Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anfaal

Al Anfaal (Harta rampasan perang) surah 8 ayat 1


یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَنۡفَالِ ؕ قُلِ الۡاَنۡفَالُ لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَصۡلِحُوۡا ذَاتَ بَیۡنِکُمۡ ۪ وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
Yasaluunaka ‘anil anfaali qulil anfaalu lillahi warrasuuli faattaquullaha wa-ashlihuu dzaata bainikum wa-athii’uullaha warasuulahu in kuntum mu’miniin(a);

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah:
“Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
―QS. 8:1
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
8:1, 8 1, 8-1, Al Anfaal 1, AlAnfaal 1, Al Anfal 1, AlAnfal 1, Al-Anfal 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini membicarakan persoalan harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslimin setelah usainya perang Badar Kubra.
Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin.
Mereka memperoleh harta rampasan perang yang banyak.

Al-Anfal (Al-Ganimah) ialah segala macam harta yang diperoleh kaum Muslimin dari musuh dalam medan pertempuran.
Harta rampasan perang dinamakan Al-Anfal (bentuk jamak dari Nafal) karena harta-harta ini menjadi harta kekayaan kaum Muslimin.

Setelah kaum Muslimin memperoleh harta rampasan perang itu, terjadilah perselisihan pendapat di antara mereka yang ikut berperang.
Perselisihan itu mengenai cara-cara pembagiannya, dan pihak-pihak manakah yang berhak mendapatnya.
Pihak pemuda ataukah pihak orang-orang tua, pihak-pihak orang Muhajirin atau pihak Ansar, ataukah pula masing-masing pihak sama-sama mendapat bagian.
Persoalan itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ agar mendapat keputusan yang adil.

Perselisihan kaum Muslimin tentang harta rampasan perang yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini diriwayatkan Ubadah bin Shamit, katanya:

Kami pergi bersama-sama Rasulullah dan saya turut menghadiri Badar.
Orang-orang pun telah berhadapan muka satu dengan yang lain.
Maka Allah telah menghancurkan musuh-musuhnya.
Kemudian satu kelompok mengejar sambil menyerang dan menggempur musuh, dan satu kelompok menghadapi barisan untuk menghimpun mereka, dan sekelompok lagi melindungi Rasulullah ﷺ agar musuh tidak menyerang diri beliau secara tiba-tiba.
(Peristiwa ini berlangsung) hingga malam tiba dan orang-orang telah bergabung kembali satu dengan yang lain.
Orang-orang yang bertugas mengumpulkan harta rampasan perang berkata: "Kamilah yang merampas dan mengumpulkannya, maka tak ada seorang pun yang mendapat bagian selain kami." Sedang orang-orang yang maju mengejar musuh berkata: "Kamu tidak lebih berhak untuk mendapatkannya daripada kami.
Kamilah yang merampas harta rampasan perang itu dan kamilah yang menyerang mereka." Sedang Orang-orang yang melindungi Rasulullah, berkata: "Kamu tiadalah lebih berhak untuk mendapatkannya daripada kami, Kamilah yang melindungi Rasulullah, sedang kami khawatir kalau-kalau musuh menyerang beliau, kami sibuk melindungi beliau." Maka turunlah ayat ini.
Setelah itu Rasulullah ﷺ membagi harta rampasan itu di antara kelompok kaum muslimin."
(H.R Ahmad dan Al Bukhari dari Ubadah bin Samit)

Sebagai jawaban atas pertanyaan kaum Muslimin itu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ untuk menetapkan hukumnya, bahwa harta rampasan perang itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu yang menentukan pembagian harta rampasan itu bukan regu pemuda atau bukan regu orang-orang tua, bukan orang-orang Muhajirin atau orang-orang Ansar, bukan pula regu penyerang, regu pelindung, atau regu pengumpul harta rampasan perang tetapi Allahlah yang menentukan dengan wahyu-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya.
Rasulullah membagi harta rampasan perang itu secara merata di antara kaum Muslimin.

Dalam ketentuan ini terkandung pelajaran yang tinggi bagi kaum Muslimin agar mereka tidak beranggapan, bahwa harta rampasan perang yang mereka peroleh itu merupakan imbalan jasa peperangan, tetapi semata-mata mereka peroleh karena karunia Allah.
Kalau mereka beranggapan bahwa harta rampasan perang itu mereka peroleh sebagai imbalan jasa, maka perjuangan mereka tidak murni lagi, tidak semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya.
Dan memberi dorongan pula kepada kaum Muslimin agar mereka dalam menghadapi tanggungjawab yang berat, hendaklah mereka hadapi secara bersama-sama, dan apabila mendapat kenikmatan supaya dirasakan bersama-sama pula.

Mengenai pembagian harta rampasan perang secara terperinci akan diuraikan penafsirannya pada ayat 41 surah ini.
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan pula kepada Rasulullah ﷺ agar kaum Muslimin bertakwa, menjauhi perselisihan dan persengketaan yang biasanya menimbulkan kesusahan dan menjerumuskan mereka kepada kemurkaan Allah.
Takwa diperlukan dalam setiap keadaan, terlebih-lebih dalam peperangan, akibat perselisihan dapat dirasakan, yaitu mengganggu persatuan dan menyebabkan perpecahan yang mengakibatkan kekalahan.

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar kaum Muslimin memperbaiki hubungan sesama muslim, yaitu menjalin cinta kasih dan memperkokoh kesatuan pendapat.
Hal inilah yang dapat mengikat mereka dalam kesatuan gerak dalam mencapai cita-cita bersama, yaitu mempertinggi kalimat Allah.
Persatuan dan kesatuan ini menjadi dasar kekuatan umat dalam segala bidang.
Itulah sebabnya, maka memperbaiki hubungan di antara sesama muslim diwajibkan agar kaum Muslimin menyadari akan kepentingannya, yaitu menghindari bahaya yang mengancam mereka, bahaya keretakan yang mengguncangkan kesatuan umat.
Hal ini jelas tergambar pada saat terjadinya perselisihan yang terjadi di antara kelompok-kelompok karena yang satu merasa lebih berjasa dari kelompok yang lain.
Demikian pula hal ini terjadi karena mereka melupakan tugas mereka yang penting, yaitu bahwa tugas mempertahankan kebenaran itu adalah tugas keseluruhan mereka.

Pada akhir ayat Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan agar kaum muslimin menaati Allah dan Rasul dalam hal ini menaati macam ketentuan perang, yaitu yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ dengan perantaraan wahyu.
Ketentuan Allah wajib ditaati, lantaran Dia itu Tuhan seru sekalian alam dan Yang Maha Kuasa, sedang taat kepada Rasul dalam urusan agama berarti taat kepada Allah karena dialah yang menyampaikan agama itu dan memberikan penjelasan yang tertuang dalam perkataan, perbuatan serta keputusannya.

Perintah ini ditegaskan pada saat kaum muslimin dalam keadaan bersengketa mengenai pembagian harta rampasan perang untuk mengingatkan mereka bahwa dalam saat-saat bagaimana pun juga kaum muslimin harus tetap menaati Allah dan Rasul-Nya, agar mereka tidak tersesat kepada perpecahan karena ambisi golongan dan kemauan hawa nafsu yang biasanya menjerumuskan mereka kepada kehancuran.

Di dalam ayat ini terdapat beberapa anasir penting yang dapat memelihara kesatuan umat, yaitu takwa, memperbaiki hubungan sesama muslim, dan menaati Allah dan Rasul di dalam setiap keadaan.

Al Anfaal (8) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anfaal (8) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anfaal (8) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bermula dari makar dan rencana jahat orang-orang musyrik untuk membunuh Rasulullah ﷺ., Allah memerintahkan Rasul-Nya itu berhijrah meninggalkan kota suci Mekah menuju Madinah sebagai bumi tempat tinggal selamanya.
Di bumi kemenangan itulah nantinya orang-orang Muslim membangun suatu negara yang berdaulat.
Bertolak dari realitas seperti itu, tidak ada alasan lain kecuali berjihad menentang tirani, penindasan dan fitnah.
Maka pecahlah perang Badar Besar (Badar Pertama).
Pada peperangan itu, kemenangan yang gemilang ada di pihak orang-orang Mukmin.
Harta rampasan pun cukup banyak.
Melimpahnya harta rampasan perang itu sempat mengundang perbedaan pendapat menyangkut persoalan pembagiannya.
Lalu mereka bertanya kepadamu, Muhammad, tentang harta rampasan perang:
akan dikemanakan, untuk siapa dan bagaimana cara membaginya.
Katakan kepada mereka, "Mula-mula harta yang kalian dapatkan dari berperang itu adalah hak milik Allah dan Rasul-Nya, yang selanjutnya mendapat perintah dari Allah untuk membagikannya.
Tidah usah kalian berbeda pendapat menyangkut persoalan harta itu, cukuplah kalian menjadikan rasa takut dan taat pada Allah sebagai simbol kebanggaan kalian.
Berusahalah untuk selalu mengadakan perbaikan di antara kamu sekalian dan jadikanlah jiwa cinta kasih dan keadilan sebagai asas tali persaudaraan, karena hal yang demikian itu merupakan sifat orang-orang beriman."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad (tentang harta rampasan) perang, siapakah yang berhak menerimanya (Katakanlah,) kepada mereka ("Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan rasul-Nya) harta rampasan perang itu terserah menurut kesukaan Allah dan rasul-Nya, kemudian Rasulullah ﷺ membagi-bagikan harta rampasan itu secara merata kepada mereka semuanya.
Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak (sebab itu bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu) yakni jalinlah kembali hubungan antara kalian dengan penuh kecintaan dan tinggalkanlah persengketaan (dan taatlah kalian kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman.") yang benar-benar beriman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang harta rampasan saat Perang Badar, bagaimana kamu akan membaginya kepada mereka?
Katakanlah kepada mereka :
Sesungguhnya harta rampasan itu adalah urusan Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah yang akan membaginya menurut perintah Rabbnya.
Takutlah kalian akan siksa Allah dan janganlah berani berbuat maksiat kepada-Nya.
Hindarilah pertikaian dan permusuhan karena harta itu, perbaikilah hubungan di antara kalian, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian orang-orang yang beriman.
Karena sesungguhnya keimanan akan membawa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Bukhari mengatakan, "Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan anfal ialah harta rampasan perang."

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman,-telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat Al-Anfal.
Maka Ibnu Abbas menjawab, "Surat ini diturunkan di Badar."

Adapun riwayat yang berpredikat mu’allaq dari Ibnu Abbas, maka ia diriwayatkan oleh Ali Ibnu Abu Talhah , dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan, "Yang dimaksud dengan anfal ialah ganimah (harta rampasan perang).
Pada awal mulanya harta rampasan perang hanyalah untuk Rasulullah ﷺ, tiada seorang pun yang berhak mengambilnya barang sedikit pun."

Pendapat yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Ata Ad-Dahhak, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, Muqatil ibnu Hayyan, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, mereka mengatakan bahwa anfal ialah ganimah.

Al-Kalbi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa anfal ialah ganimah.

Sehubungan dengan pengertian ini, Labid —seorang penyair— dalam salah satu bait syairnya mengatakan:

Sesungguhnya takwa kepada Tuhan kami merupakan ganimah yang paling baik, dan ketenangan serta ketergesa-gesaanku hanyalah semata-mata karena seizin Allah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, dari Ibnu Syihab, dari Al-Qasim ibnu Muhammad yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna anfal.
Maka Ibnu Abbas r.a.
menjawab bahwa kuda termasuk harta rampasan, dan harta benda termasuk harta rampasan.
Kemudian lelaki itu mengulangi lagi pertanyaannya, maka Ibnu Abbas menjawabnya dengan jawaban yang serupa.
Tetapi lelaki itu bertanya lagi, "Al-Anfal yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an itu apa maksudnya?' Al-Qasim ibnu Muhammad melanjutkan kisahnya, bahwa lelaki itu terus mencecar Ibnu Abbas dengan pertanyaannya hingga hampir membuat Ibnu Abbas marah (karena lelaki itu masih juga tidak mau mengerti).
Maka Ibnu Abbas berkata, "Tahukah kalian, siapakah yang mirip dengan orang ini?
Ia mirip dengan tukang samak kulit yang dipukul oleh Umar ibnul Khattab."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mamar, dari Az-Zuhri dari Al Qasim Ibnul Muhammad yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah bercerita, Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
apabila ditanya mengenai suatu masalah, maka ia mengatakan, 'Saya bukan orang yang memerintahmu, bukan pula orang yang melarangmu." Kemudian Ibnu Abbas mengatakan, "Demi Allah, tidak sekali-kali Allah mengutus Nabi-Nya ﷺ melainkan sebagai juru pemberi peringatan lagi memerintah dan menghalalkan serta mengharamkan." Al-Qasim melanjutkan kisahnya, "Lalu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai makna anfal.
Ibnu Abbas menjawab, 'Seorang lelaki dapat saja menghadiahkan kuda dan senjatanya kepada lelaki lain,' Lelaki itu mengulangi lagi pertanyaannya, dan Ibnu Abbas menjawabnya dengan jawaban yang serupa.
Lalu lelaki itu kembali bertanya kepada Ibnu Abbas, sehingga Ibnu Abbas emosi karenanya.
Kemudian Ibnu Abbas berkata, 'Tahukah kalian, siapakah yang mirip dengan orang ini?
Dia mirip dengan tukang samak kulit yang pernah dipukul oleh Umar ibnul Khattab, hingga darahnya mengalir sampai kedua tumitnya atau sampai membasahi kedua kakinya.
Maka lelaki itu mengatakan, 'Adapun engkau, maka Allahlah yang akan memberikan pembalasannya mengingat usiamu'."

Sanad asar ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas.
Dalam asar ini disebutkan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan kata anfal dengan pengertian 'hadiah yang diberikan oleh imam kepada sebagian orang', hadiah itu diambil oleh imam dari harta rampasan atau harta lainnya, sesudah imam membagi-bagikan rampasan yang pokok.
Pengertian inilah yang cepat ditangkap oleh kebanyakan ulama fiqih dari lafaz an-nafl.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa sesungguhnya mereka (para sahabat) pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang seperlima ganimah sesudah empat perlimanya dibagikan.
Maka turunlah firman-Nya:

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.

Ibnu Mas'ud dan Masruq mengatakan bahwa tidak ada nafl pada hari pertempuran.
Sesungguhnya Nafl hanya dilakukan sebelum kedua barisan bertempur.
Asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari keduanya.

Ibnul Mubarak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Ata ibnu Abu Rabah, sehubungan dengan makna firman-Nya:

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Bahwa mereka menanyakan kepadamu tentang harta rampasan yang diperoleh kaum muslim dari kaum musyrik tanpa melalui perang, baik berupa hewan kendaraan ataupun budak laki-laki atau budak perempuan atau harta benda.
Maka hal itu merupakan nafl’ buat Nabi ﷺ, beliau dapat melakukannya menurut apa yang disukainya.
Pendapat ini memberikan pengertian bahwa makna nafl sama dengan fai’ yaitu barang yang diambil dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut ialah harta rampasan pasukan khusus.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Saleh ibnu Hay yang mengatakan bahwa telah sampai suatu berita yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
(Al Anfaal:1) Yang dimaksud ialah saraya (bentuk jamak dari sariyyah yang artinya pasukan khusus).
Dengan demikian, berarti makna yang dimaksud ialah hadiah yang diberikan oleh imam kepada sebagian anggota pasukan sebagai tambahan dari bagian mereka lebih dari bagian pasukan lainnya.
Hal ini telah dijelaskan oleh Asy-Sya'bi, dan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa anfal ialah bagian ganimah yang dilebihkan.

Pendapat ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang menerangkan tentang latar belakang turunnya ayat ini.
yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibani, dari Muhammad ibnu Ubaidillah As-Saqafi.
dari Sa'd ibnu Abu Waqqas yang mengatakan.”Ketika Perang Badar berkecamuk dan saudaraku Umar gugur, maka aku membunuh Sa'id ibnul As dan aku rampas pedangnya yang diberi nama Zal Katffah.
Kemudian aku menyerahkannya kepada Nabi ﷺ, lalu beliau ﷺ bersabda: 'Pergilah, dan letakkanlah pedang itu di tempatnya semula'.” Lalu Sa'd ibnu Abu Waqqas meletakkan pedang itu dan kembali dalam keadaan sangat sedih —hanya Allah yang mengetahuinya— karena saudaranya telah gugur dan harta rampasannya diambil.
Tidak berapa lama sesudah itu turunlah surat Al-Anfal.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Pergilah kamu dan ambillah harta rampasanmu!

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Asim ibnu Abun Nujud, dari Mus'ab ibnu Sa'd, dari Sa'd ibnu Malik yang menceritakan bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memuaskanku pada hari ini dari orang-orang musyrik, mdka berikanlah pedang ini kepadaku." Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya pedang ini bukan untukmu, bukan pula untukku Letakkanlah pedang ini.
Lalu aku (Sa'd ibnu Malik) meletakkannya dan aku pergi seraya berkata kepada diriku sendiri, "Barangkali pedang ini akan diberikan kepada orang yang tidak mendapat cobaan seperti cobaan yang aku alami.
Sa'd ibnu Malik melanjutkan kisahnya, "Tidak lama kemudian ada seorang lelaki menyeruku dari arah belakang, sehingga aku berkata kepada diriku, 'Sesungguhnya Allah telah menurunkan sesuatu berkenaan denganku.' Lelaki itu berkata, 'Sesungguhnya engkau pernah meminta kepadaku pedang ini, padahal pedang ini bukan hasil rampasanku, tetapi diberikan kepadaku.
Maka sekarang pedang ini kukembalikan kepadamu sebagai milikmu." Sa'd ibnu Malik mengata­kan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
telah menurunkan ayat ini:

Mereka menanyakan kepadaku tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah, "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul."

Imam Abu Daud, Imam Turmuzi.
dan Imam Nasai telah meriwayat­kannya melalui berbagai jalur dari Abu Bakar ibnu Ayyasy dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi:

telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus'ab ibnu Sa'd menceritakan hadis dari Sa'd yang mengatakan bahwa telah diturunkan empat ayat berkenaan dengan dirinya.
Ia pernah memperoleh sebilah pedang dalam perang badar, lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, "Bolehkah pedang ini untukku sebagai nafilah?"
Nabi ﷺ bersabda, "Letakkanlah pedang itu di tempat semula ketika engkau mengambilnya," sebanyak dua kali.
Kemudian ia mengulangi permintaan, tetapi Nabi ﷺ bersabda, "Letakkanlah pedang itu di tempat semula ketika engkau mengambilnya." Maka turunlah ayat ini, yaitu:

...mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan..., hingga akhir ayat.

Hadis dalam bentuk lengkapnya ada pada penyebab turunnya firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya.
(Al 'Ankabut:8)

sesungguhnya (meminum) khamr dan berjudi.
(Al Maidah:90)

Dan ayat lainnya mengenai wasiat.

Imam Muslim telah meriwayat­kannya di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis Syu'bah dengan lafaz yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Abu Bakar, dari sebagian orang dari kalangan Bani Sa'idah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Usaid (yaitu Malik ibnu Rabi'ah) mengatakan bahwa ia berhasil merampas pedang Ibnu Aiz dalam Perang Badar, pedangnya itu diberi nama Al-Mirzabun.
Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada semua orang untuk mengumpulkan semua rampasan yang berada di tangan mereka, maka ia datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ seraya membawa pedang rampasan itu, lalu ia melemparkannya di tempat pengumpulan ganimah.
Dan Rasulullah ﷺ tidak pernah menolak sesuatu pun yang diminta darinya.
Kemudian Al-Arqam ibnu Abul Arqam Al-Makhzumi melihat pedang tersebut, lalu ia memintanya kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memberikan pedang itu kepadanya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula hadis ini melalui jalur periwayatan yang lain.

Penyebab lain yang melatarbelakangi turunnya ayat ini

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Abdur Rahman, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Mak-hul, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubadah tentang makna Al-Anfal.
Maka Ubadah menjawab bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang ikut dalam Perang Badar, yaitu ketika kami berselisih pendapat tentang harta rampasan sehingga pekerti kami menjadi buruk karenanya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
mencabutnya dari tangan kami dan menjadikannya di bawah kekuasaan tangan Rasulullah ﷺ Kemudian Rasulullah ﷺ membagikannya di antara sesama kami dengan pembagian yang rata.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Abi Ishaq, dari Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Abdullah ibnu Ayyasy ibnu Abu Rabi'ah, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Abu Salamah, dari Abu Umamah, dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan, "Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ, dan saya ikut berperang bersamanya di medan Perang Badar.
Kedua belah pasukan bertempur dan Allah mengalahkan musuh kami.
Kemudian segolongan dari kami mengejar pasukan musuh yang melarikan diri dan memerangi mereka, sedangkan segolongan lagi tetap berada di medan perang, mengumpulkan ganimah.
Segolongan yang lainnya ada tetap di markas pasukan kaum muslim menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ agar jangan dibokong oleh musuh saat sedang dalam keadaan lalai.
Dan pada malam harinya sebagian di antara pasukan kaum muslim berebutan ganimah dengan sebagian yang lainnya.
Orang-orang yang mengumpulkan ganimah mengatakan, 'Kamilah yang mengumpul­kannya, maka tiada seorang pun yang beroleh bagian selain kami.' Sedangkan orang-orang yang pergi mengejar musuh mengatakan, "Kalian bukanlah orang-orang yang lebih berhak padanya daripada kami.
Kamilah yang menjadi benteng Nabi ﷺ dari pasukan musuh, dan kami berhasil mengalahkan mereka.
Dan orang-orang yang tetap mengawal Rasulullah ﷺ berkata, 'Kami merasa khawatir bila musuh menyerang Rasulullah.
ﷺ dengan serangan bokongan saat tidak terkawal, sehingga kami sibuk dengan pekerjaan kami.' Maka saat itulah turun firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

/i>Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah, "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian."
Maka Rasulullah ﷺ membagi-bagikannya di antara semua kaum muslim.
Rasulullah ﷺ apabila melakukan peperangan di tanah musuh, maka beliau ﷺ selalu beroleh seperempat dari harta rampasan.
Apabila melakukan perang dalam perjalanan pulangnya, beliau mendapat sepertiga dari harta rampasan, dan beliau ﷺ tidak menyukai harta rampasan."

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Abdur Rahman ibnul Haris dengan lafaz yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih.

Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nys.
telah meriwayatkannya melalui hadis Abdur Rahman ibnul Haris.
Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Imam Abu Daud, Imam Nasai, Ibnu jarir, dan Ibnu Murdawaih yang lafaz (teks) hadis berikut menurut yang ada padanya, demikian pula Ibnu Hibban serta Imam Hakim, semuanya meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Perang Badar, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang berbuat anu dan anu, maka baginya hadiah anu dan anu." Maka pasukan kaum muslim yang berusia muda segera melaksanakannya, sedangkan yang berusia tua tetap berada di bawah panji-panji, mempertahankan diri.
Kemudian ketika ganimah diperoleh mereka, maka para pemuda datang untuk menuntut hadiah yang disediakan bagi mereka.
Tetapi orang-orang yang telah berusia tua berkata, "Janganlah kalian mementingkan diri sendiri dan melalaikan kami, karena sesungguhnya kami adalah, sebagai benteng bagi kalian.”Sekiranya kalian terpukul mundur, niscaya kalian akan kembali kepada kami." Mereka bersengketa.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.... sampai dengan firman-Nya: ...dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Perang Badar, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang membunuh musuh, maka baginya hadiah anu dan anu, dan barang siapa yang berhasil menawan musuh, maka baginya hadiah anu dan anu." Lalu datanglah Abul Yusr dengan membawa dua orang tawanan dan berkata, "Wahai Rasulullah, semoga Allah melimpahkan salawat­Nya kepadamu, manakah hadiah kami?"
Maka Sa'd ibnu Ubadah berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau, jika memberi mereka, niscaya sahabat-sahabatmu tidak kebagian sesuatu pun.
Dan sesungguhnya tiada yang mencegah kami dari hal ini karena enggan dengan upah (hadiah) dan takut kepada musuh, melainkan kami tetap di posisi kami demi mengawal engkau dan karena khawatir bila musuh datang menyerangmu dari arah belakang." Akhirnya mereka bersengketa, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah, "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul."

Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa turun pula firman-Nya yang lain, yaitu:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah. (Al Anfaal:41), hingga akhir ayat.

Imam Abu Ubaidillah Al-Qasim ibnu Salam rahimahullah di dalam kitab 'Harta-harta yang Diakui oleh Syariat dan Penjelasan mengenai Sumber-sumber serta Pengalokasiannya' mengatakan bahwa anfal adalah harta rampasan perang, dan termasuk pula semua yang diperoleh kaum muslim dari harta benda kafir harbi.
Dan mula-mula seluruh anfal yang diperoleh kaum muslim diberikan kepada Rasulullah ﷺ Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman sehubungan hal ini: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah, "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul." (Al Anfaal:1) Kemudian Rasulullah ﷺ membagi-bagikannya dalam Perang Badar sesuai dengan petunjuk Allah, tanpa membagikannya menjadi lima bagian, seperti yang kami sebutkan dalam hadis Sa'd di atas tadi.
Setelah itu turunlah ayat khumus yang berfungsi me-nasakh ayat ini.

Menurut kami, demikianlah menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, mengatakan hal yang sama.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah, dan As-Saddi.

Lain pula dengan Ibnu Zaid, ia mengatakan bahwa ayat ini tidak di-nasakh, bahkan tetap muhkam.
Abu Ubaid mengatakan bahwa sehubungan dengan hal ini banyak asar yang mengisahkannya.

Anfal menurut kata asalnya berarti himpunan semua ganimah, hanya saja istilah khumus adalah sebagian dari anfal yang dikhususkan buat pemiliknya sesuai dengan petunjuk dari Al-Qur'an dan yang diberlakukan oleh sunnah.

Makna anfal menurut istilah bahasa orang Arab artinya setiap kebaikan yang diberikan oleh pelakunya sebagai hadiah darinya dan tidak wajib baginya melakukan hal tersebut.
Dan anfal yang dihalalkan oleh Allah bagi kaum mukmin dari harta musuh mereka itu tiada lain merupakan sesuatu yang dikhususkan oleh Allah untuk mereka, sebagai karunia dari Allah buat mereka.
Demikian itu karena pada masa yang lalu ganimah diharamkan atas umat-umat yang terdahulu sebelum kaum muslim, kemudian Allah menghalalkannya bagi umat ini.
Demikianlah asal mula riwayat anfal.

Menurut kami, hal yang membuktikan kebenarannya disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Jabir r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku.
Jabir melanjutkan hadisnya sampai pada sabda Rasul ﷺ: Dan dihalalkan bagiku ganimah, padahal sebelumnya tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku.
hingga akhir hadis.

Selanjutnya Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam mengatakan bahwa hadiah yang diberikan oleh imam kepada pasukan tempur dinamakan nafilah, yakni memberikan hadiah kepada sebagian pasukan karena perannya yang utama sehingga ia beroleh bagian lebih dari bagian yang lainnya.
Hal ini dilakukan oleh imam berdasarkan kriteria pengorbanan­nya kepada Islam dan perannya dalam mengacaukan barisan musuh.

Sehubungan dengan nafilah yang diberikan oleh imam, ada empat perkara yang disunatkan, masing-masing mempunyai kedudukan tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu:

Pertama, nafilah yang tidak ada bagian seperlimanya.
Hal ini dinamakan salab (rampasan dari musuh yang dibunuh),

Kedua, nafilah yang berasal dari ganimah sesudah bagian seperlima dikeluarkan dari keseluruhannya.
Misalnya seorang imam mengirimkan suatu pasukan ke suatu daerah pertempuran, lalu pasukan yang dikirimkannya itu kembali dengan membawa ganimah, maka bagi pasukan itu mendapat seperempat atau sepertiga dari apa yang berhasil diraihnya, sesudah terlebih dahulu mengambil bagian seperlimanya.

Ketiga, nafilah yang berasal dari seperlima itu sendiri.
Misalnya ganimah diperoleh, lalu seluruhnya dikumpulkan dan dibagi menjadi lima bagian.
Apabila imam telah mengambil bagian seperlimanya, maka imam boleh memberikan nafilah dari bagiannya itu kepada pasukan yang bersangkutan menurut kebijaksanaannya.

Keempat, nafilah yang termasuk ke dalam keseluruhan ganimah, sebelum sesuatu dari ganimah tersebut dibagi menjadi lima bagian.
Misalnya imam memberikan hadiah kepada para penunjuk jalan, para penggembala ternak, dan orang-orang yang mengiringnya.

Sehubungan dengan masing-masing dari yang tersebut di atas, masalahnya masih diperselisihkan.
Ar-Rabi' mengatakan bahwa Imam Syafi'i mengatakan.”Anfal tidak boleh dikeluarkan dari pokok ganimah sebelum dibagi menjadi lima bagian, selain dari salab."

Abu Ubaid mengatakan.”Termasuk nafilah ialah sesuatu yang ditambahkan kepada mereka selain dari bagian yang merupakan hak mereka (pasukan).
Hal ini diambil dari seperlima bagian Nabi ﷺ, karena sesungguhnya Nabi ﷺ beroleh seperlima dari seperlima tiap-tiap ganimah.
Sehubungan dengan hal ini seorang imam dituntut untuk berijtihad dalam membagi-bagikannya.
Dengan kata lain, apabila jumlah musuh banyak dan kekuatan mereka lebih kuat, sedangkan pasukan kaum muslim yang menghadapinya tidak berimbang, maka imam boleh menyediakan nafilah (hadiah) karena mengikut kepada sunnah Rasulullah ﷺ Apabila keadaannya tidak demikian, maka imam tidak perlu memberikan nafilah."

Pendapat yang ketiga mengatakan, "Termasuk nafilah ialah apabila imam mengirimkan suatu pasukan khusus atau pasukan biasa, lalu imam mengatakan kepada mereka sebelum bertempur dengan musuh, bahwa mereka akan mendapat sesuatu hadiah sesudah khumus.
Maka hadiah tersebut berhak mereka peroleh sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh imam, karena mereka bertempur dengan imbalan tersebut dan hal itulah yang mereka setujui."

Sehubungan dengan perkataan Abu Ubaid yang menyatakan bahwa sesungguhnya ganimah Badar tidak di-takhmis (dibagi lima), kebenarannya masih perlu dipertimbangkan.
Hal ini dapat dibantah oleh kisah Ali ibnu Abu Talib sehubungan dengan kedua mata-matanya yang berhasil memperoleh bagian dari khumus karenanya pada hari Perang Badar.
Kami telah menjelaskan hal tersebut di dalam Kitab As-Sirah dengan keterangan yang memuaskan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaiki/ah hubungan di antara sesama kalian

Artinya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam semua urusan kalian, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian, janganlah kalian saling aniaya, saling bertengkar, dan saling perang mulut.
Karena hidayah dan ilmu yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian jauh lebih baik daripada apa yang kalian persengketakan itu.

...dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yakni terimalah apa yang dibagikan Nabi ﷺ kepada kalian, karena sesungguhnya pembagian yang dilakukan olehnya semata-mata hanyalah berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, yaitu berdasarkan keadilan dan kebijaksanaan.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal ini merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya agar mereka bertakwa dan memperbaiki hubungan di antara sesama mereka, pelanggaran terhadap hal ini berarti dosa.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian.
Yakni janganlah kalian saling mencaci.

Sehubungan dengan hal ini kami akan mengetengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnu Al-Musanna Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Syaibah Al-Habti, dari Sa'id ibnu Anas, dari Anas r.a.
yang mengatakan, "Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum sehingga kelihatan gigi serinya.
Maka Umar berkata, 'Apakah yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu?' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Ada dua orang lelaki dari kalangan umatku sedang bersideku di hadapan Tuhan Yang Mahaagung, Mahasuci, lagi Mahatinggi.
Lalu salah seorangnya berkata, 'Wahai Tuhanku, ambillah hakku dari saudaraku ini.' Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, 'Berikanlah kepada saudaramu itu akan haknya.' Lelaki yang dituntut berkata, 'Wahai Tuhanku, tiada sesuatu pun dari amal baikku yang tersisa." Lelaki yang menuntut berkata, 'Wahai Tuhanku, bebankanlah kepadanya sebagian dari dosa-dosaku'." Anas melanjutkan kisahnya, "Lalu kedua mata Rasulullah ﷺ mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, 'Sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, yaitu hari manusia memerlukan orang-orang yang menanggung sebagian dari dosa-dosa mereka.' Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada si penuntut, 'Angkatlah penglihatanmu dan lihatlah ke surga-surga itu!' lelaki itu mengangkat kepalanya dan berkata, 'Wahai Tuhanku, saya melihat kota-kota dari perak dan gedung-gedung dari emas yang dihiasi dengan batu permata.
Untuk nabi manakah ini, untuk siddiq siapakah ini, dan untuk syahid siapakah ini?' Allah berfirman, 'Untuk orang yang mau membayar harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Siapakah yang memiliki harganya?' Allah berfirman, 'Engkau pun memiliki harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Apakah harganya, wahai Tuhanku?' Allah berfirman, 'Kamu maafkan saudaramu ini.' Lelaki itu berkata, 'Wahai Tuhanku sesungguhnya sekarang saya memaafkannya.' Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, 'Peganglah tangan saudaramu ini, dan masuklah kamu berdua ke surga'." Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian.
Karena sesungguhnya Allah kelak di hari kiamat akan memperbaiki hubungan di antara sesama orang-orang mukmin.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Anfaal (8) ayat 1
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar sedangkan redaksi hadits ini lafadznya berasal dari Ibnu Mutsanna, keduanya berkata,
telah menceritakan kepada kamiMuhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Simak bin Harb dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya dia berkata,
Ada empat ayat Al Qur'an yang turun dan menyinggung tentangku, aku pernah mendapatkan sebilah pedang, lalu aku membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya kukatakan, 'Wahai Rasulullah, berikanlah pedang itu kepadaku sebagai ghanimah'. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Letakkanlah pedang itu pada tempat di mana kamu mengambilnya. Kemudian ayahku berdiri dan berkata,
Wahai Rasulullah, berikanlah pedang ini kepadaku sebagai ghanimah. Maka beliau bersabda:
Letakkanlah pedang itu. Rupanya ayahku tetap berdiri dan berkata,
Wahai Rasulullah, berikanlah pedang itu kepadaku, niscaya aku akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap bersabda:
Letakkanlah pedang itu pada tempat dimana kamu telah mengambilnya. Kemudian turunlah ayat berikut ini: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul... (Qs. Al Anfaal: 1).

Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Ekspedisi - Nomor Hadits: 3289

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 1

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membunuh (musuh), ia akan mendapat sejumlah bagian tertentu, dan barang siapa yang menawan musuh, iapun akan mendapat bagian tertentu pula.
Pada waktu itu para orang tua tinggal menjaga bendera, sedang para pemuda maju ke medan jihad menyerbu musuh dan mengangkut ghanimah.
Berkatalah para orang tua kepada para pemuda: “Jadikanlah kami sekutu kalian, karena kamipun turut bertahan dan menjaga tempat kembali kalian.” Hal ini mereka adukan kepada Nabi ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa ghanimah itu merupakan ketetapan Allah dan jangan menjadi bahan pertengkaran.

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa dalam Peperangan Badr ‘Umair terbunuh, dan Sa’d bin Abi Waqqash (saudaranya) dapat membunuh kembali pembunuhnya, yaitu Sa’id bin al-‘Ash.
Bahkan Sa’d dapat mengambil pedangnya, serta dibawanya pedang itu kepada Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda: “Simpanlah pedang itu di tempat barang rampasan yang belum dibagikan.” Sa’d pun pulang dengan perasaan sedih karena saudaranya terbunuh dan rampasannya diambil.
Tiada lama kemudian turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan tentang kedudukan ghanimah.
Nabi bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqash: “Ambillah pedangmu itu.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang bersumber dari Sa’d bahwa dalam Perang Badr, Sa’d menghadap Rasulullah ﷺ dan membawa sebilah pedang.
Ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan sakit hatiku terhadap kaum musyrikin (membunuh pembunuh saudaraku dan merampas pedangnya).
Karenanya berikanlah pedang ini padaku.” Rasulullah menjawab:
“Pedang ini bukan kepunyaanku, juga bukan kepunyaanmu.” Sa’d berkata: “Mudah-mudahan pedang ini diberikan kepada orang yang tidak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang kuderita.” Beberapa lama kemudian, Rasulullah datang kepada Sa’d dan bersabda: “Engkau telah meminta pedang ini dariku di saat belum menjadi milikku, dan sekarang telah menjadi milikku.
Ambillah pedang itu.” Dan turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai larangan mengambil ganimah sebelum ada ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa orang-orang menuntut yang seperlima lagi dari ghanimah setelah mereka terima yang empat perlimanya.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa bagian itu diperuntukkan bagi Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Anfaal (الأنفال)
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperang­an pada umumnya.
Menurut riwayat lbnu Abbas r.a.
surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang ber­jumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka
menen­tukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah
jaminan Allah terhadap keme­nangan umat yang beriman
'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal
hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman
tindakan-tinda­kan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar
adanya gang­guan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min dan tipu daya mereka pada orang­ orang musyrikin
syirik adalah dosa besar.

Hukum:

Aturan pembagian harta rampasan perang
kebolehan memakan harta rampasan perang
larangan lari/mundur dalam peperangan
hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam
kewajiban ta'at kepada pimpinan dalam perang
keharusan mengusahakan perdamaian
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat per­lengkapan perang
ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan
tujuan perang dalam Islam
larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat
larangan mengkhianati perjanjian

Kisah:

Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar
suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung
keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyri­kin terhadap beliau
orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w .
kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman
sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.


Gambar Kutipan Surah Al Anfaal Ayat 1 *beta

Surah Al Anfaal Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anfaal

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, "Jarahan") adalah surah ke-8 pada al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah8
Nama SurahAl Anfaal
Arabالأنفال
ArtiHarta rampasan perang
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu88
JuzJuz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat75
Jumlah kata1244
Jumlah huruf5388
Surah sebelumnyaSurah Al-A’raf
Surah selanjutnyaSurah At-Taubah
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (20 votes)
Sending