Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Anbiyaa

Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) surah 21 ayat 69


قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ
Qulnaa yaa naaru kuunii bardan wasalaaman ‘ala ibraahiim(a);

Kami berfirman:
“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”,
―QS. 21:69
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Ilmu manusia sedikit
21:69, 21 69, 21-69, Al Anbiyaa 69, AlAnbiyaa 69, Al-Anbya 69, Al Anbiya 69, Alanbiya 69, Al-Anbiya’ 69
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 69. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan tindakan Allah subhanahu wa ta'ala untuk melindungi dan menolong Ibrahim dari kekejaman kaumnya, yaitu membakar Ibrahim dalam api unggun yang sedang berkobar-kobar.

Sebagaimana diketahui bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan sifat-sifat tertentu bagi setiap makhluk-Nya.
Dan sifat itu tetap berlaku baginya sebagai Sunah Allah.
Antara lain ialah api, yang bersifat panas dan membakar, sehingga logam-logam yang amat kuatpun dapat dicairkan dengan api, apalagi tubuh manusia.

Maka Allah melindungi Ibrahim dari bakaran api tersebut dengan cara mencabut sifat panas dan membakar itu, dari api yang sedang membakar, Ibrahim tidak merasa panas, padahal ia berada dalam api unggun yang menyala-nyala.
Allah berfirman, "Hai api, jadilah engkau dingin, dan memberi keselamatan bagi Ibrahim".
Dengan adanya perintah Allah kepada api tersebut, maka sifatnya berubah dari panas menjadi dingin, dan tidak merusak terhadap Ibrahim sampai api itu padam.
Ini menambah bukti tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala yang seharusnya disadari oleh kaum kafir.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan sebagai berikut:

Setelah Ibrahim dilemparkan (mereka) ke dalam api itu.
maka ia berdoa, "Ya Allah, Engkau di langit hanya sendiri, dan akupun di bumi hanya sendiri menyembah Mu.

Demikianlah pertolongan dan perlindungan yang biasa yang diberikan-Nya kepada para Nabi, wali-wali dan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Walaupun pada waktu itu Ibrahim belum menjadi Nabi dan Rasul, namun ia tetap merupakan seorang hamba Allah yang saleh.
Patut pula kiranya diingat bahwa Nabi Muhammad ada juga mengalami makar dari kaum kafir Quraisy yang berusaha untuk membinasakannya.
Akan tetapi walaupun mereka telah membuat rencana yang rapi untuk mencapai maksud tertentu, namun pelaksanaannya tidaklah membawa hasil seperti yang mereka harapkan, karena Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya itu, sebagai pelaksanaan dari janji-Nya:

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Q.S Al Ma'idah: 67)

Al Anbiyaa (21) ayat 69 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Anbiyaa (21) ayat 69 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Anbiyaa (21) ayat 69 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Kami membuat api yang membakar Ibrahim menjadi dingin, mengandung keselamatan, dan tidak membahayakannya sama sekali.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kami berfirman, "Hai api! Menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim") maka api itu tidak membakarnya selain pada tali-tali pengikatnya saja dan lenyaplah panas api itu, yang tinggal hanyalah cahayanya saja, hal ini berkat perintah Allah, 'Salaaman' yakni menjadi keselamatan bagi Ibrahim, akhirnya Nabi Ibrahim selamat dari kematian karena api itu dingin.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Allah menolong Rasul-Nya dan berkata kepada api :
Jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.
Karena itu, Ibrahim tidak mendapat suatu hal yang menyakitkan dan tidak pula terkena suatu yang dibenci di dalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sa'id ibnu Jubair mengatakan, telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, malaikat penjaga hujan berkata, "Bilamana aku diperintahkan untuk menurunkan hujan, aku akan menurunkannya." Akan tetapi, perintah Allah lebih cepat daripada perintah malaikat itu.
Allah berfirman:

Hai api,, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa tiada suatu apa pun di bumi ini melainkan pasti padam.

Ka'bul Ahbar mengatakan, tiada seorang pun pada hari itu yang menggunakan api (karena api tidak panas), dan api tidak membakar kecuali hanya tali-tali yang mengikat tubuh Nabi Ibrahim 'alaihis salam

As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari seorang syekh, dari Ali ibnu Abu Talib sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami berfirman, "Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (Al Anbiyaa:69 ) Yaitu api tidak membahayakannya.

Ibnu Abbas dan Abul Aliyah mengatakan bahwa seandainya Allah tidak berfirman:

...dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.
tentulah dinginnya api itu akan menyakiti Ibrahim.

Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak, sehubungan dengan makna firman-Nya:

...menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim."
Mereka membuat tumpukan kayu yang sangat besar, lalu dinyalakan api padanya dari semua sisinya, tetapi api tidak membakar tubuhnya barang sedikit pun hingga Allah memadamkannya.

Mereka menceritakan pula bahwa Jibril ada bersama dengan Ibrahim seraya mengusapi keringat dari wajah Ibrahim, tiada sesuatu pun yang mengenai tubuh Ibrahim kecuali hanya keringat itu.

As-Saddi mengatakan, Nabi Ibrahim di dalam api itu ditemani oleh malaikat penjaga awan.

Ali ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Mahran, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, dari Al-Minhal ibnu Amr yang mengatakan, "Saya pernah mendengar kisah Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, bahwa ia berada dalam api itu selama kurang lebih lima puluh atau empat puluh hari.
Ibrahim mengatakan, "Tiada suatu hari atau suatu malam pun yang lebih menyenangkan bagiku selain saat-saat aku berada di dalam api.
Aku menginginkan jika semua kehidupanku seperti ketika aku berada di dalam api itu."

Abu Zar'ah ibnu Amr ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui Abu Hurairah yang mengatakan bahwa sesungguhnya kalimat yang paling indah yang pernah dikatakan oleh ayah Nabi Ibrahim ialah perkataannya saat diperlihatkan kepadanya keadaan Ibrahim di dalam api.
Ia melihat Ibrahim sedang mengusap keningnya, lalu ayah Ibrahim berkata, "Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, hai Ibrahim."

Qatadah mengatakan bahwa pada hari itu tiada suatu hewan pun yang datang, melainkan berupaya memadamkan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim, terkecuali tokek.
Az-Zuhri mengatakan, Nabi ﷺ memerintahkan agar tokek dibunuh dan beliau memberinya nama fuwaisiq.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah anak saudara Ibnu Wahb, bahwa telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Hazm, Nafi' pernah mencerita­kan kepadanya bahwa budak perempuan Al-Fakih ibnul Mugirah Al-Makhzumi pernah bercerita kepadanya, bahwa ia masuk ke dalam rumah Siti Aisyah, lalu ia melihat sebuah tombak di dalam rumahnya itu.
Maka ia bertanya, "Wahai Ummul Mu’minin, untuk apakah tombak ini?"
Siti Aisyah menjawab, "Saya gunakan untuk membunuh tokek-tokek ini, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bahwa sesungguhnya Ibrahim saat dilemparkan ke dalam nyala api, tiada seekor hewan melata pun melainkan berupaya memadamkan api itu, selain tokek, karena sesungguhnya tokek meniup api itu agar membakar Ibrahim.
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya?”

Informasi Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam meng­hadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Pencip­ tanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia
langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah
semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah
tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati
cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan
hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Ibrahim a.s. (ajakan Ibrahim a.s. kepada bapaknya untuk menyembah Allah
bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhala-berhala
bantah­an Ibrahim a.s. terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap diri­nya Tuhan)
kisah Nuh a.s., kisah Daud a.s. dan Sulairnan a.s.
kisah Ayyub a.s.
kisah Yunus a.s.
kisah Zakaria a.s.

Lain-lain:

Karunia Al Qur'an
tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari Al Qur'an
kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmat­nya
soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka
tirnbulnya Ya'juj dan Ma'uj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat
bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya
kejadian alam semesta
sesuatu yang hidup itu berasal dari air.


Gambar Kutipan Surah Al Anbiyaa Ayat 69 *beta

Surah Al Anbiyaa Ayat 69



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Anbiyaa

Surah Al-Anbiya' (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā' , "Nabi-Nabi") adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah 21
Nama Surah Al Anbiyaa
Arab الأنبياء
Arti Nabi-Nabi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 73
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 112
Jumlah kata 1177
Jumlah huruf 5039
Surah sebelumnya Surah Ta Ha
Surah selanjutnya Surah Al-Hajj
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (11 votes)
Sending







✔ al quran surat ke 21 ayat 69

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku