Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 11


اِذۡ یُغَشِّیۡکُمُ النُّعَاسَ اَمَنَۃً مِّنۡہُ وَ یُنَزِّلُ عَلَیۡکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِّیُطَہِّرَکُمۡ بِہٖ وَ یُذۡہِبَ عَنۡکُمۡ رِجۡزَ الشَّیۡطٰنِ وَ لِیَرۡبِطَ عَلٰی قُلُوۡبِکُمۡ وَ یُثَبِّتَ بِہِ الۡاَقۡدَامَ
Idz yughasy-syiikumunnu’aasa amanatan minhu wayunazzilu ‘alaikum minassamaa-i maa-an liyuthahhirakum bihi wayudzhiba ‘ankum rijzasy-syaithaani waliyarbitha ‘ala quluubikum wayutsabbita bihil aqdaam(a);

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).
―QS. 8:11
Topik ▪ Iman ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin ▪ Ayat yang dinaskh
8:11, 8 11, 8-11, Al Anfaal 11, AlAnfaal 11, Al Anfal 11, AlAnfal 11, Al-Anfal 11
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa di samping Allah memberikan bantuan berupa malaikat yang datang secara berturut-turut, juga memberikan bantuan yang lain berupa situasi dan kondisi yang menguntungkan bagi kaum Muslimin.
Pertolongan Allah itu ialah pada saat kaum Muslimin berada dalam ketakutan menghadapi musuh, mereka diserang oleh rasa kantuk sehingga mereka tidak dapat merasakan ketakutan lagi.
Ketakutan itu ialah karena mereka melihat jumlah bala tentara musuh yang banyak dan persiapannya yang lengkap.
Maka dengan adanya rasa kantuk itu, hilanglah rasa takut mereka dan kembali mereka menjadi tenteram.

Untuk memberikan gambaran yang lebih luas mengenai mengantuknya orang-orang Muslimin saat berperang, dapatlah diikuti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Baihaqi dari Ali berkata:

Kami tidaklah mempunyai bala tentara berkuda pada perang Badar kecuali Al-Miqdad.
Semua kami tertidur, kecuali Rasulullah ﷺ beliau salat di bawah sebatang pohon sampai pagi hari.
(H.R Abu Ya'la dan Baihaki dari Ali)

Menurut bunyi ayat yang dapat dipahami ialah bahwa datangnya rasa kantuk itu terjadi pada saat pertempuran berlangsung.
Rasa kantuk itu menghilangkan rasa takut dan gentar.
Dan dengan sendirinya hilanglah perasaan takut menghadapi bahaya.
Hal ini sama dengan peristiwa yang terjadi pada mereka sewaktu berlangsungnya perang Uhud seperti tersebut dalam firman Allah:

Kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu.
(Q.S Ali Imran: 154)

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan pertolongan-Nya yang lain kepada kaum Muslimin, yaitu pada saat terjadinya perang Badar Allah menurunkan hujan kepada kaum Muslimin dari langit supaya dapat mensucikan diri dengan hujan itu.
Untuk dapat gambaran tentang maksud Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan hujan kepada kaum Muslimin, dan apa pula hikmatnya dapatlah dituangkan dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Munzir melalui Ibnu Jarir dari Ibnu `Abbas:

Orang-orang musyrikin di permulaan peperangan telah menguasai sumber-sumber air mendahului kaum Muslimin, sehingga orang-orang Islam menjadi kehausan.
Mereka salat dalam keadaan junub dan berhadas (tanpa bersuci dengan air).
Sedang di sekitar mereka hanya pasir belaka.
Kemudian mereka digoda oleh setan, seolah-olah setan itu berkata: "Apakah kamu mengira bahwa ada Nabi di antara kamu dan kamu adalah wali-wali Allah.
Sedangkan kamu salat dalam keadaan junub dan berhadas?"
Karenanya Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan hujan dari langit, sehingga mengalirlah air di lembah itu.
Maka kaum muslimin meminum air dan bersuci dengannya dan kuatlah hati mereka, serta hilanglah was-was mereka.
(H.R Ibnul Munzir dari Ibnu 'Abbas)

Dan Allah juga menjelaskan bahwa Dia menurunkan hujan dari langit untuk menghilangkan gangguan-gangguan setan untuk menghilangkan rasa takut dan was-was, lantaran kaum muslimin pada waktu itu berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Mereka berada di daerah padang pasir yang tidak baik dijadikan kubu pertahanan karena sukar untuk menggerakkan kaki apalagi untuk mengadakan penyerangan, bahkan di daerah tersebut tidak ada sumber-sumber air.

Dari segi lain Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan pula bahwa dengan turunnya hujan mudahlah kaki mereka untuk berjalan di atas pasir, sehingga mereka mendapat kemantapan dan kepercayaan penuh agar dapat bertahan dan menyerang musuh serta dapat mempersatukan daya tempur mereka.

Dengan demikian tujuan Allah menurunkan hujan dari langit dalam perang Badar itu ialah:

1. Untuk memberikan kemungkinan kepada kaum muslimin supaya mereka dapat bersuci dari junub dan hadas sehingga mereka dapat beribadat dalam keadaan suci lahir batin.

2. Untuk menghilangkan was-was yang dibisikkan setan, dan menghilangkan rasa takut akibat tidak adanya persediaan air.

3. Agar kaum muslimin dapat bebas untuk mengatur gerak dalam pertempuran, karena mereka tidak lagi terganggu oleh pasir yang lunak yang menganggu gerakan kaki.

Al Anfaal (8) ayat 11 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah di saat kalian kekurangan perbekalan air dan di saat kalian dicekam rasa takut pada musuh, lalu Allah mendatangkan pada kalian rasa aman.
Kalian merasakan kantuk dan tertidur dengan tenang.
Allah menurunkan air hujan dari langit agar kalian dapat bersuci dengan air itu dan mengusir bisikan setan.
Allah telah mengukuhkan hati kalian dengan pertolongan-Nya.
Dengan air hujan itu pula tanah menjadi padat dan mengokohkan kaki yang berdiri di atasnya[1].

[1] Ayat ini menjelaskan karunia Allah yang diberikan kepada pejuang-pejuang Mukmin saat mereka mendapatkan ketenangan jiwa berupa rasa kantuk yang menyebabkan mereka dapat beristirahat dengan baik, dan diturunkannya hujan sehingga mereka dapat bersuci dan mandi.
Tanah berpasir pun menjadi padat dan kesat oleh siraman air hujan sehingga dapat mengokohkan pasukan yang menginjakkan kaki mereka di atasnya.
Karena, seperti diketahui, pasir-pasir halus dan kering akan cepat mendatangkan lelah pasukan di samping menjadi kendala yang menghalangi kecepatan gerak.
Ayat berikutnya menjelaskan perintah Allah kepada para malaikat untuk ikut serta mengukuhkan hati orang-orang beriman dan meniupkan perasaan gentar ke dalam hati orang-orang kafir.
Sebab rasa gentar menghadapi musuh berarti kekalahan.
Diterangkan pula dalam ayat itu bagaimana teori melemahkan musuh dari tempat yang mematikan, yaitu dengan menebas batang leher atau tangan sehingga meruntuhkan senjata lawan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteram) untuk menenteramkan hatimu dari rasa takut yang menimpa dirimu (daripada-Nya) Allah Yang Maha Tinggi (dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu) dari hadas dan jinabah itu (dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan) godaan setan dari dirimu yang mengatakan bahwasanya jika kamu berada dalam jalan kebenaran, niscaya kamu tidak akan kehausan lagi berhadas sedang kaum musyrikin berada dekat air (dan untuk menguatkan) mengokohkan (hatimu) dalam keyakinan dan kesabaran (dan memperteguh dengannya telapak kakimu) agar telapak kakimu berdiri tegar di padang pasir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

