QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 50 [QS. 8:50]

وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذۡ یَتَوَفَّی الَّذِیۡنَ کَفَرُوا ۙ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡہَہُمۡ وَ اَدۡبَارَہُمۡ ۚ وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ
Walau tara idz yatawaffaal-ladziina kafaruul malaa-ikatu yadhribuuna wujuuhahum waadbaarahum wadzuuquu ‘adzaabal hariiq(i);

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata):
“Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”,
(tentulah kamu akan merasa ngeri).
―QS. 8:50
Topik ▪ Malaikat ▪ Tugas-tugas malaikat ▪ Agama bangsa Yahudi
8:50, 8 50, 8-50, Al Anfaal 50, AlAnfaal 50, Al Anfal 50, AlAnfal 50, Al-Anfal 50

Tafsir surah Al Anfaal (8) ayat 50

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 50. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa seandainya Rasulullah ﷺ melihat dengan mata kepala sendiri hal-ihwal orang-orang kafir Quraisy ketika dicabut jiwanya oleh para malaikat, sambil memukul muka dan belakangnya, tentulah Rasulullah ﷺ akan merasa ngeri melihat azab itu.
Di samping azab-azab yang dirasakan oleh tubuhnya, mereka menderita kesakitan pula karena hardikan dari malaikat yang berkata: “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.” Sebenarnya yang diterangkan Allah pada ayat ini adalah persoalan yang termasuk perkara gaib, manusia tidak dapat melihat dan menyaksikan azab itu.
Seandainya mereka dapat melihat dan menyaksikan-Nya tentulah mereka akan menyaksikan suatu kejadian yang hebat dan dahsyat, sehingga dapat menjadikan orang kafir kembali dari kekafirannya dan orang-orang zalim berhenti dari kezalimannya karena takut akan akibat-akibatnya.
Menurut suatu riwayat, maksud ayat ialah: “Mereka memukul muka mereka dari depan, sedang para malaikat memukul mereka dari belakang.”

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Andaikata dirimu, wahai Muhammad, menyaksikan pemandangan mengerikan pada saat malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir, kalian akan mendapatkan malaikat itu memukuli tubuh orang-orang kafir itu dari depan dan belakang, seraya berkata, “Rasakan siksa api neraka, akibat perbuatan kalian.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kalau kamu melihat) hai Muhammad (ketika dicabut jiwa) boleh dibaca yatawaffaa dan boleh pula dibaca tatawaffaa (orang-orang yang kafir oleh para malaikat seraya memukul) lafal yadhribuuna kedudukan i’rabnya menjadi hal/kata keterangan (muka dan belakang mereka) dengan gada-gada besi.

(Dan) para malaikat berkata kepada mereka (rasakanlah oleh kalian siksa yang membakar ini) artinya siksa neraka.

Jawabnya lau ialah la raaita amran azhiiman (maka niscaya kamu akan menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jika engkau (wahai Rasul) melihat ketika malaikat menggenggam ruh orang-orang kafir dan mencabutnya.
Para malaikat itu memukul wajah mereka ketika berhadapan dan memukul punggung mereka ketika mereka melarikan diri.
Kemudian berkata kepada mereka :
Rasakanlah siksa neraka yang membakar.
Jika engkau melihat hal itu, sungguh engkau ( wahai Rasul) melihat perkara yang besar.
Redaksi ayat ini meskipun sebab turunnya adalah kejadian pada Perang Badar, tapi isinya bersifat umum untuk setiap orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Seandainya engkau, hai Muhammad, menyaksikan keadaan ketika para malaikat mematikan orang-orang kafir, niscaya engkau akan melihat suatu peristiwa yang sangat mengerikan lagi sangat menakutkan.
Karena para malaikat memukuli wajah dan punggung mereka seraya berkata, ‘Rasakanlah siksa neraka yang membakar’.”

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

…belakang mereka.
Yang dimaksud ialah pantat mereka.

Sehubungan dengan Perang Badar, Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa apabila pasukan kaum musyrik menghadapkan wajah mereka ke arah kaum muslim.
maka pasukan kaum muslim memukul wajah mereka dengan pedang.
Dan apabila pasukan kaum musyrik lari, para malaikat mengejar mereka dan memukuli belakang mereka.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

…ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka.
Yaitu pada perang Badar.

Waqi telah meriwayatkan dari Sufyan Asauri, dari Abu Hasyim Ismail ibnu Kasir, dari Mujahid, dari Syu’bah.
dari Ya’la ibnu Muslim, dari Said ibnu Jubair bahwa yang dimaksud dengan para malaikat memukul muka dan belakang mereka ialah pantat mereka, tetapi hal ini diungkapkan oleh Allah dengan kata kinayah (kiasan).
Hal yang sama telah dikatakan oleh Umar maula Afrah.

Dari Al-Hasan Al-Basri, disebutkan bahwa ada seorang lelaki bertanya “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya melihat pada bagian belakang (pantat) Abu Jahal seperti bekas tusukan duri.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Itu adalah bekas pukulan malaikat.” Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir, hadis ini berpredikat mursal.

Konteks hadis ini sekalipun kisahnya berkaitan dengan Perang Badar, tetapi maknanya umum mencakup semua orang kafir.
Karena itulah Allah tidak menyebutkannya secara khusus hanya menimpa orang-orang kafir dalam Perang Badar saja, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir, seraya memukul muka dan belakang mereka.

Di dalam surat Muhammad pun terdapat ayat yang semisal, dan dalam surat Al-An’am yang telah lalu disebutkan melalui firman-Nya:

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawa kalian.” (Q.S. Al-An’am [6]: 93)

Yakni sedangkan para malaikat memukuli mereka dengan tangannya atas dasar perintah Tuhannya.
Karena roh mereka sulit untuk dicabut dan tidak mau keluar dari tubuhnya, maka para malaikat itu mencabutnya dengan paksa dan kasar.
Demikian itu terjadi sebagai kabar bagi mereka yang mendahului datangnya azab dan murka Allah subhanahu wa ta’ala.
Terhadap mereka.

Seperti yang disebutkan di dalam hadis Al-Barra, bahwa malaikat maut itu apabila datang kepada orang kafir untuk mencabut nyawanya pada saat orang kafir bersangkutan sedang menjelang ajalnya (sakaratul maut), maka malaikat maut datang kepadanya dalam rupa yang sangat mengerikan.
lalu berkata, “Keluarlah hai jiwa yang jahat.
untuk masuk ke dalam api yang panas.
air yang mendidih dan naungan yang membakar.” Maka tercerai-berailah rohnya ke dalam seluruh tubuhnya (bersembunyi), maka malaikat maut mengeluarkan dari jasadnya secara kasar dan paksa sebagaimana mengeluarkan besi pemanggang dari kain wol yang basah (sebagaimana mengeluarkan kerudung dari onak duri), sehingga rohnya keluar bersama otot dan urat syarafnya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitahukan bahwa para malaikat itu berkata kepada mereka, “Rasakanlah azab yang membakar.”


Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 50

HARIIQ
حَرِيق

Lafaz hariiq artinya sesuatu yang membakar yaitu api.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini diulang sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 181;
-Al Anfaal (8), ayat 50;
-Al Hajj (22), ayat 9, 22;
-Al Buruuj (85), ayat 10.

Dalam keseluruhan ayat itu, lafaz hariiq didahului dengan lafaz adzaab sehingga menjadi “adzaabal hariiq” yang beararti azab api yang membakar. Dalam ayal­ ayat itu, Allah menegaskan azab jenis ini diberikan kepada:

1. Orang Yahudi yang mengatakan Allah adalah fakir dan mereka adalah kaya karena Allah meminta mereka me­ngeluarkan sedekah.

2. Orang kafir dan juga orang munafik yang menghina kaum beriman dengan mengatakan orang Mukmin adalah orang yang tertipu oleh agamanya karena mereka rela mengorbankan segala yang dimilikinya.

3. Orang kafir yang mendebatkan masalah-rnasalah agama tanpa dalil dan bukti dengan maksud menghalang orang supaya tidak mengikut kebenar­an agama Islam.

4. Orang yang mendatangkan cobaan, menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh atau membakar orang mukmin baik lelaki maupun perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat seperti yang dilakukan oleh Ashabul Ukhdud yang membakar kaum beriman karena tidak mau me­meluk agama mereka.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:189

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
‘inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu’min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Anfaal (75 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 50 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 50 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 50 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anfaal - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 75 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 8:50
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.7
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/8-50









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta