Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 30


وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ
Wa-idz yamkuru bikal-ladziina kafaruu liyutsbituuka au yaqtuluuka au yukhrijuuka wayamkuruuna wayamkurullahu wallahu khairul maakiriin(a);

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu.
Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
―QS. 8:30
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pengkhianatan orang musyrikin
8:30, 8 30, 8-30, Al Anfaal 30, AlAnfaal 30, Al Anfal 30, AlAnfal 30, Al-Anfal 30
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 30. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan Nabi Muhammad dan sahabatnya tentang suatu peristiwa yang pernah mereka alami pada saat mereka berada di Mekah.
Mereka diselamatkan dari siksaan orang-orang musyrikin.
Pada ketika itu orang-orang kafir Quraisy merencanakan tipu daya yang harus dilakukan terhadap Nabi, yaitu menawan Nabi sehingga ia tidak dapat bertemu dengan manusia dan tidak dapat lagi menyebarkan agama Islam, atau membunuh Nabi dengan cara yang menyukarkan kabilahnya untuk menuntut balas, sehingga tidak menyebabkan bahaya bagi siapa yang membunuhnya, atau mengusir Nabi dan mengasingkan ke tempat yang terpencil.

Diriwayatkan dari ahli-ahli tafsir bahwasanya Abu Talib berkata kepada Nabi:

Abu Talib bertanya kepada Nabi ﷺ.: "Apa yang dirundingkan oleh kaummu?"
Nabi menjawab: "Mereka menginginkan untuk memenjarakanku, membunuhku, atau mengusirku." Abu Talib bertanya: "Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?"
Nabi Muhammad menjawab: "Tuhanku." Abu Talib berkata: "Tuhan itu adalah Tuhanmu, maka perintahkanlah Dia (menjagamu) baik-baik." Nabi Muhammad menjawab: "Apakah aku akan memerintah Tuhanku?"
Abu Talib menjawab: "Ya.
Bahkan Tuhanmu telah memerintahkan kepadaku (supaya menjagamu)." Kemudian turunlah ayat ini."
(H.R Ibnu Juraij dan 'Ata)

Pada saat itu orang-orang kafir Quraisy merencanakan tipu daya.
Allah subhanahu wa ta'ala memberikan bantuan-Nya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
yaitu Allah subhanahu wa ta'ala menggagalkan usaha mereka dengan jalan memerintahkan Nabi dan sahabatnya berhijrah ke Madinah sehingga Nabi dan para sahabatnya selamat dari tipu daya orang musyrikin.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa Dia adalah sebaik-baik pembalas tipu daya, yaitu dapat mengalahkan tipu daya orang-orang musyrikin, dan orang-orang kafir Quraisy yang ingin mencelakakan Nabi.

Al Anfaal (8) ayat 30 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi, ingatlah apa yang diberikan Allah padamu, manakala orang-orang musyrik merencanakan makar untuk mencelakakan dirimu, dengan menahan, membunuh atau mengusirmu.
Mereka mengatur rencana jahat, tapi Allah juga punya rencana menyelamatkan dirimu dari kejahatan mereka.
Dan rencana Allah itu lebih baik, lebih kuat dan lebih unggul.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah hai Muhammad (ketika orang-orang kafir Quraisy merencanakan tipu muslihat terhadap dirimu) mereka mengadakan pertemuan di Darun Nadwah tempat mereka bermusyawarah guna mengadakan makar terhadap dirimu (untuk menangkapmu) untuk mengikatmu dan memenjarakanmu (atau membunuhmu) di mana mereka secara beramai-ramai membunuhmu (atau mengusirmu) dari Kota Mekah.
(Mereka merencanakan tipu muslihat) terhadap dirimu (akan tetapi Allah menggagalkan rencana mereka dengan cara memberikan pemberitahuan kepadamu melalui wahyu-Nya akan rencana mereka dan Dia memerintahkan kamu untuk keluar terlebih dahulu.
(Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu muslihat).
Dia Maha Mengetahui tentang tipu muslihat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan ingatlah (wahai Rasulullah) ketika orang-orang musyrik Makkah akan memperdayaimu untuk menangkap, membunuh, atau mengusirmu dari negerimu.
Mereka membuat tipu daya, akan tetapi Allah mengembalikan tipu daya itu kepada mereka sebagai balasan bagi mereka, dan Allah-lah sebaik-baik pembuat tipu daya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: untuk menangkapmu.
(Al Anfaal:30) Yakni untuk membelenggumu.

Ata dan Ibnu Zaid mengatakan, makna yang dimaksud ialah 'untuk menangkapmu'.
As-Saddi mengatakan bahwa al-isbat artinya memenjarakan dan mengikat.
Apa yang dikatakan oleh As-Saddi ini mencakup semua pendapat yang disebutkan di atas.
Dalam pendapat ini tersimpulkan semua pendapat di atas, mengingat pengertian inilah yang kebanyakan dilakukan oleh seseorang yang hendak berbuat jahat terhadap orang lain.

Kemudian kisah ini dan persekongkolan orang-orang Quraisy untuk melakukan makar guna memenjarakan Nabi ﷺ atau mengusirnya atau membunuhnya hanyalah terjadi di malam hijrah.
Hal ini pun baru terjadi selang tiga tahun kemudian, sesudah Abu Talib meninggal dunia.
Dengan mening­galnya Abu Talib barulah mereka berani berbuat seenaknya terhadap diri Nabi ﷺ, di masa Abu Talib masih ada, mereka tidak berani berbuat demikian karena Abu Talib selalu melindungi dan membelanya serta menanggung semua bebannya.

Dalil yang menunjukkan kebenaran dari pendapat yang kami katakan ialah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad ibnu lshaq ibnu Yasar, penulis kitab Al-Magazi.
Ia meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas.
Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadanya Al-Kalbi, dari Bazan maula Ummu Hani, dari Ibnu Abbas.
bahwa segolongan orang dari kalangan orang-orang terhormat kabilah Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nudwah.
Kemudian Iblis muncul di kalangan mereka dalam rupa seorang syekh yang anggun.
Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, "Siapakah engkau ini?"
Iblis yang berupa orang tua itu menjawab, "Aku seseorang dari Najd.
Aku mendengar bahwa kalian mengadakan pertemuan, maka aku berkeinginan untuk menghadiri pertemuan kalian ini, dan saran serta pendapatku nanti niscaya tidak akan sia-sia bagi kalian." Mereka berkata, "Kalau begitu, silakan masuk." Maka iblis pun bergabung bersama dengan mereka.
Iblis membuka pembicaraannya, "Kemukakanlah pendapat kalian terhadap lelaki ini (Nabi ﷺ).
Demi Allah, benar-benar telah dekat waktunya dia akan menyaingi urusan kalian dengan urusannya." Seseorang di antara mereka berkata, "Penjarakanlah dia dalam ikatan, kemudian tunggulah saat kematiannya dalam keadaan demikian, sebagaimana telah mati orang-orang yang sebelumnya yang semisal dengan dia dari kalangan ahli syair, seperti Zuhair dan Nabigah.
Sesungguhnya dia hanyalah salah seorang dari mereka." Maka si iblis —musuh Allah itu yang berupa seorang tua dari Najd itu— menjerit seraya berkata, "Demi Allah, ini bukanlah pendapat yang tepat bagi kalian.
Demi Allah, Tuhannya kelak benar-benar akan membebaskannya dari tahanannya untuk dihantarkan lagi kepada para sahabatnya.
Dan dalam waktu yang dekat para sahabatnya pasti akan berhamburan menuju kepadanya untuk membebaskannya dari tangan kalian, lalu para sahabatnya membelanya dari ulah kalian.
Maka saya tidak dapat menjamin keselamatan kalian, mereka pasti akan mengeluarkan (mengusir) kalian dari negeri kalian sendiri." Para hadirin dalam pertemuan itu berkata, "Orang tua ini benar, maka kemukakanlah oleh kalian pendapat lainnya." Salah seorang dari mereka ada yang mengatakan, "Kita usir saja dia sehingga kita terbebas darinya, karena sesungguhnya apabila dia telah diusir, niscaya tidak akan membahayakan kalian apa yang diper­buatnya di mana pun ia berada selagi jauh dari kalian, dan urusannya bukan lagi di antara kalian, tetapi di kalangan orang lain." Iblis berkata, "Demi Allah, ini pun bukan pendapat yang tepat bagi kalian, bukankah kalian telah mendengar sendiri tutur katanya yang manis dan lisannya yang fasih sehingga dapat mengetuk hati orang yang mendengar pembicaraannya?
Demi Allah, seandainya kalian melakukan hal itu, dan dia menyeru orang-orang Arab, niscaya semua orang Arab akan mendukungnya.
Kemudian mereka benar-benar akan datang kepada kalian untuk mengusir kalian dari negeri kalian dan membunuh para pemimpin kalian." Mereka berkata, "Benarlah apa yang dikatakannya, demi Allah.
Maka kemukakanlah pendapat lainnya." Abu Jahal la'natullahi 'alaihi mengemukakan pendapatnya, "Demi Allah, sesungguhnya aku menyarankan kepada kalian suatu pendapat yang belum kalian sadari sebelumnya.
Menurutku tiada pendapat lain kecuali yang akan kukemukakan." Mereka berkata, "Pendapat apakah itu?"
Abu Jahal berkata, "Kalian harus mengambil seorang pemuda yang kuat dan sigap dari setiap kabilah.
Kemudian setiap pemuda dipersenjatai dengan pedang yang tajam, lalu mereka memukulnya secara beramai-ramai dengan sekali pukul.
Apabila dia (Muhammad) terbunuh, maka darahnya terbagi-bagi di kalangan semua kabilah yang terlibat.
Maka menurut dugaanku kabilah Bani Hasyim tidak akan kuat berperang menghadapi semua kabilah Quraisy.
Apabila mereka menyadari kemampuannya, niscaya mereka mau menerima 'aql (diat), sehingga kita terbebas darinya dan kita telah memutuskan gangguannya." Maka si orang tua dari Najd itu berkata, "Ini baru suatu pendapat yang jitu, demi Allah.
Menurut hematku pendapat yang terbaik adalah apa yang baru dikemukakan oleh orang ini." Maka mereka bubar dengan kesepakatan yang bulat atas usul Abu Jahal itu.
Kemudian Malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ dan memerintahkan kepadanya agar jangan menginap di tempat tidur yang biasa ditempatinya, dan memberitahukan kepadanya tentang tipu muslihat dan makar yang akan dilakukan oleh kaumnya.
Pada malam itu Rasulullah ﷺ tidak menginap di rumahnya, dan saat itu juga Allah memerintahkan kepadanya untuk berhijrah, lalu Allah menurunkan kepadanya surat Al-Anfal setibanya di Madinah.
Di dalam surat Al-Anfal disebutkan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya dan ujian yang telah ditimpakan kepadanya dari sisi- Nya.

Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu.
Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Sehubungan dengan ucapan orang-orang kafir Quraisy yang mengatakan, "Tunggulah saat kematiannya seperti kematian orang-orang yang sebelumnya dari kalangan para penyair," Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Bahkan mereka mengatakan, "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya " (Ath Thuur:30)

Hal tersebut terjadi pada hari pertemuan mereka untuk berbuat makar terhadap Nabi ﷺ yang dikenal dengan 'hari Zahmah'.
Hal seperti ini pun telah diriwayatkan dari As-Saddi.
Dan sehubungan dengan niat mereka untuk mengusirnya dari Mekah, Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu darinya, dan kalau terjadi demikian, niscaya-sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja.
(Al Israa':76)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid, Urwah ibnuz Zubair, Musa ibnu Uqbah, Qatadah, Miqsam, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, bahwa lalu Rasulullah ﷺ tinggal dalam keadaan menunggu perintah Allah (untuk hijrah).
Hingga manakala kabilah Quraisy mengadakan pertemuan dan sepakat untuk berbuat makar terhadap dirinya menurut apa yang mereka kehendaki, maka Jibril 'alaihis salam datang kepada Nabi ﷺ dan memerintahkan beliau agar malam itu tidak tidur di tempat biasanya.
Lalu Rasulullah ﷺ memanggil Ali ibnu Abu Talib dan memerin­tahkannya untuk tidur di tempat tidurnya serta menyelimuti dirinya dengan kain selimut hijau yang biasa dipakainya, maka Ali mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya.
Selanjutnya Rasulullah ﷺ sendiri keluar dengan melewati kaum , musyrik yang telah berada di depan pintu rumahnya.
Nabi ﷺ keluar dengan membawa segenggam pasir, kemudian beliau taburkan pasir itu ke atas kepala mereka.
Mereka tidak dapat melihatnya karena Allah telah menutupi mata mereka dari Nabi-Nya hingga mereka tidak dapat melihatnya.
Nabi ﷺ keluar seraya membacakan firman-Nya:

YaSin, Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah.
(Yaa Siin:1-2) sampai dengan firman-Nya:

dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
(Yaa Siin:9)

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, hal yang menguatkan riwayat di atas telah diriwayatkan dari Ikrimah.

Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak telah meriwayatkan melalui hadis Abdullah ibnu Usman ibnu Khatsyam, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Siti Fatimah masuk menemui Rasulullah ﷺ seraya menangis.
Maka Nabi ﷺ bertanya, "Hai putriku, apakah yang menyebabkan engkau menangis?"
Siti Fatimah menjawab, "Wahai ayahku, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan golongan orang-orang yang terkemuka dari kabilah Quraisy telah membuat perjanjian dengan nama Lata, Uzza, dan Manat yang ketiga di Hijir, bahwa seandainya mereka melihatmu, maka mereka akan bersama-sama bangkit ke arahmu untuk membunuh­mu secara beramai-ramai.
Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah mengenali bagiannya dari darahmu." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ambilkanlah air wudu untukku." Lalu Rasulullah ﷺ berwudu, kemudian keluar menuju masjid.
Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, "Ini dia orangnya!" Tetapi dengan serta merta kepala mereka tertunduk dan mereka tidak dapat mengangkat pandangannya.
Lalu Rasulullah ﷺ mengambil segenggam pasir dan menaburkannya kepada mereka seraya bersabda, "Semoga wajah-wajah ini kelilipan." Maka tiada seorang lelaki pun dari mereka yang terkena oleh pasir itu melainkan pasti gugur dalam Perang Badar dalam keadaan kafir.

Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.
Imam Hakim mengatakan bahwa ia tidak melihat adanya cela dalam sanad hadis ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, telah menceritakan kepadaku Usinan Al-Jariri, dari Miqsam maula Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu muslihat terhadapmu.
(Al Anfaal:30), hingga akhir ayat, Bahwa orang-orang Quraisy mengadakan musyawarah di Mekah pada suatu malam.
Sebagian dari mereka mengatakan, "Besok pagi kita tangkap dia, lalu kita ikat." Yang mereka maksudkan adalah Nabi ﷺ Sebagian yang lain mengatakan, "Tidak, tetapi kita harus membunuhnya." Sedangkan sebagian lagi mengatakan, "Tidak, tetapi kita usir saja dia." Lalu Allah subhanahu wa ta'ala.
memperlihatkan makar tersebut kepada Nabi-Nya.
Maka Ali r.a.
tidur di tempat tidur Rasulullah ﷺ, dan Nabi ﷺ sendiri berangkat menuju gua, sedangkan orang-orang musyrik semalaman menjaga Ali yang mereka sangka Nabi ﷺ Kemudian pada pagi harinya mereka menyerangnya secara bersamaan, tetapi ketika mereka membukanya ternyata dia adalah Ali.
Allah membalas tipu muslihat mereka.
Lalu mereka bertanya, "Ke manakah temanmu ?” Lalu mereka menelusuri jejaknya.
Ketika mereka sampai di bukit, mereka kehilangan jejak, kemudian mereka mendaki bukit itu dan melewati gua yang dimaksud, tetapi mereka melihat di pintu gua itu ada sarang laba-laba.
Maka mereka berkata, "Seandainya dia memasuki gua ini, niscaya sarang laba-laba itu tidak akan ada lagi di mulutnya.
Nabi ﷺ tinggal di dalam gua itu selama tiga malam.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja'far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembatas tipu daya, (Al Anfaal:30) Yakni engkau (Muhammad) membalas tipu daya mereka dengan tipu daya-Ku Yang Mahateguh, hingga Aku selamatkan kamu dari mereka.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 30

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika segolongan kaum Quraisy dan pembesar dari suku-suku lainnya akan memasuki Darun Nadwah (balai pertemuan), iblis, yang menyeru (menyamar) sebagai orang yang patut dipertuankan dan dihormati, menghadang mereka.
Ketika melihatnya, mereka bertanya: “Siapakah tuan?” Iblis menjawab:
“Saya seorang syekh dari Najd yang ingin mendengar apa yang akan dimusyawarahkan oleh kalian (tentang Muhammad), dan ingin menyaksikan permusyawaratan itu.
Mudah-mudahan aku dapat menyumbangkan fikiran dan nasehat.” Merekapun menyetujuinya.
Lalu iblis pun masuk bersama mereka.

Syekh Najd (iblis) berkata: “Bagaimana pendapat kalian tentang (hukuman yang pantas bagi) Muhammad?” Salah seorang dari mereka berkat: “Masukkan saja ke dalam penjara dan ikatlah kaki dan tangannya sampai mati, sebagaimana matinya dua orang penyair, Zuhair dan an-Nabighah, karena perbuatannya pun sama seperti salah seorang diantara mereka.” ‘Aduwwullah (si musuh Allah) Syekh Najd berkata: “Demi Allah, pendapat seperti itu tidak baik, karena nanti akan ada orang yang simpati kepadanya, lalu memberitahukan tempat tahanannya kepada shahabat-shahabatnya.
Mereka akan segera menyerbu, mengambil dari tangan kalian dan menjaganya.
Dengan demikian kalian tidak akan aman dari gangguan mereka yang akan mengusir kalian dari negeri ini.
Cobalah keluarkan pendapat yang lain.”

Salah seorang lainnya berkata: “Usir saja dia dari negeri kita, agar kita dapat terbebas dari gangguan dan ucapannya.” Berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah pendapat inipun tidak baik.
Apakah tuan-tuan tidak mengenal omongannya yang begitu menarik, lisannya yang begitu lincah, dan perkataannya yang begitu manis?
Demi Allah jika kalian berbuat demikian, orang Arab dan segala suku akan mengikutinya dan menurut kepadanya.
Akhirnya mereka akan bersatu padu mengusir kalian dari tanah tumpah darah kalian dan akan membunuh kalian.” Mereka berkata: “Benar, demi Allah, cobalah kemukakan pendapat yang lainnya.” Abu Jahl berkata: “Demi Allah, aku akan memberikan pendapat yang tidak ada taranya.”

Mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu itu?” Abu Jahl berkata: “Kamu ambil dari setiap kabilah, seorang pemuda yang kuat dan gagah berani.
Masing-masing dibekali pedang yang tajam dan ditugasi mencincang Muhammad bersama-sama, sehingga pertanggungjawabannya terbagi ke seluruh kabilah.
Aku yakin, Bani Hasyim tidak akan mampu melawan seluruh suku Quraisy.”
Pendapat ini diterima dan diputuskan secara aklamasi karena menurut mereka masuk akal.
Maka berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah, itu buah pikiran yang sangat baik.
Aku tidak mendapat yang lainnya.” Merekapun bubar dari tempat pertemuan itu untuk melaksanakan keputusannya.

Maka datanglah Jibril kepada Nabi ﷺ memerintahkan agar beliau tidak tidur di tempat yang biasa, dan menyampaikan keputusan pertemuan mereka.
Maka Rasulullah pada malam itu tidak bermalam di rumahnya.
Allah memberi izin kepada beliau untuk meninggalkan kota Mekah.
Ayat ini (al-Anfaal: 30) turun setelah Rasulullah sampai ke Madinah, yang menerangkan Nikmat yang diberikan Allah kepada beliau (agar disyukuri).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ‘Ubaid bin ‘Umair yang bersumber dari al-Muththalib bin Abi Wada’ah, bahwa Abu Thalib bertanya kepada Nabi ﷺ: “Tahukah engkau apa yang dimusyawarahkan oleh kaum-mu (Quraisy)?” Nabi menjawab:
“Mereka akan memenjarakanku, membunuhku, atau mengusirku.” Berkatalah Abu Thalib: “Siapa yang memberitahu hal itu kepadamu?” Nabi menjawab:
“Raab-ku.” Abu Thalib berkata: “Rabb-mu adalah sebai-baik Rabb.
Aku berwasiat agar engkau berbuat baik kepada-Nya.” Nabi bersabda: “Aku menerima perintah-Nya dengan sebaik-baiknya, dan Rabb-ku telah berbuat baik kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 30) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Ibnu Katsir berkata: “Hadits ini gharib bahkan munkar, karena menyebut Abu Thalib pada riwayat hijrah, padahal Abu Thalib sudah meninggal sebelumnya.”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 30 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 30



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending







✔ Jelaskan ayat alquran 8:30