Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 93


وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِیَ اِلَیَّ وَ لَمۡ یُوۡحَ اِلَیۡہِ شَیۡءٌ وَّ مَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَاسِطُوۡۤا اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ اَلۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ کُنۡتُمۡ عَنۡ اٰیٰتِہٖ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ
Waman azhlamu mimmaniiftara ‘alallahi kadziban au qaala uuhiya ilai-ya walam yuuha ilaihi syayun waman qaala saunzilu mitsla maa anzalallahu walau tara idzizh-zhaalimuuna fii ghamaraatil mauti wal malaa-ikatu baasithuu aidiihim akhrijuu anfusakumul yauma tujzauna ‘adzaabal huuni bimaa kuntum taquuluuna ‘alallahi ghairal haqqi wakuntum ‘an aayaatihi tastakbiruun(a);

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:
“Telah diwahyukan kepada saya”,
padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:
“Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
“Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.
―QS. 6:93
Topik ▪ Malaikat ▪ Tugas-tugas malaikat ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
6:93, 6 93, 6-93, Al An ‘aam 93, AlAnaam 93, Al Anaam 93, Al Anam 93, AlAnam 93, Al An’am 93
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An 'aam (6) : 93. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa tidak ada orang yang lebih zalim dari orang-orang Yahudi yang mengingkari kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.
Perkataan mereka telah mengkhianati ajaran agama tauhid.
Begitu juga perkataan mereka yang mengaku menerima wahyu dari Allah, seperti Musailamah Al Kazzab di Yamamah, Al Aswad Al `Ansy di Yaman, Tulaihah Al Asady dari Bani Asad dan sebagainya dan orang-orang yang mengaku dirinya mampu membuat kitab seperti Alquran.

Firman Allah ini mengandung sindiran halus bagi para pendeta Yahudi yang dipuja-puja oleh pengikut-pengikutnya karena mereka itu mengaku mendapat wahyu dari Allah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sukar dipahami dari At Taurat.
Menurut kenyataan, mereka inilah yang selalu memusuhi Muhammad ﷺ.

Juga mengandung sindiran kepada sastrawan-sastrawan Arab yang merasa mampu menyusun kitab-kitab yang dapat menyamai Alquran seperti firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini.
(Q.S Al Anfal: 31)

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan siksaan ancaman yang akan diterima oleh orang-orang yang zalim itu, di kala mereka menghembuskan nafas yang terakhir, sebagai imbalan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan.
Alangkah dahsyatnya seandainya Nabi Muhammad ﷺ.
dan kaum muslimin melihat penderitaan yang diderita oleh orang-orang yang jahat itu pada waktu mereka menghadapi tekanan penderitaan sakaratul maut, yaitu penderitaan yang akan mereka alami menjelang kematian yang tidak terlukiskan kedahsyatannya itu.
Pada waktu itu malaikat maut telah mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa mereka yang bergelimang dengan dosa itu, dengan renggutan yang keras.

Allah menggambarkan saat-saat yang dahsyat itu dengan nada mencela mereka.
Malaikat seakan-akan berkata, "Kalau memang kamu merasa mampu, lepaskanlah nyawamu dari badanmu supaya terhindar dari renggutan ini." Perintah ini tidak akan dapat mereka lakukan, karena masalah ini di luar kemampuan mereka.
Pada saat itu mereka tidak dapat menghindarkan diri dari siksa yang pedih dan menghinakan karena mereka telah berani memutar balikkan kebenaran dan berkata dusta dan karena sikap mereka yang congkak dan sombong terhadap ayat-ayat Allah seperti perkataan mereka bahwa mereka mampu menurunkan kitab seperti Alquran.

Dalam ayat ini terdapat bandingan yang jelas antara ketidak mampuan mereka untuk membuat kitab semacam Alquran dengan ketidak mampuan mereka menghindarkan diri dari renggutan malaikat maut.
Maksudnya agar mereka dapat menyadari bahwa apa yang mereka katakan itu sebenarnya hanya dusta belaka, sedang Alquran adalah datang dari Allah kepada Muhammad ﷺ.
yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.

Al An 'aam (6) ayat 93 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 93 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 93 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nabi tidak berbohong ketika mengatakan bahwa Al Quran datang dari Allah.
Tidak ada yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan tentang Allah, atau orang yang mengatakan, "Aku menerima wahyu dari Allah," padahal tidak pernah menerima wahyu apa pun.
Juga tidak ada yang lebih lalim daripada orang yang mengatakan, "Aku akan mendatangkan ucapan seperti wahyu yang diturunkan Allah." Kalau engkau tahu keadaan orang-orang zalim--ketika menghadapi kekejaman maut--dan saat itu malaikat sedang mencabut nyawa dari tubuh mereka dengan amat keras dan kejamnya, engkau tentu akan melihat ketakutan yang luar biasa pada diri mereka.
Saat itu dikatakan kepada mereka, "Hari ini dimulai pembalasan kalian dengan siksa yang menghinakan dan menyakitkan, sebagai balasan atas kebohongan yang kalian katakan tentang Allah, yang sama sekali tidak benar.
Juga sebagai balasan atas kesombongan kalian untuk memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah, baik yang berupa alam raya maupun yang berupa Al Quran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapakah) maksudnya tidak ada seorang pun (yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah) dengan mengaku menjadi seorang nabi padahal tidak ada yang mengangkatnya menjadi nabi (atau yang berkata, "Telah diwahyukan kepada saya," padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya) ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap Musailamah si pendusta itu (dan) lebih aniaya daripada (orang yang berkata, "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah") mereka adalah orang-orang yang memperolok-olokkan Alquran, mereka mengatakan, bahwa andaikata kami suka niscaya kami pun dapat membuat kata-kata seperti Alquran (dan sekiranya engkau melihat) wahai Muhammad (tatkala orang-orang lalim) yang telah disebutkan tadi (berada dalam sekarat) yaitu sedang menghadapi kematiannya (yakni maut sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya) kepada mereka seraya menyiksa lalu para malaikat itu berkata dengan kasar kepada mereka ("Keluarkanlah nyawamu,") kepada kami untuk kami cabut.
(Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan) sangat merendahkan (karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar) dengan mengaku menjadi nabi dan berpura-pura diberi wahyu padahal dusta (dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya) kamu merasa tinggi diri tidak mau beriman kepada ayat-ayat-Nya.
Jawab dari huruf lau ialah:
niscaya engkau akan melihat peristiwa yang mengerikan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Siapa yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang membuat kedustaan atas nama Allah, lalu dia mengaku bahwa Alah tidak mengutus manusia sebagai Rasul.
Atau dia mengklaim secara dusta bahwa Allah telah mewahyukan sesuatu kepadanya padahal Allah tidak mewahyukan kepadanya.
Atau dia mengaku mampu menurunkan yang semisal al-Qur an yang telah diturunkan oleh Allah?
Bila kamu wahai Rasul melihat orang-orang yang melanggar batasan-batasan Allah saat kematian menjemput mereka, niscaya kamu akan melihat sesuatu yang menakutkan.
Para malaikat yang mencabut nyawa mereka mengulurkan tangan-tangan mereka dengan adzab, seraya berkata kepada mereka :
Keluarlah jiwa kalian.
Pada hari itu mereka dibalas dengan balasan yang sangat menghinakan, sebagaimana dulu kalian berdusta atas nama Allah dan menyombongkan diri sehingga menolak untuk patuh kepada ayat-ayat-Nya dan tunduk kepada utusan-utusan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah.

Artinya, tidak ada seorang pun yang lebih zalim (aniaya) daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, lalu ia menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya, atau anak, atau mengaku-ngaku bahwa dirinya telah diutus oleh Allah kepada manusia, padahal Allah tidak mengutusnya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

...atau yang berkata, "Telah diwahyukan kepada saya, "padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya.

Ikrimah dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Musailamah Al-Kazzab.

...dan orang yang berkata, "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah "

Maksudnya orang yang mendakwakan dirinya mampu menandingi wahyu yang diturunkan dari sisi Allah melalui perkataan yang dibuat-buatnya, seperti yang dikisahkan dalam ayat yang lain:

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini).
Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini.” (Al Anfaal:31), hingga akhir ayat.

Firman Allah :

sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut.
(Al An'am:93)

Yakni sedang berada dalam sakaratul maut, kesakitannya dan penderitaannya.

...sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya.

Yaitu memukulinya, sama halnya dengan pengertian yang terdapat di dalam ayat lain:

Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku.
(Al Maidah:28), hingga akhir ayat.

dan niscaya mereka melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti (kalian).
(Al Mumtahanah:2), hingga akhir ayat.

Ad-Dahhak dan Abu Saleh mengatakan bahwa basitu aidiyahum artinya memukulkan tangan mereka, yakni menimpakan siksaan.
Sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu:

Kalau kamu melihat ketika para malaikat itu mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka.
(Al Anfaal:50)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

...sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya.

Yakni memukulinya sehingga rohnya keluar dari jasadnya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

(sambil berkata), "Keluarkanlah nyawa kalian.”

Orang kafir apabila mengalami sakaratul maut, para malaikat datang kepadanya membawa azab, pembalasan, rantai, belenggu, api, dan air mendidih serta murka dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Akan tetapi, rohnya bercerai-berai ke dalam seluruh tubuhnya dan membangkang, tidak mau keluar.
Maka para malaikat memukulinya hingga rohnya keluar dari jasadnya, seraya berkata:

Keluarkanlah nyawa kalian! Di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar., hingga akhir ayat.

Artinya, pada hari ini kalian benar-benar akan dihinakan dengan sehina-hinanya, sebagai balasan dari kedustaan kalian terhadap Allah, sikap sombong kalian yang tidak mau mengikuti ayat-ayat-Nya, dan tidak mau taat kepada rasul-rasul-Nya.

Hadis-hadis yang mutawatir banyak yang menceritakan perihal sakaratul maut yang dialami oleh orang mukmin dan orang kafir.
Hal ini akan diterangkan dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
(Ibrahim:27)

Sehubungan dengan bab ini Ibnu Murdawaih menuturkan sebuah hadis yang sangat panjang melalui jalur yang garib, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas secara marfu’.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An 'aam (6) Ayat 93

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat, wa man azlamu mim maniftaraa ‘alallaahi kadziban au qaala uuhiya ilayya walam yuuha ilaihi syaii’..( dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya…) (al-An’am: 93) turun berkenaan dengan Musailamah al-Kadzdzab.
Sedangkan ayat,… wa mang qaala sa ungzilu mitsla maa angzalallaah…(..dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”…) (kelanjutan al-An’am: 93), turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh yang pernah menulis kata yang berbeda dari apa yang didiktekan oleh Nabi kepadanya.
Nabi mendiktekan ‘aziizun hakiimun (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), ia menulis ghafuurur rahiimun (Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang).
Kemudian Nabi mengulang kembali, tapi ia membantah dengan mengatakan sama saja.
Kemudian iapun murtad dari Islam dan mengikuti kaum kafir Quraisy.
Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang memalsukan Wahyu Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dario as-Suddi bahwa seperti hadits di atas, dengan tambahan bahwa Musailamah berkata: “Jika Muhammad diberi wahyu, maka sayapun diberi wahyu; dan jika Allah menurunkan kepadanya, maka diapun menurunkan pula kepadaku.” Sementara ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh berkata: “Jika Muhammad berkata,
samii’an ‘aliiman (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka saya pun bisa bisa berkata,
‘aliiman hakiiman (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 93

HUUN
هُون

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz haana, artinya kehinaan, kerendahan, keras, makhluk keseluruhannya, lemah.

Lafaz ini disebut 4 kali di dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 93;
-An Nahl (16), ayat 59;
-Fushshilat (41), ayat 17;
-Al Ahqaf (46), ayat 20.

Pada surah Al An'aam, Fushshilat dan Al Ahqaf lafaz al huun dihubungkan dengan lafaz al-adzaab (azab dan siksaan).

Az Zujjaj berkata,
"al 'adzaabal huun adalah azab yang diberikan setelah mengalami kehinaan dan kelemahan yang sangat."

Ibn Qutaybah berkata,
"al huun artinya al hawaan iaitu kehinaan."

As Suddi berkata,
"'adzaabal huun ialah siksaan yang menghinakan."

Ibn Juraij berkata,
"ia bermakna azab yang hina di akhirat balasan atas perbuatan mereka

At Tabari berpendapat, ia bermakna siksaan api neraka yang menghinakan mereka, maka mereka merasakan kerendahan sehingga mereka mengetahui kelemahan diri mereka dan hina.

Asy Syawkani menafsirkan, pada saat ini kamu akan disiksa dengan kelemahan dan kerendahan sehingga kamu menjadi orang yang hina dan lemah selepas kamu berasa angkuh dan sombong.

Sedangkan dalam surah An Nahl ia dikaitkan dengan sikap orang kafir Quraisy yang merasa hina jika mendapat anak perempuan kerana menurut dakwaan dan mereka ia disandarkan kepada Allah.

Ibn Katsir menafsirkan jika ia dikekalkan maka ia menjadikan mereka berasa hina sehingga mereka tidak menjaganya dan mewarisinya.

Dalam Al Asas fit Tafsir, makna ayat ini adalah apa yang diberitakan kepada mereka berita gembira (dengan kelahiran seorang perempuan) menjadikan mereka merasa hina

Sayyid Qutub menegaskan, "akidah ilahiah yang bersumber dari Allah memuliakan manusia dengan diiringi kemuliaan itu kepada perempuan, Ia menyifatkannya sebahagian daripada diri manusia itu dan tidak ada perbedaan kedua bahagian yang mulia itu di sisi Allah (kecuali orang yang bertakwa, pen.).

Kesimpulannya, lafaz al huun bermakna kehinaan dan kerendahan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An'aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya' qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Alyasa', Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur'an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 93 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 93



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending