Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 84


وَ وَہَبۡنَا لَہٗۤ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ ؕ کُلًّا ہَدَیۡنَا ۚ وَ نُوۡحًا ہَدَیۡنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِہٖ دَاوٗدَ وَ سُلَیۡمٰنَ وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡسُفَ وَ مُوۡسٰی وَ ہٰرُوۡنَ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ
Wawahabnaa lahu ishaaqa waya’quuba kulaa hadainaa wanuuhan hadainaa min qablu wamin dzurrii-yatihi daawuda wasulaimaana wa-ai-yuuba wayuusufa wamuusa wahaaruuna wakadzalika najziil muhsiniin(a);

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya.
Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
―QS. 6:84
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Keluasan ilmu Allah
6:84, 6 84, 6-84, Al An ‘aam 84, AlAnaam 84, Al Anaam 84, Al Anam 84, AlAnam 84, Al An’am 84
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 84. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Nabi Muhammad ﷺ.
dan pengikut pengikutnya bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada Nabi Ibrahim a.s.
yaitu mengangkat keturunannya yang saleh, yaitu Ishak sebagai pelanjut perjuangannya, menegakkan agama tauhid dan menghancurkan kemusyrikan, juga akan mengangkat Yakub a.s.
cucunya dari keturunan Ishak a.s.
sebagai penerus perjuangan Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
Mereka itu semuanya tunduk di bawah tuntunan wahyu, hikmah dan ilmu Allah untuk meneruskan tegaknya agama tauhid.

Nabi Ishak a.s.
putranya, disebutkan secara tersendiri dalam ayat ini adalah karena adanya suatu hal yang menarik perhatian, yang termasuk ke dalam tanda tanda kekuasaan Allah juga karena dialah putranya yang dilahirkan setelah Nabi Ibrahim lanjut usianya, sedang Sarah istrinya sudah lama tidak pernah punya anak dan sudah merasa tipis harapan untuk punya anak, seperti diterangkan dalam firman Allah:

Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua dan ini suamikupun dalam keadaan sudah tua pula?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”.

(Q.S Hud: 72)

Ini adalah merupakan anugerah Allah baginya atas kekuatan imannya dan tekunnya berbuat kebaikan serta ketabahannya menghadapi beberapa cobaan Allah.

Hidayah yang diterima oleh Ibrahim a.s dan keturunan-keturunannya yang saleh itu adalah nikmat Allah yang juga pernah diberikan kepada Nabi Nuh a.s.
sebelumnya.

Sebagaimana Nabi Ibrahim a.s.
memperoleh nikmat yang berupa hidayah, seperti neneknya Nabi Nuh a.s.
begitu pula Allah menjanjikan, bahwa keturunan-keturunannya yang salehpun akan memperoleh hidayah seperti dia.

Disebutkan Nabi Nuh a.s.
di sini agar manusia dapat memahami bahwa tidak selalu hamba-hamba Allah yang saleh akan menurunkan putra-putra yangsaleh pula, seperti Nabi Nuh a.s.
Beliau seorang Nabi yang saleh, akan tetapi putranya seorang yang sesat.
tenggelam bersama orang-orang kafir karena tidak mau mematuhi perintah ayahnya.
Hal itu adalah kebalikan dari Nabi Ibrahim a.s.
ayahnya seorang pemuja patung tetapi dia sendiri hanif, berserah diri kepada Allah.

Di antara keturunan-keturunan Nabi Ibrahim a.s.
yang saleh lainnya disebutkan dalam ayat ini ialah Daud a.s.
putra Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun a.s.
Kesemuanya ini di samping diberi derajat kenabian juga diberi kedudukan yang tinggi memegang tampuk pimpinan kaumnya.
Daud dan Sulaiman a.s.
menjadi raja memegang pimpinan yang terkenal kehalusan budinya, Yusuf a.s.
menjadi menteri yang dapat menguasai dan mengatasi kesulitan-kesulitan rakyat, sedang Musa dan Harun a.s.
meskipun tidak menjadi raja tetapi diberikan pimpinan dan menyelamatkan kaumnya dari penindasan yang kejam.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada mereka yang berbuat baik, yaitu mereka yang selalu berpedoman kepada tuntunan Allah dan berpegang kepada kebenaran.

Al An 'aam (6) ayat 84 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 84 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 84 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu Ibrahim Kami karuniai Ishaq dan Ya’qub, anak Ishaq.
Kemudian keduanya Kami beri petunjuk menuju kebenaran dan kebaikan seperti bapak mereka berdua.
Sebelumnya Kami juga telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan anak keturunannya, Dawud, Sulayman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun kepada hal itu.
Sebagaimana Kami telah mengganjar mereka, Kami juga akan mengganjar orang-orang yang berbuat baik sesuai dengan hak mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya) sebagai anaknya (kepada keduanya) kepada masing-masingnya (telah Kami beri petunjuk dan kepada Nuh sebelum itu telah Kami beri petunjuk) sebelum Ibrahim (dan kepada sebagian dari keturunannya) yakni keturunan Nabi Nuh (yaitu Daud dan Sulaiman) Sulaiman anak Daud (Ayub dan Yusuf) anak lelaki Yakub (Musa dan Harun.
Demikianlah) seperti mereka yang telah Kami beri pahala (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami memberi nikmat kepada Ibrahim dengan memberinya Ishaq sebagai anak dan Ya qub sebagai cucunya.
Kami membimbing keduanya ke jalan yang lurus.
Kami juga membimbing Nuh kepada kebenaran sebelum Ibrahim, Ishaq dan Ya qub.
Kami juga membimbing anak-anak keturunan Nuh :
Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun kepada jalan kebenaran.
Sebagaimana Kami membalas para nabi-nabi tersebut karena perbuatan baik mereka, maka Kami pun membalas setiap pelaku kebaikan demikian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa Dia mengaruniakan seorang anak kepada Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ishaq, padahal usia Nabi Ibrahim sangat lanjut dan telah putus harapan untuk mendapatkan seorang anak, begitu pula istrinya, yaitu Sarah.
Pada suatu hari datanglah sejumlah malaikat bertamu kepada Nabi Ibrahim dalam perjalanan mereka menuju tempat kaum Nabi Lut.
Lalu mereka menyampaikan berita gembira akan kedatangan Ishaq kepada keduanya.
Maka istri Nabi Ibrahim merasa heran terhadap berita tersebut dan mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

“Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata,”tApakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?
(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya.
dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Huud:72-73)

Para malaikat itu menyampaikan berita gembira pula perihal kenabian yang akan diperoleh anaknya selagi ia masih hidup, dan bahwa kelak anaknya akan mempunyai keturunan pula, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (Ash Shaaffat:112)

Hal ini lebih sempurna dan merupakan nikmat yang paling besar.
Dalam ayat lainnya disebutkan melalui firman-Nya:

maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub.
(Huud:71)

Dengan kata lain, sesudah itu dilahirkan pula seorang anak dari anakmu selagi kamu berdua masih hidup, sehingga hatimu menjadi senang karenanya, sebagaimana hati anakmu pun senang pula mendapatkannya.
Karena sesungguhnya kegembiraan mendapat seorang cucu sangat kuat, mengingat hal itu sebagai pertanda akan keberlangsungannya keturunan.
Juga mengingat anak yang dilahirkan dari pasangan yang sudah lanjut usia diduga tidak akan dapat melahirkan keturuhan selanjutnya, sebab keadaannya sudah lemah.
Lalu terjadilah suatu kegembiraan dengan lahirnya seorang cucu, maka cucu itu dinamakan Ya’qub yang berakar dari kata keturunan atau cucu.

Hal tersebut merupakan imbalan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkat perjuangannya.
Ia rela hijrah mening­galkan kaumnya dan negeri tempat tinggalnya, pergi mengembara ke tempat yang jauh untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka Allah mengganti kaum dan handai taulannya dengan mengaruniakan anak-anak yang saleh kepadanya dari tulang sulbinya dan berpegang kepada agamanya, agar hati Nabi Ibrahim senang dengan keberadaan mereka.
Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Maka tatkala Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub.
Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi.
(Maryam:49)

Sedangkan dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya.
Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan kepada Nuh.
sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk.

Artinya, sebelum itu Kami telah memberikan petunjuk kepada Nuh, sebagaimana Kami telah memberikan petunjuk kepadanya (Ibrahim) dan Kami anugerahkan kepadanya keturunan yang baik (saleh).
Masing-masing dari keduanya (Nuh dan Ibrahim) mempunyai keistimewaan tersendiri yang sangat besar.
Adapun Nabi Nuh ‘alaihis salam, maka ketika Allah subhanahu wa ta’ala.
menenggelamkan semua penghuni bumi —kecuali orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh, yaitu mereka yang menemaninya dalam perahunya— maka Allah menjadikan keturunannya adalah orang-orang yang menjadi generasi penerus, umat manusia semuanya merupakan keturunan Nabi Nuh ‘alaihis salam Sedangkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah kekasih Allah.
Maka tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi sesudahnya melainkan berasal dari keturunannya, seperti yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya.
(Al ‘Ankabut:27), hingga akhir ayat.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al-Kitab.
(Al Hadiid:26)

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
(Maryam:58)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.
berikut ini:

…dan dari keturunannya.

Artinya, dan Kami beri petunjuk kepada sebagian dari keturunannya.

yaitu Daud dan Sulaiman.
(Al An’am:84), hingga akhir ayat.

Damir yang ada pada lafaz zurriyyatihi kembali kepada Nuh, karena lafaz Nuh merupakan lafaz yang paling dekat di antara lafaz yang ada, lagi pula cukup jelas, tidak ada kesulitan mencarinya.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Dan bila dikembalikan kepada lafaz Ibrahim —mengingat dialah yang disebutkan dalam konteks ayat ini— memang dinilai baik, tetapi sulit untuk mengaitkannya dengan lafaz Lut, karena Nabi Lut bukan termasuk keturunan Nabi Ibrahim, melainkan anak saudaranya yang bernama Haran ibnu Azar.
Kecuali jika ia dimasukkan ke dalam pengertian keturunan berdasarkan kriteria taglib (mayoritas), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kalian sembah sepeninggalanku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Al Baqarah:133)

Nabi Ismail adalah pamannya, tetapi ia dimasukkan ke dalam pengertian ayah-ayahnya secara taglib.
Sama pula dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.
lainnya, yaitu:

Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis.
(Al Hijr:30-31)

Dalam ayat ini iblis dimasukkan ke dalam malaikat dalam hal mendapat perintah untuk bersujud, dan iblis dicela karena menentang perintah itu.
Dia menyerupai mereka, karena itu dia diperlakukan sama dengan mereka (para malaikat) dan dikategorikan sebagai golongan para malaikat secara taglib, karena sesungguhnya pada kenyataannya iblis termasuk makhluk jin yang diciptakan dari api, sedangkan malaikat diciptakan dari nur.

Penyebutan Isa ‘alaihis salam ke dalam keturunan Nabi Ibrahim atau Nabi Nuh, menurut pendapat lainnya hal ini menunjukkan dimasukkannya keturunan anak perempuan ke dalam golongan keturunan anak laki-laki, karena sesungguhnya nasab Isa ‘alaihis salam berkaitan dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hanyalah melalui ibunya, yaitu Maryam a.s sebab Isa ‘alaihis salam tidak berayah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Yahya Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abis, dari Abdullah ibnu Ata Al-Makki, dari Abu Harb ibnu Abul Aswad yang menceritakan bahwa Al-Hajjaj mengirimkan utusan kepada Yahya ibnu Ya’mur untuk menyampaikan pesan, “Telah sampai kepadaku suatu berita bahwa engkau menduga Al-Hasan dan Al-Husain termasuk keturunan Nabi ﷺ dan kamu jumpai dalilnya di dalam Kitabullah (Al-Qur’an).
Padahal aku telah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, tetapi tidak menemukannya.” Yahya ibnu Ya’mur menjawab, “Tidak pernahkah engkau membaca suatu ayat di dalam surat Al-An’am yang mengatakan: dan dari keturunannya, yaitu Daud dan Sulaiman.
(Al An’am:84) sampai kepada firman-Nya: Yahya dan Isa.
(Al An’am:85).” Al-Hajjaj menjawab, “Ya.” Yahya ibnu Ya’mur berkata, “Bukankah Isa termasuk keturunan Nabi Ibrahim, padahal dia tidak berayah?”
Al-Hajjaj menjawab, “Engkau benar.”

Karena itulah apabila seseorang berwasiat kepada keturunannya, atau mewakafkan kepada mereka, atau memberi mereka suatu hibah, maka keturunan dari anak-anak perempuan termasuk ke dalam golongan keturunannya.

Adapun jika seseorang memberi kepada anak laki-lakinya atau mewakafkan sesuatu kepada anak-anak lelakinya, maka hal tersebut hanya khusus bagi mereka dan bagi keturunannya dari anak laki-lakinya.
Mereka yang berpendapat demikian berdalilkan kepada ucapan seorang penyair Arab yang mengatakan:

Anak-anak lelaki kami adalah keturunan kami, sedangkan anak-anak lelaki dari keturunan anak-anak perempuan kami, mereka adalah para putra dari lelaki lain.

Pendapat lainnya lagi mengatakan bahwa anak-anak lelaki dari keturunan anak-anak perempuan termasuk pula ke dalam pengertian keturunan dari anak laki-laki, karena berdasarkan kepada sebuah hadis yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari yang menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Al-Hasan ibnu Ali:

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyidf mudah-mudahan Allah mendamaikan dengan melaluinya dua golongan yang besar dari kalangan kaum muslim.

Dalam hadis ini Rasulullah ﷺ menyebutkan Al-Hasan sebagai anak lelakinya.
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Hasan (yang merupakan anak dari putrinya) dianggap sebagai anak Rasulullah ﷺ sendiri.

Pendapat yang lainnya lagi membolehkannya (yakni boleh me­masukkan keturunan dari anak perempuan ke dalam golongan keturunan dari anak laki-laki).

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 84 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 84



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku