QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 57 [QS. 8:57]

فَاِمَّا تَثۡقَفَنَّہُمۡ فِی الۡحَرۡبِ فَشَرِّدۡ بِہِمۡ مَّنۡ خَلۡفَہُمۡ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ
Faimmaa tatsqafannahum fiil harbi fasyarrid bihim man khalfahum la’allahum yadz-dzakkaruun(a);

Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.
―QS. 8:57
Topik ▪ Allah menggerakkan hati manusia
8:57, 8 57, 8-57, Al Anfaal 57, AlAnfaal 57, Al Anfal 57, AlAnfal 57, Al-Anfal 57

Tafsir surah Al Anfaal (8) ayat 57

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 57. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menjelaskan apa yang harus diperbuat kaum Muslimin setelah berkali-kali terjadi pelanggaran janji dari orang-orang Yahudi itu.
Allah menjelaskan bahwa jika kaum Muslimin menemui mereka dalam peperangan, mereka harus dicerai-beraikan, dan demikian pula orang-orang yang ada di belakang mereka harus ditumpas pula agar mereka mengambil pelajaran daripada tindakan kaum Muslimin ini.
Tindakan yang tegas dari kaum Muslimin pada mereka itu harus dapat menimbulkan kesan yang menakutkan bagi orang-orang yang berada di belakang mereka sehingga mereka tidak berani melanggar janjinya lagi.

Dalam ayat ini Allah memberi peringatan pula kepada kaum Muslimin supaya jangan tertipu untuk kedua kalinya setelah dikhianati pertama kali dan mereka memohon maaf.
Mungkin timbul rasa belas kasihan di kalangan kaum Muslimin, jika mereka mohon diadakan perdamaian.
Maka Allah dengan tegas menjelaskan bahwa kaum Muslimin tidak usah ragu-ragu untuk mengadakan tindakan yang tegas supaya pelanggaran-pelanggaran semacam itu tidak terulang kembali di belakang hari dan agar supaya orang-orang yang berada di belakang mereka mengambil pelajaran daripadanya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
pernah berkhutbah di muka para sahabat dalam menghadapi pertempuran sebagai berikut: “Wahai sekalian manusia, janganlah kamu mencita-citakan (menginginkan) berjumpa dengan musuh dan mohonlah keselamatan kepada Allah.
Akan tetapi bilamana kamu berjumpa dengan mereka, maka bertahanlah dengan kesabaran (dalam pertempuran) dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayangan pedang.” Kemudian beliau menambah dengan doa: “Ya Allah yang menurunkan Alquran, dan yang menjalankan awan di langit, hancurkanlah golongan-golongan musuh ini, cerai-beraikanlah mereka dan berilah pertolongan kepada kami untuk mengalahkan mereka.”

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Rasul, jika engkau bertemu orang-orang yang melanggar perjanjian itu di medan perang, hukumlah mereka dengan hukuman yang membuat mereka dan orang-orang yang di belakang mereka menjadi jera dan bercerai-berai.
Karena hukuman itu akan lebih dapat mengingatkan pelanggaran mereka terhadap perjanjian itu, dan mencegah golongan lain agar mengalami seperti yang mereka alami[1].

[1] Ayat-ayat di atas antara lain berisi peringatan bagi orang-orang yang berada sebagai pihak yang mengadakan perjanjian dengan orang-orang beriman lalu melanggar perjanjian itu.
Mereka itulah orang-orang yang patut dihukum.
Demikian pula halnya pengikut- pengikut mereka.
Disinggung pula dalam ayat itu penjelasan taktik perang dengan cara menghancurkan barisan belakang musuh yang belakangan ini dianggap cukup jitu oleh taktik perang modern.
Sebab kekacauan barisan belakang, sebagai gudang penyimpangan ransum dan berbagai perlengkapan perang, cukup untuk menghancurkan seluruh barisan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Jika) lafal immaa merupakan gabungan dari in syarthiyyah dan maa zaidah, kemudian keduanya diidgamkan sehingga jadilah immaa (kamu menemui mereka) menjumpai mereka (dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah) hancurkanlah (orang-orang yang di belakang mereka dengan menumpas mereka) yang berada dalam barisan depan dengan membasmi dan menghukum mereka (supaya) orang-orang yang berada di belakang mereka (mengambil pelajaran) menjadikannya sebagai pelajaran buat mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apabila Engkau bertemu mereka (orang-orang Yahudi yang melanggar perjanjian) didalam peperangan, maka berikanlah siksaan dan balasan kepada mereka yang dapat membuat takut orang-orang diluar mereka.
Cerai beraikanlah pasukan mereka (dengan menumpas mereka) agar orang-orang yang melihat mengambil pelajaran, sehingga mereka tidak berani melakukan perbuatan sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang sebelumnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Jika kamu menemui mereka dalam peperangan.

Maksudnya, jika kamu dapat mengalahkan mereka dalam peperangan dan kamu menang atas mereka.

…maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka.

Yaitu balaslah mereka.

Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, Ad-Dahhak.
As-Saddi, Ata Al-Khurrasani, dan Ibnu Uyaynah.

Makna yang dimaksud ialah “perberatlah hukuman mereka dan bunuhlah mereka agar musuh selain mereka dari kalangan orang-orang Arab merasa takut dan hal tersebut dijadikan pelajaran bagi mereka’.

…supaya mereka mengambil pelajaran.

Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah agar mereka mengambil pelajaran sehingga mereka tidak berani lagi berbuat hal yang semisal, karena jika berbuat hal yang semisal, maka balasan yang menimpa mereka sama dengan apa yang dialami oleh kaum musyrik, musuh Islam itu.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 57

HARB
حَرْب

Arti lafaz harb ialah perang, pembunuhan dan kekacauan, lawan bagi lafaz damai. Bentuk jamaknya adalah huruub. Lafaz harb juga diartikan sebagai musuh, contohnya, “ana harbun liman haarabanii” yaitu saya adalah musuh bagi orang yang memusuhiku atau “fulaanun harbun lii” yaitu si fulan adalah musuhku.

Di dalam Al Qur’an lafaz harb dalam bentuk tunggal di­ ulang sebanyak empat kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 279;
-Al Maa’idah (5), ayat 64;
-Al Anfaal (8):, ayat 57;
-Muhammad (47), ayat 4.
Sedangkan dalam bentuk jamak tidak disebut.

Dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 64, di­ terangkan setiap kali kaum Yahudi menyala­kan api peperangan, Allah memadamkannya. Dalam surah Al Anfaal (8), ayat 57, Allah me­nerangkan ketika berperang, kaum beriman hendaklah menghancurkan dan memporak­ perandakan kaum kafir yang melanggar perjanjian damai supaya hal itu menjadi pelajaran bagi orang setelahnya.

Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di menyata­kan, lafaz harb dalam ayat ini me­nunjukkan membunuh dan menghancurkan orang kafir hanya boleh dilakukan dalam kondisi perang. Apabila mereka mengadakan perjanjian damai dengan kaum mu’minin, kaum mu’minin tidak boleh meng­khianatinya dan mereka tidak boleh diserang walaupun kaum kafir itu sering melakukan pengkhianatan.

Dalam surah Muhammad (47), ayat 4 di­ jelaskan perintah membunuh kaum kafir dan juga menawan mereka selama terjadi perang saja. Apabila tidak dalam kondisi perang atau perang sudah berhenti karena kesepakatan damai, membunuh dan menahan orang kafir sebagai tawanan tidak dibenarkan. Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 279, orang yang tidak mau meninggalkan riba ber­arti dia menyatakan dirinya memerangi Allah dan rasul Nya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:187

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
‘inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu’min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Anfaal (75 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 57 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 57 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 57 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anfaal - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 75 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 8:57
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.8
Ratingmu: 4.2 (20 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/8-57









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim