Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 35 [QS. 21:35]

کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ الۡمَوۡتِ ؕ وَ نَبۡلُوۡکُمۡ بِالشَّرِّ وَ الۡخَیۡرِ فِتۡنَۃً ؕ وَ اِلَیۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ
Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti wanabluukum bisy-syarri wal khairi fitnatan wa-ilainaa turja’uun(a);
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.
Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
―QS. Al Anbiyaa [21]: 35

Every soul will taste death.
And We test you with evil and with good as trial;
and to Us you will be returned.
― Chapter 21. Surah Al Anbiyaa [verse 35]

كُلُّ tiap-tiap

Every
نَفْسٍ jiwa

soul
ذَآئِقَةُ merasakan

(will) taste
ٱلْمَوْتِ mati

[the] death.
وَنَبْلُوكُم dan Kami menguji kamu

And We test you
بِٱلشَّرِّ dengan keburukan

with [the] bad
وَٱلْخَيْرِ dan kebaikan

and [the] good
فِتْنَةً cobaan/fitnah

(as) a trial;
وَإِلَيْنَا dan kepada Kami

and to Us
تُرْجَعُونَ kalian dikembalikan

you will be returned.

Tafsir

Alquran

Surah Al Anbiyaa
21:35

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 35. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini Allah menyatakan lebih tegas lagi, bahwa setiap mahluk-Nya yang hidup atau bernyawa pasti akan merasakan mati.
Tidak satu pun yang kekal, kecuali dia sendiri, dalam hubungan ini, Allah ﷻ berfirman dalam ayat yang lain:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.
(al-Qashash [28]: 88)


Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan cobaan yang ditimpakan Allah kepada manusia tidak hanya berupa hal-hal yang buruk, atau musibah yang tidak disenangi, bahkan juga ujian tersebut dapat pula berupa kebaikan atau keberuntungan.
Apabila ujian atau cobaan itu berupa musibah, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap dan keimanan manusia, apakah ia sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan itu.

Dan apabila cobaan itu berupa suatu kebaikan, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap mental manusia, apakah ia mau bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.


Jika seseorang bersikap sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan atau musibah, serta bersyukur kepada-Nya dalam menerima suatu kebaikan dan keberuntungan, maka dia adalah termasuk orang yang memperoleh kemenangan dan iman yang kuat serta mendapat keridaan-Nya.

Sebaliknya, bila keluh kesah dan rusak imannya dalam menerima cobaan Allah, atau lupa daratan ketika menerima rahmat-Nya sehingga ia tidak bersyukur kepada-Nya, maka orang tersebut adalah termasuk golongan manusia yang merugi dan jauh dari rida Allah.
Inilah yang dimaksudkan dalam firman-Nya pada ayat lain:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا ﴿۱۹﴾ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا ﴿۲۰﴾ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا ﴿۲۱﴾ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ ﴿۲۲﴾

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.

Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma’arij [70]: 19-22)


Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa bagaimana pun juga tingkah laku manusia dalam menghadapi cobaan atau dalam menerima rahmat-Nya, namun akhirnya segala persoalan kembali kepada-Nya juga.

Dialah yang memberikan balasan, baik pahala maupun siksa, atau memberikan ampunan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir QS. Al Anbiyaa (21) : 35. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.
Kami memperlakukan kalian sebagai orang yang diuji dengan berbagai kenikmatan dan bencana, agar nampak jelas siapa di antara kalian yang bersyukur atas kebaikan dan bersabar atas cobaan, dan siapa yang tidak bersyukur serta kecewa saat tertimpa musibah.


Kalian semua akan kembali kepada Kami, lalu Kami akan memperhitungkan segala perbuatan kalian.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tiap-tiap jiwa sudah pasti akan merasakan mati, meskipun ia diberi umur panjang di dunia.
Keberadaannya dalam kehidupan ini hanyalah ujian dengan taklif, baik dengan perintah maupun larangan, dan keadaan yang berubah-ubah, baik kebaikan maupun keburukan, kemudian tempat kembalinya sete;ah itu ialah kepada Allah semata untuk dihisab dan diberi basalan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tiap-tiap yang berjiwa itu akan merasakan mati) di dunia


(dan Kami akan menguji kalian) mencoba kalian


(dengan keburukan dan kebaikan) seperti miskin, kaya, sakit dan sehat


(sebagai cobaan) kalimat ini menjadi Maf’ul Lah, maksudnya supaya Kami melihat, apakah mereka bersabar dan bersyukur ataukah tidak.


(Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan) kemudian Kami akan membalas kalian.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Telah diriwayatkan dari Imam Syafii, bahwa beliau mengemukakan dua bait syair berikut yang semakna dengan ayat ini, yaitu:

Banyak kalangan lelaki yang mengharapkan aku mati cepat, dan memang mati itu merupakan suatu akhir yang saya tidak menyendiri di dalamnya.


Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan hal yang berbeda dengan pendahulunya, bersiap-siaplah untuk menghadapi masa hidupnya yang baru, kematian akan tetap menjadi suatu kepastian baginya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).

Artinya, Kami benar-benar akan menguji kalian —adakalanya dengan musibah dan adakalanya dengan nikmat— agar Kami dapat melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang ingkar, siapakah yang bersabar serta siapakah yang berputus asa (di antara kalian).


Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Kami akan menguji kalian.
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 35)
Yakni memberikan cobaan kepada kalian.
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 35)
Yaitu dengan kesengsaraan dan kemakmuran, dengan sehat dan sakit, dengan kaya dan miskin, dengan halal dan haram, dengan taat dan durhaka, serta dengan petunjuk dan kesesatan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.

Maka Kami akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan amal perbuatan kalian.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Anbiyaa (21) Ayat 35

DZAA IQAH
ذَآئِقَة

Lafaz dzaa iqah adalah ism fa’il mufradah, jamaknya dzaa ‘iqat, mudzakkar bagi kata dzaa’iq dan jamaknya dzaa ‘iqun. Berasal dari kata adz dzawq atau dzaaqa- yadzuqu yang berarti merasakan dan mencoba.

Raghib berkata,
adz dhawq bermakna wujudnya rasa di dalam mulut dan asal maknanya makan sedikit dari yang banyak.
Apabila makan makanan yang banyak maka disebut al akl. Beliau berkata lagi, di dalam Al Qur’an penggunaan lafaz adz dhawq lebih banyak menyentuh masalah azab atau siksaan.
Walaupun lafaz ini pada asalnya untuk hal yang sedikit, namun berkenaan dengan azab, ia bisa digunakan untuk perkara yang banyak dan sedikit.
Oleh karena itu, kecenderungan penggunaannya pada siksaan di dalam Al Quran mengisyaratkan makna universal.

Adz dhawq juga bermakna ujian dan cobaan sebagaimana maksud firman Allah:

فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ

yang dikaitkan dengan lafaz libaas (pakaian).

Adz dhawq juga juga digunakan untuk rahmat sebagaimana firman Allah,

وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِنَّا رَحْمَةً

maksudnya, "Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami,"

Lafaz dzaa ‘iqah di dalam Al Qur’an disebut tiga kali yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 185;
-Al Anbiyaa (21), ayat 35;
Al Ankabut (29), ayat 57.
Lafaz jamaknya disebut dua kali yaitu dalam surah Ash Shaffaat ayat 31 dan 38. Kesemua lafaz dzaa ‘iqah yang terdapat dalam ayat-ayat tadi disandarkan dengan lafaz an nafs (diri atau jiwa) dan maut (kematian).
Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِۗ

Dalam kitab Tafsir Al Misbah, M.
Quraish Shihab mengungkapkan, ayat ini menggunakan kata dzaa ‘iqah untuk kematian yang diterjemahkan dengan merasakan kematian untuk mengisyaratkan ia adalah awal dari sesuatu.
Bukankah sekiranya kita merasakan sesuatu, kita mengetahui sekelumit rasanya dan setelah dirasakan, ia dimakan dalam kadar yang lebih banyak dari apa yang dirasakan.
Sakit yang dirasakan dalam kematian atau kenikmatannya adalah bahagian kecil dari kepedihan dan nikmat yang akan dirasakan kelak.

Al Qurtubi mengungkapkan, terdapat dua qiraat pada ayat tersebut.
Kebanyakan para ulama membacanya dzaa iqatul mauuti.

Sedangkan Al A’masy, Yahya dan Ibn Abu Ishaq membacanya dengan dzaa iqatul mauuta. Hal ini karena ism fa’il terdiri dari dua bentuk makna yaitu al madhi (yang terdahulu) dan bermakna al istiqbaal (sekarang atau akan datang).

Qiraat pertama mengandung makna madhi (sudah berlaku atau pasti berlaku), maknanya setiap jiwa pasti mengalami kematian.
Sekiranya ism fa’il itu bermakna istiqbal, boleh dibaca dengan dua qiraat itu.
Maknanya setiap jiwa mengalami kematian karena jiwa itu belum lagi merasakan ke matian.

Kesimpulannya, lafaz dzaa ‘iqah bisa memiliki dua makna yaitu yang pasti merasakan dan yang akan merasakan, maknanya setiap jiwa pasti merasakan kematian atau setiap jiwa akan merasakan kematian.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 232-236

Unsur Pokok Surah Al Anbiyaa (الأنبياء)

Surat Al Anbiyaa’ yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai surat ini dengan "Al Anbiyaa" (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surat Al Anbiyaa’ menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan sang Pencipta.

Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan di akhirat nanti.

Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Selain yang tersebut di atas pokok-pokok isi surat ini ialah:

Keimanan:

▪ Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari jenis manusia.
▪ Langit dan bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Allah.
▪ Semua rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan manusia menyembah Allah.
▪ Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.
▪ Cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kebaikan dan ada yang berupa keburukan.
▪ Hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.

Kisah:

▪ Kisah Ibrahim `alaihis salam (ajakan Ibrahim `alaihis salam kepada bapaknya untuk menyembah Allah.
▪ Bantahan Ibrahim terhadap kaurnnya yang menyembah berhalaberhala.
▪ Bantahan Ibrahim `alaihis salam terhadap Namrudz yang bersimaharajalela dan menganggap dirinya Tuhan).
▪ Kisah Nuh `alaihis salam, kisah Daud `alaihis salam dan Sulairnan `Ayyub `Yunus `alaihis salam.
▪ Kisah Zakaria `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Karunia Alquran.
▪ Tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan mukjizat yang lain dari Alquran.
▪ Kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya.
▪ Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmatnya.
▪ Soal jawab antara berhala dan penyembahnya dalam neraka.
▪ Timbulnya Ya’juj dan Ma’juj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat.
▪ Bumi akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya.
▪ Kejadian alam semesta.
▪ Sesuatu yang hidup itu berasal dari air.

Audio

QS. Al-Anbiyaa (21) : 1-112 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 112 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Anbiyaa (21) : 1-112 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 112

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Anbiyaa ayat 35 - Gambar 1 Surah Al Anbiyaa ayat 35 - Gambar 2 Surah Al Anbiyaa ayat 35 - Gambar 3
Statistik QS. 21:35
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Anbiyaa.

Surah Al-Anbiya’ (Arab: الأنبياء , al-Anbiyā’ , “Nabi-Nabi”) adalah surah ke-21 dalam Alquran.
Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah.
Nama al-anbiya (bahasa arab:nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi.
Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti.
Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya.
Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad ﷺ supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Nomor Surah21
Nama SurahAl Anbiyaa
Arabالأنبياء
ArtiNabi-Nabi
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu73
JuzJuz 17
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat112
Jumlah kata1177
Jumlah huruf5039
Surah sebelumnyaSurah Ta Ha
Surah selanjutnyaSurah Al-Hajj
Sending
User Review
4.7 (29 votes)
Tags:

21:35, 21 35, 21-35, Surah Al Anbiyaa 35, Tafsir surat AlAnbiyaa 35, Quran Al-Anbya 35, Al Anbiya 35, Alanbiya 35, Al-Anbiya' 35, Surah Al Anbiya ayat 35

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 27 [QS. 8:27]

Bersyukur adalah sebuah keharusan, sebab aneka nikmat tersebut bersumber dari Allah. Tidak bersyukur berarti mengkhianati nikmat tersebut dari Pemberinya, karena itu Allah menyatakan, “Wahai orangoran … 8:27, 8 27, 8-27, Surah Al Anfaal 27, Tafsir surat AlAnfaal 27, Quran Al Anfal 27, AlAnfal 27, Al-Anfal 27, Surah Al Anfal ayat 27

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 68 [QS. 17:68]

Maka apakah kamu benar-benar telah merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu, sebelum kamu tiba dengan selamat ke pantai, atau Dia meniupkan angin keras yang membawa b … 17:68, 17 68, 17-68, Surah Al Israa 68, Tafsir surat AlIsraa 68, Quran Al Isra 68, Al-Isra’ 68, Surah Al Isra ayat 68

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Sebelum berpakaian, kita harus ...

Benar! Kurang tepat!

Pembatasan aurat wanita adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Islam, pakaian harus ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #3
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #3 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #3 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … QS. Al A’raf : 33

Pendidikan Agama Islam #29

وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Al Isra ayat

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. Ayam lebih dahulu daripada telur Allah lebih dahulu dari alam

Instagram