Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 27


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَخُوۡنُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ وَ تَخُوۡنُوۡۤا اَمٰنٰتِکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa takhuunuullaha warrasuula watakhuunuu amaanaatikum wa-antum ta’lamuun(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
―QS. 8:27
Topik ▪ Membuat perjanjian dengan orang musyrik
8:27, 8 27, 8-27, Al Anfaal 27, AlAnfaal 27, Al Anfal 27, AlAnfal 27, Al-Anfal 27
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menyeru kaum Muslimin agar mereka tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengabaikan kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan, melanggar larangan-larangan-Nya yang telah ditentukan dengan perantaraan wahyu.
Dan tidak mengkhianati amanat yang telah dipercayakan kepada mereka, yaitu mengkhianati segala macam urusan yang menyangkut ketertiban umat, seperti urusan pemerintahan, urusan perang, urusan perdata, urusan kemasyarakatan dan tata tertib hidup masyarakat.
Untuk mengatur segala macam urusan yang ada dalam masyarakat itu diperlukan adanya peraturan yang ditaati oleh segenap anggota masyarakat dan oleh pejabat-pejabat yang dipercaya mengurusi kepentingan umat.
Peraturan-peraturan itu secara prinsip telah diberikan ketentuannya secara garis besar di dalam Alquran dan Hadis.
Maka segenap yang berpautan dengan segala urusan kemasyarakatan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan.
Karenanya segenap peraturan yang menyangkut kepentingan umat tidak boleh dikhianati, dan wajib ditaati sebagaimana mestinya.
Hampir seluruh kegiatan dalam masyarakat ini berhubungan dengan kepercayaan itu.
Itulah sebabnya maka Allah subhanahu wa ta'ala melarang kaum Muslimin mengkhianati amanat karena apabila amanat sudah tidak terpelihara lagi berarti hilanglah kepercayaan.
Dan apabila kepercayaan telah hilang maka berarti ketertiban hukum tidak akan terpelihara lagi dan ketenangan hidup bermasyarakat tidak dapat dinikmati lagi.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa bahaya yang akan menimpa masyarakat lantaran mengkhianati amanat yang telah diketahui, baik bahaya yang akan menimpa mereka di dunia, yaitu merajalelanya kejahatan dan kemaksiatan yang menggoncangkan hidup bermasyarakat, ataupun penyesalan yang abadi dan siksaan api neraka yang akan menimpa mereka di akhirat nanti.

Khianat adalah sifat orang-orang munafik, sedang amanah adalah sifat orang-orang mukmin.
Maka orang mukmin harus menjauhi sifat khianat itu agar tidak kejangkitan penyakit nifak yang dapat mengikis habis imannya.
Anas bin Malik berkata:

Rasulullah ﷺ pada setiap khutbahnya bersabda: "Tidak beriman orang yang tak dapat dipercaya dan tidak beragama orang yang tak dapat dipercaya.
(H.R Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik)

Sabda Nabi ﷺ.:

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga.
Apabila menuturkan kata-kata ia berdusta, dan apabila berjanji ia menyalahi, dan apabila diberi kepercayaan ia berkhianat.
(H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Abdullah bin Abu Qatadah berkata:

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah pada ketika Rasulullah ﷺ mengepung suku Quraizah dan memerintahkan mereka untuk menerima putusan Sa`ad.
Sesudah itu Quraizah berunding dengan Abu Lubabah tentang menerima putusan Sa'ad itu, karena keluarga Abu Lubabah dan harta bendanya berada dalam kekuasaan mereka.
Kemudian Quraizah menunjuk ke lehernya (yakni sebagai tanda untuk disembelih).
Abu Lubabah berkata: "Sebelum kedua telapak kakiku bergerak, aku telah mengetahui bahwa diriku telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya." Kemudian ia bersumpah tidak akan makan apa pun sehingga ia mati, atau Allah menerima taubatnya.
Kemudian ia pergi ke mesjid dan mengikat dirinya ke tiang, dan tinggal beberapa hari di sana sehingga jatuh pingsan karena badannya sangat lemah.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubatnya.
Dan ia bersumpah, bahwa dia tidak boleh dilepaskan dirinya dari ikatannya selain oleh Rasulullah sendiri.
Kemudian ia berkata: "Hai Rasulullah! Saya bernazar untuk melepaskan hartaku sebagai sedekah." Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah bersedekah sepertiganya."
(H.R Saad bin Mansur dari Abdillah bin Abi Qatadah)

Al Anfaal (8) ayat 27 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, percaya dan tunduklah kepada kebenaran.
Allah tidak membenarkan ada orang dari kalangan kalian yang berkhianat kepada-Nya dan rasul-Nya dengan berpihak kepada penentang-penentang kebenaran itu.
Atau mengkhianati orang lain dalam soal pengambilan harta rampasan perang dan berpangku tangan enggan berjihad.
Dan jangan pula kalian mengkhianati amanat orang lain sedangkan kalian memahami perintah dan larangan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul-Nya dan) jangan pula (kalian mengkhianati amanat-amanat kalian) yakni apa-apa yang dipercayakan kepada kalian berupa agama dan hal-hal yang lain (sedangkan kalian mengetahui).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti syariat-Nya, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dengan meninggalkan perintah-perintah-Nya dan mengerjakan apa yang Dia larang.
Janganlah kalian menyia-nyiakan apa yang Allah percyakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui bahwa amanah (kepercayaan) itu wajib ditunaikan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Abdur Razzaq ibnu Abu Qatadah dan Az-Zuhri mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah ﷺ mengutusnya kepada Bani Quraizah untuk menyampaikan pesan beliau agar mereka tunduk di bawah hukum Rasulullah ﷺ Lalu orang-orang Bani Quraizah meminta saran dari Abu Lubabah mengenai hal tersebut, maka Abu Lubabah mengisyarat­kan kepada mereka dengan tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya ialah disembelih, yakni mati.

Kemudian Abu Lubabah sadar bahwa dengan perbuatannya itu berarti dia telah berbuat khianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka ia bersumpah bahwa dirinya tidak akan makan hingga mati atau Allah menerima tobatnya.

Lalu Abu Lubabah pergi ke masjid Madinah dan mengikat dirinya di salah satu tiang masjid.
Dia tinggal dalam keadaan demikian selama sembilan hari hingga tak sadarkan dirinya karena kepayahan.
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya bahwa tobat Abu Lubabah diterima.

Kemudian orang-orang datang kepadanya menyampaikan berita gembira bahwa Allah telah menerima tobatnya.
Mereka bermaksud akan melepaskan ikatannya dari tiang masjid itu, tetapi Abu Lubabah ber­sumpah bahwa jangan ada seorang pun yang melepaskannya dari tiang masjid itu selain Rasulullah ﷺ dengan kedua tangannya sendiri.
Akhirnya Rasulullah ﷺ melepaskan ikatannya, lalu berkatalah Abu Lubabah, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernazar bahwa seluruh hartaku akan aku habiskan untuk sedekah." Maka Rasulullah ﷺbersabda :

Cukuplah bagimu dengan menyedekahkannya sepertiga darinya

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris.
telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris At-Taifi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Aun As-Saqafi, dari Al-Mugirah ibnu Syu'bah yang mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan ter­bunuhnya Usman r.a., yaitu firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
(Al Anfaal:27), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Bisyr ibnu Ma'ruf, telah menceritakan kepada kami Syababah ibnu Siwar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Muharram yang mengatakan bahwa ia pernah bersua dengan Ata ibnu Abu Rabah, lalu Ata menceritakan kepadanya bahwa Jabir ibnu Abdullah pernah menceritakan kepadanya bahwa Abu Sufyan keluar dari Mekah (mengadakan perjalanan).
Lalu Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kepadanya bahwa Abu Sufyan berada di tempat anu dan anu.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Abu Sufyan sekarang telah berada di tempat anu dan anu.
Maka berangkatlah kalian untuk menyerangnya, tetapi rahasiakanlah misi kalian." Tetapi ada seorang munafik berkirim surat kepada Abu Sufyan, bahwa Muhammad sedang mencarinya, maka dia diminta waspada.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul(Nya) dan (Juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian.
(Al Anfaal:27), hingga akhir ayat.

Hadis ini garib sekali, dan sanad serta teksnya masih perlu diper­timbangkan

Di dalam kitab Sahihain disebutkan kisah mengenai Hatib ibnu Abu Balta'ah, bahwa ia menulis surat kepada orang-orang Quraisy untuk memberitahukan tentang rencana Rasulullah ﷺ terhadap mereka di tahun kemenangan atas kota Mekah.
Maka Allah memperlihatkan hal itu kepada Rasul-Nya.
Lalu Rasulullah ﷺ mengirimkan suatu pasukan untuk mengejar pengirim surat tersebut, hingga surat itu berhasil dicegah dan dikembalikan, lalu Hatib dihadapkan kepada Rasulullah ﷺ Dan Hatib mengakui perbuatannya itu.
Saat itulah Umar ibnul Khattab bangkit, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah saya memenggal batang lehernya, karena sesungguhnya dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya serta kaum mukmin?"
Rasulullah ﷺ bersabda:

Biarkanlah dia.
karena sesungguhnya dia telah ikut dalam Perang Badar.
Tahukah kamu, mudah-mudahan Allah memperhatikan ahli Badar dan Dia berfirman, "Berbuatlah sesuka kalian, sesungguh­nya Aku telah mengampuni kalian."

Menurut kami, pendapat yang sahih ialah yang mengatakan bahwa ayat ini bermakna umum, sekalipun benar bahwa ayat ini diturunkan karena latar belakang yang bersifat khusus.
Menurut jumhur ulama, hal yang terpakai ialah keumuman dari makna yang dikandungnya, bukan latar belakangnya yang khusus.
Perbuatan khianat bersifat umum mencakup semua dosa kecil dan dosa besar yang bersifat permanen dan yang tidak permanen.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian.
(Al Anfaal:27) Amanat artinya sesuatu yang dipercayakan oleh Allah kepada hamba-Nya, yakni hal-hal yang fardu.
Dikatakan la takhunu artinya janganlah kalian merusak amanat.

Menurut riwayat lain disebutkan:

janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya).
Yang dimaksud dengan amanat ialah meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan kemaksiatan.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja'far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu 'janganlah kalian menampak­kan kebenaran di hadapannya yang membuatnya rela kepada kalian, kemudian kalian menentangnya dalam hati kalian dan cenderung kepada selainnya, karena sesungguhnya hal tersebut merusak amanat kalian dan merupakan suatu pengkhianatan terhadap diri kalian sendiri.

As-Saddi mengatakan, apabila mereka mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, berarti mereka mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada diri mereka.
Selanjutnya ia mengatakan pula bahwa dahulu mereka mendengar pembicaraan dari Nabi ﷺ, lalu mereka membocorkannya kepada kaum musyrik.

Abdur Rahman ibnu Zaid mengatakan, Allah melarang kalian berbuat khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian berbuat seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 27

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Qatadah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 27) berkenaan dengan Abu Lubabah bin ‘Abdil Mundzir (seorang Muslim) yang ditanya oleh Bani Quraizhah (yang memusuhi kaum Muslimin), waktu perang Quraizhah, tentang rencana kaum Muslimin terhadap mereka.
Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangan pada lehernya (maksudnya akan dibunuh).
Setelah turun ayat ini (al-Anfaal: 27), Abu Lubabah menyesali perbuatannya karena membocorkan rahasia kaum Muslimin.
Ia berkata: “Teriris hatiku hingga kedua kakiku tidak dapat digerakkan, karena aku merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah.
Sanad hadits ini sangat gharib, dan susunan bahasanya pun perlu diteliti kembali.
Bahwa Abu Sufyan meninggalkan Mekah (untuk memata-matai kegiatan kaum Muslimin).
Hal ini disampaikan Jibril kepada Nabi ﷺ.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada para shahabat: “Abu Sufyan sekarang berada di suatu tempat.
Tangkaplah dan tahanlah dia.” Seorang dari kaum munafikin yang mendengar perintah Rasul itu memberitahukannya dengan surat kepada Abu Sufyan agar ia berhati-hati karena Nabi Muhammad telah mengetahui maksudnya.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) sebagai peringatan untuk tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa kaum Muslimin mendengarkan perintah Nabi ﷺ (yang perlu dirahasiakan), tetapi disebarkan di antara kawan-kawannya sehingga sampai pula kepada kaum musyrikin.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) yang menegaskan bahwa penyebaran perintah seperti itu berarti berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 27

AMAANAH
أَمَٰنَتَه

Menurut Al Kafawi, amanah ialah setiap perkara yang dianggap dapat dipercayai ke atasnya seperti harta dan rahsia-rahsia.

Lafaz ini berasal dari kata amina dan amanatan yang bermakna jujur, dapat dipercayai dan sebagainya. Amaanah juga bermakna titipan dan menunaikan apa yang dipercayai,sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (diserahkan bagi disimpan dan lain-lain), segala yang perintah Allah kepada hambanya, lawan khianat.

Lafaz amaanah dalam bentuk mufrad disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 283,
-Al Ahzab (33), ayat 72.

Sedangkan dalam bentuk jamak disebut tiga kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 58;
-Al Anfal (8), ayat 27;
-Al Mu'minuun (23), ayat 8,
-Al Ma'aarij (70), ayat 32.

Dalam Tafsir Al Khazin, Ibn Abbas berkata,
"Makna amaanah dalam surah Al Ahzab ialah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang difardukan ke atas hambanya."

Ibn Mas'ud berkata,
"Amaanah ialah mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan, haji, jujur dalam percakapan, melangsai hutang, jujur dalam timbangan dan ukuran dan lebih daripada itu setiap yang dititipkan, ada yang mengatakan setiap yang diperintah dan dilarang."

Abdullah bin Amni bin Al As berkata,
"Pertama sekali yang diciptakan dari manusia adalah kemaluan (al-faraj) dan ini adalah amanah yang diberikan. Faraj adalah amanah. Telinga, mata, tangan dan kaki adalah amanah. Diriwayatkan dalam hadis, "Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada dalam dirinya amanah."

Oleh karena itu, An Nasafi berkata,
"Orang kafir dan munafik tidak ada dalam dirinya sifat amanah karena mereka berbuat khianat dan tidak patuh sebagaimana kepatuhan para nabi dan orang yang beriman."

Sedangkan dalam tafsir Tanwir Al Miqbas, dijelaskan makna amaanah ialah ketaatan dan ubudiyah.

Muhammad Rasyid Rida berpendapat berkenaan amaanah dalam surah Al Baqarah, ''Ayat ini turun berkenaan dengan hukum­ hukum harta dan perkara yang diamanahkan kepada seseorang adalah bersifat umum mencakup titipan (wadi'ah) dan lain­ lain. Maknanya, setiap yang diamanahkan kepadanya perlu ditunaikan serta bertakwa kepada Allah dan jangan mengkhianati sesuatu apa pun dari amanah itu'"

Al-Fayruz Abadi berkata "Terdapat dua aspek atau makna amaanah di dalam Al Qur'an:

Pertama, bermakna kewajiban-kewajiban.

Kedua, bermakna al 'iffah yaitu menjauhi diri dari perkara yang tidak baik, hina, syubhah dan al-siyanah (penjagaan)."

Kesimpulannya, amaanah di dalam Al Qur'an mencakupi dua perkara.

Pertama, amanah dalam harta.

Kedua, amanah dalam mentaati segala yang diperintah dan menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah atau segala apa yang diamanahkan Allah kepada manusia.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:46-47

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 27 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 27



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku