harta kami sebanyak apa yang engkau kehendaki." Sehubungan dengan perkataan Sa'd itu, Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya (Al Anfaal:5), hingga beberapa ayat berikutnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Nabi ﷺ bermusyawarah sehubungan dengan menghadapi musuh, lalu Sa'd ibnu Ubadah mengatakan apa yang telah dikatakannya, hal tersebut terjadi sebelum Perang Badar.
Nabi ﷺ memerintahkan kepada kaum muslim untuk bersiap-siap menghadapi peperangan, dan memerintahkan untuk menghadapi golongan kaum musyrik yang bersenjata.
Lalu orang-orang yang beriman tidak menyukai hal tersebut, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
Menurunkan Firman-Nya:

Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedangkan mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). (Al Anfaal:5-6)

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...mereka membantahmu tentang kebenaran...
Menurutnya, yang dimaksud dengan 'kebenaran' dalam ayat ini ialah peperangan melawan orang-orang musyrik.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Mereka membantahmu tentang kebenaran...Yakni karena terdorong oleh rasa tidak suka menghadapi orang-orang musyrik, serta ketidakpercayaan mereka perihal keberangkatan pasukan kaum Quraisy saat mereka mendapat berita bahwa kafilahnya terancam.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata.
Yaitu sesudah nyata bagi mereka bahwa Nabi ﷺ tidak sekali-kali berbuat melainkan berdasarkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama tafsir lainnya menakwilkan bahwa yang dimaksud dengan mereka yang melakukan bantahan adalah orang-orang musyrik.
Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, bahwa Ibnu Zaid pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata, seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedangkan mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).
Mereka adalah orang-orang musyrik yang membantah kebenaran yang disampaikan oleh Nabi ﷺ, seakan-akan mereka digiring ke arah kematian ketika mereka diseru untuk masuk Islam, sedangkan mereka melihat penyebab kematian itu.
Apa yang disebutkan di dalam ayat ini bukan merupakan kelanjutan dari sifat orang-orang mukmin, kata Ibnu Zaid, melainkan merupakan kalimat baru yang menggambarkan tentang sifat orang-orang kafir.

Kemudian Ibnu Jarir memberikan komentarnya, bahwa apa yang dikatakan oleh Ibnu Zaid tidak dimengerti, mengingat kalimat sebelumnya menyebutkan:

...mereka membantahmu tentang kebenaran.
Hal ini menceritakan perihal orang-orang yang beriman, sedangkan yang dimaksudkan oleh Ibnu Zaid ialah berita tentang orang-orang kafir.

Pendapat yang benar ialah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Ishaq, bahwa kisah dalam ayat ini menceritakan perihal orang-orang mukmin.
Pendapat yang didukung oleh Ibnu Jarir ini adalah pendapat yang benar, karena bersesuaian dengan konteks ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair dan Abdur Razzaq, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pernah dikatakan kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau selesai Perang Badar, "Sebaiknya engkau kejar iringan kafilah itu, kafilah itu tidak ada yang melindunginya." Kemudian Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib menyeru Nabi ﷺ Menurut Abdur Razzaq, saat itu Al-Abbas dalam keadaan terikat sebagai tawanan perang.
Al-Abbas berseru, "Sesungguhnya iringan kafilah itu tidak baik bagimu." Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa?"
Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib menjawab, "Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala.
hanya menjanjikan kepadamu salah satu di antara dua golongan.
Dan sesungguhnya sekarang Allah telah memberimu apa yang telah Dia janjikan kepadamu."

Sanad hadis ini Jayyid, tetapi Imam Ahmad sendiri tidak mengetengahkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...sedangkan kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian.

Maksudnya, mereka lebih suka memilih golongan yang tidak bersenjata, tidak terlindungi, dan tidak ada peperangan, kemudian kafilah berhasil mereka kuasai.

...dan Allah Menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya.

Yakni Allah menghendaki agar kalian bersua dengan golongan yang bersenjata, lalu terjadilah peperangan, agar Dia memenangkan kalian atas mereka dan menolong kalian dalam menghadapi mereka.
Dengan demikian, maka menanglah agama-Nya dan tinggilah kalimat Islam, Dia akan menjadikannya berada di atas agama lainnya.
Dia Maha Mengetahui tentang semua akibat segala urusan.
Dialah Yang Mengatur kalian dengan aturan yang baik, sekalipun hamba-hamba-Nya menghendaki yang selain dari itu, mengingat pandangan mereka terbatas dan yang tampak hanyalah luarnya saja.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat yang lain, yaitu:

Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.
(Al Baqarah:216)

Muhammad Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim Az-Zuhri dan Asim ibnu Umar ibnu Qatadah serta Abdullah ibnu Abu Bakar dan Yazid ibnu Ruman, dari Urwah ibnuz Zubair dan lain-lainnya dari kalangan ulama kami, dari Abdullah ibnu Abbas.
Masing-masing dari mereka telah menceritakan kepadaku sebagian dari hadis ini sehingga terhimpunlah hadis mereka menurut apa yang saya rangkaikan mengenai Perang Badar.
Mereka mengatakan.”Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita tentang Abu Sufyan yang dalam perjalanan pulangnya dari negeri Syam (dengan membawa banyak harta), maka Rasulullah ﷺ menyeru kaum muslim untuk mencegat mereka." Nabi ﷺ bersabda kepada mereka, "Kafilah dagang orang-orang Quraisy sekarang sedang dalam perjalanannya, padanya terdapat harta mereka.
Karena itu, berangkatlah kalian untuk mencegatnya, mudah-mudahan Allah menjadikannya sebagai harta rampasan perang bagi kalian.” Maka orang-orang (kaum muslim) pun bersiaga, sebagian di antara mereka ada yang ringan menyambut seruan itu, sedangkan sebagian lainnya ada yang keberatan.
Demikian itu karena mereka tidak menduga bahwa Rasulullah ﷺ akan menjumpai peperangan.
Dan tersebutlah bahwa Abu Sufyan sesampainya di perbatasan tanah Hijaz selalu bertindak waspada dan mencari-cari informasi, serta selalu menanyakan kepada kafilah yang dijumpainya, karena merasa khawatir terhadap kaum muslim.
Pada akhirnya ia menerima berita dari salah satu kafilah yang menyampaikan bahwa Muhammad telah mempersiapkan pasukan dari kalangan sahabat-sahabatnya untuk mencegat kafilahnya.
Setelah Abu Sufyan menerima berita itu, maka dengan sigap ia menyewa Damdam ibnu Amr Al-Gifari untuk pergi ke Mekah dan memberitahukan kepada penduduk Mekah akan keadaannya.
Abu Sufyan dalam pesannya memerintahkan kepada kaum Quraisy agar membentuk pasukan besar untuk melindungi harta mereka.
Ia pun memberitahukan bahwa Muhammad beserta para sahabatnya akan mencegat mereka.
Maka Damdam ibnu Amr memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal menuju Mekah (untuk menyampaikan berita tersebut).
Rasulullah ﷺ berangkat bersama para sahabatnya hingga sampai di suatu lembah yang dikenal dengan nama Lembah Zafran, lalu beliau ﷺ keluar dari lembah itu.
Ketika beliau sampai di pertengahan perjalanannya, beliau turun istirahat, dan saat itulah beliau mendapat berita perihal keberangkatan pasukan kaum Quraisy untuk melindungi harta mereka yang ada dalam kafilahnya.
Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menyampaikan perihal pasukan kaum Quraisy.
Maka berdirilah Abu Bakar r.a.
dan mengatakan, "Itu lebih baik." Umar berdiri pula, lalu mengatakan, "Itu lebih baik." Kemudian- Al-Miqdad ibnu Amr berdiri dan mengatakan, "Hai Rasulullah, teruskanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, dan kami akan selalu bersamamu.
Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa," yaitu: Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.
(Al Maidah:24) Tetapi kami katakan, "Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami ikut berperang bersamamu.
Demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke Barkil Gimad yakni nama sebuah kota di negeri Habsyah—, niscaya kami akan tetap teguh bersamamu menuju ke tempat tujuan hingga engkau sampai kepadanya." Maka Rasulullah ﷺ mengatakan hal yang baik bagi Al-Miqdad dan mendoakan kebaikan buatnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai orang-orang, berilah saya saran!" Sesungguhnya yang dimaksud oleh Nabi ﷺ adalah orang-orang Ansar.
Demikian itu karena mereka adalah mayoritas hadirin yang ada saat itu.
Ketika mereka berbai'at (mengucapkan janji setia) kepada Rasul ﷺ di 'Aqabah, mereka mengatakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berlepas diri dari melindungimu kecuali bila engkau telah sampai di kampung halaman kami.
Apabila engkau telah sampai di kampung halaman kami, maka engkau berada dalam lindungan kami.
Kami akan membelamu sebagaimana kami membela anak-anak dan kaum wanita kami." Saat itu Rasulullah ﷺ merasa khawatir bila orang-orang Ansar tidak menolongnya melainkan hanya dari serangan musuh di saat beliau berada di Madinah saja, dan beliau khawatir pula bila mereka mempunyai perasaan bahwa diri mereka tidak diharuskan berangkat bersama Nabi ﷺ untuk menghadapi musuh di luar negeri mereka.
Ketika Rasulullah ﷺ telah mengucapkan sabdanya itu, maka Sa'd ibnu Mu'az berkata, "Demi Allah, seakan-akan kamilah yang engkau maksudkan, wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ menjawab, "Memang benar." Sa'd ibnu Mu'az berkata, "Sesungguhnya kami telah beriman kepadamu dan membenarkanmu serta bersaksi bahwa apa yang engkau sampaikan adalah hak (benar).
Kami pun telah memberikan janji dan ikrar kami kepadamu atas hal tersebut, bahwa kami bersedia tunduk dan patuh.
Maka berangkatlah,-wahai Rasulullah, untuk menunaikan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu.
Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, seandainya engkau memperlihatkan kepada kami laut ini, lalu engkau mengarunginya, niscaya kami akan ikut mengarunginya bersamamu, tiada seorang pun dari kami yang ketinggalan.
Dan kami sama sekali tidak benci bila kami harus menghadapi musuh kami besok.
Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang teguh dalam peperangan dan pantang mundur dalam menghadapi musuh.
Mudah-mudahan Allah akan memperlihatkan kepadamu sikap dan sepak terjang kami yang dapat menyejukkan hatimu.
Maka bawalah kami bersamamu, semoga mendapat berkah dari Allah." Mendengar perkataan Sa'd dan semangatnya, hati Rasulullah ﷺ amat gembira.
Kemudian beliau ﷺ bersabda:

Berangkatlah kalian, semoga Allah melimpahkan berkah-Nya, dan bergembiralah, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan.
Demi Allah, seakan-akan aku sekarang melihat tempat-tempat kematian kaum (kafir itu).

Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas.
Hal yang sama telah dikatakan pula oleh As-Saddi, Qatadah, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.
Kami tidak mengutarakan riwayat-riwayat dari mereka karena merasa cukup dengan konteks yang telah diketengahkan oleh Muhammad ibnu Ishaq ini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 7

DAABIR
دَابِر

Lafaz ini adalah ism fai'il dari dabara artinya pengikut, akhir segala sesuatu, yang lalu, asal atau pangkal.

Lafaz ini disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 45;
-Al A'raaf (7), ayat 72;
-Al Anfaal (8), ayat 7;
-Al Hijr (15), ayat 66.

Lafaz daabir dihubungkan dengan lafaz al qath yaitu memotong atau memusnahkan dan al kaafiruunyaitu orang-orang kafir atau al kaadzibuun yaitu pendusta­ pendusta.

Ar Razi berkata,
"Ia bermaksud Allah memusnahkan yang akhir yang tertinggal dari orang kafir."

Al Isfahani berkata,
"Ad daabir bagi yang datang kemudian dan pengikut, baik dari segi tempat, zaman atau tingkatan sehingga maksud ayat di atas adalah "Allah memusnahkan generasi terakhir mereka dan lainnya sehingga tidak tertinggal seorang pun."

Al Yazidi berkata,
"Daabir bermakna yang akhir dari mereka."

Dalam Tafsfr Al Maraghi, daabiral qaum bermakna yang akhir dari mereka yang berada di belakang mereka qatha'a daabirahum ialah mereka musnah dan hancur dengan azab yang menimpa mereka sampai ke generasi terakhir mereka dan tidak ada yang tertinggal.

Sayyid Qutb berkata,
Daabiral­ qaum adalah orang yang terakhir dari mereka yang datang kemudian dan apabila Allah memusnahkan generasi terakhir mereka maka yang awal dari mereka tentu lebih utama yaitu orang yang melakukan kezaliman atau mensyekutukan Allah karena kebanyakkan ungkapan di dalam Al Qur'an lafaz kezaliman bermakna kemusyrikan dan orang musyrik bermakna orang yang zalim

Kesimpulannya, lafaz daabir di dalam Al­ Quran bermakna generasi yang ter­akhir dari satu kaum.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:218

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 7 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 7



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku