Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 41


وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا غَنِمۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَاَنَّ لِلّٰہِ خُمُسَہٗ وَ لِلرَّسُوۡلِ وَ لِذِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡیَتٰمٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنِ وَ ابۡنِ السَّبِیۡلِ ۙ اِنۡ کُنۡتُمۡ اٰمَنۡتُمۡ بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا یَوۡمَ الۡفُرۡقَانِ یَوۡمَ الۡتَقَی الۡجَمۡعٰنِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Waa’lamuu annamaa ghanimtum min syai-in fa-anna lillahi khumusahu wali-rrasuuli walidziil qurba wal yataama wal masaakiini waabnissabiili in kuntum aamantum billahi wamaa anzalnaa ‘ala ‘abdinaa yaumal furqaani yaumal taqal jam’aani wallahu ‘ala kulli syai-in qadiirun;

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.
Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
―QS. 8:41
Topik ▪ Keabadian surga
8:41, 8 41, 8-41, Al Anfaal 41, AlAnfaal 41, Al Anfal 41, AlAnfal 41, Al-Anfal 41
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan cara pembagian barang rampasan itu sesuai dengan syariat Islam.
Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat ini diturunkan pada perang Badar dan permulaan pembagian harta rampasan adalah sesudah perang Badar.
Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan, bahwa semua ganimah yang diperoleh kaum Muslimin dari orang-orang kafir dalam peperangan, maka pertama-tama harus diambil seperlimanya untuk Allah dan Rasul, yaitu untuk soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan, seperti kemaslahatan agama dalam berdakwah, mendirikan syiar-syiar agama, untuk memelihara Kakbah, membuat kelambunya dan sebagainya dan untuk keperluan Rasulullah ﷺ dan rumah tangganya selama satu tahun.
Kemudian harus diberikan pula kepada kerabat-kerabatnya.
Dalam hal ini yang diberi bagian dari kerabat Rasulullah ﷺ itu hanya Bani Hasyim dan Bani Muttalib dan tidak kepada Bani Syam dan Bani Naufal.
Kemudian diberikan pula kepada kaum Muslimin yang memerlukan bantuan seperti anak-anak yatim, fakir miskin dan ibnussabil.

Yang empat perlima lagi dibagikan kepada tentara yang ikut berperang.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mut'im bin Jubair dari Bani Naufal, dia berkata: "Saya dengan Usman bin Affan dari kabilah Bani Abdisysyam bersama-sama datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu kami bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, engkau telah memberi ganimah kepada kabilah Bani Muttalib dan membiarkan kami tidak dapat bagian, padahal kami dengan mereka sederajat?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Sesungguhnya kabilah Bani Muttalib dan Bani Hasyim merupakan satu kesatuan." Jawaban Rasulullah ini adalah sebagai sindiran kepada Bani Syam dan Bani Naufal, bahwa mereka tidak dapat dipersamakan dengan Bani Muttalib dan Bani Hasyim yang selalu berjuang mendampingi Rasulullah ﷺ dan tidak pernah memusuhinya.
Mujahid, seorang ahli tafsir, mengatakan bahwa Allah mengetahui di antara kabilah Bani Hasyim dan Bani Muttalib banyak yang miskin.
Karena itu mereka diberi bagian dari ganimah, sebab mereka tidak boleh menerima zakat.

Perbedaan ini jika akan diselidiki sebab-sebabnya harus dikembalikan kepada sejarah, yaitu ketika orang Quraisy menulis sebuah risalah yang menentukan sikap mereka terhadap Nabi Muhammad ﷺ.
untuk memboikot sahabat-sahabat Nabi.
Maka orang Quraisy mengusir Bani Hasyim dari Mekah yang menempatkan mereka di syi'ib (lembah) Bani Hasyim, karena mereka selalu melindungi Nabi Muhammad ﷺ.
Kemudian datang pula kabilah Bani Muttalib bergabung dengan mereka, sedang kabilah Abdisysyams dan Bani Naufal tetap berada di luar tidak ikut diboikot oleh orang-orang Quraisy.
Abu Sufyan dari keturunan Bani Umaiyah sering pula memerangi Nabi Muhammad ﷺ.
bersama-sama kaum musyrikin dan orang Yahudi sampai negeri Mekah dikuasai oleh Nabi Muhammad ﷺ.
dan baru ketika itulah Abu Sufyan masuk Islam.

Adapun hikmah dari pembagian ganimah itu untuk Allah dan Rasul ialah karena pemerintahan Islam dalam mengurus umatnya perlu mempunyai perbendaharaan untuk dipergunakan bagi kemaslahatan umum, untuk menegakkan syiar-syiar agama dan untuk pertahanan.
Semuanya itu diambil dari seperlima untuk Allah.
Kemudian untuk kepentingan kepala negara diberikan bagian Rasulullah dan rumah tangganya.
Kemudian diberi pula karib-kerabatnya yang berdekatan dengan beliau, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muttalib sebagai penghargaan atas bantuannya untuk perjuangan Nabi.
Kemudian juga kepada orang-orang yang memerlukan bantuan, yaitu di antara umat Islam yang lemah ekonominya.
Cara pembagian ini senantiasa dipraktekkan di sebagian besar negara-negara Islam walaupun ada sedikit perbedaan dalam praktek menghadapi keperluan masyarakat dan rakyatnya.
Cara pembagian itu wajib dilaksanakan jika kaum Muslimin sungguh-sungguh beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan-Nya, kemenangan bagi kaum muslimin dengan bantuan berupa malaikat.

Hari perang Badar ini diberi nama Hari Furqan (hari bertemu dua pasukan), yaitu pasukan Nabi Muhammad ﷺ.
bertemu dengan pasukan Quraisy di bawah pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawannya.
Hari Furqan itu ialah hari yang memisahkan antara keimanan dan kekafiran, dan perang Badar itu adalah kemenangan yang pertama bagi kaum Muslimin terhadap kaum musyrikin walaupun jumlah mereka tiga kali lipat banyaknya dari kaum Muslimin.
Allah subhanahu wa ta'ala Maha Kuasa atas segala sesuatu, Kuasa memberi kemenangan kepada kaum Muslimin sesuai dengan janjinya.

Al Anfaal (8) ayat 41 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa perolehan kalian dari harta orang-orang kafir dalam peperangan, itu aturan hukumnya dibagi menjadi lima bagian.
Seperlimanya adalah hak milik Allah, rasul-Nya, kerabat rasul, lalu anak-anak yatim, yaitu anak-anak orang Muslim yang papa dan telah ditinggal mati orangtua mereka, fakir miskin, yaitu mereka yang membutuhkan dari kalangan orang-orang Muslim, dan ibn al-sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal dalam suatu perjalanan yang tidak terlarang.
Bagian Allah dan rasul-Nya yang diambil dari seperlima bagian itu, dimanfaatkan untuk kepentingan bersama sebagaimana diterangkan Rasulullah sewaktu masih hidup.
Sementara empat perlima bagian yang tidak disinggung dalam ayat adalah hak milik orang-orang Muslim yang berperang.
Ketahui dan pahamilah aturan itu jika kalian benar-benar beriman kepada Kami dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Muhammad, berupa bukti-bukti dukungan dan bantuan Kami pada hari pembedaan.
Suatu hari ketika Kami memisahkan antara orang yang kufur dan orang yang beriman, yaitu pada saat pasukan orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir saling berhadapan di Badar.
Allah Mahabesar kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.
Allah telah menolong orang-orang beriman yang berjumlah sedikit dan memenangkan mereka atas orang-orang kafir yang jauh lebih besar jumlahnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang telah kalian peroleh) kalian ambil dari orang-orang kafir secara paksa (dalam bentuk apa pun, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah) Dialah yang akan mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya (Rasul, kerabat Rasul) kaum kerabat Nabi ﷺ yang terdiri dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Mutalib (anak-anak yatim) anak-anak kaum muslimin yang ayah-ayah mereka telah meninggal dunia sedangkan mereka dalam keadaan miskin (orang-orang miskin) kaum muslimin yang hidupnya masih kekurangan (dan ibnu sabil) orang muslim yang kehabisan bekal dalam perjalanannya.
Atau dengan kata lain Nabi ﷺ dan keempat golongan orang-orang tadi berhak untuk mendapatkan seperlima dari seperlimanya.
Sedangkan sisa seluruh ganimah yang tinggal empat perlima, seluruhnya untuk pasukan yang telah memperolehnya (jika kalian beriman kepada Allah) maka ketahuilah oleh kalian hal tersebut (dan kepada apa) diathafkan pada lafal billaah (yang Kami turunkan kepada hamba Kami) Muhammad ﷺ, yaitu malaikat dan ayat-ayat (di hari Furqan) artinya pada perang Badar karena di dalam perang tersebut dipisahkan antara perkara yang hak dan yang batil (yaitu di hari bertemunya dua pasukan) pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum kafir.
(Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) antara lain Dia telah memenangkan kalian sekali pun jumlah kalian sedikit dan jumlah musuh-musuh kalian banyak.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman, ketahuilah sesungguhnya ghanimah yang kalian peroleh dari musuh kalian dengan berperang di jalan Allah, empat perlimanya adalah untuk kalian yang ikut dalam peperangan.
Sementara seperlima sisanya dibagikan kepada lima golongan; pertama, untuk Allah dan Rasul-Nya yang dipergunakan untuk kemashlahatan muslimin secara umum.
Kedua, untuk kerabat Rasulullah , yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib, mereka mendapat bagian sebagai pengganti sedekah karena sedekah diharamkan atas mereka.
Ketiga, untuk anak-anak yatim yang ditinggal mati bapaknya sebelum mencapai usia baligh.
Keempat, untuk orang-orang miskin yang tidak memiliki kecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dan kelima, untuk musafir yang kehabisan bekal.
(Yang demikian itu) jika kalian beriman kepada keesaan Allah dan taat kepada-Nya, serta meyakini apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad , yaitu ayat-ayat, bantuan, dan pertolongan pada hari furqan (hari pemisah antara yang hak dan yang batil) pada Perang Badar, hari bertemunya dua pasukan; mukminin dan musyrikin.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang mampu melemahkan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah menjelaskan rincian apa yang disyariatkan-Nya khusus buat umat yang dimuliakan ini dan yang tidak terdapat di dalam syariat umat-umat sebelumnya, yaitu Allah telah menghalalkan ganimah untuk mereka.

Ganimah ialah harta benda yang diperoleh dari orang-orang kafir melalui peperangan, sedangkan harta fai ialah harta yang diperoleh dari mereka bukan dengan jalan perang, misalnya sejumlah harta yang telah disepakati oleh mereka untuk diserahkan kepada kaum muslim berdasarkan perjanjian, atau mereka mati, sedangkan ahli warisnya tidak ada, dan jizyah serta kharraj, dan lain-lainnya.
Demikianlah menurut mazhab Imam Syafi'i dan sejumlah ulama Salaf dan Khalaf

Sebagian ulama ada yang memutlakkan pengertian harta fai, yang berarti ganimah pun termasuk ke dalam pengertiannya.
demikian pula sebaliknya.
Karena itulah Qatadah berpendapat bahwa ayat ini memansukh salah satu ayat dalam surat Al-Hasyr yang mengatakan:

Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul­-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, untuk kaum kerabatnya.
(Al Hasyr:7, hingga akhir ayat)

Qatadah mengatakan bahwa surat Al-Anfal ayat 41 ini menasakh surat Al-Hasyr ayat 7, dan ganimah itu dibagi menjadi lima bagian: Empat perlimanya buat para Mujahidin, sedangkan yang seperlimanya buat mereka yang disebutkan dalam ayat ini.

Pendapat yang diketengahkan oleh Qatadah ini jauh dari kebenaran, mengingat ayat ini diturunkan sesudah Perang Badar, sedangkan ayat surat Al-Hasyr diturunkan berkenaan dengan Bani Nadir.
Dan semua ahli sejarah dan tarikh magazi tidak ada yang memperselisihkan bahwa perang dengan Bani Nadir terjadi sesudah Perang Badar.
Hal ini merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi.

Orang yang berpendapat membedakan antara fai dan ganimah mengatakan bahwa surat Al-Hasyr ayat 7 diturunkan berkenaan dengan harta fai, sedangkan surat Al-Anfal ayat 41 diturunkan berkenaan dengan ganimah.
Dan orang yang menyamakan antara ganimah dan fai merujuk kepada pendapat imam.
bahwa tidak ada pertentangan antara ayat 7 surat Al-Hasyr dan masalah takhmis (ganimah), jika imam menyamakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah.

Ungkapan ayat ini mengandung makna taukid yang mengukuhkan pembagian lima, baik yang dibaginya itu sedikit ataupun banyak.
sehingga jangan terlewatkan barang sekecil apa pun, seperti jarum dan benangnya.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman dalam ayat yang lain:

Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang di-khianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan setimpal) sedangkan mereka tidak dianiaya.
(Ali Imran:161)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul

Para ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan tafsir ayat ini, sebagian berpendapat bahwa dari seperlima itu Allah beroleh bagian yang dananya diberikan untuk (pemeliharaan) Ka'bah.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi', dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi yang mengatakan bahwa ganimah diserahkan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau membaginya menjadi lima bagian empat perlimanya buat orang-orang yang ikut berperang.
Kemudian beliau mengambil yang seperlimanya dengan meletakkan tangannya pada bagian itu.

Nabi ﷺ mengambil sebagian dari bagiannya itu segenggam tangannya, kemudian memperuntukkannya buat Ka'bah: apa yang beliau ambil itu merupakan bagian Allah.
Setelah itu beliau membagi yang tersisa menjadi lima bagian, yaitu untuk dirinya, untuk kaum kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil.

Ulama tafsir lainnya mengatakan bahwa dalam permulaan ayat ini disebutkan nama Allah untuk tabarruk, lalu menyusul bagian Rasulullah ﷺ

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa Rasulullah ﷺapabila mengirimkan suatu pasukan lalu pasukan itu memperoleh ganimah, maka beliau membaginya menjadi lima bagian.
Kemudian beliau membagi yang seperlimanya itu menjadi lima bagian lagi.
Lalu beliau ﷺ membacakan firman-Nya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul.

Kalimat 'sesungguhnya seperlimanya untuk Allah' merupakan pen­dahuluan, sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain yaitu:

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi.
(Al Baqarah:284)

Bagian yang diperuntukkan buat Allah dan Rasul-Nya dijadikan satu.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibrahim An-Nakha'i, Al-Hasan ibnu Muhammad ibnul Hanafilah.
Al-Hasan Al-Basri, Asy-Sya'bi, Ata ibnu Abu Rabah, Abdullah ibnu Buraidah, Qatadah, Mugirah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa bagian untuk Allah dan Rasul-Nya dijadikan satu.

Hal ini diperkuat oleh riwayat Abu Bakar Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih:

dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari seorang lelaki yang mengatakan bahwa ia datang menghadap Nabi ﷺ yang sedang berada di Wadil Qura.
Saat itu Rasulullah ﷺ sedang mengendarai kudanya.
Lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana­kah pendapatmu tentang harta rampasan perang (ganimah)?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Seperlimanya untuk Allah, sedangkan yang empat perlimanya untuk pasukan." Ia bertanya, "Apakah ada seseorang yang lebih diutamakan daripada yang lainnya?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak, dan tidak pula terhadap bagian yang engkau keluarkan dari kantongmu.
Engkau bukanlah orang yang lebih berhak terhadapnya daripada saudara semuslimmu."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Musa.
telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Aban dari Al Hasan yang mengatakan bahwa Al Hasan mewasiatkan seperlima dari harta bendanya dan ia mengatakan, "Tidakkah aku rela terhadap sebagian dari hartaku seperti apa yang direlakan oleh Allah bagi diri-Nya."

Kemudian orang-orang yang berpendapat demikian berselisih pendapat pula.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ganimah itu dibagi menjadi lima bagian: Empat perlimanya dibagikan di antara orang-orang yang terlibat dalam peperangan, sedangkan yang seperlimanya dibagi menjadi empat.
Seperempatnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan bagian yang untuk Allah dan Rasul-Nya adalah untuk kaum kerabat Nabi ﷺ, sedangkan Nabi ﷺ sendiri tidak mengambil sesuatu pun dari seperlima itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar Al-Minqari.
telah menceritakan kepada kami Abdul Waris ibnu Sa'id, dari Husain Al-Mu'allim, dari AbdulIIah ibnu Buraidah sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta'ala.
berikut ini:

Ketahuilah.
sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang.
maka sesungguhnya seperlima untuk Allah.
Rasul.

Bahwa bagian untuk Allah berarti untuk Nabi-Nya, dan bagian Nabi ﷺ adalah untuk istri-istrinya.

Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman telah meriwayatkan dari Ata ibnu Abu Rabah yang mengatakan bahwa khumus (bagian seperlima) Allah dan Rasul-Nya adalah satu.
Nabi ﷺ dapat mengambil dan dapat berbuat terhadapnya menurut apa yang dikehendakinya.
Pengertian ini lebih umum dan lebih mencakup, yaitu bahwa Nabi ﷺ men-tasarruf-kan (menggunakan) bagian Allah yang dari seperlima ini menurut apa yang disukainya.
Beliau ﷺ boleh mengembalikannya kepada umatnya menurut apa yang beliau sukai.

Pendapat ini diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad.
Imam Ahmad mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ishak ibnu Isa.
telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy.
dari Abu Bakr ibnu Abdullah Ibnu Abu Maryam, dari Abu Salam al-A’raj dari Madani ibnu Ma’di kariba al Kindi bahwa ia duduk bersama Ubadah ibnus Samit, Abu Darda, Al-Haris ibnu Abu Mu'awiyah Al-Kindi, lalu mereka berbincang-bincang mengenai hadis Rasul ﷺ Abu Darda berkata kepada Ubadah, "Hai Ubadah, bagaimanakah sabda Rasulullah ﷺ dalam perang anu dan anu sehubungan dengan harta rampasan yang dibagi lima?"
Ubadah menjawab, bahwa se­sungguhnya Rasulullah ﷺ melakukan salat bersama mereka dalam suatu peperangan dengan mengesampingkan sejumlah ternak unta hasil ganimah.
Setelah bersalam, Rasulullah ﷺ mengambil sehelai bulu unta dengan kedua jarinya, lalu bersabda: Sesungguhnya ini termasuk ganimah kalian.
Dan sesungguhnya tiada hakku padanya melainkan seperti bagianku bersama kalian yaitu seperlimanya, dan seperlimanya akan dikembalikan kepada kalian.
Maka tunaikanlah (kumpulkanlah) barang sebesar jarum dan benangnya, baik yang lebih besar daripada itu atau yang lebih kecil daripadanya, dan janganlah kalian melakukan penggelapan.
Karena sesungguhnya menggelapkan hasil ganimah itu merupakan cela dan neraka yang akan menimpa pelakunya di dunia dan akhirat.
Dan berjihadlah melawan orang-orang demi membela Allah, baik terhadap kerabat ataupun orang lain.
Janganlah kalian pedulikan celaan orang-orang yang mencela dalam Allah dalam membela Allah.
Tegakkanlah batasan-batasan Allah dalam perjalanan dan dalam keadaan berada di tempat.
Dan berjihadlah karena Allah, karena sesungguhnya jihad itu merupakan salah satu pintu surga yang besar, dengan jihad Allah menyelamatkan (kaum mukmin) dari kesusahan dan kesengsaraan.

Hadis ini sangat baik, dan saya tidak menjumpainya pada sesuatu pun dari kitab Sittah melalui jalur ini.
Tetapi Imam Ahmad meriwayatkan pula —juga Abu Daud dan Imam Nasai— melalui hadis Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu Amr), dari Rasulullah ﷺ hal yang semisal dalam kisah khumus dan larangan berbuat gulul dalam pembagian ganimah.

Dari Amr ibnu Anbasah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ salat dengan mereka sebelum membagi ganimah berupa sejumlah ternak unta.
Setelah bersalam, lalu beliau mengambil sehelai bulu unta dan bersabda: Tidak halal bagiku dari ganimah kalian hal seperti ini kecvali hanya seperlima, dan seperlima itu akan dikembalikan kepada kalian.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasai.

DahuIu Nabi ﷺ mengambil bagian-dari ganimah untuk dirinya, lalu beliau memilihnya, baik berupa budak laki-Iaki ataupun budak perempuan atau kuda atau pedang atau lain-lainnya.
Demikianlah menurut nas Muhammad ibnu Sirin, Amir Asy-Sya'bi, dan kebanyakan ulama yang mengikuti pendapat mereka berdua.

Imam Ahmad dan Imam Turmuzi yang menilai hasan hadis berikut telah meriwayatkan melalui Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ menghadiahkan pedangnya yang diberi nama Zul Fiqar pada hari Perang Badar, yaitu di hari beliau bermimpi melihat apa yang akan terjadi dalam Perang Uhud.

Dari Siti Aisyah r.a.
disebutkan bahwa Siti Safiyyah berasal dari tawanan yang dipilih oleh Nabi ﷺ Demikianlah menurut riwayat Imam Abu Daud di dalam kitab Sunan-nya.

Imam Abu Daud pun telah meriwayatkan berikut sanadnya —demikian pula Imam Nasai—, dari Yazid ibnu Abdullah yang mengatakan:

"Ketika kami berada di Al-Marbad, tiba-tiba masuklah seorang Lelaki membawa sepotong kulit.
Lalu kami membacanya, ternyata di dalamnya tertuliskan kalimat berikut: Dari Muhammad —utusan Allah— ditujukan kepada Zuhair ibnu Aqyasy.
Sesungguhnya jika kalian mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta kalian mau mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mau menunaikan seperlima dari ganimah, bagian Nabi ﷺ dan bagian yang dipilihnya untuk dirinya, maka kalian dalam keadaan aman berada dalam jaminan keamanan Allah dan Rasul-Nya.
Maka kami bertanya kepada lelaki itu.”Siapakah yang menulis (mengimlakan) surat ini" Lelaki menjawab.
Rasulullah ﷺ"."'

Hadis-hadis yang jayyid ini menunjuktan akan ketetapan dan keberadaan pilihan yang dilakukan oleh Nabi ﷺterhadap ganimah untuk dirinya.
Karena itu, banyak kalangan ulama yang mengatakan bahwa hal ini merupakan suatu kekhususan bagi diri Nabi ﷺ

Ulama lainnya berpendapat bahwa bagian khumus dibelanjakan oieh imam untuk keperluan kemaslahatan kaum muslim, sebagaimana imam men—tasarruf— kan harta fai.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa yang demikian itu merupakan pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama Salaf, dan pendapat inilah yang paling sahih.

Apabila hal ini telah diakui dan diketahui kebenarannya, maka masih diperselisihkan pula perihal apa yang diambil oleh Nabi ﷺ dari khumus, untuk apakah bagian ini sesudah Nabi ﷺ tiada?

Sebagian ulama mengatakan bahwa bagian tersebut diberikan kepada orang yang menggantikan beliau ﷺ sesudah beliau tiada (yakni untuk para khalifah sesudahnya).
Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar, Ali, dan Qatadah serta sejumlah ulama, dan sehubungan dengan hal ini terdapat sebuah hadis marfu’ yang menguatkannya.

Ulama lain mengatakan bahwa bagian tersebut dibelanjakan untuk keperluan kemaslahatan kaum muslim.
Ada pula ulama yang mengata­kan.”Bahkan bagian tersebut dikembalikan untuk asnaf lainnya.
Yaitu kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ulama lainnya berpendapat bahwa bahkan bagian Nabi ﷺbagian kaum kerabatnya dikembalikan untuk anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ibnu sabil.
Menurut Ibnu Jarir.
Pendapat ini dikatakan oleh sejumlah ulama Irak.

Pendapat lainnya lagi mengatakan, sesungguhnya bagian secara keseluruhan adalah untuk kaum kerabat Nabi ﷺ, seper _ disebutkan di dalam riwayat Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abdul Gaffar telah menceritakan kepada kami Al-Minhal ibnu Amr, bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Muhammad ibnu Ali dan dan Ali ibnul Husain tentang bagian khumus.
Maka keduanya menjawab bahwa bagian itu untuk kami (ahli bait Nabi ﷺ).
Ia bertanya kepada Ali Ibnul Husain bahwa bagaimanakah dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

...anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil
Ali ibnul Husain menjawab, "Ya, buat anak-anak yatim dan orang-orang miskin dari kalangan kami."

Sufyan As-Sauri, Abu Na'im, dan Abu Usamah telah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan ibnu Muhammad ibnul Hanafiyah rahimahullah tentang makna firman-Nya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah dan Rasul.
Maka Al-Hasan ibnu Muhammad menjawab, "Ini adalah kunci Kalamullah di dunia dan akhirat."

Kemudian para ulama berselisih pendapat mengenai kedua bagian ini (yaitu bagian Allah dan Rasul-Nya) sesudah Rasulullah ﷺ wafat.
Sebagian berpendapat bahwa bagian Nabi ﷺ diserahkan sepenuhnya untuk khalifah sesudahnya.
Ulama lainnya mengatakan bahwa hal itu untuk kerabat Nabi ﷺ Dan ulama lainnya lagi mengatakan bahwa bagian kaum kerabat diserahkan untuk bagian kerabat khalifah.
Tetapi semuanya sependapat bila menjadikan kedua bagian ini untuk keperluan kuda (perang) dan peralatan perang lainnya di jalan Allah.
Hal inilah yang dipraktekkan di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar r.a.

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Ibrahim, bahwa Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar menjadikan bagian Nabi ﷺ untuk keperluan membeli kendaraan perang dan peralatan senjata.
Lalu saya (perawi) bertanya kepada Ibrahim, "Bagaimanakah pendapat Ali tentangnya?'" Ibrahim menjawab, "Dia adalah orang yang paling keras dalam hal ini." Demikianlah pendapat segolongan besar ulama.

Adapun mengenai bagian kaum kerabat, diberikan kepada Bani Hasyim dan Banil Muttalib, karena Banil Muttalib mendukung Bani Hasyim di masa Jahiliah dan di masa permulaan Islam, sehingga mereka ikut bergabung dengan Rasulullah ﷺ di lereng bukit (ketika kaum muslim diisolasi) karena solidaritas mereka kepada Rasulullah ﷺ dan demi membelanya.
Orang-orang muslim mereka didasari oleh taat kepada Allah, sedangkan orang-orang kafirnya didasari oleh perasaan hamiyah (kefanatikan) kabilah, harga diri, dan taat kepada Abu Talib, paman Rasulullah ﷺ

Jubair ibnu Mufim ibnu Addi ibnu Naufal mengatakan bahwa ia berjalan bersama Usman ibnu Affan (yakni ibnu Abdul As ibnu Umayyah ibnu Abdu Syams) mendekati Rasulullah ﷺ lalu mereka bertanya.”Wahai Rasulullah, engkau telah memberi bagian kepada Banil Mutalib dari khumus Khaibar, tetapi engkau membiarkan kami tidak mendapat bagian, padahal kami dan mereka mempunyai kedudukan kerabat yang sama terhadapmu?"
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Sesungguhnya Bani Hasyim dan Banil Mutalib adalah sesuatu yang menyatu (Riwayat Muslim)

Menurut riwayat lain dari hadis ini disebutkan:

Sesungguhnya mereka belum pernah berpisah dengan kami, baik di masa Jahiliah maupim di masa Islam.

Demikianlah pendapat jumhur ulama, bahwa sesungguhnya mereka adalah Bani Hasyim dan Banil Muttalib.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, "Mereka (kaum kerabat Nabi ﷺ) adalah Bani Hasyim." Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Khasif.
dari Mujahid yang mengatakan bahwa Allah mengetahui di kalangan Bani Hasyim terdapat kaum fakir miskin.
maka Dia menjadikan untuk mereka bagian dari khumus sebagai ganti zakat.
Menurut riwayat lain yang bersumber dari Mujahid.
mereka adalah seluruh kerabat Rasulullah ﷺ yang tidak boleh menerima harta zakat.
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pulahal yang semisal dari Ali ibnul Husain.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, "Mereka adalah semua orang Quraisy.
Telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Nafi' dari Abu Ma'syar, dari Sa'id Al-Maqbari yang mengatakan bahwa Najdah berkirim surat kepada Abdullah ibnu Abbas untuk menanyakan kepadanya tentang zawul qurba (kaum kerabat Nabi ﷺ).
Maka Ibnu Abbas menjawab.”Kami dahulu mengatakan bahwa kami adalah mereka, tetapi kaum kami menolak hal tersebut, dan mereka mengatakan bahwa kaum Quraisy seluruhnya adalah zawul qurba'."

Hadis di atas sahih.
diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui hadis Sa'id Al-Maqbari, dari Yazid ibnu Hurnuiz.
Disebutkan bahwa Najdah berkirim surat kepada Ibnu Abbas, menanyakan tentang zawul qurba.
Lalu disebutkan sampai dengan kata-kata Ibnu Abbas, "Tetapi kaum kami menolak hal tersebut." Tambahan dalam asar ini hanya ada pada Abu Ma'syar Najih ibnu Abdur Rahman Al-Madani, tetapi di dalamnya terdapat ke-daif-an.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Mahdi Al-Masisi, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Hanasy, dari Ikrimah.
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Saya tidak suka bila kalian mendapat kotoran cuci tangan orang-orang lain, karena sesungguhnya bagi kalian ada seperlima dari khumus bagian yang mencukupi kalian atau yang membuat kalian berkecukupan.

Hadis ini hasan sanadnya.
Ibrahim ibnu Mahdi dinilai siqah oleh Ibnu Abu Hatim.
Tetapi menurut penilaian Yahya ibnu Mu'in.
dia (Ibrahim ibnu Mahdi) banyak mempunyai hadis yang berpredikat munkar.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan anak-anak yatim.

Maksudnya anak-anak yatim kaum muslim.
Para ulama berbeda penda­pat mengenai apakah hal itu khusus bagi anak-anak yatim kaum fakir miskin mereka ataukah bersifat umum mencakup anak-anak yatim orang-orang hartawan dan orang-orang miskin mereka.
Ada dua pendapat mengenainya.
Jelasnya, menurut bahasa pengertian “miskin” ialah orang-orang yang mempunyai keperluan serta tidak menemuka apa yang mencukupi kebutuhan dan tempat tinggal mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Ibnu sabil.

Yang dimaksud dengan ibnu sabil ialah musafir atau orang yang hendak melakukan perjalanan sejauh perjalanan qasar, sedangkan dia tidak mempunyai biaya untuk perjalanannya itu.
Penafsiran tentang pengertian ibnu sabil.
Insya Allah, akan diterangkan di dalam Bab Zakat",
bagian dari surat At-Taubah.
Hanya kepada-Nyalah kami percaya dan hanya kepada Nyalah pula kami bertawakal.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad).

Artinya, kerjakanlah apa yang telah Kami syariatkan kepada kalian dalam masalah khumus ganimah (membagi lima bagian harta rampasan perang), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasul-Nya.
Karena itulah di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui hadis Abdullah ibnu Abbas dalam kisah tentang delegasi Abdul Qais yang menghadap Rasulullah ﷺ Dalam kitab itu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka:

Aku perintahkan kalian empat perkara, dan aku larang kalian dari empat perkara lainnya.
Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah.
Kemudian dalam kalimat selanjutnya disebutkan: Tahukah kalian apakah iman kepada Allah itu?
Yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menunaikan seperlima dari ganimah (rampasan perang).

Demikianlah hingga akhir hadis yang cukup panjang.

Dalam hadis ini disebutkan bahwa menunaikan seperlima dari ganimah termasuk salah satu dari bagian keimanan.
Imam Bukhari telah membahas masalah ini dalam suatu bab tersendiri, bagian dari Kitabul Iman yang ada di dalam kitab Sahih-nya.
Ia mengatakan bahwa ini adalah Bab "Menunaikan Seperlima Ganimah termasuk Keimanan",
kemudian ia mengetengahkan hadis Ibnu Abbas ini.
Kami pun telah menerangkan pembahasan masalah ini secara panjang lebar dalam Syarah Bukhari.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan.
(Al Anfaal:41) Yakni di hari pembagian ganimah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Allah subhanahu wa ta'ala.
mengingatkan tentang nikmat dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya, yaitu dengan dipisahkan-Nya perkara yang hak dan yang batil dalam Perang Badar.

Hari itu dinamakan "hari Furqan" karena pada hari itu Allah memenangkan kalimat iman dan mengalahkan kalimat kebatilan.
Dia memenangkan agama-Nya dan menolong Nabi serta para pendukungnya.

Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi meriwayatkan dan Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan hari Furqan ialah hari Perang Badar.
Pada hari itu Allah memisahkan perkara yang hak dari yang batil.
Demikianlah menurut riwayat Imam Hakim.
Hal yang sama telah dikata­kan oleh Mujahid, Miqsam.
Ubaidillah ibnu Abdullah.
Ad-Dahhak, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa hari yang dimaksud adalah hari Perang Badar.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar.
dari Az-Zuhri, dari Urwah Ibnuz Zubair sehubungan dengan firman-Nya di hari Furqan.
Yaitu hari Allah memisahkan perkara yang hak dan yang batil, yaitu hari Perang Badar yang merupakan permulaan peperangan yang dialami oleh Rasulullah ﷺ

Saat itu pemimpin atau panglima pasukan kaum musyrik ialah Atabah ibnu Rabi'ah.
Kedua pasukan berhadapan pada hari Jumat, tanggal sembilan belas atau tujuh belas Ramadan.
Sahabat Rasulullah ﷺ saat itu berjumlah tiga ratus lebih beberapa belas orang.
sedangkan jumlah pasukan kaum musyrik antara sembilan ratus sampai seribu orang.
Maka Allah memukul mundur pasukan kaum musyrik.
sehingga tujuh puluh orang lebih dari kalangan mereka terbunuh.
dan yang tertawan berjumlah sama dengan yang terbunuh.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak telah meriwayatkan melalui hadis Al-A'masy dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan sehubungan dengan malam lailatul qadar, "Carilah lailatul qadar pada malam kesembilan belas, karena sesungguhnya pada pagi harinya adalah Perang Badar!"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih.
telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ya'qub Abu Talib, dari Ibnu Aim, dari Muhammad ibnu Abdullah As-Saqafi, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami yang mengatakan bahwa Al-Hasan ibnu Ali pernah berkata.”Malam hari Furqan keesokan harinya bertemu dua golongan pasukan.
yaitu pada tanggal tujuh belas Ramadan."

Sanad asar ini jayyid lagi kuat.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya dari Abu Abdur Rahman Abdullah ibnu Habib.
dari Ali yang mengatakan, "Malam hari Furqan adalah malam hari yang pada keesokan harinya bertemu dua golongan pasukan, yaitu malam hari Jumat tanggal tujuh belas bulan Ramadan." Riwayat ini menurut ahli sejarah dan sirah dinilai sahih.

Yazid ibnu Abu Habib Imam di Mesir pada zamannya mengatakan bahwa hari Perang Badar terjadi pada hari sabtu.
Tetapi tidak ada yang mengikuti pendapatnya ini, yang lebih diprioritaskan adalah pendapat jumluir ulama.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 41

IBNUS SABIIL
ٱبْنَ ٱلسَّبِيل

Makna ibn ialah seorang anak lelaki, sedangkan as sabiil sudah diuraikan terdahulu.

Ibn Arafah berkata,
"Lafaz ini bermakna tetamu yang terputus bekalnya, diberikan bekal sekadar sampai ke negerinya'"

Ibn Manzur berkata,
"Ibnus sabiil ialah orang musafir yang banyak berjalan, dinamakan ia anak jalan karena ia melazimkan dirinya dengannya."

Ibn Sayyidah berkata,
"Ia bermakna anak jalan, dan takwilannya adalah yang banyak berjalan di atas jalan."

Ungkapan ini disebut delapan kali dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 177, 215;
-An Nisaa (4), ayat 36;
-Al Anfaal (8, ayat 41;
-At Taubah (9, ayat 60;
-Al sraa (17, ayat 26;
-Ar Rum (30, ayat 38;
-Al Hasyr (59, ayat 7.

Abi Ja'far berkata,
"Ibnus sabiil adalah orang yang melintasi dari negeri ke negeri yang lain."

Mujahid dan Qatadah berkata,
"Ia adalah orang yang bermusafir"

At Tabari berkata,
"Dikatakan bagi yang bermusafir Ibnus sabiil karena ia melazimkan dirinya di jalan?"

Kesimpulannya, Ibnus Sabiil ialah orang yang banyak melakukan perjalanan jauh.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:287-289

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 41 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 41



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (28 votes)
Sending







✔ asbabun nuzul al anfal 41, asbabun nuzul qs al anfal 41, isi kitab al anfal 8:41, maksud arti surat qs al anfal 8:41 dimasa sekarang

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku