Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 96 [QS. 6:96]

فَالِقُ الۡاِصۡبَاحِ ۚ وَ جَعَلَ الَّیۡلَ سَکَنًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ حُسۡبَانًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ
Faaliqu-ishbaahi waja’alallaila sakanan wasy-syamsa wal qamara husbaanan dzalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim(i);
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.
Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
―QS. Al An ‘aam [6]: 96

(He is) the cleaver of daybreak and has made the night for rest and the sun and moon for calculation.
That is the determination of the Exalted in Might, the Knowing.
― Chapter 6. Surah Al An ‘aam [verse 96]

فَالِقُ Dia membelah/menyingsingkan

(He is the) Cleaver
ٱلْإِصْبَاحِ pagi

(of) the daybreak
وَجَعَلَ dan Dia menjadikan

and He has made
ٱلَّيْلَ malam

the night
سَكَنًا beristirahat

(for) rest
وَٱلشَّمْسَ dan matahari

and the sun
وَٱلْقَمَرَ dan bulan

and the moon
حُسْبَانًا perhitungan

(for) reckoning.
ذَٰلِكَ demikianlah/itulah

That
تَقْدِيرُ ketentuan

(is the) ordaining
ٱلْعَزِيزِ Maha Kuasa

(of) the All-Mighty,
ٱلْعَلِيمِ Maha Mengetahui

the All-Knowing.

Tafsir

Alquran

Surah Al An ‘aam
6:96

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 96. Oleh Kementrian Agama RI


Allah menyuruh manusia agar memperhatikan perputaran waktu yang disebabkan oleh peredaran benda-benda langit yang berlaku menurut hukum sebab dan akibat.
Allah mengajak manusia memperhatikan alam terbuka yang dapat dilihat sehari-hari.

Allah menyingsingkan cahaya pagi yang menghapus kegelapan malam.
Cahaya itu tampak di ufuk langit bagian timur sesudah terbitnya matahari sehingga dunia tampak bercahaya terang.

Keadaan ini mereka alami di saat-saat mereka melakukan segala macam kegiatan untuk keperluan hidup mereka.
Sebagai kebalikan dari suasana tersebut, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan keadaan malam yang gelap.

Allah menciptakan malam untuk beristirahat setelah mereka penat karena bekerja di siang hari.
Keadaan ini digambarkan sebagai suasana ketenangan.

Suasana yang silih berganti antara siang dan malam seperti keadaan yang mempunyai persamaan dengan perputaran hidup, agar mereka mempunyai pandangan hidup yang lebih luas.
Uraian ilmiahnya sebagai berikut:


Kata husbana (perhitungan) dalam ayat ini dimaksudkan sebagai perhitungan kalender (penanggalan).

Dalam sejarah peradaban manusia, telah terbukti bahwa matahari dan bulan digunakan untuk perhitungan penanggalan.
Penanggalan berbasis pada ‘gerak dan posisi matahari di langit bumi, atau yang dikenal dengan Solar Calendar, telah dilakukan oleh peradaban Barat (berasal dari Romawi dan Yunani), India;
sedang peradaban Yahudi, Arab, Cina, juga India menggunakan Lunar Calendar, yaitu perhitungan berbasiskan kepada ‘gerak dan posisi bulan di langit bumi.

Dalam bahasa astronomi, Solar Calendar berbasiskan pada lintasan-orbit bumi terhadap posisi matahari, sedang Lunar Calendar berbasis pada lintasan-orbit bulan terhadap posisi bumi dan matahari.



Dalam dunia astronomi-astrofisika, bulan juga digunakan dalam perhitungan penentuan kestabilan dinamika rotasi (rotational dynamic stability) bumi.
Hal ini membuktikan bahwa keberadaan bulan sangat diperlukan agar precession (perkitaran) bumi pada sumbunya stabil.
Bulan memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 10-100 tahun, sedang Venus dan Mars memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 100-500 tahun.
Sedang planet Yupiter dan Saturnus, juga ikut memberikan rotational dynamic stability terhadap bumi kita ini, juga bertindak sebagai shield (perisai) bagi bumi terhadap hamburan meteor yang akan membentur bumi.


Allah menyebutkan sebab-sebab yang mengubah suasana siang menjadi malam yaitu matahari yang beredar menurut waktu-waktu yang telah ditentukan.
Sebagai bandingannya disebutkan, bahwa bulan tampak cemerlang di waktu malam.
Baik matahari maupun bulan beredar di angkasa raya menurut garis edarnya secara teratur dan tertentu.


Allah menyebutkan matahari dan bulan karena kedua benda langit itulah yang paling menonjol di antara benda-benda langit yang lain, yang secara umum manusia dapat memahami secara mudah kapan matahari dan bulan itu terbit dan kapan benda langit itu terbenam, dengan maksud agar manusia dapat memahami bahwa tiap-tiap kehidupan didahului oleh tiada dan akan kembali kepada tiada pula.
Mengenai manfaat peredaran matahari dan bulan ini Allah menjelaskan selanjutnya dengan firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).
(Yunus [10]: 5)


Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga macam nikmat-Nya yang dapat dinikmati secara langsung oleh manusia yaitu nikmat yang diperoleh mereka tanpa usaha;
nikmat cahaya pagi, nikmat ketenangan malam dan nikmat sinar matahari dan bulan agar manusia secara menyeluruh dapat memahami rahmat Allah yang menyeluruh bagi semua makhluk-Nya.
Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa penciptaan yang sangat tinggi nilainya itu, adalah ketentuan Allah sesuai dengan keluasan ilmu-Nya, kebesaran kekuasaan dan ketinggian hikmah-Nya.
Allah ﷻ berfirman:


اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
(al-Qamar [54]: 49)

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 96. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dialah yang memecahkan keremangan pagi dengan munculnya cahaya siang, agar makhluk hidup bergegas mencari penghidupan masing-masing.
Dia juga yang menciptakan malam sebagai waktu istirahat dan ketenangan jiwa dan raga.


Dia juga menjadikan peredaran bulan dan matahari dengan sistem yang sangat teratur rapi.
Dengan peredaran bulan dan matahari itu dapat diketahui waktu untuk beribadat dan bermuamalat.


Itulah sistem yang sangat sempurna dan akurat, yang diatur oleh Zat yang Mahakuasa, yang mengetahui segala apa yang terjadi di seluruh alam raya[1].


[1] Peredaran matahari mengilhami perhitungan hari dan tahun.


Sedang peredaran bulan mengilhami perhitungan bulan.
(Lihat juga catatan kaki tafsir ayat 189, surat al-Baqarah).

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah yang mengeluarkan cahaya pagi dari kegelapan malam, menjadikan malam sebagai waktu yang tenang.
Siapa yang merasa lelah di siang hari akan mengambil istirahatnya di waktu malam.


Dia menjadikan matahari dan rembulan beredar pada porosnya dengan perhitungan yang ditentukan dengan rapi, tidak berubah dan tidak kacau.
Itulah perhitungan Allah yang Mahaperkasa dengan kekuasaan-Nya yang kokoh, Maha Mengetahui kemaslahatan-kemaslahatan hamba-Nya dan mengatur urusan-urusan mereka.


Al-Aziz dan Al-Alim termasuk nama-nama Allah yang husna yang menetapkan kesempurnaan ilmu dan keperkasaan Allah.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dia menyingsingkan pagi) mashdar yang bermakna isim yakni subuh atau pagi hari, artinya Allahlah yang menyingsingkan sinar pagi, yaitu cahaya yang tampak di permulaan pagi hari mengusir kegelapan malam hari


(dan menjadikan malam untuk beristirahat) waktu semua makhluk beristirahat dari kepenatannya


(dan menjadikan matahari dan bulan) dibaca nashab diathafkan kepada Lafal lail secara makna


(untuk perhitungan) untuk ukuran perhitungan waktu, atau dengan tanpa huruf ba atau hisaaban, maka menjadi hal bagi Lafal yang tersimpan.
Artinya matahari dan bulan itu beredar menurut perhitungannya sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat surah Ar-Rahman.


(Itulah) yang telah tersebut itu


(ketentuan Allah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya


(lagi Maha Mengetahui) seluk-beluk makhluk-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah :

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk ber­istirahat.

Artinya, Dialah yang menciptakan cahaya dan kegelapan, seperti yang disebutkan di awal surat:

dan mengadakan gelap dan terang.
(QS. Al-An’am [6]: 1)

Yaitu Dia Yang Mahasuci menyingsingkan gelapnya malam hari pada pagi hari, sehingga alam menjadi terang, dan cakrawala tampak terang-benderang.
Gelapnya malam hari hilang berangsur-angsur dan pergi membawa kegelapannya, lalu datanglah siang hari dengan sinarnya yang terang.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya yang lain:

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.
(QS. Al-A’raf [7]: 54)

Allah subhanahu wa ta’ala, menjelaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan berbagai macam hal yang bertentangan lagi berbeda-beda, semuanya itu menunjukkan kesempurnaan kebesaran yang dimiliki-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan:
Dia menyingsingkan pagi.
(QS. Al-An’am [6]: 96)
Dan yang bertentangan dengan itu disebutkan oleh firman-Nya:
dan menjadikan malam untuk beristirahat.
(QS. Al-An’am [6]: 96)

Yakni sunyi lagi gelap agar segala sesuatu dapat beristirahat padanya, seperti yang disebutkan di dalam firmanfirman yang lain:

Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.
(QS. Adh-Dhuhaaa [93]: 1-2)

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang-benderang.
(QS. Al-Lail [92]: 1-2)

dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila me­nutupinya.
(QS. Asy-Syams [91]: 3-4)

Suhaib Ar-Rumi berkata kepada istrinya yang baru saja mencelanya karena banyak begadang di malam hari,
"Sesungguhnya Allah menjadikan malam hari untuk beristirahat, kecuali bagi Suhaib.
sesungguhnya Suhaib apabila ingat akan surga, maka rasa rindunya memanjang, dan apabila ingat akan neraka, maka terusirlah rasa kantuknya."


Demi­kianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah :

…dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.

Yakni keduanya beredar menurut perhitungan yang pasti rapi, tidak berubah dan tidak kacau, melainkan masing-masing dari keduanya mempunyai garis edar yang ditempuh oleh masing-masing dalam musim panas dan musim dinginnya.
Sebagai akibat dari hal tersebut, maka berbeda-bedalah panjang dan pendek malam dan siang hari.
Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (garis-garis edar) bagi perjalanan bulan itu.
(QS. Yunus [10]: 5), hingga akhir ayat.

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang.
Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(QS. Yasin [36]: 40)

dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya.
(QS. Al-A’raf [7]: 54)

Firman Allah :

Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Artinya, semuanya beredar berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Mahaperkasa, tanpa membangkang dan tanpa menentang, lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.
Maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya barang sebesar zarrah pun, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
Dalam Alquran —apabila Allah menyebutkan tentang penciptaan malam, siang, matahari, dan bulan— sering kali diakhiri dengan penyebutan sifat perkasa dan sifat mengetahui, seperti yang terdapat dalam ayat ini (QS. Al-An’am [6]: 96), juga ayat lain, yaitu:

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang dari malam itu.
maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(QS. Yasin [36]: 37-38)

Demikian pula ketika Dia menyebutkan perihal penciptaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada pada keduanya, yaitu pada permulaan surat Hamim Sajdah:

Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat [41]: 12)

Unsur Pokok Surah Al An ‘aam (الانعام)

Surat Al-An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata "An’aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukumhukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

▪ Bukti-bukti ke-Esaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya.
▪ Kebenaran kenabian Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Ilyasa, Yunus dan Luth.
▪ Penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan, kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah.
▪ Makanan yang halal dan yang haram.
▪ Wasiat yang sepuluh dari Alquran.
▪ Tentang tauhid, keadilan dan hukumhukum.
▪ Larangan mencaci maki berhala orang musyrik, karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

▪ Kisah umat-umat yang menentang rasulrasul.
▪ Kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya.
▪ Cerita Nabi Ibrahim `alaihis salam membimbing kaumnya kepada tauhid.

Lain-lain:

▪ Sikap kepala batu kaum musyrikin.
▪ Cara seorang nabi memimpin umatnya.
▪ Bidang-bidang kerasulan dan tugas rasulrasul.
▪ Tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul.
▪ Kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat.
▪ Beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan.
▪ Nilai hidup duniawi.

Audio

QS. Al-An-'aam (6) : 1-165 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 165 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-An-'aam (6) : 1-165 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 165

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al An 'aam ayat 96 - Gambar 1 Surah Al An 'aam ayat 96 - Gambar 2
Statistik QS. 6:96
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al An ‘aam.

Surah Al-An’am (bahasa Arab:الانعام, al-An’ām, “Binatang Ternak”) adalah surah ke-6 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An’am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An’am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An’am ini, terdapat do’a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An ‘aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma’idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
Sending
User Review
4.6 (10 votes)
Tags:

6:96, 6 96, 6-96, Surah Al An 'aam 96, Tafsir surat AlAnaam 96, Quran Al Anaam 96, Al Anam 96, AlAnam 96, Al An'am 96, Surah Al Anam ayat 96

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Yusuf (Nabi Yusuf) – surah 12 ayat 35 [QS. 12:35]

Kemudian timbul pikiran pada mereka, yakni al-Aziz dan para penasehatnya setelah melihat tanda-tanda kebenaran Nabi Yusuf bahwa mereka harus memenjarakannya demi menjaga kehormatan keluarganya, serta … 12:35, 12 35, 12-35, Surah Yusuf 35, Tafsir surat Yusuf 35, Quran Yusuf 35, Surah Yusuf ayat 35

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 30 [QS. 8:30]

Nabi Muhammad pun diingatkan oleh Allah tentang nikmat yang harus disyukuri, terutama ketika Allah menyelamatkannya dari upaya jahat orang-orang kafir Mekah. Dan ingatlah wahai Nabi Muhammad, ketika t … 8:30, 8 30, 8-30, Surah Al Anfaal 30, Tafsir surat AlAnfaal 30, Quran Al Anfal 30, AlAnfal 30, Al-Anfal 30, Surah Al Anfal ayat 30

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
== Cuka ==
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Hassan telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka.' (HR. Muslim, No: 3823).

== Labu ==
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far dan diriwayatkan pula oleh 'Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah dari Qatabah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. menyebutkan 'Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menggemari labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.'

Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Pertempuran Badar (غزوة بدر, / gazwah badr‎), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).
Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.'
(HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih)

+

Array

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya ... kali."

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.'
(HR. Muslim, no. 408)

Pendidikan Agama Islam #13
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #13 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #13 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … tauhid zakat jihad akhlakul karimah berperang

Pendidikan Agama Islam #15

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah … agar manusia selamat dan bahagia di dunia agar manusia mau membacanya

Pendidikan Agama Islam #1

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah … Taha ayat 8 Yasin ayat 44

Instagram