Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 39 [QS. 8:39]

وَ قَاتِلُوۡہُمۡ حَتّٰی لَا تَکُوۡنَ فِتۡنَۃٌ وَّ یَکُوۡنَ الدِّیۡنُ کُلُّہٗ لِلّٰہِ ۚ فَاِنِ انۡتَہَوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ
Waqaatiluuhum hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu lillahi fa-iniintahau fa-innallaha bimaa ya’maluuna bashiirun;
Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.
Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
―QS. Al Anfaal [8]: 39

And fight them until there is no fitnah and (until) the religion, all of it, is for Allah.
And if they cease – then indeed, Allah is Seeing of what they do.
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 39]

وَقَٰتِلُوهُمْ dan perangilah mereka

And fight them
حَتَّىٰ sehingga

until
لَا tidak

not
تَكُونَ ada lagi

there is
فِتْنَةٌ fitnah

oppression
وَيَكُونَ dan adalah

and is
ٱلدِّينُ agama

the religion
كُلُّهُۥ semuanya

all of it
لِلَّهِ bagi Allah

for Allah.
فَإِنِ maka jika

But if
ٱنتَهَوْا۟ mereka berhenti

they cease,
فَإِنَّ maka sesungguhnya

then indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
بِمَا dengan /terhadap apa

of what
يَعْمَلُونَ mereka kerjakan

they do
بَصِيرٌ Maha Melihat

(is) All-Seer.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:39

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 39. Oleh Kementrian Agama RI


Allah mengobarkan semangat juang orang-orang mukmin yaitu apabila orang-orang musyrikin tetap menolak seruan menghentikan permusuhan, Allah memerintahkan Rasulullah dan pengikut-pengikutnya agar memerangi mereka agar tidak terdapat lagi fitnah yang mengganggu umat Islam dan agamanya.
Sehingga tidak akan ada lagi rasa takut dan kekhawatiran yang mencekam hati sanubari seseorang bila masuk agama Islam.

Hal ini adalah jaminan bagi manusia bahwa mereka mempunyai kemerdekaan di dalam memeluk agama dan menjalankan syariatnya.
Allah ﷻ berfirman:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.

Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.
Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

(al-Baqarah [2]: 256)


Kemudian Allah menawarkan sekali lagi kepada orang-orang musyrikin bahwa apabila mereka menghentikan kekafiran dan permusuhan, maka Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan, dan akan memberikan balasan kepada mereka terhadap amalan-amalan mereka.
Rasulullah bersabda:


"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka itu mengucapkan
"La ilaha illallahu".

Apabila mereka mengatakan kalimat itu, mereka telah memelihara darah dan harta benda mereka dari tindakanku, terkecuali karena ada alasan yang benar, sedang perhitungan amal mereka terserah kepada Allah Azza wa Jalla".
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)


Perintah perang ini merupakan jalan terakhir, ada ayat lain yang menganjurkan untuk mengajak ke jalan yang benar dengan bijaksana, seperti yang tercantum dalam Surah an-Nahl [16]: 125.

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

(an-Nahl [16]: 125)

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 39. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Teruskanlah memerangi orang-orang musyrik sampai mereka menghentikan tindakan yang merusak kepercayaan orang-orang beriman melalui penindasan dan penyiksaan.
Apabila mereka benar-benar meninggalkan kekufuran dan tidak lagi mnenyakiti orang-orang beriman dan mengikhlaskan agama demi Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Memberi balasan atas perbuatan mereka [1].


[1] Lihat catatan kaki tafsir surat al-Baqarah ayat 190-194, yang berkenaan dengan perang.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan perangilah oleh kalian (hai kaum mukmin) orang-orang musyrik itu, agar tidak ada lagi kemusyrikan, tidak ada lagi yang mencegah orang dari jalan Allah, tidak ada lagi yang disembah, kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sehingga diangkatlah musibah dari hambah Allah di muka bumi ini, dan sehingga agama, ketaatan, dan ibadah seluruhnya ditujukan kepada Allah dengan segenap keikhlasan tanpa tujuan yang lain.
Apabila orang-orang musyrik itu berhenti menyebar fitnah terhadap orang mukmin dan berhenti menyekutukan Allah, kemudian masuk ke dalam agama yang hak bersama kalian, Allah tidak akan mengabaikan apa yang mereka kerjakan, yakni meninggalkan kekufuran dan masuk Islam.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan perangilah mereka supaya tidak ada) supaya jangan ada


(fitnah) kemusyrikan


(dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah) hanya bagi Allah semata dan tidak disembah selain dari-Nya.


(Jika mereka berhenti) dari kekafiran


(Maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan) Dia akan membalas mereka karenanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, dari Bakr ibnu Umar ibnu Bakir, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa seorang lelaki datang, lalu bertanya,
"Hai Abu Abdur Rahman (nama panggilan Ibnu Umar), mengapa engkau tidak berbuat apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam kitab-Nya?.
yaitu firman-Nya:
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang.
(QS. Al-Hujurat [49]: 9), hingga akhir ayat.
Apakah yang mencegahmu untuk tidak berperang sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya itu?"
Ibnu Umar menjawab,
"Hai anak saudaraku, aku memang dicela oleh ayat ini karena aku tidak berperang, tetapi aku lebih suka hal itu daripada aku dicela oleh ayat yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam firman-Nya:

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, hingga akhir ayat."
Lelaki itu berkata lagi, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah
Ibnu Umar menjawab,
"Kami para sahabat telah melakukannya di masa Rasulullah ﷺ, yaitu di saat pengikut Islam masih sedikit jumlahnya.
Saat itu seseorang difitnah dalam agamanya, adakalanya orang-orang musyrik membunuhnya atau mengikatnya, hingga agama Islam menjadi banyak pengikutnya dan fitnah tidak ada lagi."
Setelah lelaki penanya itu melihat bahwa Ibnu Umar tidak sepen­dapat dengannya, maka ia langsung mengajukan pertanyaan secara terang-terangan,
"Kalau begitu, bagaimanakah pendapatmu tentang pihak Ali dan pihak Usman?"
Ibnu Umar menjawab,
"Pendapatku tentang Usman dan Ali ialah, Usman adalah orang yang telah dimaafkan oleh Allah.
Sedangkan kalian tidak suka melihat dia mendapat maaf dari Allah.
Sedangkan Ali adalah anak paman Rasulullah ﷺ dan sekaligus sebagai menantunya."
Lalu Ibnu Umar mengisyaratkan dengan tangannya, menunjuk kepada seseorang,
"Dan ini adalah anak perempuannya, seperti yang kalian lihat sendiri (yakni berada padaku)."

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Bayan, bahwa Ibnu Wabrah pernah menceritakan asar berikut kepadanya:
Telah menceritakan kepadanya Sa’id ibnu Jubair,
"Ibnu Umar-keluar menemui kami, atau dia keluar menghampiri kami, lalu si lelaki itu bertanya, ‘Bagaimanakah pendapatmu tentang perang fitnah ini?’ Ibnu Umar menjawab, ‘Tahukah kamu apakah fitnah itu?
Dahulu Nabi Muhammad ﷺ berperang melawan kaum musyrik, dan bergabung bersama dengan mereka adalah fitnah, tidaklah seperti peperangan yang dilakukan kalian dalam membela kerajaan’."
Demikianlah teks-teks yang ada pada Imam Bukhari rahimahullah.

Ubaidillah telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Ibnu Umar pernah kedatangan dua orang lelaki di masa fitnah yang melanda di masa Ibnuz Zubair.
Keduanya bertanya,
"Sesungguhnya orang-orang telah berbuat seperti apa yang telah engkau lihat sedangkan engkau adalah Ibnu Umar ibnu Khattab dan sahabat Rasulullah ﷺ, maka apakah yang menyebabkan engkau tidak keluar berperang?"
Ibnu Umar menjawab,
"Ia dicegah oleh Allah yang telah mengharamkan darah saudara semuslim."
Mereka mengatakan,
"Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.’
Ibnu Umar menjawab,
"Kami telah berperang hingga tidak ada fitnah lagi, dan agama itu hanya semata-mata bagi Allah, Sedangkan kalian dalam perang kalian bertujuan agar timbul fitnah dan agama itu bagi selain Allah."

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (QS. Al-Anfal [8]: 39)
Yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini menurutnya adalah kemusyrikan.


Hal yang sama telah dikatakan oleh Abul Aliyah, Mujahid,.
Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan Zaid ibnu Aslam.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah sampai kepadaku dari Az-Zuhri, dari Urwah ibnuz Zubair dan lain-lainnya dari kalangan ulama kita tentang tafsir firman-Nya:

…supaya jangan ada fitnah
Artinya, supaya jangan ada lagi seorang muslim difitnah dalam agamanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah supaya hanya Allah sematalah yang disembah.

Al-Hasan, Qatadah, dan Ibnu Juraij mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.
Yakni agar kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah didengungkan.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah supaya Allah ditauhidkan secara murni tanpa ada persekutuan, dan semua tandingan dibuang jauh-jauh dari-Nya.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.
Yaitu tidak ada kekufuran lagi yang berdampingan dengan agama kalian.


Pendapat ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan di dalam kitab Sahihain dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mau mengucapkan,
"Tidak ada Tuhan selain Allah."
Apabila mereka mau mengucapkannya, berarti mereka telah memelihara darah dan harta benda mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar, sedangkan perhitungan mereka berada pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai seseorang yang berperang karena dia pemberani, berperang karena hamiyyah, dan berperang karena pamer, manakah di antaranya yang berada pada jalan Allah?
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:

Barang siapa yang berperang untuk membela kalimah Allah agar tinggi- maka dia berada di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Jika mereka berhenti.

Maksudnya, jika mereka berhenti dari memerangi kalian karena membela kekufuran mereka, maka cegahlah diri kalian dari memerangi mereka, sekalipun kalian tidak mengetahui apa yang terkandung dalam batin mereka.

…maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.
(QS. At-Taubah [9]: 5), hingga akhir ayat.

Di dalam ayat lain disebutkan:

maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian seagama.
(QS. At-Taubah [9]: 11)

Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman dalam ayat lainnya:

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah belaka.
Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
(QS. Al-Baqarah [2]: 193)

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa ketika Usamah mengangkat pedangnya kepada seorang lelaki, lalu lelaki itu mengucapkan,
"Tidak ada Tuhan selain Allah,"
tetapi Usamah tetap memukulnya hingga membunuhnya.
Selanjutnya hal itu diceritakan kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada Usamah:

"Apakah engkau membunuhnya sesudah dia mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah?’ Lalu bagaimanakah yang akan kamu lakukan terhadap kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ kelak di hari kiamat?
Usamah Berkata “Wahai Rasullullah sesungguhnya dia mengucapkannya hanya semata-mata untuk melindungi dirinya."
Rasulullah ﷺ bersabda."Tidakkah engkau belah dadanya untuk mengetahui isi hatinya?"
Rasulullah ﷺ mengulang-ulang sabdanya itu kepada Usamah seraya bersabda,
"Siapakah yang akan membelamu terhadap kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah kelak di hari kiamat?
Usamah mengatakan bahwa mendengar jawaban itu Usamah berharap seandainya saja ia baru masuk Islam saat hari itu (yakni karena merasa berdosa besar).

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 39

DIIN
لدِّين

Lafaz diin adalah ism mufrad dan jamaknya adalah adyan.

Ibnu Faris berkata,
"Ia adalah jenis dan bentuk dari ketaatan dan kehinaan, dipinjam untuk menunjukkan makna syari’at.
Oleh karena itu, Al Kafawi memberikannya makna al qadaa’ (hukum dan syariat), balasan dan keadaan."

Ad diin juga mengandung makna agama, nama semua perantara untuk menyembah Allah, mazhab, perjalanan, adat, situasi, paksaan, mengalahkan, Islam, beriktikad dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh dan sebagainya.

Lafaz diin disebut 62 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Faatihah (1), ayat 4;
Al Baqarah (2), ayat 132, 193, 256;
Ali Imran (3), ayat 19, 83;
An Nisaa (4), ayat 46;
-Al A’raaf (7), ayat 29;
Al Anfaal (8), ayat 39, 72;
At Taubah (9), ayat 11, 29, 33 (dua kali), 36, 122;
Yunus (10), ayat 22, 105;
Yusuf (12), ayat 40, 76;
Al Hijr (15), ayat 35;
-Al Nahl (16), ayat 52;
Al Hajj (22), ayat 78;
An Nuur (24), ayat 2;
-Asy Syu’araa (26), ayat 82;
Al Ankabut (29), ayat 65;
Ar Rum (30), ayat 30 (dua kali), 43;
Luqman (31), ayat 32;
Al Ahzab (33), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
Shad (38), ayat 78;
Az Zumar (39), ayat 2, 3, 11;
-Al Mu’min (40), ayat 14;
Asy Syuura (42), ayat 13 (dua kali), 21;
Al Fath (48), ayat 28 (dua kali);
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 56;
Al Mumtahanah (60), ayat 8, 9;
Ash Shaff (61), ayat 9 (dua kali);
-Al Ma’aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infihtaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11;
At Tiin (95), ayat 7;
Al Bayyinah (98), ayat 5 (dua kali);
-Al Ma’un (107), ayat 1;
-An Nashr (110), ayat 2.
Lafaz diin secara bersendirian disebut sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Al Kaafiruun (109), ayat 6;
Ali Imran (3), ayat 85;
An Nisaa (4), ayat 125;
-Al Maa’idah (5), ayat 3;
-Al An’aam (6), ayat 161.

Lafaz diinukum disebut sebanyak 11 kali yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 217;
Ali Imran (3), ayat 73;
An Nisaa (4), ayat 171;
-Al Maa’idah (5), ayat 3 (dua kali), 57, 77;
At Taubah (9), ayat 12;
-Al Mu’min (40), ayat 26;
Al Hujurat (49), ayat 16;
-Al Kaafiruun (109), ayat 6.
Lafaz diinihi disebut dua kali, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 217;
-Al Maa’idah (5), ayat 54.

Lafaz diinihim disebut sepuluh kali yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 24;
An Nisaa (4), ayat 146;
-Al An’aam (6), ayat 70, 137, 159;
-Al A’raaf (7), ayat 51;
Al Anfaal (8), ayat 49;
An Nuur (24), ayat 25, 55, 32

Lafaz diini disebut satu kali yaitu dalam surah Yunus (10), ayat 104.
Lafaz ad diin di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna:

1. Ad diin bermakna hari penghisaban dan pembalasan (Al jaza’) seperti yang terdapat dalam surah:
Al Fatihah (1), ayat 4;
Al Hijr (15), ayat 35;
-Asy Syu’araa (26), ayat 82;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
Shad (38), ayat 78;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 56;
-Al Ma’aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infithaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11.
Ibnu Qutaibah berkata,
Yaumad diin adalah yaumal qiyaamah (hari kiamat).
Ia dinamakan demikian karena hari itu adalah hari pembalasan dan penghisaban seperti ungkapan perumpamaan "kamaa tadiinu tudaanu" maksudnya sebagaimana engkau berbuat engkau akan dibalas dengannya".

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Juraij, Qatadah dan diriwayatkan dari Nabi, ad diin bermakna pembalasan terhadap amalan-amalan dan penghisabannya.
Allah berfirman,

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ

Maksudnya, diinahum dalam ayat ini adalah hisaabahum (penghisaban mereka).

2. Ad din bermakna hukum dan syar’iat seperti yang terdapat dalam surah An Nuur (24), ayat 2. Lafaz ini dihubungkan dengan lafaz Allah atau diinullah.

Al Fairuz berkata, "Ia bermaksud hukum dan syari’at Allah."

Mujahid berkata,
"Ia bermaksud melaksanakan hudud."

Ibnu Katsir berkata,
"Ia bermaksud hukum dan syari’at Allah."

3. Ad diin dalam surah Yusuf mengandung beberapa makna karena ia dihubungkan dengan lafaz al malik atau diin al malik yaitu:

Ibnu Abbas dan Ad Dahhak memberikannya maksud "Sultan Al Malik" (kekuasaan raja).

Qatadah, Muhammad bin Ka’ab Al Qurazi, Mannar, As Suddi memberikannya maksud keputusan dan hukum raja.

At Tabari berkata,
"Keseluruhan makna diatas saling berdekatan karena barang siapa yang mengambil sebahagian dari kekuasaan raja, maka ia melaksanakan apa yang diperintah dan ia ridha terhadap pelaksanaannya itu selagi tidak melaksanakan diluar dari apa yang diperintahkan.
Hal itu menjadi hukum keatasnya dan hukum atasnya adalah pelaksanaan dan keputusannya.

– Al Fairuz berkata,
"Diin al malik bermakna politik dan kebijaksanaan raja."

Ad diin bermakna agama-agama selain agama Islam seperti yang di sebutkan dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 193;
Al Anfaal (8), ayat 39;
At Taubah (9), ayat 33;
Al Fath (48), ayat 28;
Ash Shaff (61), ayat 9.
Ibnu Katsir menjelaskan ayat wa yakunad diinu lillaah atau wa yakunad diinu kullahuu lillaah bermakna, "Sehingga agama Allah menang dan tinggi dari semua agama."

Ibnu Abbas berkata,
"Sehingga semuanya mentauhidkan Allah dengan ikhlas."

Al Hasan, Qatadah dan Ibn Juraij berkata: "Sehingga semuanya mengatakan Laa Ilaha Illalllah".

Muhammad bin Ishaq berkata,
"Sehingga mentauhidkan Allah dengan ikhlas, tiada di dalamnya kesyirikan dan mencabut segala macam tuhan-tuhan." Seperti dalam hadits shahih dari Rasulullah dimana beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah menghimpunkan bagiku bumi dari timur dan barat dan raja dari umatku akan menyampaikan (menghimpunkan) apa yang diberikan kepadaku dari Nya.

4. Ad diin bermakna ketauhidan, syahadah, mazhab, jalan yang lurus dan semuanya terhimpun dalam agama Islam.
Sebagaimana yang terdapat dalam kebanyakan makna bagi lafaz ad lafaz:

a) Ad dinul qayyim, terdapat dalam surah Al Rum (30), ayat 30.
Dalam Tafsir Al Jalalain, ia bermakna agama yang lurus yaitu mentauhidkan Allah.

Asy Syawkani berpendapat, ia bermakna agama yang menyuruh mendirikan segala perintah karena Allah atau berpegang dengan fitrah.

b) Diinul haq, terdapat dalam surah At Taubah (9), ayat 33, Al Fath (48), ayat 28 dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al Maraghi ia bermaksud cahaya Allah yaitu agama Islam.

c) Diinul qayyimah, terdapat dalam surah Al Bayyinah (98), ayat 4.
Dalam Tafsir Al Azhar bermaksud menyembah Allah, ikhlas beribadah, cenderung berbuat baik, shalat dan zakat.
Itulah inti agama yang dibawa oleh para nabi.

Al Fairuz berkata, "Ia bermakna agama yang lurus yaitu agama Islam.

d) Ad diinul khaalish, terdapat dalam surah Az Zumar (39), ayat 3.
Qatadah berkata,
"Ia bermaksud syahadah yaitu tidak diterima sesuatu amalan sehingga yang beramal itu ikhlas dalam amalannya bagi Allah dan tidak menyekutukan Nya."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 226-229

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 39 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 39 - Gambar 2
Statistik QS. 8:39
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
Sending
User Review
4.8 (16 votes)
Tags:

8:39, 8 39, 8-39, Surah Al Anfaal 39, Tafsir surat AlAnfaal 39, Quran Al Anfal 39, AlAnfal 39, Al-Anfal 39, Surah Al Anfal ayat 39

▪ qs 8:39 ▪ kisah perjanjian sheh abu bakir
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 91 [QS. 37:91]

91. Tidak lama kemudian dia, yakni Nabi Ibrahim, pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu dia berkata kepadanya dengan nada mengejek “Mengapa kamu tidak makan sajian yang mereka sedi … 37:91, 37 91, 37-91, Surah Ash Shaffaat 91, Tafsir surat AshShaffaat 91, Quran Al-Shaffat 91, AshShaffat 91, Ash Shafat 91, Ash Shaffat 91, Surah Ash Shaffat ayat 91

QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 5 [QS. 11:5]

Setelah menjelaskan bahwa seluruh manusia akan kembali dan menghadap Allah pada Hari Kiamat nanti, lalu ayat ini menjelaskan bahwa pengetahuan Allah meliputi apa saja yang ditampakkan maupun yang dise … 11:5, 11 5, 11-5, Surah Hud 5, Tafsir surat Hud 5, Quran Hud 5, Surah Hud ayat 5

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh ...

Benar! Kurang tepat!

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Takdir yang bisa diubah dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #22
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #22 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #22 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya … Amal yang pahalanya terus

Pendidikan Agama Islam #20

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna … melepaskan memberikan membersihkan mengeluarkan memanah Benar! Kurang tepat! Berikut adalah contoh bahwa

Pendidikan Agama Islam #24

Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … العدل الرحيم البصير العظيم الرحمن Benar! Kurang

Instagram