Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 68


لَوۡ لَا کِتٰبٌ مِّنَ اللّٰہِ سَبَقَ لَمَسَّکُمۡ فِیۡمَاۤ اَخَذۡتُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ
Laulaa kitaabun minallahi sabaqa lamassakum fiimaa akhadztum ‘adzaabun ‘azhiimun;

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.
―QS. 8:68
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
8:68, 8 68, 8-68, Al Anfaal 68, AlAnfaal 68, Al Anfal 68, AlAnfal 68, Al-Anfal 68
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 68. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa tindakan kaum muslimin menerima tebusan itu adalah tindakan yang salah.
Kalau tidaklah karena ketetapan Allah yang telah ada sebelumnya bahwa Dia tidak akan menimpakan siksa kepada mereka karena kesalahan itu, tentulah mereka akan mendapat azab yang berat.
Ada beberapa hadis yang diriwayatkan mengenai sebab turunnya ayat ini, di antaranya yang diriwayatkan oleh Ibnul Munzir, Abusysyaikh dan Ibnu Mardawaih dari Nafi', dari Ibnu Umar.
Ibnu Umar berkata: "Terjadilah perbedaan pendapat antara manusia (kaum muslimin) tentang tindakan yang akan diambil terhadap tawanan perang Badar.
Nabi meminta pendapat Abu Bakar dan Umar.
Abu Bakar menganjurkan kepada Nabi supaya diambil saja tebusan mereka.
Umar menganjurkan supaya membunuh mereka semuanya.
Kemudian ada orang berkata: "Para tawanan itu telah bertekad untuk membunuh Rasulullah dan meruntuhkan Islam.
Kenapa Abu Bakar menganjurkan supaya mereka dibebaskan dengan membayar tebusan?"
Ada pula yang berkata: "Kalau sekiranya ada di antara para tawanan itu ayah Umar atau saudaranya, tentulah dia tidak akan menganjurkan supaya para tawanan itu dibunuh." Akhirnya Rasulullah menerima pendapat Abu Bakar dan dilaksanakanlah pembebasan mereka dengan membayar tebusan, maka turunlah ayat ini.

Mengenai yang dimaksud dengan "ketetapan Allah yang telah ada untuk menyelamatkan kaum muslimin dari siksaan karena kekhilafan itu" para mufassirin mengemukakan beberapa ayat di antaranya firman Allah:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka sedang mereka meminta ampun.

(Q.S Al Anfal: 33)

Meskipun ayat ini mengenai kaum musyrikin, tetapi kaum muslimin lebih berhak atas ketetapan itu.
Sedang kaum musyrikin yang sesat dan durhaka dapat selamat dari siksaan Allah dengan beradanya Nabi di kalangan mereka, apalagi kaum muslimin yang taat dan setia selalu membantu Nabi dan selalu meminta ampun kepada Allah, tentu mereka lebih pantas bahwa mereka tidak akan ditimpa siksa yang berat itu.
Dan firman Allah:

Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (yaitu), bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu akibat kejahilan kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Al An'am: 54)

Rahmat dan kasih sayang Allah ditetapkan-Nya atas dirinya inilah yang membebaskan mereka dari siksaan berat, karena mereka bertaubat sesudah membuat kesalahan apalagi kesalahan itu hanya disebabkan kekhilafan pendapat saja.

Al Anfaal (8) ayat 68 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 68 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 68 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalau bukan karena ketetapan azali Allah untuk memaafkan mujtahid yang salah, niscaya kalian akan mendapatkan azab oleh tindakan kalian yang ceroboh.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah) dengan dihalalkannya ganimah dan tawanan bagi kalian (niscaya kalian ditimpa karena tebusan yang kalian ambil) (siksaan yang besar.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Seandainya tidak ada ketetapan dan ketentuan Allah yang terdahulu bagi umat ini, yaitu kebolehan mengambil harta ghanimah (rampasan perang) dan tebusan tawanan, niscaya kalian akan mendapatkan siksa yang amat pedih karena mengambil ghanimah dan tebusan sebelum ditetapkan hukum syarat kedua hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hasyim, dari Humaid.
dari Anas r.a.
yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ meminta saran kepada sahabat-sahabatnya tentang para tawanan Perang Badar yang berhasil ditangkap oleh kaum muslim.
Untuk itu beliau ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menguasakan sebagian dari mereka kepada kalian." Maka Umar ibnul Khattab berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, pancunglah leher mereka." Nabi ﷺ berpaling darinya, kemudian kembali bersabda, "Hai manusia, sesung­guhnya Allah telah menguasakan sebagian dari mereka kepada kalian, dan sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian sendiri di masa kemarin." Maka Umar berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, pancung­lah leher mereka." Nabi ﷺ berpaling darinya.
Kemudian Nabi ﷺ kembali bersabda kepada orang-orang seperti sabdanya yang pertama.
Maka berdirilah Abu Bakar As-Siddiq r.a., lalu berkata, "Wahai Rasulullah, kami berpendapat sebaiknya engkau memberi maaf mereka dan menerima tebusan dari mereka." Maka lenyaplah rasa gusar yang tadinya mencekam wajah Rasulullah ﷺ, dan beliau ﷺ memberi maaf mereka serta menerima tebusan mereka.
Saat itu juga turunlah Firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kalian ambil.

Dalam permulaan surat ini telah disebutkan hadis Ibnu Abbas yang ada di dalam kitab Sahih Muslim yang maknanya semisal dengan hadis ini.

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang menceritakan bahwa ketika Perang Badar usai, Rasulullah ﷺ bersabda, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang para tawanan ini?"
Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, mereka adalah kaummu, keluargamu, maka biarkanlah mereka hidup dan suruhlah mereka bertobat, mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka." Sedangkan Umar berkata, "Wahai Rasulullah, mereka mendustakanmu dan mengusirmu, maka ajukanlah mereka, aku akan pancung kepala mereka." Dan Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Wahai Rasulullah, engkau sekarang berada di sebuah lembah yang banyak kayunya, maka nyalakanlah lembah itu, kemudian lemparkanlah mereka ke dalamnya." Rasulullah ﷺ diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, lalu beliau bangkit dan masuk.
Maka sebagian orang mengata­kan bahwa Nabi ﷺ menerima pendapat Abu Bakar, sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa Nabi ﷺ menerima pendapat Umar, dan yang lainnya lagi mengatakan bahwa Nabi ﷺ menerima pendapat Abdullah ibnu Rawwahah.
Setelah itu Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dan bersabda:

Sesungguhnya Allah itu benar-benar melunakkan hati banyak kaum laki-laki sehingga lebih lembut daripada air susu, dan sesungguhnya Allah itu benar-benar membuat keras hati banyak kaum laki-laki dalam menanggapi hal ini, sehingga lebih keras daripada batu.
Dan sesungguhnya perumpamaanmu, hai Abu Bakar sama dengan ucapan Nabi Ibrahim yang disitir oleh firman-Nya.
Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Ibrahim:36).
Dan sesungguhnya perumpamaanmu, hai Abu Bakar, sama dengan perkataan Isa 'alaihis salam yang disitir oleh firman-Nya.
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (Al Maidah:118).
Dan sesungguhnya per­umpamaanmu, hai Umar, sama dengan perkataan Musa 'alaihis salam yang disitir oleh firman-Nya, "Ya Tuhan Kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih (Yunus:88).
Dan sesungguhnya perumpamaanmu, hai Umar, sama dengan ucapan Nuh 'alaihis salam yang disitir oleh firman-Nya, "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi (Nuh : 26) Kalian mempunyai tanggungan, maka janganlah sekali-kali seseorang melepaskan bebannya kecuali dengan tebusan atau memenggal kepala (menghukum mati).

Ibnu Mas'ud berkata, "Wahai Rasulullah, kecuali Suhail ibnu Baida.
Karena sesungguhnya dia sering menyebutkan tentang Islam (yakni dia masuk Islam secara rahasia).' Rasulullah ﷺ diam.
Ibnu Mas'ud mengatakan.”Tiada suatu hari pun yang lebih aku takuti bila ada batu dari langit menimpaku selain hari itu, hingga Rasulullah ﷺ bersabda, "Kecuali Suhail ibnu Baida'." Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan. hingga akhir ayat.

Imam Ahmad dan Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy dengan sanad yang sama, dan Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya.
lalu ia mengatakan bahwa hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) yang menjadi standar bagi kesahihan sebuah hadisi tidak mengetengahkannya.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui Abdullah ibnu Amrdan Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ hal yang semisal.
Dalam bab yang sama telah diriwayatkan pula sebuah hadis melalui Abu Ayyub Al-Ansari.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan pula menurut lafaznya, demikian pula Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Ubaidillah ibnu Musa, bahwa telah menceritakan kepada kami Israil, dari Ibrahim ibnu Muhajir, dari Mujahid, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa ketika para tawanan perang dikumpulkan, Al-Abbas termasuk salah seorang di antara mereka, ia ditangkap oleh seorang lelaki dari kalangan Ansar.
Sedangkan orang-orang Ansar telah mengancam akan membunuhnya.
Ketika berita itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya malam ini aku tidak dapat tidur karena pamanku Al-Abbas, karena orang-orang Ansar bertekad akan membunuhnya." Maka Umar berkata kepadanya, "Apakah saya harus mendatangi mereka?"
Nabi ﷺ bersabda, "Ya." Maka Umar datang menemui orang-orang Ansar dan berkata kepada mereka, "Lepaskanlah Al-Abbas." Mereka menjawab, "Tidak.
Demi Allah, kami tidak akan melepaskannya." Umar berkata kepada mereka, "Bagaimanakah jika Rasulullah ﷺ rela dengan kebebasannya?"
Mereka menjawab, "Jika Rasulullah ﷺ rela, maka ambillah dia." Maka Umar mengambil Al-Abbas dari tangan mereka.
Setelah Al-Abbas berada di tangan Umar, Umar berkata kepadanya, "Hai Abbas, masuk Islamlah kamu.
Demi Allah, masuk Islamnya engkau lebih aku sukai daripada masuk Islamnya Al-Khattab (ayah Umar sendiri).
Hal itu tidak lain karena aku melihat bahwa Rasulullah ﷺ amat senang bila kamu masuk Islam." Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian Rasulullah ﷺ meminta pendapat kepada Abu Bakar tentang nasib para tawanan itu.
Maka Abu Bakar berkata, "Mereka adalah kerabatmu juga, maka lepaskanlah mereka." Dan Rasulullah ﷺ meminta pendapat kepada Umar, maka Umar berkata, "Bunuhlah mereka." Lalu Rasulullah ﷺ memutuskan tebusan terhadap mereka, maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan.
, hingga akhir ayat.

Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Hisyam ibnu Hissan, dari Muhammad ibnu Sirin.
dari Ubaidah.
dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ dalam Perang Badar, lalu berkata, "Suruhlah sahabat-sahabatmu memilih perihal nasib para tawanan itu.
Jika mereka menghendaki tebusan, mereka boleh menerimanya, dan jika mereka menghendaki menjatuhkan hukuman mati, mereka boleh membunuhnya, tetapi pada tahun mendatang akan terbunuh pula dari ka­langan sahabatmu itu sebanyak jumlah mereka (para tawanan itu)." Tetapi mereka menjawab, "Kami menerima tebusan, dan sebagian dari kami biar ada yang terbunuh nantinya."

Hadis riwayat Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis As-Sauri dengan sanad yang sama.
Hadist ini garib sekali.

Ibnu Aun telah meriwayatkan dari Ubaidah, dari Ali yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda sehubungan dengan tawanan Perang Badar, "Jika kalian menghendaki membunuh mereka, maka kalian boleh menghukum mati mereka, dan jika kalian suka menerima tebusan mereka, kalian boleh menerima tebusannya dan kalian memperoleh kesenangan dari hasil tebusan itu.
tetapi kelak akan mati syahid dari kalangan kalian sejumlah mereka." Maka dikisahkan bahwa orang yang paling akhir dari tujuh puluh orang tersebut adalah Sabit ibnu Qais, ia gugur dalam Perang Yamamah.
Di antara para perawi ada yang meriwayatkan hadis ini melalui Ubaidah secara mursal.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan.
Ibnu Abbas membacanya sampai dengan firman-Nya: siksaan yang besar.
Ia mengatakan bahwa hal ini berkenaan dengan ganimah Perang Badar sebelum dibagikan kepada mereka.
Makna yang dimaksud ialah seandainya Aku mengazab orang yang durhaka kepada-Ku.- secara langsung, niscaya kalian akan tertimpa azab yang besar karena tebusan yang kalian ambil itu'.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid.

Al-A'masy mengatakan, makna yang dimaksud ialah 'telah ditetap­kan oleh takdir-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun yang ikut Perang Badar'.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dan Sa'd ibnu Abu Waqqas, Sa'id ibnu Jubair, dan Ata.

Syu'bah telah meriwayatkan dari Abu Hasyim.
dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah.
Yakni bahwa mereka beroleh ampunan.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Sufyan As-Sauri rahimahulldh.

Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah.
Maksudnya, di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz) yang di dalamnya tercatat bahwa ganimah dari tawanan itu halal bagi kalian.

...niscaya karena tebusan yang kalian ambil itu kalian akan ditimpa.Yaitu tebusan dari para tawanan.
siksa yang besar.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik., hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Mas'ud, Sa'id ibnu Jubair, Ata.
Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, dan Al-A'masy, bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya:

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah.

Yakni bagi umat ini yang menghalalkan ganimah.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Pendapat ini diperkuat dengan adanya sebuah hadis yang diketengahkan di dalam kitab Sahihain oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku dianugerahi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.
Aku diberi pertolongan melalui rasa gentar yang mencekam hati musuh sejauh perjalanan satu bulan, bumi ini dijadikan bagiku sebagai tempat sujud (salat) lagi menyucikan: dan dihalalkan bagiku ganimah.
sedangkan sebelumnya tidak dihalalkan bagi seorang (nabi)pun.
Aku dianugerahi syafaat: dan dahulu seorang nabi diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Tidak dihalalkan ganimah bagi yang berkepala hitam (manusia) kecuali hanya kami.

Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-"Nya

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik., hingga akhir ayat.

Maka saat itu juga mereka menerima tebusan dari para tawanan.

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 68 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 68



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (27 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku