Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 37


لِیَمِیۡزَ اللّٰہُ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ وَ یَجۡعَلَ الۡخَبِیۡثَ بَعۡضَہٗ عَلٰی بَعۡضٍ فَیَرۡکُمَہٗ جَمِیۡعًا فَیَجۡعَلَہٗ فِیۡ جَہَنَّمَ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
Liyamiizallahul khabiitsa minath-thai-yibi wayaj’alal khabiitsa ba’dhahu ‘ala ba’dhin fayarkumahu jamii’an fayaj’alahu fii jahannama uula-ika humul khaasiruun(a);

supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam.
Mereka itulah orang-orang yang merugi.
―QS. 8:37
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Keabadian neraka
8:37, 8 37, 8-37, Al Anfaal 37, AlAnfaal 37, Al Anfal 37, AlAnfal 37, Al-Anfal 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan, bahwa Dia akan memberikan kemenangan kepada orang-orang mukmin dan memberikan kekalahan kepada orang-orang kafir.
Maksudnya ialah untuk memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengar yang lain.

Golongan yang baik ialah mereka yang bergerak di bawah naungan agama tauhid dan berjuang untuk meninggikan kalimat Allah di bawah pimpinan Rasulullah ﷺ untuk mewujudkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta untuk menghancurkan segala sesuatu yang merintanginya.
Dan mencegah segala sesuatu yang menjadi larangan Allah serta menghancurkan segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya larangan itu.
Mereka ini berjuang dengan tenaga, pikiran dan harta benda untuk kepentingan agama.
Sedang golongan yang buruk ialah mereka yang bergelimang dalam kemusyrikan dan menghalang-halangi agama Islam serta melanggar hukum-hukum Allah dan mengobarkan permusuhan dan kekejaman.
Pemisahan antara kedua golongan tersebut merupakan suatu ketentuan yang berlaku terus.
Sedang yang kekal ialah yang baik di antara kedua golongan.

Al Anfaal (8) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kekalahan di dunia dan siksa yang telah menunggu mereka di akhirat, oleh Allah akan dijadikan sebagai batas pemisah antara manusia yang jiwa, tingkah laku dan ucapannya kotor, dari mereka yang hati dan budinya luhur dan ucapan serta tingkah lakunya terpuji.
Juga, agar Allah menjadikan keburukan itu bertumpuk-tumpuk lalu mengumpulkan, merangkai bagian-bagiannya kemudian mencampakkannya ke dalam neraka di hari kiamat.
Akhirnya orang-orang musyrik dan para pelaku kerusakan itu akan merugi dunia dan akhirat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Supaya Allah membedakan) lafal ini berkaitan dengan lafal takuunu pada ayat yang sebelumnya.
Boleh dibaca tidak memakai tasydid atau memakainya, artinya memisahkan (antara golongan yang buruk) orang kafir (dan yang baik) orang mukmin (dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, kesemuanya ditumpukkan-Nya) artinya Allah mengumpulkan mereka secara bertumpuk-tumpuk, sebagian di antara mereka berada di atas sebagian yang lain (dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam.
Mereka itulah orang-orang yang merugi).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah akan mengumpulkan dan menghinakan orang-orang yang kufur kepada Rabb mereka dan orang-orang yang mengeluarkan harta mereka untuk mencegah orang lain beriman kepada Allah dan menghalangi dari jalan-Nya; demi membedakan antara yang buruk dengan yang baik.
Dan Allah akan menjadikan harta haram yang dikeluarkan untuk menghalangi orang dari agama Allah itu semakin bertambah dan bertumpuk, dan dimasukkan-Nya ke dalam Neraka Jahanam.
Orang-orang kafir itu adalah orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya dalam surat Al-Anfal ayat 37 tersebut, yakni supaya Allah memisahkan golongan yang berbahagia dari golongan yang celaka.

Menurut As Suddi makna yang dimaksud ialah supaya Allah membedakan antara orang mukmin dengan orang kafir.
Pemisahan atau perbedaan ini dapat ditafsirkan bahwa kejadiannya adalah di.
akhirat nanti, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya:

Kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutu­kan (Tuhan), "Tetaplah kalian dan sekutu-sekutu kalian di tempat kalian itu." Lalu Kamipisahkan mereka (Yunus:28), hingga akhir ayat.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergplongan-golongan.
(Ar Ruum:14)

pada hari itu mereka terpisah-pisah.
(Ar Ruum:43)

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), "Berpisahlah kalian (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang jahat.
(Yaa Siin:59)

Dapat ditafsirkan pula bahwa adanya pemisahan ini terjadi di dunia melalui apa yang tampak dari amal perbuatan mereka di mata orang-orang mukmin.
Dengan demikian, berarti huruf lam-nya menjadi kausalita bagi harta benda yang dijadikan oleh Allah untuk orang-orang kafir, lalu mereka membelanjakannya untuk menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.
Dengan kata lain, secara singkat disebutkan bahwa sesungguhnya Kami tiada lain menguasakan hal itu kepada mereka hanyalah:

supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik (Al Anfaal:37)

Artinya, siapa yang taat kepada-Nya dengan memerangi musuh-musuh-­Nya yang kafir, atau siapa yang durhaka kepada-Nya dengan mem­bangkang tidak mau melakukan hal itu.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:'

Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah dan agar Allah mengetahui dengan nyata orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui dengan nyata orang-orang yang munafik Kepada mereka dikatakan, "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian)." Mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.”(Ali Imran:166-167), hingga akhir ayat.

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin).
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib.
(Ali Imran:179), hingga akhir ayat.

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar.
(Ali-Imran: 142)

Ayat-ayat yang semisal terdapat pula di dalam surat At-Taubah.
Makna ayat berdasarkan interpretasi ini ialah 'sesungguhnya Kami menguji kalian melalui orang-orang kafir yang memerangi kalian, dan kami jadikan mereka mempunyai kemampuan untuk membelanjakan harta bendanya dengan mengorbankannya untuk keperluan tersebut:

...supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu semuanya ditumpukkan-Nya. Yakni Allah mengumpulkan mereka semua.

Makna ar-rakmu ialah menumpukkan sesuatu, sebagian darinya di atas sebagian yang lain.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya yang menerangkan tentang awan, yaitu:

kemudian menjadikannya bertindih-tindih.
(An Nuur:43)

yaitu bertumpuk-tumpuk dan bertnmpang-tindih, sebagian darinya di atas sebagian yang lain.

...dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam.
Mereka itulah orang-orang yang merugi.

Artinya, mereka adalah orang-orang yang merugi di dunia dan akhiratnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 37

THAYYIB
طَيِّب

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz thayyaba yaitu menjadikan sesuatu baik dan suci.

Ath thayyib mengandung makna setiap sesuatu yang melezatkan indera atau diri, setiap sesuatu yang kosong dari yang menyakitkan dan kotor atau najis, orang yang lepas dari segala kehinaan dan bersifat dengan segala kemuliaan, ungkapan fulaan thayyibal qalb bermakna si fulan batin (hatinya) bersih, begitu juga dengan thayyibal izaar atau kain yang bersih. Ath thayyib minal bilaad artinya tanah yang baik.

Lafaz thayyib disebut 13 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 168;
-Ali Imran (3), ayat 179;
-An Nisaa (4), ayat 2, 43;
-Al Maa'idah (5), ayat 6, 88, 100;
-Al A'raaf (7), ayat 58;
-Al Anfaal (8), ayat 37, 69;
-An Nahl (16), ayat 114;
-Al Hajj (22), ayat 24;
-Faathir (35), ayat 10.

Al Kafawi berkata,
"Aththayyib mengandung tiga makna, yaitu:

-ath thaahir (suci atau bersih),
-al halal (halal),
-al mustalidz (yang melazatkan).

Oleh karena itu lafaz ini dapat digunakan pada perkara akhlak, percakapan dan manusia secara umumnya.

Di dalam Al Qur'an lafaz thayyib mengandung beberapa makna:

1. Halal
Ia dikaitkan dengan makanan. Makna ini terdapat dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 168;
-Al Maa'idah (5), ayat 88;
-Al Anfaal (8), ayat 69;
-An Nahl (16), ayat 16;
-An Nisaa (4), ayat 2.

Muhammad Quraish Shihab menyatakan ahli-ahli tafsir ketika menjelaskan lafaz ini dalam konteks perintah makan menyatakan ia berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (expiry), atau dicampuri benda najis.

Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan yang mengundang selera bagi yang memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya, jadi lafaz thayyib dalam makanan adalah makanan yang sehat, profesional dan selamat.

Sehat berarti makanan yang memiliki zat yang cukup dan seimbang seperti madu (An Nahl (16), ayat 69); padi (As Sajadah (32), ayat 27); ikan (An Nahl (16), ayat 14 dan sebagainya.

Profesional berarti sesuai dengan keperluan pemakan, tidak lebih dan tidak kurang, dan arti selamat ialah dengan memperhatikan sisi takwa yang intinya adalah berusaha menghindari segala yang mengakibatkan siksa dan terganggunya rasa aman.

Dalam surah An Nisaa (4), ayat 2, Sa'id bin Jubair berkata,
"Janganlah kamu menggantikan harta manusia yang haram dengan harta kamu yang halal atau janganlah kamu menggantikan harta kamu yang halal dengan memakan harta mereka yang haram."

2. Suci
Karena lafaz ini dikaitkan dengan perkataan sha'iidan yang berarti debu atau tanah. Makna ini terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 43 dan Al Maa'idah (5), ayat 6.

Ibn Qutaibah berkata,
"Lafaz sha'iidan thayyiban bermakna debu yang bersih:'

Dalam Tafsir Al Jalalayn ia bermakna debu yang suci, maka pukullah dengannya dua kali.

3. Perkataan yang baik
Karena lafaz ini dikaitkan dengan al qaul dan al kalim. Makna untuk lafaz ini terdapat dalam surah Al Hajj (22), ayat 24 dan Faathir (35), ayat 10.

Asy Syaukani menukilkan laporan Ibn Mundzir dan Ibn Abi Hatim dari Isma'il bin Abi Khalid beliau berkata,
"Ia adalah Al Qur'an."

Diriwayatkan Ibn Abi Hatim dari Ibn Zaid beliau berkata,
"La Ilaha lllallah, Wallaahu Akbar Walhamdulillaah bagi al kalim Ath thayyib, yaitu dalam surah Faathir (35), ayat 10

As Sabuni menafsirkan ia bermakna kalam yang baik dan perkataan yang bermanfaat karena di dalam syurga tidak ada perkataan yang sia-sia maupun dusta.

Dalam surah Faathir ia bermakna setiap perkataan yang baik berupa doa, zikir, membaca Al Qur'an, tasbih, tahmid dan sebagainya.

4. Bumi atau tanah yang baik
Ia dikaitkan dengan perkataan 'al balad yaitu negeri, seperti yang terdapat dalam surah Al A'raaf (7), ayat 58.

Ibn Katsir berkata,
"Makna al baladuth thayyib ialah tanah yang baik dan subur yang mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya dengan cepat dan elok," seperti firman Allah yang bermakna "Maka ia (Maryam) diterima oleh Tuhannya dengan didikan yang baik dan dibesarkannya dengan didikan yang baik" (Ali Imran, ayat 37).

Az Zamakhsyari berkata,
"Ia adalah negeri yang baik dengan tanah yang subur lagi mulia."

Ali bin Abi Talhah meriwayatkan dari Ibn Abbas ayat ini merupakan permisalan bagi orang mukmin.

5. Misalan bagi orang Mukmin
Makna ini terdapat dalam surah Ali 'Imran (3), ayat 179; Al Maa'idah (5), ayat 100; dan Al Anfaal (8), ayat 37.

Ibn 'Abbas berkata: "Ia bermakna ahlash sha'adah (ahli kebahagiaan).

Al Qatadah berkata,
"Orang yang berjihad dan berhijrah."

Muqatil berkata,
"Ia bermakna seorang mukmin."

Abu Salih meriwayatkan dari Ibn Abbas ia bermakna amalan yang shaleh.

Ibn Zaid dan Al Zujjaj berkata,
"Ia adalah menafkahkan yang baik di jalan Alah.

Al Fakh Al Razi berkata,
"Ath thayyib ada dua jenis: bersifat jasmani, dan ia telah maklum bagi setiap individu; adapun yang bersifat rohani adalah perkara yang paling baik ialah mengenal Allah dan taat kepada perintah Allah, karena rohani yang mengenal Allah dan berterusan berkhidmat kepada Allah akan bersinar dengan nur makrifat Ilahi yang selalu rindu mendekatkan diri di samping Tuhan pentadbir alam dan masuk ke dalam kumpulan para malaikat serta mendampingi nabi, para shiddiqiin, syuhada' dan orang shaleh.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:351-352

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 37 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending