Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 26 [QS. 8:26]

وَ اذۡکُرُوۡۤا اِذۡ اَنۡتُمۡ قَلِیۡلٌ مُّسۡتَضۡعَفُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ تَخَافُوۡنَ اَنۡ یَّتَخَطَّفَکُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىکُمۡ وَ اَیَّدَکُمۡ بِنَصۡرِہٖ وَ رَزَقَکُمۡ مِّنَ الطَّیِّبٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ
Waadzkuruu idz antum qaliilun mustadh’afuuna fiil ardhi takhaafuuna an yatakhath-thafakumunnaasu faaawaakum wa-ai-yadakum binashrihi warazaqakum minath-thai-yibaati la’allakum tasykuruun(a);
Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur.
―QS. Al Anfaal [8]: 26

And remember when you were few and oppressed in the land, fearing that people might abduct you, but He sheltered you, supported you with His victory, and provided you with good things – that you might be grateful.
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 26]

وَٱذْكُرُوٓا۟ dan ingatlah

And remember
إِذْ ketika

when
أَنتُمْ kamu

you
قَلِيلٌ sedikit

(were) few
مُّسْتَضْعَفُونَ orang-orang yang lemah

(and) deemed weak
فِى di

in
ٱلْأَرْضِ bumi

the earth
تَخَافُونَ kamu takut

fearing
أَن bahwa/akan

that
يَتَخَطَّفَكُمُ menyambar/menculik kamu

might do away with you
ٱلنَّاسُ manusia/orang-orang

the men,
فَـَٔاوَىٰكُمْ maka Dia memberi tempat kamu

then He sheltered you,
وَأَيَّدَكُم dan Dia menguatkan kamu

and strengthened you
بِنَصْرِهِۦ dengan pertolonganNya

with His help,
وَرَزَقَكُم dan Dia memberi rezki kepadamu

and provided you
مِّنَ dari

of
ٱلطَّيِّبَٰتِ yang baik-baik

the good things
لَعَلَّكُمْ agar kalian

so that you may
تَشْكُرُونَ kalian bersyukur

(be) thankful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:26

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 26. Oleh Kementrian Agama RI


Allah mengingatkan kaum Muslimin kepada nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka pada peristiwa hijrah.
Pada saat itu mereka yang berhijrah dari Mekah ke Madinah berjumlah sedikit, dan mereka termasuk golongan yang tertindas.

Pada saat permulaan Islam, kaum Muslimin merasa khawatir apabila orang-orang musyrik Quraisy menculik mereka.
Kemudian Allah menghilangkan kekhawatiran itu.

Allah, memberikan tempat yang aman buat mereka yaitu Madinah.
Sesudah itu Allah, memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin sehingga mereka menjadi umat yang kuat, baik berupa pertolongan yang diberikan oleh orang-orang Anshar ketika beliau dan pengikut-pengikutnya berada di Madinah, ataupun bantuan-bantuan Allah yang diberikan ketika mereka berhadapan dengan kaum musyrikin dalam Perang Badar.



Allah juga mengingatkan kepada kaum Muslimin kepada nikmat-Nya yang lain yaitu rezeki yang baik dan halal, baik berupa kemakmuran bumi Madinah yang mereka alami ataupun kemenangan dalam Perang Badar.
Nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin yang disebutkan dalam ayat-ayat ini, adalah untuk memberikan rangsangan agar kaum Muslimin mensyukuri nikmat-nikmat itu.

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 26. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ingatlah kembali wahai orang-orang yang beriman–meskpiun saat ini kalian telah menjadi bangsa yang kuat–masa-masa ketika masih menjadi kaum minoritas, kaum tertindas, di mana semua musuh mengeksploitasi kelemahan kalian dan kalian dicekam rasa takut oleh tindakan-tindakan penculikan yang dilakukan oleh musuh-musuh itu.
Kemudian kalian berhijrah atas perintah Allah ke kota Yatsrib, yang selanjutnya menjadi tempat tinggal kalian.


Kalian menang dengan bantuan dan dukungan-Nya.
Allah memberikan pada kalian harta rampasan perang yang baik-baik agar kalian bersyukur atas pemberian itu dan terus berjuang demi menjunjung tinggi kalimat yang benar.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan ingatlah (wahai orang-orang yang beriman) akan nikmat Allah ketika kalian di Mekkah, saat itu jumlah kalian masih sedikit dan tertindas, kalian takut orang-orang kafir itu menyiksa kalian dengan cepat.
Maka Allah menjadikan tempat berlindung bagi kalian, yaitu kota Madinah, Dia menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya pada Perang Badar dan memberi makan kalian dari hal-hal yang baik (di antaranya adalah harta rampasan) yang halal agar kalian bersyukur kepada-Nya atas rizki dan nikmat itu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan ingatlah hai para Muhajirin ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi) yakni Mekah


(kalian takut orang-orang Mekah akan menculik kalian) mengambil kalian dengan cepat


(maka Allah memberi kalian tempat menetap) yaitu kota Madinah


(dan didukung-Nya kalian) Dia membuat kalian menjadi kuat


(dengan pertolongan-Nya) ketika perang Badar, yaitu melalui bantuan para malaikat


(dan diberi-Nya kalian rezeki dari yang baik-baik) berupa ganimah


(agar kalian bersyukur) terhadap nikmat-nikmat-Nya.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah alias Marwan bin Abdul Munzir.
Nabi ﷺ telah mengutusnya kepada orang-orang Bani Quraizhah dengan membawa pesan darinya, supaya mereka mau tunduk di bawah kekuasaan Nabi ﷺ Maka Abu Lubabah bermusyawarah dengan mereka, akan tetapi ia mengisyaratkan dengan tangannya kepada mereka, bahwa jika mereka tunduk maka hukumannya adalah sembelih


(maut).
Abu Lubabah sengaja berbuat demikian demi untuk melindungi anak-anak dan harta bendanya yang berada di antara mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, mengingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin terhadap nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka dan kebajikan-Nya kepada mereka.
Pada awalnya mereka berjumlah minoritas, kemudian Allah menjadikan mereka sebagai golongan mayoritas, dan pada mulanya mereka lemah lagi dalam keadaan dicekam rasa takut, kemudian Allah menguatkan mereka dan menolong mereka.
Mereka pun pada mulanya miskin lagi papa, kemudian Allah memberi mereka rezeki dari barang-barang yang baik (halal).
Kemudian Allah memerin­tahkan mereka untuk bersyukur kepada-Nya, menaati-Nya, dan mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya kepada mereka.

Demikianlah keadaan dan kondisi orang-orang mukmin dalam periode Mekah.
Mereka minoritas, dicekam oleh rasa takut, tertindas, dan selalu dibayangi oleh rasa takut diculik oleh orang-orang musyrik dari berbagai kawasan, baik mereka orang musyrik ataupun orang Majusi atau orang Romawi, karena semuanya adalah musuh-musuh mereka.
Demikian itu karena jumlah kaum muslim sedikit dan tidak mempunyai kekuatan.
Demikianlah keadaan mereka selama itu, hingga Allah mengizinkan mereka untuk hijrah ke Madinah, lalu Allah memberikan tempat tinggal kepada mereka di Madinah, dan menjadikan penduduknya senang kepada mereka, memberikan tempat, dan menolong mereka dalam Perang Badar dan peperangan lainnya.
Bahkan penduduk Madinah berbagi harta dengan mereka serta rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Qatadah ibnu Di’amah As-Sudusi rahimahullah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekah).
(QS. Al-Anfal [8]: 26)
Kabilah Arab ini pada mulanya adalah manusia yang paling rendah, kehidupannya melarat, perutnya lapar, dan miskin pakaian serta paling jelas kesesatannya.
Orang yang hidup di antara mereka kehidupannya celaka dan melarat, dan orang yang mati dari mereka dijerumuskan ke dalam neraka, mereka dimakan dan tidak mendapat makan.
Demi Allah, kami belum pernah mendengar bahwa di masa itu ada penduduk bumi yang lebih buruk kedudukannya daripada mereka.
Kemudian hal itu berakhir setelah Allah menurunkan agama Islam kepada mereka.
Maka berkat agama Islam itulah Allah menguatkan mereka hingga dipengaruhi di seluruh negeri, dan melalui Islamlah Allah meluaskan rezeki mereka serta menjadikan mereka raja-raja di atas semua manusia.
Berkat Islam pula Allah memberikan banyak hal kepada mereka, seperti yang kalian lihat sendiri.
Karena itu, bersyukurlah kalian kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya karena sesungguhnya Tuhan kalian Yang memberikan nikmat suka kepada perbuatan bersyukur, dan orang-orang yang bersyukur selalu beroleh tambahan nikmat dari Allah.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 26

ARDH
أَرْض

Ardh adalah lafaz mufrad dan mu’annats, maknya adalah aradhun, urudh, dan aradhi, maknanya ialah bola bumi yang bergerak yang manusia berada di atasnya yaitu salah satu planet yang ada dan urutannya ketiga pada porosnya yang mengelilingi matahari dan planet yang didiami manusia.
Ia juga lawan lautan yaitu tanah atau daratan.
Apabila dikatakan ibn al-ardh artinya anak yang tidak diketahui bapak dan ibunya.
Apabila disandarkan kepada sesuatu atau sandal artinya di bawahnya.

Lafaz ardh disebut sebanyak 130 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
Al Baqarah (2), ayat 11, 22, 27, 29, 30, 33, 36, 60, 61, 71, 107, 116, 117, 164, 164, 164, 168, 205, 251, 255, 255, 267, 273, 284;
Ali Imran (3), ayat 5, 29, 83, 91, 109, 129, 133, 137, 156, 180, 189, 190, 191;
An Nisaa (4), ayat 42, 97, 97, 100, 101, 126, 131, 131, 132, 170, 171;
-Al Maa’idah (5), ayat 17, 18, 21, 26, 31, 32, 32, 33, 33, 36, 40, 64, 97, 106, 120;
-Al An’aam (6), ayat 1, 3, 6, 11, 12, 14, 35, 38, 59, 71, 75, 101, 116, 165, 73, 79;
-Al A’raaf (7), ayat 10, 24, 54, 56, 73, 74, 74, 85, 96, 100, 110, 127, 128, 129, 137, 146, 158, 164, 176, 185, 187;
Al Anfaal (8), ayat 26, 63, 67, 73;
At Taubah (9), ayat 2, 25, 36, 38, 74, 116, 188;
Yunus (10), ayat 3, 6, 14, 18, 23, 24,24,31, 54, 55, 61, 66, 78, 83, 99, 101;
Hud (11), ayat6, 7, 20, 44, 61, 64, 85, 107, 108,116, 123;
Yusuf(l2), ayat 9, 21, 55, 56, 73, 80, 101, 105, 109;
-Ar Ra’d (13), ayat 3, 4, 15, 16, 17, 18, 25, 31, 33, 41;
Ibrahim (14), ayat 2, 8, 10, 13, 14, 19, 26, 32, 38, 48, 48;
Al Hijr (15), ayat 19, 39, 85;
An Nahl (16), ayat 3, 13, 15, 36, 45, 49, 52, 65, 73, 77;
Al Israa (17), ayat 4, 37, 37, 44, 55, 76, 90, 95, 99, 102, 103, 104;
Al Kahfi (18), ayat 7, 14, 26, 45, 47, 51, 84, 94;
Maryam (19), ayat 40, 65, 90, 93;
-Tha Ha (20), ayat 4, 6, 53, 57, 63;
-Al Anbiyaa (21), ayat 4, 16, 19, 21, 30, 31, 44, 56, 71, 81, 105;
Al Hajj (22), ayat 5, 18, 41, 46, 63, 64, 65, 65, 70;
-Al Mu’minuun (23), ayat 18, 71, 79, 84, 112;
An Nuur (24), ayat 35, 41, 42, 55, 57, 64;
Al Furqaan (25), ayat 2, 6, 59, 63;
-Asy Syu’araa (26), ayat 7, 24, 35, 152, 183;
An Naml (27), ayat 25, 48, 60, 61, 62, 64, 65, 69, 75, 82, 87;
Al Qashash (28), ayat 4, 5, 6, 19, 39, 57, 77, 81, 83;
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 20, 22, 36, 39, 40, 44, 52, 56, 61, 63;
Ar Rum (30), ayat 3, 8, 9, 18, 19, 22, 24, 25, 25, 26, 27, 42, 50;
Luqman (31), ayat 10, 16, 18, 20, 25, 26, 27, 34;
As Sajadah (32), ayat 4, 5, 10, 27;
Al Ahzab (33), ayat 27, 27, 72;
Saba (34), ayat 1, 2, 3, 9, 9, 14, 22, 24;
Faathir (35), ayat 1, 3, 9, 38, 39, 40, 43, 44, 44;
Yaa Siin (36), ayat 33, 36, 81;
-Ash Shaffaat (37), ayat 5;
Az Zumar (39), ayat 5, 10, 21, 38, 44, 46, 47, 63, 67, 69, 74;
-Al Mu’min (40), ayat 21, 21, 26, 29, 57, 64, 68, 75, 82, 82;
Fussilat (41), ayat 9, 11, 15, 39;
-Asy Syura (42), ayat 4, 5, 11, 12, 27, 29, 31, 42, 49, 53;
-Az Zukhruuf (43), ayat 9, 10, 60, 82, 84, 85;
Ad Dukhaan (44), ayat 7, 29, 38;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 3, 5, 13, 22, 27, 36, 37;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3, 4, 20, 32, 33;
Muhammad (47), ayat 4, 7, 14;
Al Hujurat (49), ayat 16, 18;
Ath Thuur (52), ayat 36;
An Najm (53), ayat 31, 32;
Al Qamar (54), ayat 12;
Ar Rahman (55), ayat 10, 29, 33;
-Al Waqi’ah (56), ayat 4;
Al Hadid (57), ayat 1, 2, 4, 5, 10, 21, 22, 17;
-Al Mujadalah (58), ayat 7;
Al Hasyr (59), ayat 1, 24;
Ash Shaff (61), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 1, 10;
-Al Munaafiquun (63), ayat 7;
-At Taghaabun (64), ayat 1, 3, 4;
Ath Thalaaq (65), ayat 12;
Al Mulk (67), ayat 15, 16, 24;
-Al Haaqqah (69), ayat 14;
-Al Ma’arij (70), ayat 14;
Nuh (71), ayat 9, 17, 26;
Al Jinn (72), ayat 10, 12;
Al Muzzammil (73), ayat 14, 20;
Al Mursalat (77), ayat 25;
An Naba‘ (78), ayat 6, 37;
-An Naazi’at (79), ayat 30;
-‘Abasa (80), ayat 26;
Al Insyiqaaq (84), ayat 3;
Al Buruuj (85), ayat 9;
-Ath Thaariq (86) ayat 12;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 20;
Al Fajr (89), ayat 21;
Asy Syams (91), ayat 6;
-Al Zalzalah (99), ayat 1, 2.

Dalam Al Qur’an, lafaz ardh mempunyai enam makna.

Pertama, bermakna bumi Palestina, Damsyik dan sebahagian Jordan, karena ia dikaitkan dengan al-muqaddasah (al-ardh al-muqaddasah).
Makna ini diberikan oleh Ibn Qutaibah.
Az Zamakhsyari berkata,
"Al-ardh al-muqaddasah ialah ardh bait al muqaddasah (bumi rumah yang suci), di mana ia adalah tempat para nabi dan orang Islam."

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibn ‘Abbas, "Ia adalah Tursina dan sekelilingnya."

Qatadah berpendapat ia adalah Syam.

Sedangkan riwayat Ibn Zaid, As Suddi dan Ikrimah dari Ibn Abbas menyatakan ia adalah Ariha.

At Tabari berkata,
"Ia adalah ardh al muqaddasah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa adalah bumi seperti bumi lain, tidak diketahui hakikat kebenarannya kecuali dengan khabar.
Tidak ada khabar mengenainya yang benar-benar dapat di pastikan.
Namun, ia tidak keluar dari bumi antara Sungai Al Furat (Euphart) dan Mesir sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, sejarawan dan ulama."

Kedua, ia bermakna bumi yang manusia diami sekarang sebagaimana mayoritas maksud dari ayat-ayat di atas.

Ketiga, ia bermaksud selain bumi yang tidak pada sifatnya yang dikenal atau bumi di hari akhirat sebagaimana yang terdapat dalam surah Ibrahim, ayat 48.
Dalam Sahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Ibn Hazim yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, katanya Rasulullah berkata,
"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang amat putih bagaikan roti yang bulat dan pipih lagi putih, tidak terdapat di dalamnya penolong bagi seseorang."
Dalam riwayat lain dijelaskan manusia berjalan di atas jambatan atau Ash Shiraath.

Keempat, bermakna tempat, sebagai mana pada surah Yusuf, ayat 9. Al Qurtubi menafsirkannya dengan tempat yang jauh dari ayahnya." Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, yang dimaksudkan dengan bumi di sini ialah suatu tempat dari bumi.

Kelima, bermakna bumi Mesir, yaitu yang terdapat dalam surah Al A’raaf, ayat 110; Tha Ha, ayat 57; 63, Asy Syu’araa, ayat 35; Ibrahim, ayat 13. Ini sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Asy Syawkani‘ dan As Sabuni.’

Keenam, bermakna bumi Makkah yaitu yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 57. Ayat ini mengabarkan kepada manusia tentang alasan kafir Quraisy yang tidak mengikuti petunjuk.
Mereka berkata kepada Rasulullah, "Sekiranya kami menyertaimu menurut petunjuk yang engkau bawa itu, kami takut disakiti dan diperangi oleh mereka (kafir Quraisy) yang lain serta diusir dari negeri kami."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 63-65

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 26 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 26 - Gambar 2
Statistik QS. 8:26
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
Sending
User Review
4.3 (27 votes)
Tags:

8:26, 8 26, 8-26, Surah Al Anfaal 26, Tafsir surat AlAnfaal 26, Quran Al Anfal 26, AlAnfal 26, Al-Anfal 26, Surah Al Anfal ayat 26

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 27 [QS. 2:27]

Orang-orang fasik itu adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, yaitu perjanjian dalam diri setiap manusia yang muncul secara fitrah dan didukung dengan aka … 2:27, 2 27, 2-27, Surah Al Baqarah 27, Tafsir surat AlBaqarah 27, Quran Al-Baqarah 27, Surah Al Baqarah ayat 27

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut?

Benar! Kurang tepat!

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah ...

Benar! Kurang tepat!

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya),
Hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami'ush-Shaghîr, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shâhihah, no. 1496.

+

Array

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #14
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #14 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #14 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … 100 150 155 114 154 Benar! Kurang tepat! Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut …

Pendidikan Agama Islam #18

Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu … untukmu agamamu agamaku untuk selamanya untukku agamaku aku tidak menyembah apa yang kamu

Pendidikan Agama Islam #13

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.” 10

Instagram