Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 94


وَ لَقَدۡ جِئۡتُمُوۡنَا فُرَادٰی کَمَا خَلَقۡنٰکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ تَرَکۡتُمۡ مَّا خَوَّلۡنٰکُمۡ وَرَآءَ ظُہُوۡرِکُمۡ ۚ وَ مَا نَرٰی مَعَکُمۡ شُفَعَآءَکُمُ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ اَنَّہُمۡ فِیۡکُمۡ شُرَکٰٓؤُا ؕ لَقَدۡ تَّقَطَّعَ بَیۡنَکُمۡ وَ ضَلَّ عَنۡکُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ تَزۡعُمُوۡنَ
Walaqad ji-atumuunaa furaada kamaa khalaqnaakum au-wala marratin wataraktum maa khau-walnaakum waraa-a zhuhuurikum wamaa nara ma’akum syufa’aa-akumul-ladziina za’amtum annahum fiikum syurakaa-u laqad taqath-tha’a bainakum wadhalla ‘ankum maa kuntum taz’umuun(a);

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).
―QS. 6:94
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Penghimpunan manusia dan keadaan mereka ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
6:94, 6 94, 6-94, Al An ‘aam 94, AlAnaam 94, Al Anaam 94, Al Anam 94, AlAnam 94, Al An’am 94
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 94. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dari pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan nasib mereka di hari kiamat.
Mereka itu datang menghadap Allah sendiri-sendiri dengan tidak membawa harta benda, anak dan pangkat, terlepas dari kebanggaan, dukungan dan kedudukan duniawi.
Berhala-berhala yang dikira dapat memberikan syafaat, tidak ada gunanya sama sekali.
Keadaan mereka seperti diciptakan pada pertama kalinya, pada waktu mereka berada dalam kandungan ibu, seperti dijelaskan dalam hadis:

Wahai manusia! Sebenarnya kamu akan dikumpulkan ke hadirat Allah di padang Mahsyar dalam keadaan tidak bersepatu.
tidak berpakaian dan tidak berkhitan sebagaimana kami memulai penciptaan pertama kali, begitulah kami akan mengulanginya.
Itulah janji yang pasti Kami tepati bahwa Kami benar-benar akan melaksanakannya”.
(HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

Mereka telah tinggalkan di dunia apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka yang menjadi kebanggaan mereka, yaitu harta benda, anak, istri dun kedudukan yang menyebabkan mereka congkak dan tidak mau beriman kepada Rasul-rasul.
Semuanya itu tidak dapat menolong mereka dari siksa Allah di akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak akan memuliakan apa.
saja yang mereka anggap dapat memberi syafaat, baik berupa berhala-berhala yang mereka persekutukan dengan Allah atau pendeta-pendeta mereka yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menghubungkan doa mereka kepada Allah.
Tegasnya pada hari itu tidak dipedulikan syafaat dan tebusan, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri.
Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia.

Putuslah harapan mereka karena apa yang.
mereka duga tak kunjung tiba.
Syafaat dan tebusan yang mereka duga akan dapat menolong mereka, sedikitpun tidak memenuhi harapan mereka.

Al An 'aam (6) ayat 94 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 94 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 94 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari kiamat, Allah akan berkata kepada mereka, “Sekarang kalian membuktikan sendiri bahwa kalian dibangkitkan kembali dari kubur sebagaimana Kami ciptakan untuk pertama kali.
Kalian datang kepada Kami tanpa ditemani harta kekayaan, anak dan sahabat.
Kalian tinggalkan semua kenikmatan yang sempat menipu kalian.
Hari ini Kami tidak melihat bersama kalian pemberi syafaat yang kalian anggap sekutu-sekutu Kami.
Terputuslah sudah segala bentuk ikatan yang mengikat kalian dengan mereka.
Musnahlah sudah anggapan bahwa mereka akan dapat memberi manfaat kepada kalian.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) dikatakan kepada mereka ketika dibangkitkan (sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri) dalam keadaan sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga, harta benda dan anak (sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya) dalam keadaan telanjang bulat dan masih belum disunatkan (dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami berikan kepadamu) apa-apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu berupa harta benda (berada di belakangmu) di dunia tanpa ada pilihan lain bagimu.
(Dan) dikatakan kepada mereka sebagai cemoohan (Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat kamu) berhala-berhala kamu (yang kamu anggap bahwa mereka di antara kamu) artinya yang berhak kamu sembah (sebagai sekutu-sekutu) Allah.
(Sungguh telah terputuslah di antara kamu) pertalian kamu, artinya telah tercerai-berailah persatuanmu.
Dan di dalam suatu qiraat dibaca nashab sebagai zharaf, yang artinya telah terputuslah pertalian antara kamu (dan telah lenyap) maksudnya telah hilang (daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap) sewaktu hidup di dunia bahwa kamu mendapatkan syafaatnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kalian datang kepada kami untuk menghadapi hisab dan pembalasan sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kalian di dunia pertama kali dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki.
Kalian meninggalkan di belakang punggung kalian apa-apa yang kalian miliki dan kalian bangga-banggakan berupa harta kekayaan dunia.
Kami tidak melihat berhala-berhala kalian di akhirat bersama kalian di mana dulu kalian meyakini bahwa ia akan memberi syafaat kepada kalian, dan kalian mengklaim bahwa ia adalah sekutu-sekutu bagi Allah dalam ibadah.
Sungguh telah lenyap hubungan kalian yang terjalin di antara kalian di kehidupan dunia.
Sirna pula apa yang kalian katakan bahwa tuhan-tuhan kalian merupakan sekutu bagi Allah dalam ibadah.
Terbukti sekarang bahwa kalian adalah orang-orang yang merugi, untuk diri kalian, keluarga dan harta kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya.

Artinya, hal tersebut dikatakan kepada mereka pada hari mereka dikembalikan, seperti yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris.
Sesungguhnya kalian datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada yang pertama kali.
(Al Kahfi:48)

Yakni sebagaimana Kami memulai penciptaan kalian, maka Kami kembalikan kalian, sedangkan kalian dahulu mengingkarinya dan menganggapnya mustahil, maka sekarang inilah hari berbangkit.

Firman Allah :

…dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian.

Yaitu berupa semua kenikmatan dan harta benda yang kalian pelihara selama kalian hidup di dunia, semuanya itu kalian tinggalkan di belakang kalian.

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Anak Adam berkata, “Hartaku-hartaku!” Padahal tiada yang engkau miliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan, lalu engkau habiskan, atau apa yang engkau pakai, lalu engkau lapukkan, atau apa yang engkau sedekahkan, lalu engkau kekalkan, sedangkan selain dari itu semuanya pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seorang anak Adam dihadapkan (kepada Allah) pada hari kiamat dalam keadaan tidak membawa apa-apa, lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Ke manakah harta yang telah kamu himpun?”
Ia menjawab, “Wahai Tuhanku, aku telah mengumpulkannya, tetapi aku meninggalkannya semua secara penuh.” Allah berfirman kepadanya, “Hai anak Adam, manakah amal yang kamu bawa untuk dirimu?”
Maka ia melihat bahwa dirinya tidak melakukan suatu amal pun.
Kemudian Al-Hasan Al-Basri membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya, dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan.
(Al An’am:94), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut riwayat Imam Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah :

…dan Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian.

Ayat ini mengandung makna kecaman dan celaan terhadap mereka, karena ketika di dunia mereka menjadikan sekutu-sekutu dan berhala-berhala serta patung-patung sebagai sembahan mereka, dengan dugaan bahwa semuanya itu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka dan dapat menyejahterakan kehidupan akhirat mereka, jika menurut keyakinan mereka ada hari akhirat.

Apabila hari kiamat tiba, maka terputuslah dari mereka semua hubungan di antara mereka, lenyaplah semua kesesatan, dan hilanglah apa yang dahulu mereka buat-buat dalam mempersekutukan-Nya, lalu Tuhan menyerukan kepada mereka di hadapan semua makhluk:

Di manakah sembahan-sembahan kalian yang dahulu kalian katakan (sekutu-sekutu Kami)?
(Al An’am:22)

Di manakah berhala-berhala yang dahulu kalian selalu menyembah (nya) selain dari Allah?
Dapatkah mereka menolong kalian atau menolong diri mereka sendiri?
(Asy Syu’ara:92-93)

Karena itu, dalam ayat ini disebutkan:

dan Kami tiada melihat beserta kalian pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian.
(Al An’am:94)

Yakni yang kalian sembah, dan kalian duga bahwa mereka mempunyai bagian hak untuk kalian sembah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman dalam firman selanjutnya:

Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kalian.

Kalau dibaca rafa’ artinya ‘telah terputuslah perhimpunan kalian’, dan kalau dibaca nasab artinya ‘telah terputuslah semua jalinan antara kalian, yakni semua pertalian, hubungan, dan perantaraan’.

…dan telah lenyap dari kalian.

Artinya, pergi dan lenyap dari kalian.

…apa yang dahulu kalian anggap (sebagai sekutu Allah).

Yakni harapan dari berhala dan sekutu-sekutu itu.
Sama halnya dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesatan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
(Al Baqarah:166-167)

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam ayat-ayat lain, yaitu:

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
((Al Mu’minun:101)

Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembali kalian ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagi kalian para penolong pun.
(Al-‘Ankabut:25)

Dikatakan (kepada mereka), “Serulah oleh kalian sekutu-sekutu kalian,” lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka.
(Al Qashash:64), hingga akhir ayat.

Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik.
(Al An’am:22) sampai dengan firman-Nya, dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.
(Al An’am:24)

Ayat-ayat yang menerangkan hal ini cukup banyak.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 94

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa an-Nadlr bin al-Harits berkata: “Al-Latta dan al-‘Uzza yang akan memeberi syafaat kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 94 sampai … syurakaa’…[sekutu-sekutu]), sebagai keterangan bahwa di hari akhir manusia akan datang kepada Allah tanpa mendapat bantuan siapapun, termasuk apa-apa yang mereka banggakan sebagai tuhan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 94

FURAADA
فُرَٰدَى

Kata fard adalah sesuatu yang tidak bersama dengan yang lain atau sesuatu yang tidak ada yang menyamainya. Bentuk jamaknya adalah furaada dan afraad.

Kata tunggal (fard) diulang tiga kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Maryam (19), ayat 80 dan 95;
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 89.

Sedangkan bentuk jamak yang disebut dalam Al Qur’an hanya furaada dan ianya diulang dua kali saja, yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 94;
-Saba’ (34), ayat 46.

Kata ini dalam Al Qur’an digunakan untuk menerangkan keadaan kesendirian manusia, di mana dia tidak bersama dengan orang yang lain, baik semasa di dunia maupun di akhirat.

Pada surah Al Anbiyaa’ (21), ayat 89 kata fard terdapat dalam rangkaian doa yang diucapkan oleh Nabi Zakariyya (a.s.) ketika umur beliau sudah tua. Doa tersebut adalah

رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.

Maksudnya adalah hidup tanpa ada keturunan (anak). Beliau mengucapkan doa ini karena khawatir apabila beliau meninggal tidak ada lagi orang yang melanjutkan tugas dakwahnya.

Pada surah Saba’ (34), ayat 46 diceritakan bahwa orang-orang kafir yang hidup pada masa Nabi Muhammad (s.a.w.) mengatakan bahwa beliau adalah orang gila. Oleh karena itu Allah menyuruh Nabi supaya menasihati mereka dengan satu nasihat, yaitu hendaklah mereka berniat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah memikirkan apakah benar Nabi Muhammad mempunyai sifat dan perilaku yang dimiliki oleh orang gila. Dan hendaklah mereka memikirkan perkara itu secara kumpulan (matsnaa) dan secara persendirian (furaada).

Imam As Suddi dan Al Qurtubi turut menjelaskan bahwa yang dimaksudkan matsnaa adalah memikirkan perkara itu dengan cara bermusyawarah bersama orang lain, sedangkan furaada adalah memikirkannya sendiri. Apabila mereka mau melakukannya dengan tulus ikhlas dan mendengarkan suara hati nurani maka mereka akan menyadari bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang gila

Sedangkan keadaan keseorangan di akhirat diterangkan dalam surah Al An’aam (6), ayat 94 dan surah Maryam (19), ayat 80 dan 95, di mana diterangkan bahwa di akhirat nanti semua manusia akan menghadap Allah secara sendiri-sendiri (fard) atau (furaada). Mereka tidak akan membawa perkara-pereka yang mereka bangga-banggakan semasa hidup di dunia, seperti harta, anak, keluarga, kawan sekutu atau yang lainnya. Mereka akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya sendiri dan tidak ada yang dapat membantu dan menolongnya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:416-417

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 94 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 94



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku