QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 84 [QS. 21:84]

فَاسۡتَجَبۡنَا لَہٗ فَکَشَفۡنَا مَا بِہٖ مِنۡ ضُرٍّ وَّ اٰتَیۡنٰہُ اَہۡلَہٗ وَ مِثۡلَہُمۡ مَّعَہُمۡ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِنَا وَ ذِکۡرٰی لِلۡعٰبِدِیۡنَ
Faastajabnaa lahu fakasyafnaa maa bihi min dhurrin waaatainaahu ahlahu wamitslahum ma’ahum rahmatan min ‘indinaa wadzikra lil’aabidiin(a);

Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
―QS. 21:84
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pohon hijau sumber energi
21:84, 21 84, 21-84, Al Anbiyaa 84, AlAnbiyaa 84, Al-Anbya 84, Al Anbiya 84, Alanbiya 84, Al-Anbiya’ 84

Tafsir surah Al Anbiyaa (21) ayat 84

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 84. Oleh Kementrian Agama RI

Oleh sebab itu, Allah mengabulkan doanya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.

Diriwayatkan bahwa setelah sembuhnya Nabi Ayub dari penyakitnya itu hidup bersama-sama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya dua kali lipat dari yang semula.
Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Alquran mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa:

a.
Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.
b.
Orang-orang yang mukminpun tidak luput dari cobaan, berat ataupun ringan, sebagai ujian bagi mereka.
c.
Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.

Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya.
Dalam hubungan ini Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian para pemimpin tingkat berikut, dan berikutnya lagi.
(HR Bukhari dari Said)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Permohonan itu kemudian Kami kabulkan.
Ia Kami bebaskan dari penyakit yang menyerangnya, dan Kami karuniai anak lagi dua kali lebih banyak dari anak yang meninggalkannya.
Hal itu Kami lakukan sebagai wujud kasih sayang Kami kepadanya, dan sebagai bahan pelajaran bagi yang lain agar bersabar dan haus akan kasih sayang Allah seperti dia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Kami pun memperkenankan seruannya) doanya (lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya) yakni semua anak-anaknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dengan cara menghidupkan mereka kembali.

Jumlah anaknya ada tiga atau tujuh orang (dan Kami lipat gandakan bilangan mereka) bilangan anak-anaknya yang dilahirkan dari istrinya dan istrinya pun dimudakan-Nya.

Nabi Ayub mempunyai dua buah lumbung, yang satu untuk tempat gandum dan yang satu lagi untuk tempat jewawut.

Kemudian Allah mengirimkan dua kelompok awan, yang satu menurunkan hujan emas pada lumbung tempat gandum dan yang satunya lagi menurunkan hujan perak pada lumbung tempat jewawut, sehingga kedua lumbung itu penuh dengan emas dan perak (sebagai suatu rahmat) lafal Rahmatan ini menjadi Maf’ul Lah (dari sisi Kami) lafal Min ‘Indinaa ini berkedudukan menjadi kata sifat (dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah) supaya mereka bersabar, yang karenanya mereka akan mendapatkan pahala.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Kami mengabulkan doanya, lalu Kami cabut ujian darinya, dan Kami kembalikan kepadanya apa yang telah hilang darinya, yaitu keluarga, anak dan harta dengan berlipat ganda.
Kami melakukan hal itu sebagai rahmat dari Kami, dan agar ia menjadi teladan bagi setiap orang yang bersabar menghadapi ujian, berharap rahmat Rabbnya, lagi beribadah kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka.

Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Allah berfirman (kepada para malaikat-Nya), “Kembalikanlah kepadanya semua miliknya dalam keadaan utuh.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.
Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, juga dari Mujahid.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah.

Sebagian orang mengatakan bahwa istri Ayub bernama Rahmah.
Jika pendapat ini bersumber dari konteks ayat, sesungguhnya pendapat ini jauh dari kebenaran.
Jika bersumber dari berita Ahli Kitab dan memang terbukti berasal dari mereka, maka termasuk ke dalam Bab “Tidak Boleh Dipercayai dan Tidak Boleh pula Didustakan.” Akan tetapi, Ibnu Asakir telah menyebutnya di dalam kitab Tarikh-nya dengan sebutan Rahmatullah.

Ibnu Asakir mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, nama istri Ayub ialah Layya binti Minsya ibnu Yusuf ibnu Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim.
Ibnu Asakir mengatakan pula bahwa menurut pendapat lainnya, nama istri Ayub ialah Layya binti Ya’qub a.s, ia hidup bersamanya di negeri Sanyah.

Mujahid mengatakan bahwa dikatakan kepada Ayub, “Hai Ayub, sesungguhnya keluargamu Kami masukkan ke dalam surga.
Jika kamu suka, Kami dapat mendatangkan mereka kepadamu.
Dan jika kamu menghendaki, Kami dapat membiarkan mereka di dalam surga, lalu menggantikan buatmu orang-orang sejumlah mereka menjadi keluargamu.” Ayub menjawab, “Tidak, biarkanlah mereka di dalam surga.”Maka mereka dibiarkan di dalam surga dan diberikan kepada Ayub orang-orang sejumlah mereka di dunia sebagai keluarganya.

Hammad ibnu Zaid telah meriwayatkan dari Abu Imran Al-Juni, dari Nauf Al-Bakkali yang mengatakan bahwa diberikan kepada Ayub pahala kesabaran karena ditinggal mereka kelak di akhirat, dan diberikan kepadanya keluarga baru yang bilangannya sama dengan mereka di dunia.
Hammad ibnu Zaid mengatakan bahwa ia menceritakan kisah ini kepada Mutarrif.
Maka Mutarrif menjawab,”Saya belum pernah mengetahui jalur periwayatannya sebelum ini.” Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf.
Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sebagai suatu rahmat dari sisi Kami.

Yakni Kami lakukan hal itu kepada Ayub sebagai rahmat dari sisi Kami buatnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Kami jadikan kisah Ayub ini sebagai suri teladan agar orang-orang yang tertimpa musibah jangan beranggapan bahwa sesungguhnya Kami lakukan cobaan itu kepada mereka tiada lain karena mereka hina dalam pandangan Kami.
Dan agar mereka meniru kesabaran Ayub dalam menghadapi takdir Allah dan cobaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam cobaan yang dikehendaki-Nya.
Hanya Dia sajalah yang mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik semuanya itu.


Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan “Al Anbiyaa” (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur’an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu’jizat yang lain dari Al Qur’an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya’juj dan Ma’uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 84 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 84 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Anbiyaa (21) ayat 84 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Anbiya (21) ayat 83-84 - Muhammad Sabilillahi (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Anbiya (21) ayat 83-84 - Muhammad Sabilillahi (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Anbiyaa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 112 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 21:84
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
4.8
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ dowlod surat al-anbiyah ayat 84 sama arti nya

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta