Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 33 [QS. 8:33]

وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ
Wamaa kaanallahu liyu’adz-dzibahum wa-anta fiihim wamaa kaanallahu mu’adz-dzibahum wahum yastaghfiruun(a);
Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.
―QS. 8:33
Topik ▪ Takut kepada Allah
English Translation - Sahih International
But Allah would not punish them while you, (O Muhammad), are among them, and Allah would not punish them while they seek forgiveness.
―QS. 8:33

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
وَمَا dan tidak

But not
كَانَ adalah

is
ٱللَّهُ Allah

(for) Allah
لِيُعَذِّبَهُمْ akan mengazab mereka

that He punishes them
وَأَنتَ dan/sedang kamu

while you
فِيهِمْ diantara mereka

(are) among them,
وَمَا dan tidak

and not
كَانَ adalah

is
ٱللَّهُ Allah

Allah
مُعَذِّبَهُمْ mengazab mereka

the One Who punishes them
وَهُمْ dan/sedang mereka

while they
يَسْتَغْفِرُونَ mereka meminta ampun

seek forgiveness.

 

Tafsir surah Al Anfaal (8) ayat 33

Tafsir

Alquran

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan hikmah-Nya, Allah tidak akan menurunkan siksa duniawi yang berat pada mereka, sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dengan harapan mereka menyambut seruanmu itu.
Dan bukan kehendak Allah untuk menghukum orang-orang yang durhaka selama mereka meminta ampunan, menyadari dan meninggalkan kekeliruan mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka) oleh sebab apa yang telah mereka minta

(sedangkan kamu berada di antara mereka) karena jika azab itu turun akan menimpa semua orang tanpa kecuali.
Dan tiada suatu umat pun yang diazab melainkan setelah nabi dan kaum mukminin keluar daripadanya.

(Dan tidak pula Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun) karena ternyata di dalam tawaf yang mereka lakukan mereka selalu mengatakan,
“Ampunan-Mu, ampunan-Mu.”
Dan menurut suatu pendapat dikatakan bahwa orang-orang yang meminta ampunan itu adalah orang-orang lemah dari kalangan kaum mukminin yang tinggal bersama dengan orang-orang kafir sebagaimana yang telah dijelaskan oleh firman-Nya,
“Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.”
―QS. Al-Fath [48]: 25―.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan Allah tidak akan menyiksa orang-orang musyrik itu, sedangkan kamu (wahai Rasul) ada di antara mereka.
Allah tidak akan menyiksa mereka apabila mereka masih mau meminta ampun.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah Musa ibnu Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Abu Zamil Sammak Al-Hanafi, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik bertawaf di Baitullah seraya mengatakan,
“Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.
Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Maka Nabi ﷺ bersabda,
“Ya, ya.”
Mereka mengatakan pula,
“Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.
Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu.
Engkau memilikinya, sedangkan dia tidak memiliki.”
Lalu mengatakan pula,
“Ampunan-Mu, ampunan-Mu.”
Maka Alah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau berada di antara mereka., hingga akhir ayat.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa di kalangan mereka (orang-orang musyrik Mekah) terdapat dua keamanan yang menyelamatkan mereka dari azab Allah, yaitu diri Nabi ﷺ dan permohonan ampun.
Setelah Nabi ﷺ tiada, maka yang tertinggal hanyalah permohonan ampun (istigfar).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar-dari Yazid ibnu Ruman dan Muhammad ibnu Qais, keduanya mengatakan bahwa sebagian orang-orang Quraisy berkata kepada sebagian lainnya,
Muhammad telah dimuliakan oleh Allah di antara kita.”
“ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau., hingga akhir ayat.
Ketika sore hari mereka menyesali apa yang telah mereka katakan seraya mengatakan,
“Ampunan-Mu ya Allah.”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya, Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka. sampai dengan firman-Nya:
…tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayat­kan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.
Allah tidak akan menurunkan azabnya kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka.
Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:

Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun
Maksudnya, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah termasuk golongan orang-orang yang beriman, lalu mereka meminta ampun.
Yang dimaksud dengan istigfar ialah salat, dan yang dimaksudkan dengan mereka adalah penduduk Mekah.
Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Atiyyah Al-Aufi, Sa’id ibnu Jubair, dan As-Saddi.

Ad-Dahhak dan Abu Malik mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.
Yakni kaum mukmin yang masih berada di Mekah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Gaffar ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Addi, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan,
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi umat ini dua keamanan, karenanya mereka terus-menerus dalam keadaan terpelihara dan terlindungi dari azab selagi dua keamanan itu ada di kalangan mereka.
Salah satu di antaranya telah dicabut oleh Allah subhanahu wa ta’ala., sedangkan yang lainnya masih tetap ada di antara mereka.”
Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.

Abu Saleh Abdul Gaffar mengatakan, telah menceritakan kepadaku salah seorang teman kami, bahwa An-Nadr ibnu Addi pernah menceritakan hadis ini kepadanya, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas.
Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih dan Ibnu Jarir.
melalui Abu Musa Al-Asy’ari.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan Abul Ala An-Nahwi Al-Muqri.

Imam Turmuzi mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, tefah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Ismail ibnu Ibrahim ibnu Muhajir, dari Abbad ibnu Yusuf, dari Abu Burdah ibnu Abu Musa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda,
“Allah menurunkan dua keamanan bagi umatku,”
yaitu disebutkan dalam firman-Nya:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.
Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.
Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda,
“Apabila aku telah tiada, maka aku tinggalkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah) di kalangan mereka sampai hari kiamat.”

Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Haisam.
dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya setan berkata,
“Demi keagungan-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi roh masih berada di kandung badan mereka.”
Maka Tuhan berfirman “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku Aku Senantiasa memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.”

Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Imam Ahmad mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Umar, telah menceritakan pula kepada kami Rasyid (yaitu Ibnu Sa’d), telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Sa’d At-Tajibi, dari seseorang yang menceritakannya kepada dia, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Seorang hamba dalam keadaan aman dari azab Allah selagi ia masih memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Anfaal (8) ayat 33
Telah menceritakan kepadaku Ahmad Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz Telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdu Hamid yaitu Ibnu Kurdid sahabat Az Ziyadi, dia mendengar Anas bin Malik ra. berkata,
Abu Jahl berkata,
“Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Maka turunlah ayat: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram.. (Al Anfal: 33-34).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4281

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 33

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bahwa Abu Jahl berkata: “Ya Allah, sekiranya al-Qur’an ini benar-benar dari-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakanlah kepada kami siksa yang pedih.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menjamin bahwa Allah tidak akan menimpakan siksaan dari langit selagi Nabi Muhammad masih ada dan selagi mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin sedang tawaf di Baitullah dan berdoa: “Ghufraanaka, ghufraanaka (kami memohon ampunan-Mu, kami memohon ampunan-Mu)”.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Ruman dan Muhammad bin Qais bahwa kaum Quraisy sedang berbicara di antara mereka: “Muhammad telah dimuliakan oleh Allah lebih daripada kita.” Maka mereka berdoa: “Ya Allah sekiranya Muhammad itu benar utusan-Mu, timpakanlah batu dari langit kepada kami.” Pada sore harinya mereka menyesali ucapannya itu, dan bertobat dengan ucapan ghufraanakallaahumma (kami memohon ampunan-Mu ya Allah).
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33-34) yang menjamin keselamatan mereka dari siksaan Allah selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abazi bahwa pada waktu Rasulullah berada di Mekah, Allah menurunkan, wa maa kaanallaahu li yu’adzdzlibahum wa angta fiihim… (dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka…) (al-Anfaal: 33); ketika Rasulullah ﷺ pindah ke Madinah, Allah menurunkan..
wamaa kanallaahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfiruun…( dan tidaklah [pula] Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun) (akhir al-Anfaal: 33), karena di Mekah masih tertinggal kaum Muslimin yang selalu bertobat.
Setelah semuanya hijrah dari Mekah ke Madinah, Allah menurunkan, wa maa lahum al laa yu’adzdzibahumullah…(kenapa Allah tidak mengazab mereka..) (awal al-Anfaal: 34).
Setelah itu Allah mengizinkan mereka membebaskan kota Mekah sebagai siksaan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an.

Sumber : Asbabun NuzulK.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Anfaal (75 ayat)
Qari Internasional

QS. Al-Anfaal (8) : 33 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. Al-Anfaal (8) : 33 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. Al-Anfaal (8) : 33 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan

Gambar Ayat

Surah Al Anfaal ayat 33 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 33 - Gambar 2 Surah Al Anfaal ayat 33 - Gambar 3

Statistik QS. 8:33
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
Sending
User Review
4.2 (10 votes)

Tags:

Quran 8:33, 8 33, 8-33, Al Anfaal 33, tafsir surat AlAnfaal 33, Al Anfal 33, AlAnfal 33, Al-Anfal 33

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Hadits Shahih

Podcast

Haditds & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #8

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … mubah sunnah haram boleh makruh Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan…..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. penghormatan Allah SWT cobaan

Instagram