Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 91


وَ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖۤ اِذۡ قَالُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ عَلٰی بَشَرٍ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ قُلۡ مَنۡ اَنۡزَلَ الۡکِتٰبَ الَّذِیۡ جَآءَ بِہٖ مُوۡسٰی نُوۡرًا وَّ ہُدًی لِّلنَّاسِ تَجۡعَلُوۡنَہٗ قَرَاطِیۡسَ تُبۡدُوۡنَہَا وَ تُخۡفُوۡنَ کَثِیۡرًا ۚ وَ عُلِّمۡتُمۡ مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنۡتُمۡ وَ لَاۤ اٰبَآؤُکُمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ ۙ ثُمَّ ذَرۡہُمۡ فِیۡ خَوۡضِہِمۡ یَلۡعَبُوۡنَ
Wamaa qadaruullaha haqqa qadrihi idz qaaluuu maa anzalallahu ‘ala basyarin min syai-in qul man anzalal kitaabal-ladzii jaa-a bihi muusa nuuran wahudan li-nnaasi taj’aluunahu qaraathiisa tubduunahaa watukhfuuna katsiiran wa’ullimtum maa lam ta’lamuu antum walaa aabaa’ukum qulillahu tsumma dzarhum fii khaudhihim yal’abuun(a);

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata:
“Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”.
Katakanlah:
“Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?”
Katakanlah:
“Allah-lah (yang menurunkannya)”,
kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.
―QS. 6:91
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
6:91, 6 91, 6-91, Al An ‘aam 91, AlAnaam 91, Al Anaam 91, Al Anam 91, AlAnam 91, Al An’am 91
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 91. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah menyimpang dari agama tauhid dan tidak mengikuti ajaran agama mereka dan telah mengkhianatinya.
Gejala-gejala itu nampak pada sikap mereka.
Mereka tidak menghormati keagungan Allah dengan penghormatan yang seharusnya diberikan.
Mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak menurunkan kitab kepada seorang manusia.
Perkataan mereka adalah bukti dari keingkaran mereka kepada Alquran.
Hal ini berarti mereka tidak mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan hidayah kepada manusia selain mereka, untuk kemaslahatan manusia sesuai dengan kehendak-Nya.

Keingkaran mereka terhadap Alquran itu bukanlah timbul dari pikiran yang jernih dan bukan pula mereka dapati keterangannya dari kitab-kitab yang diturunkan sebelum Alquran akan tetapi keingkaran mereka itu adalah keingkaran yang tidak pada tempatnya.
Sebab itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Muhammad ﷺ.
agar menerangkan kepada kaumnya yang ingkar itu, supaya mereka ingat bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa a.s.
Dengan kitab itulah Nabi Musa membawa kaumnya kepada agama tauhid dan terhindar dari kemusyrikan.

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh Bani Israil yang telah menyimpang dari kitab Taurat dan Injil.
Mereka menyampaikan kitab-kitab itu tidak seutuhnya, ada bagian-bagian yang disampaikan dan ada bagian-bagian yang tidak, sehingga timbullah perbedaan paham di kalangan mereka.
Sebabnya tiada lain hanyalah, karena mereka dipengaruhi oleh pemujaan pemimpin yang menyuruh mereka memperturutkan hawa nafsu, bahkan dalam hal menyelesaikan persengketaan, mereka menampakkan hukum-hukum yang terdapat dalam Taurat itu apabila hukum itu bersesuaian dengan keinginan mereka, akan tetapi apabila hukum itu bertentangan dengan kehendaknya, hukum itu ditinggalkan.
Di antara ketetapan hukum yang mereka sembunyikan itu ialah hukum rajam dan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.
Maksud pengungkapan kejahatan nenek moyang mereka ialah untuk mengetuk hati mereka, agar mereka dapat menilai kenyataan yang sebenarnya dan mengakui kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menyerahkan kepada orang-orang musyrik agar menerima ajaran wahyu yang disampaikan Allah kepada Muhammad ﷺ.
Kitab itu mengandung ajaran yang membukakan tabir rahasia yang tidak diketahui oleh mereka sendiri dan oleh nenek moyang mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
untuk menyatakan bahwa perkataan mereka orang-orang Yahudi itu bahwa Allah tidak menurunkan kitab kepada manusia adalah tidak benar dan menyuruhnya menanyakan kepada mereka, siapakah yang menurunkan Taurat kepada Musa a.s.
Pernyataan yang tegas ini merupakan tantangan bagi perkataan mereka.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya bahwa setelah mereka mendapat keterangan-keterangan yang telah terbukti kebenarannya itu tetapi mereka masih tetap tidak mau menyadari dan tidak mau percaya juga akan kebenaran Alquran, supaya membiarkan mereka ditelan arus kebatilan dan kekafiran.

Al An 'aam (6) ayat 91 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 91 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 91 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang kafir itu tidak memandang Allah, kasih sayang, dan kebijaksanaan-Nya sebagaimana mestinya, karena mereka mengingkari akan diturunkannya kerasulan kepada salah seorang di antara manusia.
Wahai Nabi, tanyakan kepada orang-orang musyrik dan sekutu mereka dari orang-orang Yahudi, “Siapa yang menurunkan kitab yang dibawa Musa, yang bagaikan cahaya yang menyinari, dan hidayah yang membimbing?
Kitab yang kalian tulis pada lembaran-lembaran kertas yang terpisah-pisah, kalian perlihatkan bagian yang sesuai dengan hawa nafsu, dan kalian sembunyikan banyak bagian yang bisa membawa kalian untuk mempercayai Al Quran.
Juga kitab yang darinya kalian banyak mengetahui hal-hal yang sebelumnya kalian dan bapak-bapak kalian tidak mengetahuinya.” Jawablah, wahai Nabi, dengan mengatakan, “Allahlah yang menurunkan Tawrat.” Lalu biarkanlah mereka berlalu dalam kesesatan dan bermain-main seperti anak kecil.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka tidak menghormati) orang-orang Yahudi itu (Allah dengan penghormatan yang semestinya) artinya mereka sama sekali tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang seharusnya, atau mereka tidak mengetahui-Nya dengan pengetahuan yang semestinya (di kala mereka mengatakan) kepada Nabi ﷺ, yaitu sewaktu mereka mendebat Nabi ﷺ dalam masalah Alquran (“Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah,) kepada mereka (“Siapakah yang menurunkan kitab Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu) dengan memakai ya dan ta pada tiga tempat (lembaran-lembaran kertas) kamu menuliskannya pada lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai (kamu perlihatkan sebagiannya) kamu tidak suka menampakkan kesemua isinya (dan kamu sembunyikan sebagian besarnya) sebagian besar dari apa yang terdapat di dalam kandungannya, seperti mengenai ciri-ciri Nabi Muhammad ﷺ (padahal telah diajarkan kepadamu) hai orang-orang Yahudi di dalam Alquran (apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya?”) karena tidak terdapat di dalam kitab Taurat, maka hal itu membuat kamu ragu dan berselisih paham tentang Taurat antara sesamamu.
(Katakanlah, “Allahlah”) yang menurunkannya, jika mereka tidak mengatakannya, maka tidak ada jawaban lain kecuali jawaban itu (kemudian biarkanlah mereka di dalam kesibukan mereka) dalam kebatilan mereka (bermain-main).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang musyrikin itu tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, karena mereka mengingkari bahwa Allah telah menurunkan sesuatu dari wahyu-Nya kepada manusia.
Katakan kepada mereka wahai Rasul :
Bila perkaranya sebagaimana yang kalian klaim, lalu siapa yang menurunkan kitab yang dihadirkan oleh Musa kepada kaumnya sebagai cahaya dan hidayah bagi manusia?
Kemudian pembicaraan ditujukan kepada orang-orang Yahudi sebagai celaan kepada mereka seraya kalian menulis kitab itu di kertas yang beragam, lalu kalian menampakkan sebagian darinya dan menyembunyikan sebagian yang lainnya.
Di antara yang kalian sembunyikan adalah sifat Muhammad dan kenabiannya.
Allah mengajar kalian wahai orang-orang Arab dengan al-Qur an yang Dia turunkan kepada kalian.
Di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum dan orang-orang sesudah kalian serta apa yang akan terjadi setelah kematian kalian, di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak mengetahuinya sebelumnya.
Katakan :
Allah-lah yang menurunkannya kemudian tinggalkan orang-orang itu berbicara dan berbincang dalam kebatilan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, bahwa mereka sama sekali tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya karena mereka mendustakan rasul-rasul-Nya yang ditujukan kepada mereka.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Abdullah ibnu Kasir mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Quraisy.
Kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir.
Pendapat lain mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan kaum Yahudi.
Menurut pendapat yang lainnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fanhas, salah seorang lelaki kaum Yahudi.
Sedangkan menurut pendapat yang lainnya lagi, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Malik Ibnus Saif.

…mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.”

Pendapat pertama adalah pendapat paling sahih, mengingat ayat ini adalah ayat Makkiyyah, dan orang-orang Yahudi tidak mengingkari adanya penurunan kitab-kitab dari langit.
Tetapi orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab dahulu mengingkari kerasulan Nabi Muhammad ﷺ karena beliau seorang manusia, seperti yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya:

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia!” (Yunus:2)

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” Katakanlah, “Seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka malaikat menjadi rasul.” (Al Israa’:94-95)

Sedangkan dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.”

Firman Allah :

Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia?”

Artinya: Hai Muhammad, katakanlah kepada mereka yang ingkar dengan adanya penurunan suatu kitab dari sisi Allah.
Ungkapan ini menyangkal kenegatifan mereka yang umum, yakni dengan menetapkan detail permasalahan yang sebenarnya secara positif, yaitu:

Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa?

Yakni kitab Taurat yang telah kalian ketahui, juga yang telah diketahui oleh semua orang, bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa ibnu Imran.

…sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia.

Yaitu sebagai cahaya untuk menanggulangi semua kesulitan dan sebagai petunjuk di dalam masalah syubhat yang gelap.

Firman Allah :

…kalian jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kalian perlihatkan (sebagiannya), dan kalian sembunyikan sebagian besarnya.

Maksudnya, kalian jadikan seluruhnya berupa kertas-kertas yang kalian salinkan ke dalamnya dari Al-Kitab yang asli yang ada di tangan kalian, lalu kalian melakukan banyak perubahan padanya, kalian ganti, dan kalian takwilkan sendiri, kemudian kalian katakan bahwa ini dari sisi Allah, yakni dari Kitab yang diturunkan-Nya, padahal kenyataannya bukan dari sisi Allah, melainkan dari kalian sendiri.
Karena itu, diungkapkan oleh firman-Nya: Kalian jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kalian perlihatkan (sebagiannya) dan kalian sembunyikan sebagian besarnya.
(Al An’am:91)

Firman Allah :

…padahal telah diajarkan kepada kalian apa yang kalian dan bapak-bapak kalian tidak mengetahuinya.

Yakni perihal siapa yang menurunkan Al-Qur’an, yang melaluinya Allah mengajarkan dan menyampaikan kepada kalian sebagian dari berita masa silam dan berita yang akan datang, padahal sebelum itu kalian —juga bapak-bapak kalian— tidak mengetahuinya.

Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik Arab.
Mujahid mengatakan, yang dimaksud adalah kaum muslim.

Firman Allah :

Katakanlah “Allah-lah (yang menurunkan-Nya)!”

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah, “Katakanlah, ‘Allah-lah yang menurunkannya’.” Pendapat atau takwil Ibnu Abbas ini adalah yang telah ditetapkan sehubungan dengan tafsir kalimat ini, bukan seperti apa yang dikatakan oleh sebagian ulama muta’akhkhirin yang mengatakan bahwa lafaz quliltahu artinya tiada lain jawabanmu kepada mereka adalah kalimat ini, yakni ‘kalimat Allah’.
Berdasarkan pengertian ini, berarti takwil ayat ini mengandung kata perintah yang ditujukan kepada lawan bicara tunggal tanpa ada susunannya (kaitan kronologisnya).
Sedangkan mendatangkan kalimat yang menyendiri, menurut kaidah bahasa Arab, tidak dapat memberikan pemahaman yang memuaskan.

Firman Allah :

Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Artinya, biarkanlah mereka dalam kebodohan dan kesesatannya bermain-main, hingga datang kepada mereka kepastian yang meyakin­kan dari Allah.
Maka mereka akan mengetahui siapakah yang akan mendapat akibat yang terpuji, apakah mereka ataukah hamba-hamba Allah yang bertakwa?

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 91

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair (hadits ini mursal).
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah.
Hadits seperti ini telah dikemukakan ketika menerangkan asbabun nuzul surah an-Nisaa’ ayat 163.
Bahwa seorang pendeta gemuk dari kaum Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif, mengajak bertengkar kepada Nabi ﷺ bersabdalah Nabi kepadanya: “Terangkanlah kepada kami dengan sungguh-sungguh, Demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kamu dapatkan di dalam Taurat bahwa Allah benci pendeta yang gemuk ?” Maka marahlah ia dan berkata: “Tidak, Allah tidak menurunkan apa-apa kepada manusia.” Teman-temannya berkata: “Celakalah engkau.
Apakah Ia juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa?” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai teguran kepada orang-orang yang menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Thalhah yang bersumber dari Ibu ‘Abbas bahwa seorang Yahudi berkata: “Demi Allah, Allah tidak menurunkan kitab dari langit.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari diturunkannya kitab suci.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 91 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 91



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku