Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 27 [QS. 8:27]

O you who have believed, do not betray Allah and the Messenger or betray your trusts while you know (the consequence).
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 27]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe!
لَا janganlah

(Do) not
تَخُونُوا۟ kamu mengkhianati

betray
ٱللَّهَ Allah

Allah
وَٱلرَّسُولَ dan Rasul

and the Messenger,
وَتَخُونُوٓا۟ dan kamu mengkhianati

or betray
أَمَٰنَٰتِكُمْ amanatamanat yang dipercayakan kepadamu

your trusts
وَأَنتُمْ dan kalian

while you
تَعْلَمُونَ (kalian) mengetahui

know.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:27

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 27. Oleh Kementrian Agama RI


Abdullah bin Abi Qatadah berkata,
"Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah pada ketika Rasulullah ﷺ, mengepung suku Quraidhah dan memerintahkan mereka untuk menerima putusan Saad.
Sesudah itu Quraidhah berunding dengan Abu Lubabah tentang menerima putusan Saad itu, karena keluarga Abu Lubabah dan harta bendanya berada dalam kekuasaan mereka.

Kemudian Quraidhah menunjuk ke lehernya (yakni sebagai tanda untuk disembelih).
Abu Lubabah berkata,
"Sebelum kedua telapak kakiku bergerak, aku telah mengetahui bahwa diriku telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
"
Kemudian ia bersumpah tidak akan makan apa pun sehingga ia mati, atau Allah menerima taubatnya.
Kemudian ia pergi ke mesjid dan mengikat dirinya ke tiang, dan tinggal beberapa hari di sana sehingga jatuh pingsan, karena badannya sangat lemah.

Kemudian Allah menerima taubatnya.
Dan ia bersumpah, bahwa dia tidak boleh dilepaskan dirinya dari ikatannya selain oleh Rasulullah sendiri.

Kemudian ia berkata,
"Hai Rasulullah! Saya bernazar untuk melepaskan hartaku sebagai sadaqah."
Rasulullah bersabda,
"Cukuplah bersadaqah sepertiganya.
"
(Riwayat Saad bin Manshur dari Abdillah bin Abi Qatadah).


Allah menyeru kaum Muslimin agar mereka tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengabaikan kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan, melanggar larangan-larangan-Nya, yang telah ditentukan dengan perantaraan wahyu.

Tidak mengkhianati amanat yang telah dipercayakan kepada mereka, yaitu mengkhianati segala macam urusan yang menyangkut ketertiban umat, seperti urusan pemerintahan, urusan perang, urusan perdata, urusan kemasyarakatan dan tata tertib hidup masyarakat.
Untuk mengatur segala macam urusan yang ada dalam masyarakat itu diperlukan adanya peraturan yang ditaati oleh segenap anggota masyarakat dan oleh pejabat-pejabat yang dipercaya mengurusi kepentingan umat.



Peraturan-peraturan itu secara prinsip telah diberikan ketentuannya secara garis besar di dalam Al-Quran dan Hadis.
Maka segenap yang berpautan dengan segala urusan kemasyarakatan itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan.
Karenanya segenap peraturan yang menyangkut kepentingan umat tidak boleh dikhianati, dan wajib ditaati sebagaimana mestinya.
Hampir seluruh kegiatan dalam masyarakat ini berhubungan dengan kepercayaan itu.
Itulah sebabnya maka Allah, melarang kaum Muslimin mengkhianati amanat, karena apabila amanat sudah tidak terpelihara lagi berarti hilanglah kepercayaan.
Apabila kepercayaan telah hilang maka berarti ketertiban hukum tidak akan terpelihara lagi dan ketenangan hidup bermasyarakat tidak dapat dinikmati lagi.


Allah menegaskan bahwa bahaya yang akan menimpa masyarakat lantaran mengkhianati amanat yang telah diketahui, baik bahaya yang akan menimpa mereka di dunia, yaitu merajalelanya kejahatan dan kemaksitan yang mengguncangkan hidup bermasyarakat, ataupun penyesalan yang abadi dan siksaan api neraka yang akan menimpa mereka di akhirat nanti.


Khianat adalah sifat orang-orang munafik, sedang amanah adalah sifat orang-orang mukmin.
Maka orang mukmin harus menjauhi sifat khianat itu agar tidak kejangkitan penyakit nifak yang dapat mengikis habis imannya.


Anas bin Malik berkata:
"Rasulullah ﷺ pada setiap khutbahnya selalu bersabda:
"Tidak beriman orang yang tak dapat dipercaya, dan tidak beragama orang yang tak dapat dipercaya."
(Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik)


Sabda Nabi ﷺ:
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga.
Apabila menuturkan kata-kata ia berdusta, dan apabila berjanji ia menyalahi, dan apabila diberi kepercayaan ia berkhianat."
(Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 27. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai orang-orang yang beriman, percaya dan tunduklah kepada kebenaran.
Allah tidak membenarkan ada orang dari kalangan kalian yang berkhianat kepada-Nya dan rasul-Nya dengan berpihak kepada penentang-penentang kebenaran itu.


Atau mengkhianati orang lain dalam soal pengambilan harta rampasan perang dan berpangku tangan enggan berjihad.
Dan jangan pula kalian mengkhianati amanat orang lain sedangkan kalian memahami perintah dan larangan-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti syariat-Nya, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dengan meninggalkan perintah-perintah-Nya dan mengerjakan apa yang Dia larang.
Janganlah kalian menyia-nyiakan apa yang Allah percayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui bahwa amanah (kepercayaan) itu wajib ditunaikan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul-Nya dan) jangan pula


(kalian mengkhianati amanatamanat kalian) yakni apa-apa yang dipercayakan kepada kalian berupa agama dan hal-hal yang lain


(sedangkan kalian mengetahui).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Abdur Razzaq ibnu Abu Qatadah dan Az-Zuhri mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah ﷺ mengutusnya kepada Bani Quraizah untuk menyampaikan pesan beliau agar mereka tunduk di bawah hukum Rasulullah ﷺ Lalu orang-orang Bani Quraizah meminta saran dari Abu Lubabah mengenai hal tersebut, maka Abu Lubabah mengisyarat­kan kepada mereka dengan tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya ialah disembelih, yakni mati.

Kemudian Abu Lubabah sadar bahwa dengan perbuatannya itu berarti dia telah berbuat khianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka ia bersumpah bahwa dirinya tidak akan makan hingga mati atau Allah menerima tobatnya.

Lalu Abu Lubabah pergi ke masjid Madinah dan mengikat dirinya di salah satu tiang masjid.
Dia tinggal dalam keadaan demikian selama sembilan hari hingga tak sadarkan dirinya karena kepayahan.
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya bahwa tobat Abu Lubabah diterima.

Kemudian orang-orang datang kepadanya menyampaikan berita gembira bahwa Allah telah menerima tobatnya.
Mereka bermaksud akan melepaskan ikatannya dari tiang masjid itu, tetapi Abu Lubabah ber­sumpah bahwa jangan ada seorang pun yang melepaskannya dari tiang masjid itu selain Rasulullah ﷺ dengan kedua tangannya sendiri.
Akhirnya Rasulullah ﷺ melepaskan ikatannya, lalu berkatalah Abu Lubabah,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernazar bahwa seluruh hartaku akan aku habiskan untuk sedekah."
Maka Rasulullah ﷺbersabda :

Cukuplah bagimu dengan menyedekahkannya sepertiga darinya

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris.
telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris At-Taifi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Aun As-Saqafi, dari Al-Mugirah ibnu Syu’bah yang mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan ter­bunuhnya Usman r.a., yaitu firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
(QS. Al-Anfal [8]: 27), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Bisyr ibnu Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Syababah ibnu Siwar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Muharram yang mengatakan bahwa ia pernah bersua dengan Ata ibnu Abu Rabah, lalu Ata menceritakan kepadanya bahwa Jabir ibnu Abdullah pernah menceritakan kepadanya bahwa Abu Sufyan keluar dari Mekah (mengadakan perjalanan).
Lalu Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dan menyampaikan kepadanya bahwa Abu Sufyan berada di tempat anu dan anu.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Abu Sufyan sekarang telah berada di tempat anu dan anu.
Maka berangkatlah kalian untuk menyerangnya, tetapi rahasiakanlah misi kalian."
Tetapi ada seorang munafik berkirim surat kepada Abu Sufyan, bahwa Muhammad sedang mencarinya, maka dia diminta waspada.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul(Nya) dan (Juga) janganlah kalian mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepada kalian.
(QS. Al-Anfal [8]: 27), hingga akhir ayat.

Hadis ini garib sekali, dan sanad serta teksnya masih perlu diper­timbangkan

Di dalam kitab Sahihain disebutkan kisah mengenai Hatib ibnu Abu Balta’ah, bahwa ia menulis surat kepada orang-orang Quraisy untuk memberitahukan tentang rencana Rasulullah ﷺ terhadap mereka di tahun kemenangan atas kota Mekah.
Maka Allah memperlihatkan hal itu kepada Rasul-Nya.
Lalu Rasulullah ﷺ mengirimkan suatu pasukan untuk mengejar pengirim surat tersebut, hingga surat itu berhasil dicegah dan dikembalikan, lalu Hatib dihadapkan kepada Rasulullah ﷺ Dan Hatib mengakui perbuatannya itu.
Saat itulah Umar ibnul Khattab bangkit, lalu berkata,
"Wahai Rasulullah, bolehkah saya memenggal batang lehernya, karena sesungguhnya dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya serta kaum mukmin?"
Rasulullah ﷺ bersabda:

Biarkanlah dia.
karena sesungguhnya dia telah ikut dalam Perang Badar.
Tahukah kamu, mudah-mudahan Allah memperhatikan ahli Badar dan Dia berfirman,
"Berbuatlah sesuka kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian."

Menurut kami, pendapat yang sahih ialah yang mengatakan bahwa ayat ini bermakna umum, sekalipun benar bahwa ayat ini diturunkan karena latar belakang yang bersifat khusus.
Menurut jumhur ulama, hal yang terpakai ialah keumuman dari makna yang dikandungnya, bukan latar belakangnya yang khusus.
Perbuatan khianat bersifat umum mencakup semua dosa kecil dan dosa besar yang bersifat permanen dan yang tidak permanen.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan juga janganlah kalian mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepada kalian.
(QS. Al-Anfal [8]: 27)
Amanat artinya sesuatu yang dipercayakan oleh Allah kepada hamba-Nya, yakni hal-hal yang fardu.
Dikatakan la takhunu artinya janganlah kalian merusak amanat.


Menurut riwayat lain disebutkan:

janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya).
Yang dimaksud dengan amanat ialah meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan kemaksiatan.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu ‘janganlah kalian menampak­kan kebenaran di hadapannya yang membuatnya rela kepada kalian, kemudian kalian menentangnya dalam hati kalian dan cenderung kepada selainnya, karena sesungguhnya hal tersebut merusak amanat kalian dan merupakan suatu pengkhianatan terhadap diri kalian sendiri.

As-Saddi mengatakan, apabila mereka mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, berarti mereka mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepada diri mereka.
Selanjutnya ia mengatakan pula bahwa dahulu mereka mendengar pembicaraan dari Nabi ﷺ, lalu mereka membocorkannya kepada kaum musyrik.

Abdur Rahman ibnu Zaid mengatakan, Allah melarang kalian berbuat khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian berbuat seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 27

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Qatadah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 27) berkenaan dengan Abu Lubabah bin ‘Abdil Mundzir (seorang Muslim) yang ditanya oleh Bani Quraizhah (yang memusuhi kaum Muslimin), waktu perang Quraizhah, tentang rencana kaum Muslimin terhadap mereka.
Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangan pada lehernya (maksudnya akan dibunuh).
Setelah turun ayat ini (al-Anfaal: 27), Abu Lubabah menyesali perbuatannya karena membocorkan rahasia kaum Muslimin.
Ia berkata: “Teriris hatiku hingga kedua kakiku tidak dapat digerakkan, karena aku merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah.
Sanad hadits ini sangat gharib, dan susunan bahasanya pun perlu diteliti kembali.
Bahwa Abu Sufyan meninggalkan Mekah (untuk memata-matai kegiatan kaum Muslimin).
Hal ini disampaikan Jibril kepada Nabi ﷺ.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada para shahabat: “Abu Sufyan sekarang berada di suatu tempat.
Tangkaplah dan tahanlah dia.” Seorang dari kaum munafikin yang mendengar perintah Rasul itu memberitahukannya dengan surat kepada Abu Sufyan agar ia berhati-hati karena Nabi Muhammad telah mengetahui maksudnya.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) sebagai peringatan untuk tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa kaum Muslimin mendengarkan perintah Nabi ﷺ (yang perlu dirahasiakan), tetapi disebarkan di antara kawan-kawannya sehingga sampai pula kepada kaum musyrikin.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) yang menegaskan bahwa penyebaran perintah seperti itu berarti berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 27

AMAANAH
أَمَٰنَتَه

Menurut Al Kafawi, amanah ialah setiap perkara yang dianggap dapat dipercayai ke atasnya seperti harta dan rahsia-rahsia.

Lafaz ini berasal dari kata amina dan amanatan yang bermakna jujur, dapat dipercayai dan sebagainya.
Amaanah juga bermakna titipan dan menunaikan apa yang dipercayai,sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (diserahkan bagi disimpan dan lain-lain), segala yang perintah Allah kepada hambanya, lawan khianat.

Lafaz amaanah dalam bentuk mufrad disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 283,
Al Ahzab (33), ayat 72.
Sedangkan dalam bentuk jamak disebut tiga kali yaitu dalam surah:
An Nisaa (4), ayat 58;
Al Anfal (8), ayat 27;
-Al Mu’minuun (23), ayat 8,
-Al Ma’aarij (70), ayat 32.

Dalam Tafsir Al Khazin, Ibn Abbas berkata,
"Makna amaanah dalam surah Al Ahzab ialah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang difardukan ke atas hambanya."

Ibn Mas’ud berkata,
"Amaanah ialah mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan, amanah yang diberikan.
Faraj adalah amanah.
Telinga, mata, tangan dan kaki adalah amanah.
Diriwayatkan dalam hadis, "Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada dalam dirinya amanah."

Oleh karena itu, An Nasafi berkata,
"Orang kafir dan munafik tidak ada dalam dirinya sifat amanah karena mereka berbuat khianat dan tidak patuh sebagaimana kepatuhan para nabi dan orang yang beriman."

Sedangkan dalam tafsir Tanwir Al Miqbas, dijelaskan makna amaanah ialah ketaatan dan ubudiyah.

Muhammad Rasyid Rida berpendapat berkenaan amaanah dalam surah Al Baqarah, ”Ayat ini turun berkenaan dengan hukum hukum harta dan perkara yang diamanahkan kepada seseorang adalah bersifat umum mencakup titipan (wadi’ah) dan lain lain.
Maknanya, setiap yang diamanahkan kepadanya perlu ditunaikan serta bertakwa kepada Allah dan jangan mengkhianati sesuatu apa pun dari amanah itu’"

Al-Fayruz Abadi berkata "Terdapat dua aspek atau makna amaanah di dalam Al Qur’an:

Pertama, bermakna kewajiban-kewajiban.

Kedua, bermakna al ‘iffah yaitu menjauhi diri dari perkara yang tidak baik, hina, syubhah dan al-siyanah (penjagaan)."

Kesimpulannya, amaanah di dalam Al Qur’an mencakupi dua perkara.

Pertama, amanah dalam harta.

Kedua, amanah dalam mentaati segala yang diperintah dan menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah atau segala apa yang diamanahkan Allah kepada manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 46-47

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 27 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 27 - Gambar 2
Statistik QS. 8:27
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
Sending
User Review
4.4 (28 votes)
Tags:

8:27, 8 27, 8-27, Surah Al Anfaal 27, Tafsir surat AlAnfaal 27, Quran Al Anfal 27, AlAnfal 27, Al-Anfal 27, Surah Al Anfal ayat 27

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Mulk (Kerajaan) – surah 67 ayat 23 [QS. 67:23]

23. Kaum musyrik yang telah diberikan aneka potensi yang semestinya dapat digunakan untuk meraih petunjuk ternyata justru mengabaikannya. Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan seluruh manusi … 67:23, 67 23, 67-23, Surah Al Mulk 23, Tafsir surat AlMulk 23, Quran Al-Mulk 23, Surah Al Mulk ayat 23

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis ...

Benar! Kurang tepat!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada bulan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, di Tahun Gajah. Lalu pada tanggal 17 Rabiul Awal ini merupakan hari ketika Rasulullah hijrah atau meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #12
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #12 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #12 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #16

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti … Petunjuk Pedoman Kumpulan Bacaan Menghimpun Benar! Kurang tepat! Fungsi utama kandungan

Pendidikan Agama Islam #21

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah … menjadi juara dalam perlombaan menjadi anak yang berbakti jajan

Pendidikan Agama Islam #26

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … 100 114 155 150 154 Benar! Kurang tepat! Pesan utama dari kandungan Alquran adalah

Instagram