Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 24


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَجِیۡبُوۡا لِلّٰہِ وَ لِلرَّسُوۡلِ اِذَا دَعَاکُمۡ لِمَا یُحۡیِیۡکُمۡ ۚ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یَحُوۡلُ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ قَلۡبِہٖ وَ اَنَّہٗۤ اِلَیۡہِ تُحۡشَرُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuuustajiibuu lillahi wali-rrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum waa’lamuu annallaha yahuulu bainal mar-i waqalbihi wa-annahu ilaihi tuhsyaruun(a);

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.
―QS. 8:24
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Kebenaran hari penghimpunan ▪ Kelemahan manusia
8:24, 8 24, 8-24, Al Anfaal 24, AlAnfaal 24, Al Anfal 24, AlAnfal 24, Al-Anfal 24
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 24. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menyerukan kepada orang-orang mukmin, bahwa apabila Allah dan Rasul-Nya menyampaikan hukum-hukumnya yang berguna untuk kehidupan mereka, hendaklah mereka mengabulkan seruan itu dan menerimanya dengan penuh perhatian serta berusaha untuk mengabulkannya.
Karena seruan itu mengandung ajaran-ajaran yang berguna bagi kehidupan mereka, seperti mengetahui hukum-hukum Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya, suri teladan hidup yang dapat dijadikan contoh dan pelajaran yang utama untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan serta mengangkat kehidupan mereka kepada martabat yang sempurna, sehingga mereka dapat menempuh jalan lurus yang mendekatkan diri kepada Tuhan.
Akhirnya mereka akan hidup di bawah keridaan Allah, di dunia mereka akan berbahagia dan di akhirat akan mendapat surga.
Di dalam ayat lain perintah mengikuti Rasul itu disertai dengan perintah memegang teguh-teguh.

Allah berfirman:

Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah.
(Q.S Al Baqarah: 93)

Menaati Rasul hukumnya wajib, baik di waktu beliau hidup maupun setelah wafatnya.
Menaati Rasul ialah menaati segala macam perintahnya dan menjauhi larangannya yang termuat dalam Kitab Alquran dan yang termuat dalam kitab-kitab hadis yang diketahui kesahihannya.

Dan Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada kaum Muslimin agar mereka betul-betul mengetahui bahwa Allah mendinding antara manusia dan hatinya mengandung banyak pengertian:

1. Bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menguasai hati seseorang, maka Allahlah yang menentukan kecenderungan hati itu menurut kehendak-Nya.
Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta'ala berkuasa untuk mengarahkan hati orang kafir apabila Ia menghendaki orang kafir itu mendapat hidayah dan menguasai hati seseorang yang beriman untuk menyesatkannya apabila Ia berkehendak untuk menyesatkan.
Pengertian serupa ini terdapat pula dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Kitab Al-Mustadrak dari Ibnu Abbas dan dari sebagian besar ulama salaf.

Hadis-hadis yang menguatkan pengertian ini ialah bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
seringkali mengatakan:

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamamu.
Lalu Rasulullah ditanya: "Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada Kitab yang engkau bawa, maka apakah yang engkau khawatirkan terhadap kami?"
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: "Ya! Sungguh hati itu berada di antara dua jari dari jari-jari Tuhan, Dialah Yang membolak-balikkannya.
(H.R Imam Ahmad dan At Turmuzi dari Anas)

2. Bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh hambanya untuk bersegera menaati Allah sebelum terlepasnya jiwa, tetapi mereka tidak mempedulikan perintah itu.
Ini berarti bahwa Allah mematikan hatinya hingga hilanglah kesempatan yang baik itu.
Hilangnya kesempatan ini ialah hilangnya kesempatan seseorang untuk melakukan amal yang baik dan usaha untuk mengobati hati dengan bermacam penawar jiwa sehingga jiwanya menjadi sehat sesuai dengan kehendak Allah.
Kata-kata mendinding adalah merupakan kata persamaan yang digunakan untuk pengertian mati, karena hati itulah biasanya yang dapat memahami sesuatu, maka apabila dikatakan hati seseorang telah mati berarti hilanglah kesempatan seseorang untuk memanfaatkan ilmu pengetahuannya.

3. Kata-kata mendinding adalah merupakan kata-kata majaz yang menggambarkan batas terdekat kepada hamba.
Karena sesuatu yang memisahkan antara dua buah barang adalah sangat dekat kepada dua barang itu.
Pengertian serupa ini dinukilkan dari Qatadah, karena pada saat membicarakan makna ayat ia membawakan firman Allah:

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
(Q.S Qaf: 16)

Bagaimana juga perbedaan pendapat di kalangan para mufassir mengenai penafsiran ayat ini, tetapi hal yang tidak dapat disangkal ialah bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah membuat bakat-bakat dalam diri seseorang.
Bakat baik dan bakat buruk kedua-duanya dapat berkembang menurut sunah Allah yang telah ditetapkan bagi manusia.
Berkembangnya bakat-bakat itu bergantung pada situasi, kondisi dan lingkungan.
Apabila seseorang dididik dengan baik, niscaya jiwanya akan menjadi baik.
Sebaliknya apabila jiwa itu dididik dengan jahat, atau berada dalam lingkungan yang jahat niscaya jiwa itu akan menjadi jahat.
Hati adalah merupakan pusat dari perasaan, kemampuan serta kehendak seseorang yang dapat mengendalikan jasmaninya untuk mewujudkan amal perbuatan.

Maka pantaslah kalau di dalam ayat ini dikatakan, bahwa Allah mendinding antara seseorang dengan hatinya, karena Allahlah Yang lebih mengetahui hati nurani seseorang.
Dan Dialah Yang menguasai hati itu, karena Dialah pula yang menciptakan bakat-bakat yang terdapat dalam hati dan Dia pula yang paling dapat menentukan ke mana hati itu mengarah.

Kemudian di akhir ayat Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu akan dikumpulkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu mereka pada hari akhir akan dikumpulkan di padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala macam amalnya dan menerima pembalasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka.

Al Anfaal (8) ayat 24 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 24 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 24 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang berpihak dan tunduk pada kebenaran, sambutlah Allah dengan sepenuh hati jika Dia memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu.
Sambutlah Rasul-Nya--sebagai penyampai pesan-pesan Allah--apabila dia menyeru kalian untuk mengerjakan perintah dan menegakkan hukum Allah yang menjamin kehidupkan jiwa, raga, pikiran dan kalbu kalian.
Ketahuilah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah menguasai dan mengarahkan hati kalian pada apa yang Dia kehendaki.
Allah akan membuat dinding pemisah antara diri dan hati kalian jika mendapat bisikan hawa nafsu.
Dan jika kalian meniti jalan yang lurus, niscaya Allah akan menyelamatkan kalian, dan kelak kalian akan dikumpulkan Allah di hari kiamat, hari pembalasan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul) dengan taat (apabila Rasul menyeru kamu pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian) berupa perkara agama sebab perkara agama merupakan penyebab bagi kehidupan yang kekal (dan ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya Allah menghalangi antara manusia dan hatinya) maka ia tidak dapat beriman atau kafir melainkan berdasarkan kehendak Allah (dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan) Allah akan membalas semua amal perbuatan kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai Rabb-nya, Muhammad صلی الله عليه وسلم sebagai Nabi dan Rasul-Nya, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila menyeru kalian kepada kebenaran yang memberi kehidupan kepada kalian; karena dengan menyambut seruan itu akan membuat perbaikan bagi kehidupan kalian di dunia dan akhirat.
Dan ketahuilah (wahai orang-orang yang beriman) bahwa Allah-lah yang mengatur segala sesuatu dan Mahakuasa untuk membatasi antara manusia dan keinginan hatinya.
Dia berhak disambut seruan-Nya apabila menyeru kalian, karena segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya.
Ketahuilah bahwa kalian akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Bukhari mengatakan bahwa makna istajibu ialah penuhilah, dan limayuhyikum artinya sesuatu yang memperbaiki keadaan kalian.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari khubaib ibnu Abdur Rahman yang mengatakan, "Saya pernah mendengar Hafs ibnu Asim menceritakan hadis berikut dari Abu Sa'd ibnu Al-Ma'la r.a.
yang menceritakan bahwa ketika ia sedang salat, tiba-tiba Nabi ﷺ lewat dan memanggilnya, tetapi ia tidak memenuhi panggilannya hingga ia menyelesaikan salatnya.
Setelah itu barulah datang kepada beliau.
Maka beliau ﷺ bertanya,' Apakah gerangan yang menghalang-halangi dirimu untuk datang kepadaku?
Bukankah Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan'Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian.
(Al Anfaal:24) Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling besar dari Al-Qur’an sebelum aku keluar dari Masjid ini.' Rasulullah ﷺ bangkit untuk keluar dari masjid, lalu saya mengingatkan janji beliau itu." Mu'az mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Khubaib ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah mendengar Hafs ibnu Asim menceritakan hal berikut dari Abu Sa'id, bahwa ada seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi ﷺ yang mengatakan surat yang dimaksud di atas, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
(Al-Fatihah: 2) hingga akhir surat.
Itulah yang dimaksud dengan sab’ul masani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam salat).

Demikianlah menurut lafaz yang di­ketengahkannya berikut huruf-hurufnya tanpa ada yang dikurangi.
Pembahasan mengenai hadis ini telah disebutkan dalam tafsir surat Al-Fatihah berikut semua jalur periwayatannya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.
(Al Anfaal:24) Yakni kepada perkara yang hak.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.
(Al Anfaal:24) Maksudnya kepada Al-Qur'an ini, di dalamnya terkandung keselamatan, kelestarian, dan kehidupan.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.
(Al Anfaal:24) Di dalam agama Islam terkandung kehidupan bagi mereka yang pada sebelumnya mereka mati karena kekafiran.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja'far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian.
(Al Anfaal:24) Yakni kepada peperangan yang menyebabkan Allah memenangkan kalian dengan melaluinya, sebelum itu kalian dalam keadaan terhina (kalah).
Allah menjadikan kalian kuat karenanya, sebelum itu kalian dalam keadaan lemah.
Dan Dia mencegah musuh kalian untuk dapat menyerang kalian, sebelum itu kalian kalah oleh mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah menghalang-halangi orang mukmin dan kekafiran, serta orang kafir dan keimanan.
Demikianlah menurut riwayat Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya secara mauquf (hanya sampai pada Ibnu Abbas).
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Mus­lim) tidak mengetengahkannya.
Imam Ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui jalur lain dengan sanad yang marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ), tetapi predikatnya tidak sahih, mengingat sanadnya lemah, justru yang berpredikat mauquf-lah yang sahih sanadnya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa'id Ikrimah, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Atiyyah, Muqatil bin Hayyan, dan As-Saddi.

Menurut riwayat lain, dari Mujahid, sehubungan dengan makna firman-Nya:

...mendinding antara manusia dan hatinya
Maksudnya yaitu hingga Allah meninggalkan (membiarkan)nya sampai dia tidak menyadarinya.

Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah Allah menghalang-halangi antara seseorang dan hatinya, sehingga ia tidak dapat beriman —tidak pula kafir— kecuali hanya dengan seizin Allah.

Qatadah mengatakan bahwa ayat ini semakna dengan firman-Nya:

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
(Qaaf:16)

Banyak hadis dari Rasulullah ﷺ yang menerangkan hal yang selaras dengan pengertian ayat ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ acapkali mengucapkan doa berikut: Wahai (Tuhan) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, "Lalu kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau sampaikan, maka apakah engkau merasa khawatir terhadap iman kami?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Ya, sesungguhnya hati manusia itu berada di antara dua jari kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Dia membolak-balikkannya'.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi di dalam pembahasan mengenai takdir, bagian dari kitab Jami-nya, dari Hannad ibnus Sirri, dari Abu Mu'awiyah Muhammad ibnu Hazim Ad-Darir (tuna netra), dari Al-A'masy yang namanya ialah Sulaiman ibnu Mahran, dari Abu Sufyan yang namanya Talhah ibnu Nafi', dari Anas, kemudian Imam Ahmad mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Telah diriwayatkan pula melalui berbagai perawi yang tidak hanya seorang, semuanya bersumber dari Al-A'masy.
Dan sebagian dari mereka telah meriwayatkannya dari Abu Sufyan, dari Jabir, dari Nabi ﷺ Tetapi hadis Abu Sufyan dari Anas lebih sahih sanadnya.

Hadis lain diriwayatkan oleh Abdu ibnu Humaid di dalam kitab Musnad-nya.
Dia mengatakan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-Hakam, dari Ibnu Abu Laila, dari Bilal r.a., bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa dengan doa berikut: Wahai (Tuhan) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu

Hadis ini jayyid sanadnya, hanya padanya terdapat inqita’.
Tetapi sekalipun demikian predikat hadis ini sesuai syarat ahlus sunan, hanya mereka tidak mengetengahkannya.

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Jabir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Bisyr ibnu Ubaidillah Al-Hadrami, ia mendengar dari Abu Idris Al-Khaulani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar An-Nuwwas ibnu Sam'an Al-Kilabi r.a.
mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: Tidak ada suatu hati pun melainkan berada di antara kedua jari kekuasaan Tuhan Yang Maha Pemurah, Tuhan semesta alam.
Jika Dia menghendaki kelurusannya, maka Dia akan meluruskannya, dan jika Dia menghendaki kesesatannya, maka Dia akan menyesatkannya Dan tersebutlah bahwa Nabi ﷺ acapkali mengucapkan doa berikut: Wahai (Tuhan) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Nabi ﷺ telah bersabda pula: Neraca itu berada di tangan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pemurah, Dialah Yang merendahkan dan yang mengangkatnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, lalu disebutkan hal yang semisal.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Imam Ahmad menga­takan:

telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Al-Ma'la ibnu Ziyad, dari Al-Hasan, bahwa Siti Aisyah pernah mengatakan bahwa di antara doa-doa yang sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ialah: Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati.
tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sering sekali mengucapkan doa ini." Maka beliau ﷺ menjawab: Sesungguhnya kalbu anak Adam itu berada di antara dua jari kekuasaan Allah jika Dia menghendaki kesesatannya (niscaya Dia membuatnya sesat), dan jika Dia menghendaki kelurusannya (niscaya Dia membuatnya lurus)

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepadanya Syahr, ia telah mendengar Ummu Salamah menceritakan bahwa-di antara doa yang sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ialah: Ya Allah Wahai Tuhan Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah hati itu dapat dibolak-balikkan?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Ya, tidak sekali-kali Allah menciptakan manusia dari Bani Adam melainkan kalbunya berada di antara dua jari kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Jika Dia menghendaki kelurusannya (tentu Dia melurus­kannya), dan jika Dia menghendaki kesesatannya (tentu Dia menyesatkannya).
Maka kami memohon kepada Allah Tuhan kami.
semoga Dia tidak menyesatkan hati kami sesudah Dia menunjuki kami.
DanJkami memohon kepada-Nya semoga Dia menganugerahkan kepada kami dari sisi-Nya rahmat yang luas.
Sesungguhnya Dia Maha Pemberi karunia.
Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sudikah kiranya engkau mengajarkan kepadaku suatu doa yang akan kubacakan untuk diriku sendiri?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Tentu saja.
Ucapkanlah, "Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, lenyapkanlah kedengkian hatiku, dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan selama Engkau membiarkan aku hidup.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepadanya Abu Hani, ia pernah mendengar Abu Abdur Rahman Al-Habli mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya hati Bani Adam itu berada di antara dua jari kekuasaan Tuhan Yang Maha Pemurah seperti halnya satu hati, Dia mengaturnya menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa: Ya Allah, Tuhan Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada Engkau.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Muslim secara munfarid dari Imam Bukhari.
Dan ia meriwayatkannya bersama Imam Nasai melalui hadis Haiwah ibnu Syuraih Al-Misri.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Anfaal (8) ayat 24
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Ghundar Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Khubaib bin Abdur Rahman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla dia berkata,
ketika saya sedang shalat, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lewat, lalu beliau memanggilku namun saya tidak mendatanginya sehingga shalat saya selesai. Kemudian aku menemuinya. Beliau bertanya: "Apa yang mengahalangimu untuk datang kepadaku?" Abu Sa'id menjawab,
"Saya sedang shalat." Beliau bersabda:
"Bukankah Allah Tabaraka Wa Ta'ala telah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. (Al Anfal: 24). Lalu beliau bersabda:
Maukah saya ajarkan surat yang paling agung dalam Al Qur'an sebelum saya keluar dari masjid ini?." Abu Sa'id bin Al Mu'alla berkata,
ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam hendak pergi, saya mengingatkan beliau, lalu beliau bersabda:
Segala puji bagi Allah rabb semesta alam. (Al Fatihah: 2), itu adalah termasuk Assabu' Al Matsani (tujuh ayat yang terulang-ulang) dan Al quran yang agung yang diberikan kepadaku.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur'an - Nomor Hadits: 4334

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 24 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 24



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (15 votes)
Sending








[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku