QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 40 [QS. 8:40]

وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ مَوۡلٰىکُمۡ ؕ نِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ
Wa-in tawallau faa’lamuu annallaha maulaakum ni’mal maula wani’mannashiir(u);

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu.
Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
―QS. 8:40
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pahala Iman
8:40, 8 40, 8-40, Al Anfaal 40, AlAnfaal 40, Al Anfal 40, AlAnfal 40, Al-Anfal 40

Tafsir surah Al Anfaal (8) ayat 40

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 40. Oleh Kementrian Agama RI

Allah mengancam mereka bahwa apabila mereka tetap juga menolak seruan damai Rasulullah dan tetap tidak menghentikan keingkaran terhadap seruan Rasul serta tetap memerangi dan memusuhi kaum muslim, maka Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar memberitahukan kepada mereka bahwa Allah tetap menjadi pelindung yang akan membantu kaum Muslimin.
Dan Allah menjamin kemenangan bagi kaum Muslimin.
Dan Allah melarang orang-orang Islam menyerah dan merasa takut kepada tantangan kaum musyrikin itu.
Di akhir ayat Allah menegaskan kepada kaum Muslimin bahwa Dialah Allah sebaik-baik Pelindung.
Maka tidak akan sia-sialah yang meminta perlindungan-Nya.
Dan memang demikianlah selalu terjadi dalam kehidupan manusia ini baik dari zaman dahulu sampai datangnya agama Islam, yaitu yang berhak menguasai bumi Allah hanyalah orang-orang yang saleh di antara hamba-Nya.
Firman Allah: “Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-dzikr (Lauh Mahfudh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (al-Anbiya: 105)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika mereka terus berpaling dan menyakiti orang-orang Mukmin, maka ketahuilah, hai orang-orang yang beriman, bahwa kalian berada dalam perlindungan Allah, suatu perlindungan yang paling disukai dan paling kuat.
Dia adalah penolong kalian.
Pertolongannya adalah yang paling kuat dan paling agung.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan jika mereka berpaling) dari keimanan (maka ketahuilah bahwasanya Allah pelindung kalian) yang akan menolong dan mengatur urusan-urusan kalian (sebaik-baik pelindung) adalah Dia (dan Dia adalah sebaik-baik penolong) yang akan menolong kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apabila orang-orang musyrik itu berpaling dari apa yang sudah kalian serukan (hai orang-orang mukmin) untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berhenti memerangi kalian, dan mereka tetap dalam kekafiran serta tetap memerangi kalian; yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penolong kalian untuk mengalahkan mereka.
Dia adalah sebaik-baik penolong bagi kalian dan bagi wali-wali-Nya untuk mengalahkan musuh-musuh kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindung kalian.
Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baikPenolong.

Yakni jika mereka berkelanjutan dalam menentang kalian dan memerangi kalian:

maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindung kalian.
(Al Anfaal:40)

Maksudnya, Pemimpin dan Penolong kalian dalam menghadapi musuh-musuh kalian.
Maka dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Muhammad ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul Waris ibnu Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Aban Al-Attar, telah men­ceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari Urwah, bahwa Abdul Malik ibnu Marwan berkirim surat kepadanya menanyakan tentang berbagai masalah.
Lalu Urwah menjawab suratnya itu yang isinya mengatakan:

Semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, dan sesungguhnya saya memulai surat yang ditujukan kepadamu ini dengan memuji kepada Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia.
Amma ba’du,

Sesungguhnya engkau telah berkirim surat kepadaku menanya­kan tentang keluarnya Rasulullah ﷺ dari Mekah aku akan mem­beritahukan kepadamu mengenai hal tersebut tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah, faktor yang mendorong keluarnya Rasulullah ﷺ dari Mekah ialah, karena Allah telah memberinya kenabian.
Maka dia adalah sebaik-baik nabi, sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik famili, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlimpah.
Kami telah mengenal wajahnya di surga, dia telah membuat kami hidup karena memeluk agamanya, dan kami mati serta dibangkitkan kelak dalam keadaan memeluk­nya.
Pada awal mulanya ketika beliau menyeru kaumnya untuk memeluk jalan petunjuk yang dipercayakan oleh Allah kepadanya untuk menyampaikannya, dan menyeru mereka kepada cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan oleh Allah kepadanya, mereka tidak menjauh darinya pada permulaan dia menyeru mereka.

Pada mulanya mereka mau mendengarkannya, hingga manakala dia mulai mencaci berhala-berhala mereka dan saat itu telah datang serombongan orang-orang Quraisy dari Taif dengan membawa harta benda yang berlimpah.
Maka beliau mulai diprotes oleh sejumlah orang, dan orang-orang itu bersikap keras terhadapnya serta membenci apa yang diucapkannya, bahkan mereka membujuk orang-orang yang tadinya taat kepadanya sehingga membelotlah darinya kebanyakan orang yang tadinya mau mendengarkannya.
Mereka meninggalkan beliau kecuali hanya sejumlah orang dari mereka yang sedikit, yang mendapat pemeliharaan dari Allah.

Nabi ﷺ tinggal di Mekah dalam keadaan demikian selama apa yang ditakdirkan oleh Allah.
Kemudian para pemimpin kaumnya mengadakah persekongkolan untuk memfitnah orang-orang yang mengikuti Nabi ﷺ agar keluar dari agama Allah.
Fitnah itu dilancarkan pula kepada anak-anak saudara-saudara mereka, dan kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam.
Hal itu merupakan fitnah mengguncangkan kaum muslim dengan guncangan yang kuat, sehingga terfitnahlah sebagian dari mereka, sedangkan sebagian yang lain mendapat pemeliharaan dari Allah.

Ketika mereka melancarkan penindasan tersebut terhadap kaum muslim, maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada mereka untuk keluar menuju negeri Habsyah.
Di negeri Habsyah saat itu terdapat seorang raja yang baik yang dikenal dengan julukan Najasyi.
Dia tidak pernah berbuat aniaya terhadap seorang pun yang ada di negerinya.
Selain itu Raja Najasyi memuji Nabi ﷺ

Negeri Habsyah adalah tempat perniagaan orang-orang Quraisy, mereka melakukan misi dagangnya di negeri tersebut karena di negeri itu mereka memperoleh rezeki yang banyak, keuntungan yang berlimpah, keamanan yang terjamin, dan tempat perniagaan yang baik.
Karena itulah maka Nabi ﷺ memerintahkan kaum muslim untuk berhijrah ke negeri Habsyah.
Lalu sebagian besar dari kaum muslim berangkat menuju Habsyah saat orang-orang musyrik Mekah menindas mereka, mereka takut terfitnah dalam agamanya, sedangkan Nabi ﷺ sendiri tetap tinggal di Mekah.

Nabi ﷺ tinggal di Mekah selama beberapa tahun, sedangkan orang-orang musyrik terus menindas orang-orang yang masuk Is­lam dari kalangan mereka sendiri.
Tetapi pada akhirnya agama Is­lam tersiar di kalangan mereka, dan banyaklah yang masuk Islam dari kalangan orang-orang terhormat serta orang-orang kuat mereka.

Setelah orang-orang musyrik melihat adanya dukungan di pihak Nabi ﷺ, maka mereka mulai mengendurkan penindasannya terhadap Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Itulah kisah fitnah pertama yang menyebabkan sebagian dari sahabat Rasulullah ﷺ keluar berhijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diri dari fitnah dan tekanan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Mekah.
Setelah kaum Quraisy mengendurkan penindasannya terhadap kaum muslim, bahkan sebagian dari mereka ada yang masuk Islam, maka keadaan ini tersiar hingga terdengar oleh kaum muslim yang ada di negeri Habsyah.
Men­dengar berita itu mereka kembali ke Mekah yang keadaannya kini relatif aman bagi mereka.
Kaum muslim bertambah banyak dan kian hari kian bertambah jumlahnya.
Selain itu masuk Islam pula orang-orang Ansar yang ada di Madinah dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga Islam tersiar di Madinah, dan penduduk Madinah banyak yang datang ke Mekah menemui Rasulullah ﷺ

Ketika orang-orang Quraisy melihat perkembangan itu, maka mereka mengadakan persekongkolan untuk memfitnah dan menindas orang-orang mukmin.
Lalu orang-orang musyrik Mekah mulai melancarkan timahnya terhadap kaum mukmin, sehingga kaum mukmin mengalami paceklik yang hebat (karena diisolasi oleh mereka).
Peristiwa ini merupakan fitnah yang terakhir.
Fitnah yang melanda kaum mukmin di masa itu ada dua, yaitu, Pertama, yang menyebabkan sebagian dari mereka hijrah ke negeri Habsyah.
Hijrah mereka ke Habsyah berdasarkan perintah dari Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ mengizinkan mereka untuk berangkat ke negeri Habsyah.
Sedangkan fitnah lainnya terjadi di saat mereka kembali ke Mekah dan melihat penduduk Madinah berdatangan memeluk agama Islam.

Kemudian datanglah kepada Rasulullah ﷺ dari Madinah para pemimpin orang-orang yang telah masuk Islam dari kalangan mereka.
Lalu mereka menjumpai Nabi ﷺ pada musim haji, dan mereka langsung berbaiat mengucapkan janji setianya kepada Nabi ﷺ di Aqabah.
Mereka pun mengucapkan janji serta ikrar mereka, “Bahwasanya kami adalah sebagian dari kamu, dan kamu adalah sebagian dari kami.
Dan barang siapa di antara sahabat-sahabatmu datang kepada kami, maka kami akan membelanya sebagaimana kami membela diri kami sendiri.”

Pada saat itulah orang-orang Quraisy memperkeras penindasan­nya kepada kaum muslim.
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk keluar menuju Madinah.
Peristiwa ini merupakan fitnah yang paling akhir, dan fitnah ini pulalah yang menyebabkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya hijrah ke Madinah.
Saat itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Dan perangilah mereka, supaya tidak ada fitnah, dan supaya agama itu semata mata bagi Allah (Al Anfal :39)

Kemudian Muhammad ibnu Jarir meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A’la, dari Ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Urwah ibnuz Zubair, bahwa Al-Walid (yakni Ibnu Abdul Malik ibnu Marwan) berkirim surat kepada Urwah yang isinya seperti apa yang disebutkan di atas.

Sanad hadis ini sahih sampai kepada Urwah ibnuz Zubair.


Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
‘inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu’min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Anfaal (75 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 40 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 40 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anfaal (8) ayat 40 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anfaal - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 75 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 8:40
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.9
Ratingmu: 4.9 (27 orang)
Sending







Pembahasan ▪ QS 8 ayat 40 ▪ surah al anfal ayat40

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta