Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 17 [QS. 8:17]

فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ
Falam taqtuluuhum walakinnallaha qatalahum wamaa ramaita idz ramaita walakinnallaha rama waliyubliyal mu’miniina minhu balaa-an hasanan innallaha samii’un ‘aliimun;
Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar.
(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.
Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
―QS. Al Anfaal [8]: 17

And you did not kill them, but it was Allah who killed them.
And you threw not, (O Muhammad), when you threw, but it was Allah who threw that He might test the believers with a good test.
Indeed, Allah is Hearing and Knowing.
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 17]

فَلَمْ maka bukan

And not
تَقْتُلُوهُمْ kamu membunuh mereka

you kill them,
وَلَٰكِنَّ akan tetapi

but
ٱللَّهَ Allah

Allah
قَتَلَهُمْ membunuh mereka

killed them.
وَمَا dan bukan

And not
رَمَيْتَ kamu melempar

you threw
إِذْ ketika

when
رَمَيْتَ kamu melempar

you threw,
وَلَٰكِنَّ akan tetapi

but
ٱللَّهَ Allah

Allah
رَمَىٰ melempar

threw
وَلِيُبْلِىَ dan Dia hendak mencoba

and that He may test
ٱلْمُؤْمِنِينَ orang-orang yang beriman

the believers
مِنْهُ daripadaNya

from Him
بَلَآءً cobaan

(with) a trial
حَسَنًا yang baik

good.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
سَمِيعٌ Maha Mendengar

(is) All-Hearing,
عَلِيمٌ Maha Mengetahui

All-Knowing.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:17

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 17. Oleh Kementrian Agama RI


Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah memerintahkan Ali bin Abi thalib:
Ambilkan segenggam tanah, Ali mengambilnya dan diberikan kepada Rasul lalu dilemparkan kepada orang-orang musyrik, maka tidak seorangpun dari mereka kecuali terkena matanya, maka turunlah ayat ini.



Kemudian Allah memberikan penjelasan mengenai alasan kaum Muslimin dilarang membelakangi musuh yaitu karena kemenangan tidak akan dicapai kaum Muslimin kecuali dengan maju menyerang musuh, melemparkan tombak atau melemparkan kepalan tanah kepada mereka.


Dari kemenangan dan bantuan Allah tersebut dapat dipahami bahwa setiap kali orang Muslimin menancapkan tombak untuk membunuh musuh dan setiap lemparan segenggam tanah dari mereka dijamin akan memenuhi sasaran, karena Allah-lah yang menjamin dan membantu mereka.
Allah ﷻ berfirman:

قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

(at-Taubah [9]: 14)


Di samping itu keadaan yang menguntungkan bagi kaum Muslimin ialah keyakinan bahwa perjuangan mereka akan menang, dan Allah akan membantu mereka.
Sedangkan orang kafir tujuannya hanyalah untuk memperoleh kepuasan hidup di dunia.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا فِى ابْتِغَاۤءِ الْقَوْمِ اِنْ تَكُوْنُوْا تَأْلَمُوْنَ فَاِنَّهُمْ يَأْلَمُوْنَ كَمَا تَأْلَمُوْنَ وَتَرْجُوْنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرْجُوْنَ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh mu).
Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.

(an-Nisa’ [4]: 104)


Firman Allah :

قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata,
"Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah."
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

(al-Baqarah [2]: 249)


Allah menerangkan bahwa segala macam bantuan yang diberikan kepada kaum Muslimin dalam Perang Badar itu adalah merupakan alasan yang kuat terhadap larangan Allah kepada kaum Muslimin, lari dari pertempuran, dan merupakan anugerah kemenangan yang diberikan Allah kepada orang-orang mukmin, yaitu kemenangan dan harta rampasan yang banyak.


Di akhir ayat Allah menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar segala permintaan hamba-Nya yang betul-betul menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya lagi Maha Mengetahui akan segala macam bisikan hati para hamba-Nya dan mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang pantas mendapat kemenangan dan siapa pula yang pantas menderita kekalahan.

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 17. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apabila kalian telah memenangkan peperangan itu atas mereka dan kalian telah berhasil membunuh musuh, maka sesungguhnya hal itu bukan semata-mata karena kekuatan kalian.
Allahlah yang memenangkan kalian dan Dialah yang membunuh mereka dengan jalan memberikan kekuatan pada kalian dan meniupkan ke dalam jiwa orang-orang kafir itu rasa takut dan gentar.


Demikian juga halnya dengan engkau, wahai Rasul, bukan dirimu yang melakukan pada saat engkau melemparkan debu dan kerikil ke arah muka mereka sehingga membuat orang-orang kafir itu gentar, tapi Allah yang melakukannya dan mereka gemetar dengan lemparan itu.
Itulah di antara karunia baik yang diberikan Allah pada orang-orang beriman, meskipun ada di antaranya dalam bentuk ujian yang menyulitkan, sebagai cara Allah untuk menampakkan jiwa keikhlasan mereka.


Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui urusan dan Maha Mendengar ucapan orang-orang beriman dan musuh-musuh mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang mukmin, sesungguhnya kalian tidak memerangi orang-orang musyrik itu pada perang Badar, akan tetapi Allah-lah yang memerangi mereka.
Dia menolong kalian dalam peperangan itu.


Kamu (wahai Nabi) tidak melempar ketika kamu melempar, akan tetapi Allah-lah yang melempar;
Dia-lah yang menghujamkan lemparanmu kepada orang-orang musyrik.
(Allah berbuat demikian) untuk menguji orang-orang mukmin terhadap Allah dan Rasul-Nya dan mengangkat mereka dengan jihad ke derajat tertinggi, serta untuk menunjukkan nikmat-Nya kepada mereka, sehingga mereka mau bersyukur kepada-Nya.


Sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa-doa serta ucapan-ucapan yang kalian rahasiakan atau nyatakan, dan Maha Mengetahui mashlahat hamba-hamba-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka yang sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka) di Badar dengan kekuatanmu


(akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka) dengan melalui pertolongan-Nya yang Dia limpahkan kepada kalian


(dan bukan kamu yang melempar) mata kaum musyrikin, hai Muhammad


(ketika kamu melempar) dengan batu kerikil, sebab sekali lempar dengan segenggam batu kerikil yang dilakukan oleh manusia tidak akan dapat memenuhi mata bala tentara yang begitu banyaknya


(tetapi Allahlah yang melempar) dengan cara mengenakan lemparan itu kepada mereka, hal ini sengaja Dia lakukan guna mengalahkan orang-orang kafir


(dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan kemenangan) yakni anugerah


(yang baik) yang dimaksud adalah ganimah/harta rampasan perang.


(Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) perkataan mereka


(lagi Maha Mengetahui) tentang keadaan mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menjelaskan bahwa Dialah Yang menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Terpuji atas semua perbuatan baik yang dilakukan oleh mereka, karena Dia-lah yang menggerakkan mereka untuk melakukannya dan membantu mereka untuk menyelesaikannya.
Karena itu disebutkan oleh firman-Nya:

Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka,, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka.

Maksudnya, bukan karena upaya kalian, bukan pula karena kekuatan kalian.
Kalian dapat membunuh musuh-musuh kalian karena jumlah mereka jauh-lebih banyak daripada jumlah kalian.
Dengan kata lain, bahkan Allah-lah yang membuat kalian beroleh kemenangan atas mereka.
Seperti pengertian yang ada dalam ayat lain, yaitu:

Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 123), hingga akhir ayat.

Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai para mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.
(QS. At-Taubah [9]: 25)

Allah subhanahu wa ta’ala, memberitahukan bahwa kemenangan itu bukan diperoleh karena banyaknya bilangan personel, bukan pula karena lengkapnya peralatan, melainkan karena ada pertolongan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala., seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya:

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Baqarah [2]: 249)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman pula kepada Nabi-Nya berkenaan dengan segenggam pasir yang ditaburkan Nabi ﷺ ke arah wajah orang-orang kafir dalam Perang Badar, yaitu ketika beliau keluar dari Al-‘Arisy setelah beliau berdoa dan memohon kepada Allah dengan rendah diri dan khusyuk.
Beliau melempar mereka dengan segenggam pasir itu seraya bersabda,
"Mudah-mudahan mata-mata mereka kelilipan."
Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan pasukannya untuk membuktikan hal tersebut dengan menelusuri jejaknya, lalu mereka melakukan apa yang diperintahkannya.
Ternyata Allah menyampaikan pasir itu ke mata semua kaum musyrik, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan terkena oleh pasir tersebut dan menyibukkan dirinya.
Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.

Yakni Allah-lah yang menyampaikan pasir itu ke mata mereka dan yang membuat mereka semua kelilipan, bukan kamu, hai Muhammad.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya —yakni pada waktu Perang Badar— seraya berdoa:

Ya Tuhanku, jika golongan ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini untuk selama-lamanya.

Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya,
"Ambillah segenggam pasir, lalu lemparkanlah ke arah muka mereka."
Maka Nabi ﷺ mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah muka mereka.
Maka tidak ada seorang musyrik pun melainkan matanya terkena pasir itu, hidung serta mulut mereka pun terkena pasir itu pula, sehingga akhirnya mereka mundur bercerai-berai.

As-Saddi mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali r.a. pada hari Perang Badar,
"Berikanlah kepadaku segenggam pasir."
Lalu Ali memberikan segenggam pasir kepadanya, kemudian Nabi ﷺ melemparkan pasir itu ke arah wajah kaum musyrik.
Maka tidak ada seorang musyrik pun melainkan matanya kemasukan pasir itu.
Kemudian pasukan kaum mukmin datang mengiringinya dan membunuh serta menahan mereka.
Allah berfirman:

Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.
(QS. Al-Anfal [8]: 17)

Abu Ma’syar Al-Madani telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Qais dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi.
Mereka mengatakan bahwa ketika kedua belah pasukan saling berhadapan satu sama lainnya, maka Rasulullah ﷺ mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah wajah pasukan kaum musyrik seraya bersabda,
"Semoga wajah mereka kelilipan."
Maka masuklah pasir itu ke mata mereka semuanya.
Kemudian sahabat Rasulullah ﷺ datang menyerang dan membunuh serta menahan mereka.
Tersebutlah bahwa kekalahan pasukan kaum musyrik terjadi karena lemparan Rasulullah itu.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala, menu­runkan firman-Nya:

…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.


Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Aliahlah yang melempar.
(QS. Al-Anfal [8]: 17)
Hal ini terjadi dalam Perang Badar.
Rasulullah ﷺ mengambil tiga genggam pasir, lalu melemparkannya ke arah sayap kanan pasukan musuh, dan melemparkannya lagi ke arah sayap kiri pasukan musuh, kemudian melemparkannya lagi ke arah sayap depan pasukan musuh, seraya bersabda,
"Semoga mata-mata mereka kelilipan."
Akhirnya musuh terpukul mundur.

Kisah ini telah diriwayatkan pula dari Urwah, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para imam ahli hadis.
Mereka mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan lemparan pasir yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam Perang Badar, sekalipun beliau ﷺ melakukan pula hal yang sama dalam Perang Hunain.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Imran, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ya’qub ibnu Abdullah ibnu Rabi’ah, dari Yazid ibnu Abdullah, dari Abu Bakar ibnu Sulaiman ibnu Abu Khaisamah, dari Hakim ibnu Hizam yang menceritakan,
"Ketika Perang Badar meletus, kami mendengar suara dari langit seakan-akan seperti suara batu kerikil yang jatuh ke dalam sebuah piala.
Rasulullah ﷺ lah yang melakukan lemparan itu sehingga kami dapat memukul mundur musuh."
Bila ditinjau dari segi ini maka riwayat ini garib.
Berikut ini ada dua pendapat lainnya yang garib sekali, yaitu:

Pertama, Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Auf At-Ta’i, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Jubair, bahwa Rasulullah ﷺ ketika berperang melawan Ibnu Abul Haqiq di Khaibar, beliau meminta sebuah busur, lalu didatangkan kepadanya sebuah busur yang panjang, tetapi Rasul ﷺ bersabda,
"Berikanlah kepadaku busur lainnya!"
Maka mereka mendatangkan busur yang tidak panjang, kemudian Nabi ﷺ membidikkan panahnya ke arah benteng Khaibar.
Maka panah yang dilepaskan oleh Nabi ﷺ melesat tinggi dan jatuh mengenai Ibnu Abul Haqiq yang berada di tempat tidurnya hingga ia mati.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:

…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.

Riwayat ini berpredikat garib, tetapi sanadnya jayyid (baik) sampai kepada Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir.
Barangkali ia keliru, atau dia bermaksud bahwa ayat ini bermakna umum mencakup kesemuanya.
Jika tidak demikian maka konteks ayat dalam surat Al-Anfal menunjukkan kisah Perang Badar, tanpa diragukan lagi, dan hal ini tidaklah samar bagi semua imam ahlul ‘ilmi.

Kedua, Ibnu Jarir meriwayatkan —begitu juga Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya— dengan sanad yang sahih sampai kepada Sa’id ibnul Musayyab dan Az-Zuhri.
Disebutkan bahwa keduanya mengatakan,
"Ayat ini diturunkan berkenaan dengan lemparan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam Perang Uhud, ditujukan kepada Ubay ibnu Khalaf.
Yaitu lemparan tombak kecil, sedangkan saat itu Ubay ibnu Khalaf memakai baju besi.
Lalu tombak itu melukai bagian tenggorokannya, sehingga ia jatuh terjungkal berkali-kali dari atas kudanya, dan luka itulah yang membawa kepada kematiannya beberapa hari kemudian.
Selama lukanya itu dia mengalami siksaan yang sangat pedih, dan siksaannya itu terus berlangsung sampai ke alam barzakh yang terus berhubungan dengan azab akhirat."

Kedua pendapat yang diutarakan oleh kedua imam ini pun garib sekali.
Barangkali keduanya bermaksud bahwa ayat ini bersifat umum dan mencakup kesemuanya itu, bukan hanya diturunkan berkenaan dengan Perang Badar saja secara khusus.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnu Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehu­bungan dengan firman-Nya:

(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik.

Yakni agar orang-orang mukmin merasakan nikmat-Nya kepada mereka, yaitu dimenangkan-Nya mereka atas musuh-musuh mereka sekalipun bilangan musuh mereka jauh lebih banyak, sedangkan bilangan mereka sendiri sedikit.
Dan agar dengan hal tersebut mereka mengakui apa yang harus mereka lakukan kepada-Nya, yaitu mensyukuri nikmat-Nya kepada mereka.
Demikian pula menurut apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Jarir.
Di dalam sebuah hadis disebutkan,

"Semua ujian yang baik pernah ditimpakan oleh Allah kepada kami."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Artinya, Maha Mendengar semua doa, lagi Maha Mengetahui siapa orang-orang yang berhak beroleh pertolongan dan kemenangan.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 17

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Sa’id bin al-Musayyab yang bersumber dari bapaknya.
Isnad hadits ini shahih, hanya saja gharib.
Bahwa pada waktu peperangan Uhud, Ubay bin Khalaf bermaksud menyerang Nabi ﷺ –dan dibiarkan oleh kawan-kawannya yang pada waktu itu menyongsong pasukan Rasulullah– akan tetapi dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair.
Rasulullah ﷺ melihat bagian dada Ubay yang terbuka antara baju dan topinya, lalu ditikam oleh Rasulullah ﷺ dengan tombaknya.
Ubay jatuh rebah dari kudanya serta salah satu tulang rusuknya patah, akan tetapi tiada mengeluarkan darah.
Teman-teman Ubay datang mengerumuninya saat ia meraung-raung kesakitan.
Mereka berkata: “Alangkah pengecutnya engkau, bukankah itu hanya goresan sedikit saja?” Ubay mengatakan bahwa Rasulullah telah menikamnya, seraya mengingatkan sabda Rasulullah yang bersumpah: “Seandainya yang terkena kepada Ubay itu terkena pula pada sekampung Dzilmajaz (nama suatu daerah), pasti mereka akan mati semuanya.”
Ubay bin Khalaf mati sebelum sampai ke Mekah.
Turunnya ayat ini (al-Anfal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa sebenarnya Allah-lah yang membunuhnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Jubair.
Hadits ini mursal, sanadnya jayyid (baik), akan tetapi gharib.
Bahwa pada peperangan Khaibar, Rasulullah ﷺ meminta panah, dan memanahkannya ke benteng.
Anak panah tersebut mengenai Ibnu Abil Haqiq hingga iapun terbunuh di tempat tidurnya.
Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa yang melempar panah itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala

Keterangan: Hadits yang masyur berkenaan dengan turunnya ayat ini (al-Anfaal: 17) adalah peristiwa yang terjadi dalam perang Badr, di waktu Rasulullah ﷺ melemparkan segenggam batu-batu kecil hingga menyebabkan banyak yang mati di kalangan musuh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Hakim bin Hizam.
Diriwayatkan pula oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas.
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari sumber lain, tapi mursal.
Bahwa di waktu perang Badr, para shahabat mendengar suara gemuruh dari langit ke bumi, seperti suara batu-batu kecil jatuh ke dalam bejana.
Rasulullah ﷺ melempari lawannya dengan batu-batu kecil tadi sehingga kaum Muslimin pun menang.
Ayat ini (al-Anfaal: 17) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa sesungguhnya yang melemparkan batu-batu itu adalah Allah di saat Nabi melemparkannya.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 17 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 17 - Gambar 2
Statistik QS. 8:17
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
Sending
User Review
4.2 (8 votes)
Tags:

8:17, 8 17, 8-17, Surah Al Anfaal 17, Tafsir surat AlAnfaal 17, Quran Al Anfal 17, AlAnfal 17, Al-Anfal 17, Surah Al Anfal ayat 17

▪ wa ma romaita ▪ wa ma romaita idz romaita
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 121 [QS. 4:121]

Mereka yang tertipu dengan janji-janji bohong dan omong kosong yang dijanjikan setan itu tempatnya di neraka Jahanam yang sangat menyeramkan dengan siksaan yang amat pedih, dan mereka kekal di dalamny … 4:121, 4 121, 4-121, Surah An Nisaa’ 121, Tafsir surat AnNisaa 121, Quran AnNisa 121, An-Nisa’ 121, Surah An Nisa ayat 121

QS. Al Lail (Malam) – surah 92 ayat 13 [QS. 92:13]

12-13. Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk kepada manusia sesuai dengan kebijaksanaan Kami agar mereka berjalan pada jalan yang benar demi kebaikan mereka di dunia dan akhirat, dan sesungguhnya … 92:13, 92 13, 92-13, Surah Al Lail 13, Tafsir surat AlLail 13, Quran Al-Lail 13, Surah Al Lail ayat 13

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa waḍa'nā 'angka wizrak

'dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,'
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

+

Array

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #13

Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Putih Hijau Pupus Hitam dongker Kuning muda Abu-abu Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #29

Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … Terbebas dari kehinaan. Diberi kemudahan masuk surga. Diangkat derajat oleh Allah. Menjadi

Pendidikan Agama Islam #16

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … قرأ الجمع ن القرأ قرن Benar! Kurang tepat! Fungsi utama

Instagram