Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 1 [QS. 8:1]

یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡاَنۡفَالِ ؕ قُلِ الۡاَنۡفَالُ لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَصۡلِحُوۡا ذَاتَ بَیۡنِکُمۡ ۪ وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
Yasaluunaka ‘anil anfaali qulil anfaalu lillahi warrasuuli faattaquullaha wa-ashlihuu dzaata bainikum wa-athii’uullaha warasuulahu in kuntum mu’miniin(a);
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah,
“Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”
―QS. Al Anfaal [8]: 1

Daftar isi

They ask you, (O Muhammad), about the bounties (of war).
Say,
"The (decision concerning) bounties is for Allah and the Messenger."
So fear Allah and amend that which is between you and obey Allah and His Messenger, if you should be believers.
― Chapter 8. Surah Al Anfaal [verse 1]

يَسْـَٔلُونَكَ mereka akan menanyakan kepadamu

They ask you
عَنِ tentang

about
ٱلْأَنفَالِ harta rampasan perang

the spoils of war.
قُلِ katakanlah

Say,
ٱلْأَنفَالُ harta rampasan perang

"The spoils of war
لِلَّهِ kepunyaan Allah

(are) for Allah
وَٱلرَّسُولِ dan Rasul

and the Messenger.
فَٱتَّقُوا۟ maka bertakwalah kamu

So fear
ٱللَّهَ Allah

Allah
وَأَصْلِحُوا۟ dan perbaikilah

and set right
ذَاتَ perhubungan

that
بَيْنِكُمْ diantara kamu

(which is) between you
وَأَطِيعُوا۟ dan taatlah kamu

and obey
ٱللَّهَ Allah

Allah
وَرَسُولَهُۥٓ dan RasulNya

and His Messenger,
إِن jika

if
كُنتُم kalian adalah

you are
مُّؤْمِنِينَ orang-orang yang beriman

believers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Anfaal
8:1

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 1. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini membicarakan persoalan harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslimin setelah usainya Perang Badar Kubra.
Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin.

Mereka memperoleh harta rampasan perang yang banyak.


Al-Anfal (al-Ganimah) ialah segala macam harta yang diperoleh kaum Muslimin dari musuh dalam medan pertempuran.

Harta rampasan perang ini dinamakan al-Anfal (bentuk jamak dari Nafal) karena harta-harta ini menjadi harta kekayaan kaum Muslimin.


Setelah kaum Muslimin memperoleh harta rampasan perang itu, terjadilah perselisihan pendapat di antara mereka yang ikut berperang.

Perselisihan itu mengenai cara-cara pembagiannya, dan pihak-pihak manakah yang berhak mendapatkan.
Pihak pemuda ataukah pihak orang-orang tua, pihak-pihak orang Muhajirin atau pihak Anshar, ataukah pula masing-masing pihak sama-sama mendapat bagian.

Persoalan itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ agar mendapat keputusan yang adil.


Sebagai jawaban atas pertanyan kaum Muslimin itu, Allah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ untuk menetapkan hukumnya, bahwa harta rampasan perang itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya.

Oleh sebab itu yang menentukan pembagian harta rampasan itu bukan kelompok pemuda atau kelompok orang tua, bukan orang Muhajirin atau orang Anshar, bukan pula tim penyerang, tim pelindung, atau tim pengumpul harta rampasan perang, tetapi Allah-lah yang menentukan dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya.
Rasulullah membagi harta rampasan perang itu secara merata di antara kaum Muslimin.


Dalam ketentuan ini terkandung pelajaran yang tinggi bagi kaum Muslimin agar mereka tidak beranggapan, bahwa harta rampasan perang yang mereka peroleh itu, merupakan imbalan jasa peperangan, tetapi semata-mata mereka peroleh karena karunia Allah.
Kalau mereka beranggapan bahwa harta rampasan perang itu mereka peroleh sebagai imbalan jasa, maka perjuangan mereka tidak murni karena Allah dan mengikuti perintah Rasul-Nya.
Ayat ini memberi dorongan pula kepada kaum Muslimin, agar mereka dalam menghadapi tanggung jawab yang berat, hendaklah mereka hadapi secara bersama-sama, dan apabila mendapat kenikmatan, agar dirasakan bersama-sama pula.


Mengenai pembagian harta rampasan perang secara rinci akan diuraikan penafsirannya pada ayat 41 surah ini.
Allah memerintahkan pula kepada Rasulullah ﷺ agar kaum Muslimin bertakwa, menjauhi perselisihan dan persengketaan yang menimbulkan kesusahan dan menjerumuskan mereka kepada kemurkaan Allah.
Takwa diperlukan dalam setiap keadaan, terlebih dalam perang dan pembagian harta rampasan perang, akibat perselisihan dapat dirasakan, yaitu terganggunya persatuan dan timbulnya perpecahan yang mengakibatkan kekalahan.


Sesudah itu Allah memerintahkan agar kaum Muslimin memperbaiki hubungan sesama muslim, yaitu menjalin cinta kasih dan memperkokoh kesatuan pendapat.
Hal inilah yang dapat mengikat mereka dalam kesatuan gerak dalam mencapai cita-cita bersama, yaitu mempertinggi kalimat Allah.
Persatuan dan kesatuan ini menjadi dasar kekuatan umat dalam segala bidang.
Itulah sebabnya, memperbaiki hubungan di antara sesama muslim diwajibkan, agar kaum Muslimin menyadari akan pentingnya menghindari bahaya yang mengancam mereka, bahaya keretakan yang menggoyahkan kesatuan umat.
Hal ini jelas tergambar pada saat terjadinya perselisihan yang terjadi di antara kelompok-kelompok karena yang satu merasa lebih berjasa dari kelompok yang lain.
Demikian pula hal ini terjadi karena mereka melupakan tugas mereka yang penting, yaitu bahwa tugas mempertahankan kebenaran itu adalah tugas bersama.


Pada akhir ayat, Allah menegaskan agar kaum Muslimin menaati Allah dan Rasul, dalam hal ini menaati ketentuan perang, yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ dengan perantaraan wahyu.
Ketentuan Allah wajib ditaati, Dia adalah Tuhan seru sekalian alam dan Yang Mahakuasa, sedang taat kepada Rasul, dalam urusan agama, berarti taat kepada Allah karena dialah yang menyampaikan agama itu dan memberikan penjelasan yang tertuang dalam perkataan, perbuatan serta keputusannya.


Perintah ini ditegaskan pada saat kaum Muslimin dalam keadaan bersengketa mengenai pembagian harta rampasan perang, untuk mengingatkan mereka bahwa dalam saat-saat bagaimanapun juga kaum Muslimin harus tetap menaati Allah dan Rasul-Nya, agar mereka tidak menimbulkan perpecahan karena ambisi golongan dan kemauan hawa nafsu, yang biasanya menjerumuskan mereka kepada kehancuran.


Di dalam ayat ini terdapat beberapa unsur penting yang dapat memelihara kesatuan umat yaitu;
takwa, memperbaiki hubungan sesama muslim, dan menaati Allah dan Rasul di dalam setiap keadaan.

Tafsir QS. Al Anfaal (8) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Bermula dari makar dan rencana jahat orang-orang musyrik untuk membunuh Rasulullah ﷺ., Allah memerintahkan Rasul-Nya itu berhijrah meninggalkan kota suci Mekah menuju Madinah sebagai bumi tempat tinggal selamanya.


Di bumi kemenangan itulah nantinya orang-orang Muslim membangun suatu negara yang berdaulat.
Bertolak dari realitas seperti itu, tidak ada alasan lain kecuali berjihad menentang tirani, penindasan dan fitnah.


Maka pecahlah perang Badar Besar (Badar Pertama).
Pada peperangan itu, kemenangan yang gemilang ada di pihak orang-orang Mukmin.


Harta rampasan pun cukup banyak.
Melimpahnya harta rampasan perang itu sempat mengundang perbedaan pendapat menyangkut persoalan pembagiannya.


Lalu mereka bertanya kepadamu, Muhammad, tentang harta rampasan perang:
akan dikemanakan, untuk siapa dan bagaimana cara membaginya.
Katakan kepada mereka,
"Mula-mula harta yang kalian dapatkan dari berperang itu adalah hak milik Allah dan Rasul-Nya, yang selanjutnya mendapat perintah dari Allah untuk membagikannya.


Tidah usah kalian berbeda pendapat menyangkut persoalan harta itu, cukuplah kalian menjadikan rasa takut dan taat pada Allah sebagai simbol kebanggaan kalian.
Berusahalah untuk selalu mengadakan perbaikan di antara kamu sekalian dan jadikanlah jiwa cinta kasih dan keadilan sebagai asas tali persaudaraan, karena hal yang demikian itu merupakan sifat orang-orang beriman. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang harta rampasan saat Perang Badar, bagaimana kamu akan membaginya kepada mereka?
Katakanlah kepada mereka,
"Sesungguhnya harta rampasan itu adalah urusan Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah yang akan membaginya menurut perintah Rabb-nya."
Takutlah kalian akan siksa Allah dan janganlah berani berbuat maksiat kepada-Nya.
Hindarilah pertikaian dan permusuhan karena harta itu, perbaikilah hubungan di antara kalian, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian orang-orang yang beriman.


Karena sesungguhnya keimanan akan membawa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad


(tentang harta rampasan) perang, siapakah yang berhak menerimanya


(Katakanlah,) kepada mereka


("Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan rasul-Nya) harta rampasan perang itu terserah menurut kesukaan Allah dan rasul-Nya, kemudian Rasulullah ﷺ membagi-bagikan harta rampasan itu secara merata kepada mereka semuanya.
Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak


(sebab itu bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu) yakni jalinlah kembali hubungan antara kalian dengan penuh kecintaan dan tinggalkanlah persengketaan


(dan taatlah kalian kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman.") yang benar-benar beriman.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Bukhari mengatakan,
"Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan anfal ialah harta rampasan perang."


Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman,-telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat Al-Anfal.
Maka Ibnu Abbas menjawab,
"Surat ini diturunkan di Badar."


Adapun riwayat yang berpredikat mu’allaq dari Ibnu Abbas, maka ia diriwayatkan oleh Ali Ibnu Abu Talhah , dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan,
"Yang dimaksud dengan anfal ialah ganimah (harta rampasan perang).
Pada awal mulanya harta rampasan perang hanyalah untuk Rasulullah ﷺ, tiada seorang pun yang berhak mengambilnya barang sedikit pun."

Pendapat yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Ata Ad-Dahhak, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, Muqatil ibnu Hayyan, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, mereka mengatakan bahwa anfal ialah ganimah.

Al-Kalbi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa anfal ialah ganimah.


Sehubungan dengan pengertian ini, Labid —seorang penyair— dalam salah satu bait syairnya mengatakan:

Sesungguhnya takwa kepada Tuhan kami merupakan ganimah yang paling baik, dan ketenangan serta ketergesa-gesaanku hanyalah semata-mata karena seizin Allah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, dari Ibnu Syihab, dari Al-Qasim ibnu Muhammad yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna anfal.
Maka Ibnu Abbas r.a. menjawab bahwa kuda termasuk harta rampasan, dan harta benda termasuk harta rampasan.
Kemudian lelaki itu mengulangi lagi pertanyaannya, maka Ibnu Abbas menjawabnya dengan jawaban yang serupa.
Tetapi lelaki itu bertanya lagi,
"Al-Anfal yang disebutkan oleh Allah di dalam Alquran itu apa maksudnya?’ Al-Qasim ibnu Muhammad melanjutkan kisahnya, bahwa lelaki itu terus mencecar Ibnu Abbas dengan pertanyaannya hingga hampir membuat Ibnu Abbas marah (karena lelaki itu masih juga tidak mau mengerti).
Maka Ibnu Abbas berkata,
"Tahukah kalian, siapakah yang mirip dengan orang ini?
Ia mirip dengan tukang samak kulit yang dipukul oleh Umar ibnul Khattab."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mamar, dari Az-Zuhri dari Al Qasim Ibnul Muhammad yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah bercerita, Khalifah Umar ibnul Khattab r.a. apabila ditanya mengenai suatu masalah, maka ia mengatakan, ‘Saya bukan orang yang memerintahmu, bukan pula orang yang melarangmu."
Kemudian Ibnu Abbas mengatakan,
"Demi Allah, tidak sekali-kali Allah mengutus Nabi-Nya ﷺ melainkan sebagai juru pemberi peringatan lagi memerintah dan menghalalkan serta mengharamkan."
Al-Qasim melanjutkan kisahnya,
"Lalu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai makna anfal.
Ibnu Abbas menjawab, ‘Seorang lelaki dapat saja menghadiahkan kuda dan senjatanya kepada lelaki lain,’ Lelaki itu mengulangi lagi pertanyaannya, dan Ibnu Abbas menjawabnya dengan jawaban yang serupa.
Lalu lelaki itu kembali bertanya kepada Ibnu Abbas, sehingga Ibnu Abbas emosi karenanya.
Kemudian Ibnu Abbas berkata, ‘Tahukah kalian, siapakah yang mirip dengan orang ini?
Dia mirip dengan tukang samak kulit yang pernah dipukul oleh Umar ibnul Khattab, hingga darahnya mengalir sampai kedua tumitnya atau sampai membasahi kedua kakinya.
Maka lelaki itu mengatakan, ‘Adapun engkau, maka Allahlah yang akan memberikan pembalasannya mengingat usiamu’."


Sanad asar ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas.
Dalam asar ini disebutkan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan kata anfal dengan pengertian ‘hadiah yang diberikan oleh imam kepada sebagian orang’, hadiah itu diambil oleh imam dari harta rampasan atau harta lainnya, sesudah imam membagi-bagikan rampasan yang pokok.
Pengertian inilah yang cepat ditangkap oleh kebanyakan ulama fiqih dari Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa sesungguhnya mereka (para sahabat) pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang seperlima ganimah sesudah empat perlimanya dibagikan.
Maka turunlah firman-Nya:

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.

Ibnu Mas’ud dan Masruq mengatakan bahwa tidak ada nafl pada hari pertempuran.
Sesungguhnya Nafl hanya dilakukan sebelum kedua barisan bertempur.
Asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari keduanya.

Ibnul Mubarak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Ata ibnu Abu Rabah, sehubungan dengan makna firman-Nya:

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Bahwa mereka menanyakan kepadamu tentang harta rampasan yang diperoleh kaum muslim dari kaum musyrik tanpa melalui perang, baik berupa hewan kendaraan ataupun budak laki-laki atau budak perempuan atau harta benda.
Maka hal itu merupakan nafl’ buat Nabi ﷺ, beliau dapat melakukannya menurut apa yang disukainya.
Pendapat ini memberikan pengertian bahwa makna nafl sama dengan fai’ yaitu barang yang diambil dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut ialah harta rampasan pasukan khusus.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Saleh ibnu Hay yang mengatakan bahwa telah sampai suatu berita yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
(QS. Al-Anfal [8]: 1)
Yang dimaksud ialah saraya (bentuk jamak dari sariyyah yang artinya pasukan khusus).
Dengan demikian, berarti makna yang dimaksud ialah hadiah yang diberikan oleh imam kepada sebagian anggota pasukan sebagai tambahan dari bagian mereka lebih dari bagian pasukan lainnya.
Hal ini telah dijelaskan oleh Asy-Sya’bi, dan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa anfal ialah bagian ganimah yang dilebihkan.


Pendapat ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang menerangkan tentang latar belakang turunnya ayat ini.
yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibani, dari Muhammad ibnu Ubaidillah As-Saqafi.
dari Sa’d ibnu Abu Waqqas yang mengatakan."Ketika Perang Badar berkecamuk dan saudaraku Umar gugur, maka aku membunuh Sa’id ibnul As dan aku rampas pedangnya yang diberi nama Zal Katffah.
Kemudian aku menyerahkannya kepada Nabi ﷺ, lalu beliau ﷺ bersabda:
‘Pergilah, dan letakkanlah pedang itu di tempatnya semula’."
Lalu Sa’d ibnu Abu Waqqas meletakkan pedang itu dan kembali dalam keadaan sangat sedih —hanya Allah yang mengetahuinya— karena saudaranya telah gugur dan harta rampasannya diambil.
Tidak berapa lama sesudah itu turunlah surat Al-Anfal.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
Pergilah kamu dan ambillah harta rampasanmu!

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Asim ibnu Abun Nujud, dari Mus’ab ibnu Sa’d, dari Sa’d ibnu Malik yang menceritakan bahwa ia berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memuaskanku pada hari ini dari orang-orang musyrik, mdka berikanlah pedang ini kepadaku."
Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya pedang ini bukan untukmu, bukan pula untukku Letakkanlah pedang ini.
Lalu aku (Sa’d ibnu Malik) meletakkannya dan aku pergi seraya berkata kepada diriku sendiri,
"Barangkali pedang ini akan diberikan kepada orang yang tidak mendapat cobaan seperti cobaan yang aku alami.
Sa’d ibnu Malik melanjutkan kisahnya,
"Tidak lama kemudian ada seorang lelaki menyeruku dari arah belakang, sehingga aku berkata kepada diriku, ‘Sesungguhnya Allah telah menurunkan sesuatu berkenaan denganku.’ Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya engkau pernah meminta kepadaku pedang ini, padahal pedang ini bukan hasil rampasanku, tetapi diberikan kepadaku.
Maka sekarang pedang ini kukembalikan kepadamu sebagai milikmu."
Sa’d ibnu Malik mengata­kan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menurunkan ayat ini:

Mereka menanyakan kepadaku tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah,
"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul."


Imam Abu Daud, Imam Turmuzi.
dan Imam Nasai telah meriwayat­kannya melalui berbagai jalur dari Abu Bakar ibnu Ayyasy dengan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi:


telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus’ab ibnu Sa’d menceritakan hadis dari Sa’d yang mengatakan bahwa telah diturunkan empat ayat berkenaan dengan dirinya.
Ia pernah memperoleh sebilah pedang dalam perang badar, lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan berkata,
"Bolehkah pedang ini untukku sebagai nafilah?"
Nabi ﷺ bersabda,
"Letakkanlah pedang itu di tempat semula ketika engkau mengambilnya,"
sebanyak dua kali.
Kemudian ia mengulangi permintaan, tetapi Nabi ﷺ bersabda,
"Letakkanlah pedang itu di tempat semula ketika engkau mengambilnya."
Maka turunlah ayat ini, yaitu:

…mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan…, hingga akhir ayat.

Hadis dalam bentuk lengkapnya ada pada penyebab turunnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya.
(QS. Al-‘Ankabut:8)

sesungguhnya (meminum) khamr dan berjudi.
(QS. Al-Maidah:90)

Dan ayat lainnya mengenai wasiat.


Imam Muslim telah meriwayat­kannya di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis Syu’bah dengan Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Abu Bakar, dari sebagian orang dari kalangan Perang Badar, pedangnya itu diberi nama Al-Mirzabun.
Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada semua orang untuk mengumpulkan semua rampasan yang berada di tangan mereka, maka ia datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ seraya membawa pedang rampasan itu, lalu ia melemparkannya di tempat pengumpulan ganimah.
Dan Rasulullah ﷺ tidak pernah menolak sesuatu pun yang diminta darinya.
Kemudian Al-Arqam ibnu Abul Arqam Al-Makhzumi melihat pedang tersebut, lalu ia memintanya kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memberikan pedang itu kepadanya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula hadis ini melalui jalur periwayatan yang lain.

Penyebab lain yang melatarbelakangi turunnya ayat ini

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Abdur Rahman, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Mak-hul, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubadah tentang makna Al-Anfal.
Maka Ubadah menjawab bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang ikut dalam Perang Badar, yaitu ketika kami berselisih pendapat tentang harta rampasan sehingga pekerti kami menjadi buruk karenanya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
mencabutnya dari tangan kami dan menjadikannya di bawah kekuasaan tangan Rasulullah ﷺ Kemudian Rasulullah ﷺ membagikannya di antara sesama kami dengan pembagian yang rata.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Abi Ishaq, dari Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Abdullah ibnu Ayyasy ibnu Abu Rabi’ah, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Abu Salamah, dari Abu Umamah, dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan,
"Kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ, dan saya ikut berperang bersamanya di medan Perang Badar.
Kedua belah pasukan bertempur dan Allah mengalahkan musuh kami.
Kemudian segolongan dari kami mengejar pasukan musuh yang melarikan diri dan memerangi mereka, sedangkan segolongan lagi tetap berada di medan perang, mengumpulkan ganimah.
Segolongan yang lainnya ada tetap di markas pasukan kaum muslim menjaga keselamatan Rasulullah ﷺ agar jangan dibokong oleh musuh saat sedang dalam keadaan lalai.
Dan pada malam harinya sebagian di antara pasukan kaum muslim berebutan ganimah dengan sebagian yang lainnya.
Orang-orang yang mengumpulkan ganimah mengatakan, ‘Kamilah yang mengumpul­kannya, maka tiada seorang pun yang beroleh bagian selain kami.’ Sedangkan orang-orang yang pergi mengejar musuh mengatakan,
"Kalian bukanlah orang-orang yang lebih berhak padanya daripada kami.
Kamilah yang menjadi benteng Nabi ﷺ dari pasukan musuh, dan kami berhasil mengalahkan mereka.
Dan orang-orang yang tetap mengawal Rasulullah ﷺ berkata, ‘Kami merasa khawatir bila musuh menyerang Rasulullah.
ﷺ dengan serangan bokongan saat tidak terkawal, sehingga kami sibuk dengan pekerjaan kami.’ Maka saat itulah turun firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

/i>Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah,
"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian."
Maka Rasulullah ﷺ membagi-bagikannya di antara semua kaum muslim.
Rasulullah ﷺ apabila melakukan peperangan di tanah musuh, maka beliau ﷺ selalu beroleh seperempat dari harta rampasan.
Apabila melakukan perang dalam perjalanan pulangnya, beliau mendapat sepertiga dari harta rampasan, dan beliau ﷺ tidak menyukai harta rampasan."

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Abdur Rahman ibnul Haris dengan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih.

Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nys.
telah meriwayatkannya melalui hadis Abdur Rahman ibnul Haris.
Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Imam Abu Daud, Imam Nasai, Ibnu jarir, dan Ibnu Murdawaih yang hadis berikut menurut yang ada padanya, demikian pula Ibnu Hibban serta Imam Hakim, semuanya meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Perang Badar, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barang siapa yang berbuat anu dan anu, maka baginya hadiah anu dan anu."
Maka pasukan kaum muslim yang berusia muda segera melaksanakannya, sedangkan yang berusia tua tetap berada di bawah panji-panji, mempertahankan diri.
Kemudian ketika ganimah diperoleh mereka, maka para pemuda datang untuk menuntut hadiah yang disediakan bagi mereka.
Tetapi orang-orang yang telah berusia tua berkata,
"Janganlah kalian mementingkan diri sendiri dan melalaikan kami, karena sesungguhnya kami adalah, sebagai benteng bagi kalian."Sekiranya kalian terpukul mundur, niscaya kalian akan kembali kepada kami."
Mereka bersengketa.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang…. sampai dengan firman-Nya:
…dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Perang Badar, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barang siapa yang membunuh musuh, maka baginya hadiah anu dan anu, dan barang siapa yang berhasil menawan musuh, maka baginya hadiah anu dan anu."
Lalu datanglah Abul Yusr dengan membawa dua orang tawanan dan berkata,
"Wahai Rasulullah, semoga Allah melimpahkan salawat­Nya kepadamu, manakah hadiah kami?"
Maka Sa’d ibnu Ubadah berdiri dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau, jika memberi mereka, niscaya sahabat-sahabatmu tidak kebagian sesuatu pun.
Dan sesungguhnya tiada yang mencegah kami dari hal ini karena enggan dengan upah (hadiah) dan takut kepada musuh, melainkan kami tetap di posisi kami demi mengawal engkau dan karena khawatir bila musuh datang menyerangmu dari arah belakang."
Akhirnya mereka bersengketa, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala.:


Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah,
"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul."

Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa turun pula firman-Nya yang lain, yaitu:
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah. (QS. Al-Anfal [8]:41), hingga akhir ayat.

Imam Abu Ubaidillah Al-Qasim ibnu Salam rahimahullah di dalam kitab ‘Harta-harta yang Diakui oleh Syariat dan Penjelasan mengenai Sumber-sumber serta Pengalokasiannya’ mengatakan bahwa anfal adalah harta rampasan perang, dan termasuk pula semua yang diperoleh kaum muslim dari harta benda kafir harbi.
Dan mula-mula seluruh anfal yang diperoleh kaum muslim diberikan kepada Rasulullah ﷺ Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman sehubungan hal ini:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang.
Katakanlah,
"Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul."
(QS. Al-Anfal [8]: 1)
Kemudian Rasulullah ﷺ membagi-bagikannya dalam Perang Badar sesuai dengan petunjuk Allah, tanpa membagikannya menjadi lima bagian, seperti yang kami sebutkan dalam hadis Sa’d di atas tadi.
Setelah itu turunlah ayat khumus yang berfungsi me-nasakh ayat ini.

Menurut kami, demikianlah menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, mengatakan hal yang sama.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah, dan As-Saddi.

Lain pula dengan Ibnu Zaid, ia mengatakan bahwa ayat ini tidak di-nasakh, bahkan tetap muhkam.
Abu Ubaid mengatakan bahwa sehubungan dengan hal ini banyak asar yang mengisahkannya.

Anfal menurut kata asalnya berarti himpunan semua ganimah, hanya saja istilah khumus adalah sebagian dari anfal yang dikhususkan buat pemiliknya sesuai dengan petunjuk dari Alquran dan yang diberlakukan oleh sunnah.

Makna anfal menurut istilah bahasa orang Arab artinya setiap kebaikan yang diberikan oleh pelakunya sebagai hadiah darinya dan tidak wajib baginya melakukan hal tersebut.
Dan anfal yang dihalalkan oleh Allah bagi kaum mukmin dari harta musuh mereka itu tiada lain merupakan sesuatu yang dikhususkan oleh Allah untuk mereka, sebagai karunia dari Allah buat mereka.
Demikian itu karena pada masa yang lalu ganimah diharamkan atas umat-umat yang terdahulu sebelum kaum muslim, kemudian Allah menghalalkannya bagi umat ini.
Demikianlah asal mula riwayat anfal.

Menurut kami, hal yang membuktikan kebenarannya disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Jabir r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku.
Jabir melanjutkan hadisnya sampai pada sabda Rasul ﷺ:
Dan dihalalkan bagiku ganimah, padahal sebelumnya tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku.
hingga akhir hadis.

Selanjutnya Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam mengatakan bahwa hadiah yang diberikan oleh imam kepada pasukan tempur dinamakan nafilah, yakni memberikan hadiah kepada sebagian pasukan karena perannya yang utama sehingga ia beroleh bagian lebih dari bagian yang lainnya.
Hal ini dilakukan oleh imam berdasarkan kriteria pengorbanan­nya kepada Islam dan perannya dalam mengacaukan barisan musuh.

Sehubungan dengan nafilah yang diberikan oleh imam, ada empat perkara yang disunatkan, masing-masing mempunyai kedudukan tersendiri yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu:

Pertama, nafilah yang tidak ada bagian seperlimanya.
Hal ini dinamakan salab (rampasan dari musuh yang dibunuh),

Kedua, nafilah yang berasal dari ganimah sesudah bagian seperlima dikeluarkan dari keseluruhannya.
Misalnya seorang imam mengirimkan suatu pasukan ke suatu daerah pertempuran, lalu pasukan yang dikirimkannya itu kembali dengan membawa ganimah, maka bagi pasukan itu mendapat seperempat atau sepertiga dari apa yang berhasil diraihnya, sesudah terlebih dahulu mengambil bagian seperlimanya.

Ketiga, nafilah yang berasal dari seperlima itu sendiri.
Misalnya ganimah diperoleh, lalu seluruhnya dikumpulkan dan dibagi menjadi lima bagian.
Apabila imam telah mengambil bagian seperlimanya, maka imam boleh memberikan nafilah dari bagiannya itu kepada pasukan yang bersangkutan menurut kebijaksanaannya.

Keempat, nafilah yang termasuk ke dalam keseluruhan ganimah, sebelum sesuatu dari ganimah tersebut dibagi menjadi lima bagian.
Misalnya imam memberikan hadiah kepada para penunjuk jalan, para penggembala ternak, dan orang-orang yang mengiringnya.

Sehubungan dengan masing-masing dari yang tersebut di atas, masalahnya masih diperselisihkan.
Ar-Rabi’ mengatakan bahwa Imam Syafi’i mengatakan."Anfal tidak boleh dikeluarkan dari pokok ganimah sebelum dibagi menjadi lima bagian, selain dari salab."

Abu Ubaid mengatakan."Termasuk nafilah ialah sesuatu yang ditambahkan kepada mereka selain dari bagian yang merupakan hak mereka (pasukan).
Hal ini diambil dari seperlima bagian Nabi ﷺ, karena sesungguhnya Nabi ﷺ beroleh seperlima dari seperlima tiap-tiap ganimah.
Sehubungan dengan hal ini seorang imam dituntut untuk berijtihad dalam membagi-bagikannya.
Dengan kata lain, apabila jumlah musuh banyak dan kekuatan mereka lebih kuat, sedangkan pasukan kaum muslim yang menghadapinya tidak berimbang, maka imam boleh menyediakan nafilah (hadiah) karena mengikut kepada sunnah Rasulullah ﷺ Apabila keadaannya tidak demikian, maka imam tidak perlu memberikan nafilah."

Pendapat yang ketiga mengatakan,
"Termasuk nafilah ialah apabila imam mengirimkan suatu pasukan khusus atau pasukan biasa, lalu imam mengatakan kepada mereka sebelum bertempur dengan musuh, bahwa mereka akan mendapat sesuatu hadiah sesudah khumus.
Maka hadiah tersebut berhak mereka peroleh sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh imam, karena mereka bertempur dengan imbalan tersebut dan hal itulah yang mereka setujui."

Sehubungan dengan perkataan Abu Ubaid yang menyatakan bahwa sesungguhnya ganimah Badar tidak di-takhmis (dibagi lima), kebenarannya masih perlu dipertimbangkan.
Hal ini dapat dibantah oleh kisah Ali ibnu Abu Talib sehubungan dengan kedua mata-matanya yang berhasil memperoleh bagian dari khumus karenanya pada hari Perang Badar.
Kami telah menjelaskan hal tersebut di dalam Kitab As-Sirah dengan keterangan yang memuaskan.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaiki/ah hubungan di antara sesama kalian

Artinya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam semua urusan kalian, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian, janganlah kalian saling aniaya, saling bertengkar, dan saling perang mulut.
Karena hidayah dan ilmu yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian jauh lebih baik daripada apa yang kalian persengketakan itu.

…dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yakni terimalah apa yang dibagikan Nabi ﷺ kepada kalian, karena sesungguhnya pembagian yang dilakukan olehnya semata-mata hanyalah berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, yaitu berdasarkan keadilan dan kebijaksanaan.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal ini merupakan perintah dari Allah dan Rasul-Nya agar mereka bertakwa dan memperbaiki hubungan di antara sesama mereka, pelanggaran terhadap hal ini berarti dosa.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian.
Yakni janganlah kalian saling mencaci.


Sehubungan dengan hal ini kami akan mengetengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Ahmad ibnu Ali ibnu Al-Musanna Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya.
Ia mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Syaibah Al-Habti, dari Sa’id ibnu Anas, dari Anas r.a. yang mengatakan,
"Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum sehingga kelihatan gigi serinya.
Maka Umar berkata, ‘Apakah yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ada dua orang lelaki dari kalangan umatku sedang bersideku di hadapan Tuhan Yang Mahaagung, Mahasuci, lagi Mahatinggi.
Lalu salah seorangnya berkata, ‘Wahai Tuhanku, ambillah hakku dari saudaraku ini.’ Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, ‘Berikanlah kepada saudaramu itu akan haknya.’ Lelaki yang dituntut berkata, ‘Wahai Tuhanku, tiada sesuatu pun dari amal baikku yang tersisa."
Lelaki yang menuntut berkata, ‘Wahai Tuhanku, bebankanlah kepadanya sebagian dari dosa-dosaku’."
Anas melanjutkan kisahnya,
"Lalu kedua mata Rasulullah ﷺ mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, yaitu hari manusia memerlukan orang-orang yang menanggung sebagian dari dosa-dosa mereka.’ Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman kepada si penuntut, ‘Angkatlah penglihatanmu dan lihatlah ke surga-surga itu!’ lelaki itu mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya melihat kota-kota dari perak dan gedung-gedung dari emas yang dihiasi dengan batu permata.
Untuk nabi manakah ini, untuk siddiq siapakah ini, dan untuk syahid siapakah ini?’ Allah berfirman, ‘Untuk orang yang mau membayar harganya.’ Lelaki itu bertanya, ‘Siapakah yang memiliki harganya?’ Allah berfirman, ‘Engkau pun memiliki harganya.’ Lelaki itu bertanya, ‘Apakah harganya, wahai Tuhanku?’ Allah berfirman, ‘Kamu maafkan saudaramu ini.’ Lelaki itu berkata, ‘Wahai Tuhanku sesungguhnya sekarang saya memaafkannya.’ Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, ‘Peganglah tangan saudaramu ini, dan masuklah kamu berdua ke surga’."
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian.
Karena sesungguhnya Allah kelak di hari kiamat akan memperbaiki hubungan di antara sesama orang-orang mukmin.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Anfaal (8) Ayat 1

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membunuh (musuh), ia akan mendapat sejumlah bagian tertentu, dan barang siapa yang menawan musuh, iapun akan mendapat bagian tertentu pula.
Pada waktu itu para orang tua tinggal menjaga bendera, sedang para pemuda maju ke medan jihad menyerbu musuh dan mengangkut ghanimah.
Berkatalah para orang tua kepada para pemuda: “Jadikanlah kami sekutu kalian, karena kamipun turut bertahan dan menjaga tempat kembali kalian.” Hal ini mereka adukan kepada Nabi ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa ghanimah itu merupakan ketetapan Allah dan jangan menjadi bahan pertengkaran.

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa dalam Peperangan Badr ‘Umair terbunuh, dan Sa’d bin Abi Waqqash (saudaranya) dapat membunuh kembali pembunuhnya, yaitu Sa’id bin al-‘Ash.
Bahkan Sa’d dapat mengambil pedangnya, serta dibawanya pedang itu kepada Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda: “Simpanlah pedang itu di tempat barang rampasan yang belum dibagikan.” Sa’d pun pulang dengan perasaan sedih karena saudaranya terbunuh dan rampasannya diambil.
Tiada lama kemudian turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan tentang kedudukan ghanimah.
Nabi bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqash: “Ambillah pedangmu itu.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang bersumber dari Sa’d bahwa dalam Perang Badr, Sa’d menghadap Rasulullah ﷺ dan membawa sebilah pedang.
Ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan sakit hatiku terhadap kaum musyrikin (membunuh pembunuh saudaraku dan merampas pedangnya).
Karenanya berikanlah pedang ini padaku.” Rasulullah menjawab:
“Pedang ini bukan kepunyaanku, juga bukan kepunyaanmu.” Sa’d berkata: “Mudah-mudahan pedang ini diberikan kepada orang yang tidak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang kuderita.” Beberapa lama kemudian, Rasulullah datang kepada Sa’d dan bersabda: “Engkau telah meminta pedang ini dariku di saat belum menjadi milikku, dan sekarang telah menjadi milikku.
Ambillah pedang itu.” Dan turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai larangan mengambil ganimah sebelum ada ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa orang-orang menuntut yang seperlima lagi dari ghanimah setelah mereka terima yang empat perlimanya.
Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa bagian itu diperuntukkan bagi Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Anfaal (8) ayat 1

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar sedangkan redaksi hadits ini lafadznya berasal dari Ibnu Mutsanna, keduanya berkata,
telah menceritakan kepada kamiMuhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya dia berkata,
Ada empat ayat Al Qur’an yang turun dan menyinggung tentangku, aku pernah mendapatkan sebilah pedang, lalu aku membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya kukatakan, ‘Wahai Rasulullah, berikanlah pedang itu kepadaku sebagai ghanimah’. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Letakkanlah pedang itu pada tempat di mana kamu mengambilnya. Kemudian ayahku berdiri dan berkata,
Wahai Rasulullah, berikanlah pedang ini kepadaku sebagai ghanimah. Maka beliau bersabda:
Letakkanlah pedang itu. Rupanya ayahku tetap berdiri dan berkata,
Wahai Rasulullah, berikanlah pedang itu kepadaku, niscaya aku akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap bersabda:
Letakkanlah pedang itu pada tempat dimana kamu telah mengambilnya. Kemudian turunlah ayat berikut ini: Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul (Qs. Al Anfaal: 1).

Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Ekspedisi – Nomor Hadits: 3289

Unsur Pokok Surah Al Anfaal (الأنفال)

Surat Al-Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah.

Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang, berhubung kata Al An­faal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Selain hal-hal tersebut di atas maka pokok-pokok isinya adalah sebagai berikut:

Keimanan:

▪ Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka.
▪ Menentukan hukumhukum agama itu hanyalah hak Allah.
▪ Jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman.
▪ ‘Inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal.
▪ Hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman.
▪ Tindakan-tindakan dan hukumhukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia.
▪ Adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar.
▪ Adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin.
Syirik adalah dosa besar.

Hukum:

▪ Aturan pembagian harta rampasan perang.
▪ Kebolehan memakan harta rampasan perang.
▪ Larangan lari/mundur dalam peperangan.
Hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam.
▪ Kewajiban ta’at kepada pimpinan dalam perang.
▪ Keharusan mengusahakan perdamaian.
▪ Kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang.
▪ Ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan.
▪ Tujuan perang dalam Islam.
▪ Larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat.
▪ Larangan mengkhianati perjanjian.

Kisah:

▪ Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar.
▪ Suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung.
▪ Keadaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum hijrah, serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau.
▪ Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab, serta keburukan orang-orang munafik.

Lain-lain:

▪ Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman.
▪ Sunnatullah pada perseorangan dan masyarakat.

Audio

QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 75 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Anfaal (8) : 1-75 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 75

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anfaal ayat 1 - Gambar 1 Surah Al Anfaal ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 8:1
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anfaal.

Surah Al-Anfal (bahasa Arab:الأنفال, al-Anfāl, “Jarahan”) adalah surah ke-8 pada Alquran.
Surah ini terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surah-surah Madaniyah.
Surah ini dinamakan Al-Anfal yang berarti pula harta rampasan perang berhubung kata Al-Anfal terdapat pada permulaan surah ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surah ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H.
Peperangan ini sangat penting artinya, karena merupakan peristiwa yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan memiliki perlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surah ini.

Nomor Surah 8
Nama Surah Al Anfaal
Arab الأنفال
Arti Harta rampasan perang
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 88
Juz Juz 10 (ayat 1-40), juz 11 (ayat 41-75)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1244
Jumlah huruf 5388
Surah sebelumnya Surah Al-A’raf
Surah selanjutnya Surah At-Taubah
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

8:1, 8 1, 8-1, Surah Al Anfaal 1, Tafsir surat AlAnfaal 1, Quran Al Anfal 1, AlAnfal 1, Al-Anfal 1, Surah Al Anfal ayat 1

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Anfaal

۞ QS. 8:2 Ar Rabb (Tuhan) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Bertambah dan berkurangnya iman

۞ QS. 8:4 Ar Rabb (Tuhan) • Perbedaan derajat di surga • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 8:5 Ar Rabb (Tuhan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 8:6 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 8:7 Sifat Iradah (berkeinginan) • Azab orang kafir

۞ QS. 8:9 Ar Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 8:10 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan •

۞ QS. 8:11 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukmin • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 8:12 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Allah memperkokoh orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan •

۞ QS. 8:13 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 8:14 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:16 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah •

۞ QS. 8:17 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 8:18 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Azab orang kafir

۞ QS. 8:19 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:21 • Kebodohan orang kafir • Sifat orang munafik

۞ QS. 8:22 • Kebodohan orang kafir • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 8:23 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:24 • Kebenaran hari penghimpunan • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 8:25 • Siksaan Allah sangat pedih • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:26 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Orang mukmin kelompok minoritas

۞ QS. 8:28 • Macam-macam fitnah • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 8:29 • Ampunan Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 8:30 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 8:31 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:32 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:33 • Ampunan Allah yang luas • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 8:34 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:35 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:36 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia •

۞ QS. 8:37 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:38 • Ajakan masuk IslamIslam menghapus dosa masa lalu • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:39 Al Bashir (Maha Melihat)

۞ QS. 8:40 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 8:41 Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 8:42 Dalil Allah atas hambaNya • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 8:43 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 8:44 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 8:47 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Perintah tidak mengikuti orang musyrik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 8:48 • Siksaan Allah sangat pedih • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Istidraj (memperdaya) •

۞ QS. 8:49 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sifat orang munafik

۞ QS. 8:50 • Siksaan Allah sangat pedih • Tugas-tugas malaikat • Keluarnya ruh orang kafir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 8:51 • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 8:52 • Siksaan Allah sangat pedih • Al Qawiy (Maka Kuat) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:53 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 8:54 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 8:55 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:57 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 8:59 • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 8:60 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam • Melihat sebab akibat

۞ QS. 8:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 8:62 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 8:63 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 8:64 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 8:65 • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 8:66 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 8:67 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 8:68 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 8:69 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 8:70 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ajakan masuk IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 8:71 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 8:72 Al Bashir (Maha Melihat) • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman •

۞ QS. 8:73 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Orang kafir menjadi penolong sesamanya

۞ QS. 8:74 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Sifat-sifat orang mukmin

۞ QS. 8:75 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

Ayat Pilihan

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah,
dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
QS. Al-Fatihah [1]: 4-5

Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan & jadikan kamu berbangsa & bersuku supaya kamu saling mengenal.
Sungguh orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling takwa diantara kamu
QS. Al-Hujurat [49]: 13

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat,
dan berjihadlah kamu dengan harta & dirimu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui.
QS. At-Taubah [9]: 41

Pada hari yang amat sulit & orang kafir diseru sujud lalu mereka tak mampu, pandangan mereka kabur dipenuhi kehinaan.
Sesungguhnya dulu ketika di dunia mereka pernah diseru bersujud, tapi mereka menolak padahal mereka mampu.
QS. Al-Qalam [68]: 42

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Kamus

Batil

Apa itu Batil? Batil adalah suatu pekerjaan yang diperintahkan agama yang dilakukan seseorang dengan tidak memenuhi rukun atau syarat yang telah ditentukan oleh agama, misalnya ketika urutan berwudlu ...

Hisyam bin Abdul-Malik

Siapa itu Hisyam bin Abdul-Malik? Hisyam bin ‘Abdul-Malik (691 – 743; umur 51–52 tahun; bahasa Arab: هشام بن عبد الملك‎) adalah khalifah yang berkuasa sejak tahun 724 sampai ...

mahar musama

Apa itu mahar musama? maskawin yang ditentukan jumlahnya pada waktu melakukan akad nikah … •