Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 16 [QS. 8:16]

وَ مَنۡ یُّوَلِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ دُبُرَہٗۤ اِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ اَوۡ مُتَحَیِّزًا اِلٰی فِئَۃٍ فَقَدۡ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ مَاۡوٰىہُ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ
Waman yuwallihim yauma-idzin duburahu ilaa mutaharrifan liqitaalin au mutahai-yizan ila fi-atin faqad baa-a bighadhabin minallahi wama’waahu jahannamu wabi-asal mashiir(u);
Dan barangsiapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam, seburuk-buruk tempat kembali.
―QS. Al Anfaal [8]: 16

Daftar isi

And whoever turns his back to them on such a day, unless swerving (as a strategy) for war or joining (another) company, has certainly returned with anger (upon him) from Allah, and his refuge is Hell – and wretched is the destination.
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 16]

وَمَن dan barang siapa

And whoever
يُوَلِّهِمْ berpaling dari mereka

turns to them
يَوْمَئِذٍ pada hari itu

that day
دُبُرَهُۥٓ belakangnya

his back
إِلَّا kecuali

except
مُتَحَرِّفًا berbelok

(as) a strategy
لِّقِتَالٍ untuk perang

of war
أَوْ atau

or
مُتَحَيِّزًا menggabungkan

(to) join
إِلَىٰ kepada

to
فِئَةٍ golongan/pasukan

a group,
فَقَدْ maka sesungguhnya

certainly
بَآءَ dia kembali

(he has) incurred
بِغَضَبٍ dengan kemurkaan

wrath
مِّنَ dari

of
ٱللَّهِ Allah

Allah
وَمَأْوَىٰهُ dan tempatnya

and his abode
جَهَنَّمُ neraka jahanam

(is) Hell,
وَبِئْسَ dan amat buruk

a wretched
ٱلْمَصِيرُ tempat kembali

destination.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:16

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 16. Oleh Kementrian Agama RI


Allah mengancam kaum Muslimin yang melarikan diri dari pertempuran bahwa mereka akan pulang dengan membawa kemurkaan Allah.
Kemurkaan Allah itu berupa ancaman yang akan ditimpakan kepada mereka, yaitu mereka akan disiksa dengan neraka Jahannam tempat kediaman yang sangat menakutkan.


Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa melarikan diri dari peperangan adalah dosa besar.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:


"Jauhilah olehmu sekalian tujuh perkara yang membinasakan.

Mereka bertanya:
"Apakah yang tujuh perkara itu ya Rasulullah?
Nabi menjawab:
"Menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh seseorang yang Allah haramkan membunuhnya, kecuali ada sebab-sebab yang membolehkan, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari pertempuran (peperangan), dan menuduh berzina wanita mukmin yang baik-baik yang tidak berniat berbuat zina".
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


Dalam hal ini Allah menjelaskan beberapa pengecualian dari membelakangi musuh dan melarikan diri dari pertempuran, yaitu apabila kaum Muslimin pada saat perang terjadi, mundur untuk mengatur siasat seperti mencari posisi yang lebih menguntungkan dalam pertempuran, memancing musuh agar mengejar keluar medan pertempuran yang lebih strategis sehingga dengan demikian musuh dapat dimusnahkan, atau dengan mengadakan gerak tipu sehingga sasaran tempur menjadi kacau balau, atau membagi pasukan-pasukan untuk menyerang dari segala arah, agar kesatuan musuh dapat dipecah-belah dan sebagainya.


Kaum Muslimin pada saat perang berkobar melarikan diri untuk bergabung dengan kesatuan yang lain agar sasaran tempur lebih kuat atau untuk memperoleh bantuan dari pasukan pada saat musuh dipandang mempunyai pasukan yang lebih kuat.

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 16. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Barangsiapa yang tidak mempunyai keberanian menghadapi musuh lalu melarikan diri dan meninggalkan medan laga, maka Allah akan murka kepadanya.
Kelak ia akan dijadikan penghuni neraka, seburuk-buruk tempat kembali.


Namun, jika hal itu dilakukan demi mengatur siasat dan taktik perang, atau meninggalkan medan peperangan untuk bergabung dengan pasukan Mukmin lainnya sebagai tambahan kekuatan, maka hal itu tidak berdosa.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan barangsiapa di antara kalian yang mundur (dari peperangan) pada waktu menghadapi musuh, kecuali berbelok untuk mematahkan tipu daya orang-orang kafir atau untuk bergabung dengan kelompok tentara muslim yang lain;
dia layak mendapat murka Allah dan tempat kembalinya adalah neraka Jahanam seburuk-buruk tempat kembali.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Barang siapa yang membelakangi mereka di waktu itu) ketika berhadapan dengan mereka di medan peperangan


(dalam keadaan mundur kecuali berbelok) mengelak


(untuk siasat perang) dengan cara berpura-pura lari tetapi untuk tujuan menyerang


(atau menggabungkan diri) menyatu


(dengan pasukan yang lain) dengan pasukan kaum Muslimin lainnya meminta tolong kepada mereka


(maka sesungguhnya orang itu kembali) pulang


(dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam.
Dan amat buruklah tempat kembalinya) sejelek-jelek tempat kembali ialah neraka Jahanam.
Keadaan ini khusus jika orang-orang kafir tidak makin bertambah lemah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang.

Yaitu lari dari teman-temannya sebagai siasat perang, untuk memperlihatkan kepada musuh bahwa dia takut kepada musuh, hingga musuh mengejarnya.
Kemudian secara mendadak ia berbalik menyerang dan membunuh musuhnya, maka cara seperti ini tidak dilarang.
Demi­kianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Sa’id ibnu Jubair dan As-Saddi.

Ad-Dahhak mengatakan, misalnya seseorang maju di hadapan teman-temannya karena dia melihat adanya kelalaian pada pihak musuh, sehingga ia berhasil memanfaatkan situasi ini dan dapat membunuh musuhnya.

…atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain.

Artinya, lari dari suatu kelompok ke kelompok yang lain di dalam pasukan kaum muslim untuk membantu mereka atau untuk meminta bantuan mereka, hal ini diperbolehkan.
Hingga seandainya ia berada di dalam suatu sariyyah (pasukan khusus), lalu ia lari ke arah amirnya atau kepada imam besarnya, maka hal ini termasuk ke dalam pengertian kemurahan yang disebutkan dalam ayat ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Ziyad, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Abdullah ibnu Umar r.a. yang mengatakan,
"Saya termasuk di dalam suatu pasukan yang dikirimkan oleh Rasulullah ﷺ Kemudian orang-orang terpukul mundur dan lari, sedangkan saya termasuk orang-orang yang mundur.
Lalu kami berkata, ‘Apakah yang harus kita perbuat, sedangkan kita telah lari dari serangan musuh dan kita kembali dalam keadaan beroleh murka Allah?’ Akhirnya kami mengatakan, ‘Sebaiknya kita kembali ke Madinah dan menginap.’ Dan kami berkata lagi,
"Bagaimana kalau kita tanyakan perihal diri kita ini kepada Rasulullah ﷺ Jika masih ada pintu tobat buat kita, kita akan bertobat, dan jika tidak ada, maka kita akan berangkat kembali.’ Kemudian kami menghadap kepadanya sebelum salat Subuh.
Beliau ﷺ keluar (dari rumahnya) seraya bertanya, ‘Siapakah kaum ini?’ Maka kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang lari dari medan perang?
Nabi ﷺ bersabda:
‘Bukan, bahkan kalian adalah orang-orang yang sedang melakukan siasat perang, saya sendiri termasuk golongan pasukan kaum muslim.
Ibnu Umar melanjutkan kisahnya,
"Lalu kami (para sahabat yang bertugas dalam sariyyah itu) mendekati beliau dan mencium tangan beliau."


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi.
dan Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Yazid ibnu Abu Ziyad.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Ibnu Abi Ziyad.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya melalui hadis Yazid ibnu Abu Ziyad dengan sanad yang sama, yang pada penghujungnya disebutkan bahwa lalu Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:

…atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain.

Menurut ahlul ‘ilmi, makna al-‘akkaruna yang ada dalam hadis ini ialah orang-orang yang menggunakan siasat perang.


Hal yang sama telah dikatakan oleh Umar ibnul Khattab r.a. sehubungan dengan gugurnya Abu Ubaidah di atas sebuah jembatan di negeri Persia ketika berperang melawan musuh.
Ia gugur karena banyaknya pasukan pihak Majusi yang menyerangnya.
Lalu Umar berkata,
"Sekiranya dia bergabung kepadaku (yakni mundur untuk mencari bantuan), niscaya aku akan menjadi pasukan pembantunya."


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Sirin, dari Umar.

Menurut riwayat Abu Usman An-Nahdi melalui Umar, ketika Abu Ubaidah gugur, Umar berkata,
"Hai manusia, aku adalah pasukan kalian juga."
Mujahid mengatakan bahwa Umar telah mengatakan,
"Saya adalah pasukan semua orang muslim.""

Abdul Malik ibnu Umair telah meriwayatkan dari Umar,
"Hai manusia, jangan sekali-kali kalian salah pengertian terhadap ayat ini, sesungguhnya kisah dalam ayat ini hanya terjadi dalam Perang Badar, aku adalah pasukan setiap orang muslim."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hissan ibnu Abdullah Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Sulaiman Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Nafi’, bahwa Nafi’ pernah bertanya kepada ibnu Umar,
"Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang tidak kokoh dalam peperangan melawan musuh, sedangkan kami tidak mengerti apakah yang dimaksud dengan lafaz al-fi-ah, apakah ia imam kami atau basis pasukan kami?"
Ibnu Umar menjawab,
"sesungguhnya yang dimaksud dengan al-fi-ah ialah Rasulullah ﷺ sendiri."
Saya (Nafi’) mengatakan, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerang kalian.
(QS. Al-Anfal [8]: 15), hingga akhir ayat.
Ibnu Umar menjawab,
"Sesungguhnya ayat ini hanyalah diturunkan di waktu Perang Badar, bukan sebelumnya, bukan pula sesudahnya."


Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain.Yakni yang lari untuk menggabungkan diri dengan Nabi dan para sahabatnya.


Hal yang sama dikatakan terhadap orang yang lari dari medan perang pada hari itu (di masa pemerintahan Khal ifah Umar) untuk bergabung dengan amir dan teman-temannya.
Adapun jika lari bukan karena suatu penyebab dari sebab-sebab yang telah disebutkan di atas, maka hukumnya haram dan merupakan suatu dosa besar.


Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

"Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan."
Ada yang bertanya,
"Wahai Rasulullah apa sajakah ketujuh dosa besar itu?"
Rasulullah ﷺ bersabda.
"Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang saat diserang, dan menuduh berzina wanita-wanita mukmin yang terpelihara kehormatannya yang sedang dalam keadaan lalai."

Hadis ini mempunyai syawahid yang menguatkannya, diriwayatkan melalui jalur-jalur lain.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempat kembalinya.

Artinya, orang yang berbuat demikian kembali dari medan perangnya dengan membawa murka Allah yang menimpa dirinya, dan kelak tempat kembalinya di hari kemudian disebutkan oleh firman selanjutnya, yaitu:

…ialah neraka jahanam.
Dan amat buruklah tempat kembalinya


Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muqatil Al-Isfati, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar As-Sinni.
telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Murrah.
Ia pernah mendengar Bilal ibnu Yasar ibnu Zaid maula Rasulullah ﷺ menceritakan hadis berikut:
Ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis ini dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ telah besabda:
Barang siapa mengucapkan,
"Saya memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, dan saya bertobat kepada-Nya, diberikan ampunan baginya, sekalipun dia telah lari dari medan perang.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Musa Ibnu Ismail, dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengetengah­kannya dari Imam Bukhari, dari Musa ibnu Ismail dengan sanad yang sama.
Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.
kami tidak mengenalnya melainkan hanya dari jalur ini.

Menurut kami, Zaid maula Rasulullah ﷺ belum pernah menceritakan hadis dari Rasulullah ﷺ selain hadis ini.

Sebagian haram bagi para sahabat, tiada lain karena jihad adalah fardu ‘ain bagi mereka.
Menurut pendapat lain, hal ini hanya khusus bagi kalangan Ansar, karena mereka telah berbai’at untuk tunduk patuh, baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.
Menurut pendapat lainnya lagi, makna yang dimaksud oleh ayat ini khusus bagi ahli Badar (kaum muslim yang ikut dalam Perang Badar).
Hal yang menyatakan demikian telah diriwayatkan melalui Umar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Abu Nadrah, Nafi’ maufa Ibnu Umar, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan Al-Basri, Ikrimah, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Alasan mereka mengatakan demikian karena pada zaman itu tidak ada suatu golongan yang mempunyai kekuatan bersenjata untuk dapat dijadikan sebagai pelindung dan dimintai bantuannya selain golongan mereka sendiri, seperti yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam doanya:

Ya Allah, jika golongan ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.

Karena itulah Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Mubarak ibnu Fudalah dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu
Yang dimaksud adalah dalam Perang Badar.
Adapun di masa sekarang ini, jika suatu pasukan kaum muslim bergabung dengan pasukan kaum muslim lainnya, atau masuk ke dalam kota muslim, menurut saya hukumnya tidak mengapa.


Ibnul Mubarak mengatakan pula dari Ibnu Luhai’ah (Lahi’ah), telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Habib yang mengatakan bahwa Allah memastikan masuk neraka bagi orang yang lari dari Perang Badar, karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:
Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat)perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah (QS. Al-Anfal [8]: 16)
Ketika terjadi Perang Uhud pada tahun berikutnya.
Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu.
(Ali-lmrah:
155)
sampat dengan firman-Nya:
dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka.
(Ali-Imran:
155)
Kemudian pada waktu Perang Hunain —tujuh tahun kemudian— Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:
kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.
(At Taubah:25)
sampai dengan firman-Nya:
Sesudah itu Allah menerima tobat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.
(At Taubah:27)

Di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, Mustadrak Imam Hakim, serta kitab Tafsir Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih disebutkan melalui hadis Daud ibnu Abu Hindun, dari AbuNadrah, dari Abu Sa’id, ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu.
(QS. Al-Anfal [8]: 16)
Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang muslim yang terlibat dalam Perang Badar.
Tetapi hal ini bukan berarti me-nafi-kan pengertian haram bagi selain mereka yang lari dari medan perangnya, sekalipun penyebab turunnya ayat ini berkenaan dengan mereka (ahli Badar).
Seperti apa yang ditunjukkan oleh makna hadis Abu Hurairah di atas yang menyatakan bahwa lari dari medan perang merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan.
Demikianlah menurut pendapat jumhur

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 16

FI’AH
فِئَة

Arti kata fi’ah adalah sekelompok manusia yang menunjukkan kebolehannya dan mereka saling membantu di antara satu dengan yang lainnya.

Bentuk tunggal fi’ah diulang sebanyak delapan kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 249 (dua kali);
Ali Imran (3), ayat 13;
Al Anfaal (8), ayat 16, 19, 45;
Al Kahfi (18), ayat 43;
Al Qashash (28), ayat 81.
Sedangkan bentuk mutsanna (ganda)-nya fi’atayn dan fi’ataan diulang sebanyak tiga kali, yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 13;
An Nisaa (4), ayat 88;
Al Anfaal (8), ayat 48.
Pada surah Al Qashash (28), ayat 81 diceritakan bahawa ketika Allah menimbun Qarun bersama-sama dengan rumahnya di dalam tanah, maka ia tidak mendapat sebarang golongan (fi’ah) yang bisa menolongnya, baik fi’ah tersebut berupa kawan-kawan sekutu, pembantu-pembantu mahupun tentara.
Hanya Allah lah yang dapat menyelamatkan hamba dari azab dan siksa.

Penggunaan kata fi’ah pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 juga hampir sama dengan penggunaannya pada surah Al Qashash (28), ayat 81 di atas.

Pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 ini, Allah menceritakan tentang nasib orang kaya pemilik kebun luas yang sombong dengan kekayaan dan anak-anaknya, dia tidak percaya hari kiamat dan tidak mau mensyukuri nikmat Allah.
Kebunnya yang luas itu akhirnya rusak binasa dan tidak dapat menghasilkan buah apa pun.
Allah menegaskan bahawa orang tersebut tidak mendapat sebarang golongan (fi’ah) yang bisa menolongnya, selain daripada Allah; dan ia pula tidak dapat membela dirinya sendiri.

Pada selain dua ayat tersebut kata fi’ah atau fi’atayn digunakan untuk menunjukkan golongan yang bersengketa dengan golongan yang lain, baik itu golongan-golongan tersebut berada dalam satu kelompok tertentu maupun kedua-duanya memang sekumpulan tentara yang siap berhadapan dalam peperangan.

Pada surah An Nisaa (4), ayat 88 Allah melarang orang beriman terpecah menjadi dua golongan (fi’atayn) yang saling berselisih ketika menghadapi orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang menampakkan keislaman pada sisi lahiriahnya namun mereka tidak mau ikut hijrah ke Madinah karena memang hati mereka masih kafir.
Pada mulanya umat Islam berbeda pendapat mengenai mereka, ada yang menganggapnya sebagai orang beriman sehingga tidak boleh diperangi dan ada yang menganggapnya sebagai orang kafir.
Kemudian Allah menegaskan bahawa orang-orang munafik tersebut adalah orang kafir, sehingga tidak boleh dikasihani atau dijadikan penolong, oleh karena itu umat Islam tidak perlu terpecah menjadi dua golongan yang saling berbantahan dalam masalah ini.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 249 kata fi’ah dikaitkan dengan perkataan sebahagian tentara perang raja Thalut (termasuk juga Nabi Dawud `alaihis salam yang jumlahnya sedikit ketika melawan tentara raja Jalut yang jumlahnya banyak.
Sebahagian pasukan raja Thalut tersebut dengan penuh semangat dan dengan keimanan yang kuat berkata: "Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit (fi’atin qaliilah) berhasil menewaskan golongan yang banyak (fi’atan katsiirah) dengan izin Allah.
Dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan dalam perang tersebut.
Perkataan pasukan raja Thalut tersebut juga bersesuaian dengan apa yang terjadi pada perang Badr, di mana jumlah tentara muslim sedikit sedangkan tentara musyrikin sangat banyak.
Meskipun demikian dalam surah Al Anfaal (8), ayat 19 Allah menegaskan bahawa Dia akan selalu menolong orang-orang yang beriman dan golongan angkatan perang kaum musyrikin tidak akan mendapatkan selamat sekalipun mereka sangat banyak.

Kata fi’atayn dan fi’ataan "dua golongan" dalam surah Ali Imran (3), ayat 13 dan Al Anfaal (8), ayat 48 juga masih berkaitan dengan kejadian perang Badr.

Dua golongan yang disebut dalam kedua ayat tersebut adalah tentara muslim yang jumlahnya sedikit dan tentara musyrikin yang jumlahnya banyak semasa perang Badr.
Allah menegaskan bahawa tentara muslim fi’ah berperang di jalan Allah bersama para malaikat, sedangkan tentara musyrikin fi’ah berperang memperjuangkan kekafiran bersama setan yang membujuk dan menyokong mereka, namun kemudian setan berkhianat dan lari dari peperangan setelah melihat para malaikat yang membantu tentara muslimin dalam perang tersebut.

Hampir sama dengan yang di atas, kata fi’ah yang terdapat dalam surah Al Anfaal (8), ayat 16 dan 45 mempunyai arti sekelompok tentara perang, namun ianya disebut untuk menerangkan aturan perang yang harus dipatuhi oleh umat Islam, supaya mereka mendapat kejayaan.

Pada ayat 45 Allah menetapkan aturan-aturan yang mesti dilakukan oleh tentara muslim semasa mereka bertemu dengan sesuatu pasukan musuh (fi’ah), yaitu:
(1). Hendaklah tetap teguh menghadapinya;
(2). Hendaklah banyak menyebut serta ingat kepada Allah;
(3). Hendaklah taat kepada Allah dan Rasul• Nya;
(4). Jangan berbantahbantahan dan bertelingkah;
(5). Bersabar menghadapi segala kesukaran.

Tujuan ditetapkannya aturan ini adalah supaya tentara muslim tidak menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan, dengan itu maka mereka akan mendapatkan kemenangan

Sedangkan ayat ke 16 menceritakan tentang strategi perang yang boleh dilakukan oleh tentara muslim.
Tentara muslim sama sekali tidak boleh menghindar dari menghadapi musuh kecuali apabila bermaksud untuk melakukan tipu muslihat perang, yaitu lari ke arah atau ke tempat lain yang lebih strategis dan kemudian menyerang musuh kembali, atau mereka lari dengan maksud bergabung dengan kelompok pasukan muslim yang lain (fi’ah) untuk kemudian menyerang musuh dengan kekuatan pasukan yang lebih besar.
Tindakan seperti itu dibolehkan, karena ianya tidak termasuk melarikan diri dari perang, melainkan maksud tindakan itu adalah untuk mengungguli musuh dan menyusun kekuatan kembali dengan cara menyerang musuh semula dari tempat yang lebih tepat atau bergabung dengan kekuatan kelompok tentara muslim yang lain.
Dengan strategi seperti ini maka kejayaan perang akan terwujud.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:431-433

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 16 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 16 - Gambar 2
Statistik QS. 8:16
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
Sending
User Review
4.9 (21 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

8:16, 8 16, 8-16, Surah Al Anfaal 16, Tafsir surat AlAnfaal 16, Quran Al Anfal 16, AlAnfal 16, Al-Anfal 16, Surah Al Anfal ayat 16

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Anfaal

۞ QS. 8:2 Ar Rabb (Tuhan) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Bertambah dan berkurangnya iman

۞ QS. 8:4 Ar Rabb (Tuhan) • Perbedaan derajat di surga • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 8:5 Ar Rabb (Tuhan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 8:6 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 8:7 Sifat Iradah (berkeinginan) • Azab orang kafir

۞ QS. 8:9 Ar Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 8:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan •

۞ QS. 8:11 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukmin • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 8:12 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan •

۞ QS. 8:13 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 8:14 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:16 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah •

۞ QS. 8:17 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 8:18 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 8:19 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:21 • Kebodohan orang kafir • Sifat orang munafik

۞ QS. 8:22 • Kebodohan orang kafir • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 8:23 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:24 • Kebenaran hari penghimpunan • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 8:25 • Siksaan Allah sangat pedih • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:26 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Orang mukmin kelompok minoritas

۞ QS. 8:28 • Macam-macam fitnah • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 8:29 • Ampunan Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 8:30 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 8:31 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:32 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:33 • Ampunan Allah yang luas • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 8:34 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:35 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:36 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia •

۞ QS. 8:37 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:38 • Ajakan masuk IslamIslam menghapus dosa masa lalu • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:39 Al Bashir (Maha Melihat)

۞ QS. 8:40 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 8:41 Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 8:42 Dalil Allah atas hambaNya • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 8:43 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 8:44 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 8:47 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 8:48 • Siksaan Allah sangat pedih • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Istidraj (memperdaya) •

۞ QS. 8:49 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sifat orang munafik

۞ QS. 8:50 • Siksaan Allah sangat pedih • Tugas-tugas malaikat • Keluarnya ruh orang kafir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:51 • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 8:52 • Siksaan Allah sangat pedih • Al Qawiy (Maka Kuat) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:53 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 8:54 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:55 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:57 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 8:59 • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:60 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam • Melihat sebab akibat

۞ QS. 8:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 8:62 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 8:63 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 8:64 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 8:65 • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:66 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 8:67 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 8:68 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 8:69 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 8:70 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ajakan masuk IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 8:71 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 8:72 Al Bashir (Maha Melihat) • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman •

۞ QS. 8:73 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Orang kafir menjadi penolong sesamanya

۞ QS. 8:74 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 8:75 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

Ayat Pilihan

Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah & carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,
dan berjihadlah pada jalan-Nya,
supaya kamu mendapat keberuntungan.
QS. Al-Ma’idah [5]: 35

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku & kepada ibu bapakku & untuk kerjakan amal saleh yang Engkau ridai, dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh
QS. An-Naml [27]: 19

Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.
QS. Hud [11]: 88

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.121 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #26
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #26 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #26 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Kamus

jaiz

Apa itu jaiz? ja.iz diizinkan menurut agama (boleh dilakukan, tetapi boleh juga tidak); mubah … •

Ibnu Taimiyah

Siapa itu Ibnu Taimiyah? Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani (Bahasa Arab: أبو عباس تقي الدين أحمد بن عبد السلام بن عبد ...

Al-Falaq

Apa itu Al-Falaq? Surah Al-Falaq adalah surah ke-113 dalam Alquran. Nama Al-Falaq diambil dari kata Al-Falaq yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya waktu subuh. Surat ini tergolong sur...