(Ingatlah) ketika Allah menurunkan rasa kantuk pada kalian sebagai penenteram dari rasa takut terhadap musuh-musuh.
Dan menurunkan air yang suci dari awan agar kalian dapat bersuci dari kotoran yang tampak, dan menghilangkan dari diri kalian rasa was-was dan bisikan-bisikan setan di dalam hati, dan untuk menguatkan hati kalian dengan kesabaran dalam berperang, serta memperteguh kaki-kaki kaum mukmin dengan kerasnya tanah yang berpasir itu dengan hujan sehingga kaki tidak tergelincir (pada saat berperang).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah mengingatkan mereka akan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, yaitu rasa kantuk yang membuai mereka, hal ini menjadi penenteram hati mereka dari rasa ketakutan yang diakibatkan dari minimnya bilangan mereka, sedangkan jumlah musuh mereka sangat banyak.
Hal yang sama telah dilakukan pula oleh Allah sesudah Perang Uhud sebagai penenteram hati mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Kemudian setelah kalian berduka cita Allah menurunkan kepada kalian keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kalian, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri.
(Ali Imran:154), hingga akhir ayat,

Abu Talhah mengatakan bahwa dia termasuk salah seorang yang terkena rasa kantuk itu dalam Perang Uhud, dan sesungguhnya pedangnya sampai terjatuh berkali-kali dari tangannya.
Bila pedangnya jatuh, maka ia memungutnya, dan bila jatuh lagi, ia memungutnya kembali.
Dan sesungguhnya dia melihat pasukan kaum muslim menelentangkan tubuh mereka, sedangkan mereka berada di bawah lindungan tamengnya masing-masing.

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib, dari Ali r.a.
yang mengatakan, "Di antara kami tiada seorang penunggang kuda pun selain Al-Miqdad dalam Perang Badar.
Dan sesungguhnya di antara kami tiada seorang pun melainkan dalam keadaan tertidur, kecuali Rasulullah ﷺ yang sedang salat di bawah sebuah pohon seraya menangis hingga pagi harinya."

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dari Abu Razin, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa rasa kantuk dalam situasi perang merupakan penenteram hati dari Allah subhanahu wa ta'ala., sedangkan kalau kantuk dalam salat merupakan godaan dari setan.

Qatadah mengatakan bahwa kantuk mempengaruhi kepala, sedangkan tidur mempengaruhi hati.
Menurut kami, kantuk telah menimpa mereka dalam Perang Uhud, kisah mengenainya telah dikenal.
Adapun mengenai apa yang disebutkan di dalam ayat ini tiada lain berkaitan dengan kisah dalam Perang Badar.
Hal ini menunjukkan bahwa rasa kantuk itu pun telah dialami pula oleh mereka saat itu.
Seakan-akan hal tersebut selalu menimpa kaum mukmin di saat menghadapi peperangan, dimaksudkan agar hati mereka tenteram dan percaya akan pertolongan Allah.
Hal ini merupakan karunia dari Allah dan merupakan rahmat-Nya bagi mereka serta nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(Alam Nasyrah: 5-6)

Karena itulah di dalam kitab Sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika dalam Perang Badar berada di dalam kemah kecilnya dengan Abu Bakar As-Siddiq r.a.
—sedang berdoa— terkena rasa kantuk, kemudian beliau terbangun seraya tersenyum dan bersabda:

Bergembiralah, hai Abu Bakar, ini Malaikat Jibril datang (dengan mengendarai kuda) yang pada kedua sisinya beterbangan debu-debu.
Kemudian Nabi ﷺ keluar (berangkat) melalui pintu Al-Arisy seraya membacakan firman-Nya: Golongan (kaum musyrik) itu pasti akan dikalahkan, dan mereka akan mundur ke belakang.
(Al Qamar:45)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ ketika berangkat menuju medan Badar dan sampai padanya, lalu turun beristirahat.
Saat itu pasukan kaum musyrik berada di dalam posisi yang antara mereka dan mata air terdapat banyak gundukan pasir, sedangkan keadaan pasukan kaum muslim sangat lemah, lalu setan menyusupkan rasa kebencian di dalam hati mereka dan membisikkan godaannya di antara mereka seraya mengatakan, "Kalian mengakui bahwa diri kalian adalah kekasih-kekasih Allah, dan di antara kalian terdapat Rasul-Nya, tetapi kaum musyrik ternyata dapat mengalahkan kalian dalam menguasai mata air, sedangkan kalian, salat pun kalian kerjakan dalam keadaan berjinabah."

Maka Allah menurunkan hujan kepada pasukan kaum muslim, yaitu hujan yang cukup lebat, sehingga kaum muslim beroleh minum dan dapat bersuci.
Allah pun menghilangkan godaan setan dari mereka, dan tanah yang berpasir itu setelah terkena hujan menjadi padat dan kuat, sehingga orang-orang dengan mudah dapat berjalan di atasnya, begitu pula hewan-hewan kendaraan mereka, lalu pasukan kaum muslim maju menuju ke arah pasukan kaum musyrik.
Kemudian Allah menurunkan bala bantuan kepada Nabi-Nya dan kaum mukmin dengan seribu malaikat.
Malaikat Jibril turun bersama lima ratus malaikat di suatu sisi, sedangkan di sisi lain turun Malaikat Mikail dengan membawa lima ratus malaikat lagi.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya pasukan kaum musyrik dari kalangan Quraisy ketika berangkat untuk melindungi iringan kafilah mereka dan membelanya dari serangan kaum muslim, mereka turun istirahat di dekat mata air Badar, sehingga mereka menguasai sumber air itu dan mendahului kaum muslim.
Karenanya pasukan kaum muslim mengalami kehausan hingga mereka salat dalam keadaan mempunyai jinabah dan berhadas (tanpa bersuci), hal tersebut membuat mereka merasa berdosa besar.

Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, hujan yang deras, sehingga lembah tempat mereka berada dialiri oleh air yang banyak.
Lalu pasukan kaum mukmin minum dan memenuhi wadah-wadah air mereka serta memberi minum kendaraan-kendaraan mereka, dan mereka melakukan mandi jinabah.
Maka hal itu dijadikan oleh Allah sebagai sarana bersuci buat mereka dan untuk memantapkan pijakan mereka.
Demikian itu karena antara mereka dan kaum terdapat padang pasir maka Allah menurunkan hujan di atas pasir itu sehingga membuat tanah pasir itu keras dan kuat dipijak oleh kaki.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah, Ad-Dahhak, dan As-Saddi.
Telah diriwayatkan pula dari Sa'id ibnul Musayyab, Asy-Sya'bi, Az-Zuhri, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, bahwa mereka tertimpa hujan dalam Perang Badar.

Tetapi kisah yang dikenal mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berjalan menuju medan Perang Badar, beliau turun istirahat di dekat sumber air yang ada di tempat itu, yakni permulaan mata airyang dijumpainya.
Maka Al-Habbab ibnul Munzir menghadap kepada beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah tempat ini merupakan tempat yang diperintahkan oleh Allah agar engkau berhenti padanya dan kita tidak boleh melampauinya?
Ataukah tempat ini engkau jadikan sebagai tempat untuk menyusun strategi perang dan melancarkan tipu muslihat perang?"
Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak, bahkan ini merupakan tempat yang sengaja saya tempati untuk strategi perang dan menyusun tipu muslihatnya."

Al-Habbab ibnul Munzir berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tempat ini bukan tempat yang strategis untuk berperang dan melancarkan siasatnya.
Tetapi bawalah kami hingga sampai di mata air yang paling dekat dengan pasukan kaum musyrik, kemudian kita keringkan semua sumur lainnya, sehingga kita beroleh mata air untuk minum, sedangkan mereka tidak mempunyai air." Maka Rasulullah ﷺ berangkat untuk melakukan strategi tersebut

Di dalam 'kitab Magazil Umawi disebutkan bahwa ketika Al-Habbab melakukan hal tersebut, turunlah malaikat dari langit, sedangkan Malaikat Jibril sedang duduk di dekat Rasulullah ﷺ Lalu malaikat itu berkata, "Wahai Muhammad sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam buatmu.
Dia berfirman bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang diutarakan oleh Al-Habbah ibnul Munzir."

Maka Rasulullah ﷺ menoleh ke arah Malaikat Jibril 'alaihis salam dan bersabda, "Tahukah kamu siapakah ini?"
Jibril memandang ke arah malaikat itu dan berkata, "Tidak semua malaikat dapat aku kenal.
Tetapi dia adalah malaikat, bukan setan."

Hal yang lebih baik dari riwayat ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, penulis kitab Al-Magazi rahimahullah, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ruman, dari Urwah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa Allah me­nurunkan hujan dari langit yang sebelumnya lembah itu (Badar) dalam keadaan kering.
Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya terkena hujan yang membuat tanah berpijak mereka menjadi kuat dan tidak menghalangi mereka untuk berjalan.
Sedangkan hujan yang menimpa kaum musyrik membuat mereka tidak mampu bergerak dengan bebas.

Mujahid mengatakan bahwa Allah menurunkan hujan kepada kaum muslim sebelum rasa kantuk menyerang mereka.
Dengan air hujan itu debu tidak ada lagi, dan tanah menjadi keras karenanya, sehingga hati mereka menjadi senang dan kaki mereka menjadi kokoh.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Jariyah, dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa di malam hari kami tertimpa hujan —yakni malam hari yang keesokan harinya terjadi Perang Badar Hingga kami berlindung di bawah pepohonan dan memakai tameng-tameng untuk menaungi diri dari siraman air hujan.
Sedangkan Rasulullah ﷺ malam itu terus-menerus memberikan semangat untuk berperang.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...untuk menyucikan kalian dengan hujan itu.

Maksudnya, menyucikan kalian dari hadas kecil atau hadas besar, yakni penyucian lahiriah.

...dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan.

Yaitu melenyapkan gangguan setan dan bisikannya yang jahat, hal ini merupakan penyucian batin.
Pengertian ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam kisah ahli surga, yaitu:

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak (Al-Insan:21)

Hal ini merupakan perhiasan lahiriah.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:

dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (Al Insaan:21)

Yakni untuk menyucikan kedengkian, kebencian, dan permusuhan yang ada di dalam hati mereka, hal ini merupakan, perhiasan batin dan penyuciannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan untuk menguatkan hati kalian.

Yaitu dengan kesabaran dan pendirian yang kokoh dalam menghadapi musuh.
Hal ini merupakan sifat keberanian yang tidak kelihatan,

...dan untuk memperteguh dengannya telapak kaki(kalian).

Hal ini merupakan keberanian yang lahir, yakni yang tampak.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anfaal (8) Ayat 11

RIJZ
لرِّجْز

Lafaz ini dalam bentuk ism mufrad, jamaknya arjaz. Berasal dari kata rajaza yang berarti mendendangkan syair dalam bahar razaj.

Dalam Mu'jam Al Wasit, lafaz ar rijz ataupun ar rujz mengandung makna siksa­an, syirik, penyembahan berhala dan dosa.

Dalam Mu'jam Al Arabi, ar rijz juga ber­makna kotoran dan najis atau seperti rijs.

Al Maraghi berkata,
lafaz ar rijz, ar rijs dan ar raks adalah sesuatu yang kotor, baik hissi atau maknawi.

Lafaz ar rijz disebut sembilan kali di dalam Al Qur'an yaitu pada surah:
-Al Baqarah (2), ayat 59;
-Al­ A'raaf (7), ayat 134, 135, 162;
-Al Anfaal (8), ayat 11;
-Al Ankabut (29), ayat 34;
-Saba (34), ayat 5;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 11.

Lafaz ar rujz disebut sekali yaitu dalam surah Al Muddatstsir (74), ayat 5.

Al Husain Ad Daamaghani menyatakan, lafaz ar rijz atau ar rujz terdiri dari dua makna.

Pertama, ia ber­ makna al 'adzab atau siksaan seperti

ئِن كَشَفْتَ عَنَّا ٱلرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ

dan juga seperti ayat dalam surah Al Baqarah, Al A'raaf dan al­ Ankabut yaitu

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ

bermakna siksaan yang datang dari langit.

Kedua, ar­ rujz ialah berhala. Allah menyatakan dalam surah Al Muddatstsir,

وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ

Ibn Qutaibah berkata,
asal makna ar rujz ialah siksaan. Ar rujz dinamakan berhala karena ia membawa penyembahnya kepada siksaan.

Dalam Mu'jam Alfaaz Al Qur'an, ar rujz ialah dosa secara keseluruhannya.

Di dalam surah Al Anfaal, lafaz ar rijz dikaitkan dengan asy syaithan (syaitan), maksudnya gangguan syaitan.

Kesimpulannya, keterangan makna­ makna bagi lafaz ar rijz maupun ar rujz di atas dapat disimpulkan, ar rijz maupun ar rujz membawa empat makna yaitu dosa, siksaan, berhala dan gangguan syaitan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:252-253

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 11 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 11



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending