Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 67


مَا کَانَ لِنَبِیٍّ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗۤ اَسۡرٰی حَتّٰی یُثۡخِنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ تُرِیۡدُوۡنَ عَرَضَ الدُّنۡیَا ٭ۖ وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ الۡاٰخِرَۃَ ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ
Maa kaana linabii-yin an yakuuna lahu asra hatta yutskhina fiil ardhi turiiduuna ‘aradhaddunyaa wallahu yuriidu-aakhirata wallahu ‘aziizun hakiimun;

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.
Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
―QS. 8:67
Topik ▪ Zuhud ▪ Kerendahan dunia ▪ Sifat orang munafik
8:67, 8 67, 8-67, Al Anfaal 67, AlAnfaal 67, Al Anfal 67, AlAnfal 67, Al-Anfal 67
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Masud adalah sebagai berikut: "Setelah selesai perang Badar dibawalah para tawanan (ke hadapan Rasulullah ﷺ dan para sahabat), Abu Bakar r.a.
berkata: "Hai Rasul, mereka adalah kaum engkau dan famili engkau.
Biarkanlah mereka semoga Allah akan memberi mereka taubat." Umar berkata pula: "Hai Rasulullah, mereka telah mendustakan engkau, mengusir dan memerangi engkau.
Karena itu bunuhlah mereka dengan memancung mereka." Lalu Abdullah bin Rawahan berkata pula: "Kini engkau berada di lembah yang banyak kayu bakarnya, maka nyalahkanlah api yang besar dan lemparkanlah mereka ke dalamnya." Mendengar ucapan-ucapan ini berkatalah Abbas paman Nabi (yang berada di antara para tawanan itu): "Sampai hatikah engkau hai Muhammad memutuskan tali silaturahmi?"
Maka masuklah Rasulullah ke rumahnya tanpa mengatakan sesuatu apa pun.
Di antara orang-orang yang hadir ada yang berkata: "Tentu beliau akan melaksanakan usul Abdullah bin Rawahah." Akhirnya Rasulullah keluar dan berkata: "Sesungguhnya Allah melunakkan hati sebagian orang sampai hatinya menjadi cair seperti air susu, dan Dia menjadikan hati sebagian orang keras sehingga lebih keras dari batu.
Engkau hai Abu Bakar adalah seperti Nabi Ibrahim a.s.
sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Ibrahim: 36)

Dan seperti Nabi Isa a.s.
seperti yang tersebut dalam firman Allah:

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al Ma'idah: 118)

Dan engkau hai Umar seperti Nabi Musa a.s.
sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.
Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tiada akan beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.

(Q.S Yunus: 88)

Dan seperti Nabi Nuh a.s.
sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
(Q.S Nuh: 26)

Selanjutnya Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabat: "Kamu semua bertanggung jawab atas mereka, tidak seorang pun yang dapat bebas, kecuali dengan tebusan atau potong leher." Lalu Abdullah berkata: "Kecuali Suhail bin bin Baida' ya Rasulullah, aku pernah mendengarnya menyebut Islam." Rasulullah diam saja tanpa jawaban, dan aku diliputi oleh ketakutan yang amat sangat, lebih takut rasanya daripada akan ditimpa batu besar sampai Rasulullah bersabda: "Kecuali Suhail bin Baida." Kemudian turunlah ayat ini.

Mengenai turunnya ayat ini ada lagi sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: Tatkala kaum Muslimin menawan beberapa orang (pada perang Badar) Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar: "Bagaimana pendapatmu tentang tawanan ini?"
Abu Bakar menjawab: "Hai Rasulullah, mereka ini adalah anak-anak paman kita dan kaum kita.
Aku berpendapat terima sajalah tebusan dari mereka, tebusan ini dapat dipergunakan untuk menambah kekuatan kita dalam menghadapi orang-orang kafir, semoga Allah memberi mereka petunjuk." Kemudian Rasulullah bertanya kepada Umar lalu dijawab oleh Umar: "Demi Allah saya tidak sependapat dengan Abu Bakar.
Pendapat saya ialah agar engkau memberi kesempatan kepada kami untuk memotong leher mereka.
Berilah kesempatan kepada Ali untuk memancung saudaranya Aqil, beri pula kesempatan kepada saya untuk membunuh Si anu (maksudnya kerabatnya), seterusnya berilah kepada Si anu dan Si anu agar masing-masing mereka dapat membunuh kerabatnya.
Semua tawanan itu adalah pemimpin-pemimpin dan orang-orang kafir." Tetapi kata Umar, Rasulullah lebih condong kepada pendapat Abu Bakar dan tidak menerima pendapatku.
Esoknya aku datang kepada Rasulullah dan aku dapati beliau bersama Abu Bakar sedang duduk menangis.
Lalu aku berkata: "Ya Rasulullah, beritahulah aku kenapa engkau dan Abu Bakar menangis?
Jika ada suatu sebab yang menyedihkan hatimu aku akan menangis bersamamu berdua, jika tidak aku turut menangis karena kamu berdua menangis." Jawab Rasulullah ﷺ: "Aku menangis karena usul yang dikemukakan oleh sahabat-sahabatmu supaya aku menerima tebusan dari para tawanan itu.
Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku siksaan yang akan menimpa mereka di dekat pohon ini (karena usul ini)." Dan Allah telah menurunkan ayat ini.

Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.
(Q.S Al Anfal: 67)

Ayat ini sebagai teguran terhadap tindakan Rasulullah menerima tebusan dari kaum musyrikin untuk membebaskan orang-orang mereka yang ditawan kaum Muslimin.
Beliau condong kepada pendapat kebanyakan para sahabat yang menganjurkan supaya para tawanan itu jangan dibunuh dan sebaiknya diterima saja uang tebusan dari mereka dan hasil tebusan itu dapat dipergunakan untuk kepentingan perjuangan dan persiapan perang bila musuh menyerang kembali.
Karena itu Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa tidak patut bagi seorang Nabi dalam suatu peperangan menahan para tawanan dan menunggu putusan, apakah mereka akan dibebaskan begitu saja atau dengan menerima tebusan dari keluarga mereka kecuali bila keadaan pengikut-pengikutnya sudah kuat, kedudukannya sudah kokoh dan musuhnya tidak berdaya lagi.
Keadaan kaum Muslimin sebelum perang Badar masih lemah dan kekuatan mereka masih terlalu kecil dibanding dengan kekuatan kaum musyrikin.
Bila para tawanan itu tidak dibunuh, malah dibebaskan kembali meskipun dengan membayar tebusan, sedang mereka adalah pemuka dan pemimpin kaumnya, tentulah mereka akan untuk berperang lagi, dan mengumpulkan kekuatan yang besar untuk menyerang kaum Muslimin.
Hal ini sangat berbahaya bagi kedudukan kaum Muslimin yang masih lemah.
Seharusnya mereka tidak ditawan langsung dibunuh di medan peperangan, sehingga dengan tewasnya para pembesar dan pemimpin itu kaum musyrikin akan merasa takut dan tidak berani lagi menyerang kaum Muslimin.

Siasat ini dapat kita temui dalam sejarah peperangan, baik di masa dahulu maupun di masa sekarang.
Dalam perang dunia kedua telah dijatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menelan ratusan ribu korban manusia.
Sepintas lalu tampaknya tindakan ini bertentangan dengan perikemanusiaan.
Tetapi ternyata setelah pemboman kedua kota itu Jepang merasa takut dan gentar dan menyerah kepada pasukan sekutu.
Dengan penyerahan itu berhentilah perang dan berhenti pula pembunuhan manusia.

Ayat ini bukan saja merupakan teguran kepada Nabi Muhammad, tetapi juga merupakan teguran kepada para sahabat dan kebanyakan kaum Muslimin yang menganjurkan supaya para tawanan itu jangan dibunuh, karena mereka itu adalah kaum kerabat dan famili dan mungkin kelak akan menjadi orang yang beriman, apalagi uang tebusan mereka dapat dipergunakan untuk kepentingan mereka sendiri.
Dengan anjuran ini mereka telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan siasat perang.
Apa pun alasan yang mereka kemukakan, bahwa mereka telah dipengaruhi atau tertarik kepada harta benda duniawi dan dengan tidak disadari mereka telah lupa dan tidak memikirkan lagi akibat dari pelaksanaan anjuran itu.
Oleh sebab itu Allah dengan tegas menyatakan bahwa mereka menginginkan harta benda dan kehidupan duniawi, sedang Dia menghendaki supaya mereka mencari pahala untuk di akhirat nanti dengan berjuang di jalan-Nya, meninggikan kalimat-Nya sampai terlaksana kemuliaan dan ketinggian agama-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.
(Q.S Al Munafiqun: 8)

Inilah yang dikehendaki Allah bagi orang-orang yang beriman dan seharusnyalah mereka berjuang dengan harta, dengan segala kemampuan yang ada pada mereka bahkan dengan jiwa untuk mencapainya.
Allah senantiasa akan menolong mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Al Anfaal (8) ayat 67 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak seorang pun dari para nabi diperbolehkan untuk memiliki dan menahan para tawanan atau mengambil harta tebusan dari mereka.
Tidak pula mereka diperbolehkan mengampuni para tawanan itu sehingga kalian menang dan melumpuhkan musuh-musuh agar mereka tak mampu melanjutkan peperangan lagi.
Tapi kalian, wahai orang-orang Muslim, begitu tergesa-gesa mengambil tawanan sebelum kalian benar-benar menang pada pertempuran di Badar.
Kalian lebih mendahulukan kepentingan- kepentingan duniawi, sedangkan Allah menginginkan kalian mendapatkan kebahagiaan akhirat, melalui usaha menjunjung tinggi kebenaran dan memalingkan diri dari kesenangan-kesenangan dunia.
Allah Mahakuat, Mahakuasa, Maha Memelihara segala urusan dengan mempertimbangkan kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat ini diturunkan ketika kaum muslimin memilih untuk mengambil tebusan terhadap para tawanan perang Badar.
(Tidak patut bagi seorang nabi) boleh dibaca yakuuna boleh pula takuuna (mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi) lafal yutskhina fil ardhi menunjukkan makna sangat di dalam memerangi orang-orang kafir.
(Kalian menghendaki) hai orang-orang mukmin (harta benda duniawi) yakni kebendaannya dengan mengambil tebusan (sedangkan Allah menghendaki) untuk kalian (pahala akhirat) sebagai pahala oleh sebab memerangi orang-orang kafir (Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) ayat ini telah dinasakh oleh firman-Nya, "Dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan." (Muhammad 4)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak patut bagi seorang nabi memiliki tawanan musuh sampai ia memenangkan peperangan; itu untuk memberikan rasa takut di hati mereka dan menguatkan pondasi agama.
Kalian (hai orang-orang muslim) menghendaki keuntungan dunia dari tebusan para tawanan Perang (Badar).
Sementara itu, Allah menghendaki keuntungan akhirat bagi kalian, yaitu dengan menjayakan agama-Nya.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa tanpa tertandingi dan Maha Bijaksana dalam syariat-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tafsir ayat ini tidak diterangkan secara terpisah pada kitab aslinya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 67

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Anas bahwa Nabi ﷺ bermusyawarah dengan para shahabatnya memperbincangkan hal tawanan perang Badr.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memenangkan kalian dan mengalahkan mereka.
Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan perang ini?” ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, penggallah batang leher mereka.” Rasulullah tidak menerima sarannya itu.
Abu Bakr berkata: “Ampunilah mereka dan terimalah fidaa’ (tebusan) dari mereka.” Lalu Rasulullah mengampuni mereka dan menerima fidaa’.
Kedua ayat ini (al-
Anfaal: 67-68) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai teguran kepada Nabi ﷺ, dan pernyataan bahwa tindakannya itu dimaafkan, karena telah ada ketentuan Allah mengenai hal itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa setelah terjadi perang Badr dan tawanan telah dikumpulkan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan ini?” Kejadian selanjutnya sama dengan hadits di atas.
Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 67-68) sejalan dengan pendapat ‘Umar.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidak pernah dihalalkan ghanimah kepada siapapun, demikian pula kepada seorang pemimpin sebelum kalian.
Di masa dahulu, api turun dari langit dan memusnahkan ghanimah.” Ketika Perang Badr, kaum Muslimin mengambil ghanimah sebelum dihalalkan kepada mereka.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 67) sebagai teguran terhadap perbuatan kaum Muslimin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 67

DUNYAA
لدُّنْيَا

Lafaz dunyaa berasal dari lafaz ad dunuww kemudian al waw diganti dengan al yaa karena lafaz yang berwazan fu'laa, sekiranya memiliki al waw pada akhirannya, maka ia diganti dengan al yaa. Dinamakan dunyaa karena dekatnya dan kedatangan akhirat. Ia juga bermakna lawan dari akhirat, nama bagi kehidupan ini karena akhirat jauh darinya, bumi dan segala yang terdapat di permukaannya, alam tempat kita diami, perihal bidang dan lapangan.

Al Kafawi berkata,
"Ia adalah nama bagi apa yang ada di bawah bulan."

Lafaz dunyaa disebut sebanyak 115 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 85, 86, 114, 130, 200, 201, 204, 212, 217, 220;
-Ali Imran (3), ayat 14, 22, 45, 56, 117, 145, 148, 152, 185;
-An Nisaa(4), ayat 74, 77, 94, 109, 134 (dua kali);
-Al­ Maa'idah (5), ayat 33, 41;
-Al An'aam (6), ayat 29, 32, 70, 130;
-Al A'raaf (7), ayat 32, 51, 152, 156;
-Al Anfaal (8), ayat 42, 67;
-At Taubah (9), ayat 38 (dua kali), 55, 69, 74, 85;
-Yunus (10), ayat 7, 23, 24, 64, 70, 88, 98;
-Hud (11), ayat 15, 60;
-Yusuf (12), ayat 101;
-Ar Ra'd (13), ayat 26 (dua kali), 34;
-Ibrahim (14), ayat 3, 27;
-An Nahl (16), ayat 30, 41, 107, 122;
-Al Kahfi (18), ayat 28, 45, 46, 104;
-Tha Ha (20), ayat 72, 131;
-Al Hajj (22), ayat 11, 15;
-Al Mu'minuun (23), ayat 33, 37;
-An Nuur (24), ayat 14, 19, 23, 33;
-Al Qashash (28), ayat 42, 60, 61, 77;
-Al Ankabut (29), ayat 79, 25, 27; 64;
-Ar Rum (30), ayat 7;
-Luqrnan (31), ayat 15, 33;
-Al Ahzab (33), ayat 28, 57;
-Faathir (35), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 10, 26;
-Al Mu'min (40), ayat 39, 43, 51;
-Fushshilat (41), ayat 12, 16, 31;
-Asy Syuura (42), ayat 20, 36;
-Az-Zukhruf (43), ayat 32, 35;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24, 35;
-Al­ Ahqaf (46), ayat 20;
-Muhammad (47), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 29;
-Al­ Hadid (57), ayat 20 (dua kali);
-Al Hasyr (59), ayat 3;
-Al Mulk (67), ayat 5;
-An Naazi'aat (79), ayat 38;
-Al A'laa (87), ayat 16.

Kebanyakan lafaz dunyaa digandengkan dengan akhirat dan juga kebanyakannya di­hubungkan dengan al hayaah maknanya ke­hidupan dunia. Apabila berhubungan dengan kehidupan dunia, Al Qur'an memberinya beberapa gelaran yaitu:

1. Dunia hanyalah mataa'al ghuurur artinya benda tipuan.
Maknanya kehidupan ini selalu me­nipu dan merayu manusia sehingga sering kali manusia lupa pada ke­hidupan yang sebenarnya. Tipu daya hidup ini sering kali menipu manusia sehingga hatinya terpaut dan terikat dengan dunia. Oleh karena itu, ayat ini me­nerangkan kehinaan dunia dan ke­fanaannya yang sebentar lagi musnah.

Qatadah berkata,
"Maknanya ialah benda (kenikmatan) yang akan di­tinggalkan. Oleh karena itu, ambillah ia dan taat kepada Allah semampu kamu'" Dalam hadits dikatakan, "Demi Allah! Kehidupan dunia berbanding akhirat adalah bagaikan salah seorang kamu menenggelamkan jari kedalam lautan, lalu lihatlah apa yang tertinggal di jari kamu (bila kamu mengangkatnya)."

2. Kenikmatan dan kebendaan yang qaliil yaitu sedikit.
Kenikmatan dan kebendaan yang banyak sekiranya ia fana dan hilang ia dinamakan sedikit, apatah lagi dengan sedikit yang lenyap lagi fana, atau apa yang dinikmati dari kelezatan dunia cepat hilang dan terbatas serta fana.

3. Kehidupan dunia hanyalah la'ib wa lahw yaitu tempat senda gurau dan bermain-main saja serta menjadi tempat mencari kesenangan bagi orang yang menyekutukan Allah.

Al Qurtubi berkata,
"Dunia adalah sesuatu yang dipermainkan olehnya dan dilalaikan dengannya yaitu apa yang diberikan Allah kepada orang kaya dari dunia, musnah dan lenyap seperti sebuah permainan yang tidak wujud dalamnya ketetapan dan hakikat."

Dengan penjelasan Al Qur'an pada hakikat dan kedudukan dunia, sekali lagi Al­ Quran menyamakan kebendaan dunia yang menipu, hilang dan fana seperti air hujan yang turun dari langit dan bersatu dengan bumi lalu keluar darinya tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rimbun lalu ia menjadi kering, hancur dan bertebaran diterbangkan oleh angin ke kiri dan ke kanan.

Bagi yang membelanjakan harta benda demi mendapat kepentingan dunia, Al­ Quran juga mengumpamakannya seperti angin yang di dalamnya ada udara yang dingin yang kering pada musim dingin, tidak mem­bawa kesuburan melainkan kemusnahan. Bukan ajaran Ilahi yang dapat mereka kalah­kan melainkan kebun dan tanaman mereka sendirilah yang akan punah dan musnah karena apabila tanaman itu menjadi kering, ia mudah terbakar karena zat air tidak ada lagi di dalamnya.

Lafaz ad dunyaa digandengkan dengan as­ samaa yaitu as sama ad dunyaa yang terdapat dalam surah:
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Fushshilat (41), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 5.

Maksudnya ialah langit yang dekat dengan kamu. Ia dihiasi dengan keindahan planet-planet dan bintang-bintang yang bercahaya dan berkilau, berguna untuk melempar dan memburu syaitan apabila ia hendak mencuri pendengaran, datang kilat yang menyambar sehingga membakarnya. Maksudnya "meteor" melempar syaitan yang terlepas dari bintang itu karena pada hakikatnya adalah satu bulatan seperti bumi juga yang tetap pada halnya.

Sebagaimana fungsinya yang diterangkan dalam surah Al Mulk. Qatadah berkata,
"Allah menciptakan bintang-bintang untuk tiga keguna­an, yaitu:
(1) Perhiasan langit;
(2) Pemanah syaitan;
(3) Memberi petunjuk dalam per­jalanan.

Sekiranya ada orang lain yang ingin menambahkannya orang itu mengada­ adakan ilmu. Maksudnya Muhammad bin Ka'ab menerangkan, "Demi Allah! tidak ada orang di bumi mempunyai bintang di langit namun sebenarnya mereka ingin bermain tilik-menilik lalu dihubungkannya dengan bintang di langit"

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:232-234

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 67 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 67



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending