QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 83 [QS. 6:83]

وَ تِلۡکَ حُجَّتُنَاۤ اٰتَیۡنٰہَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ عَلٰی قَوۡمِہٖ ؕ نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ
Watilka hujjatunaa aatainaahaa ibraahiima ‘ala qaumihi narfa’u darajaatin man nasyaa-u inna rabbaka hakiimun ‘aliimun;

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
―QS. 6:83
Topik ▪ Orang mukmin kelompok minoritas
6:83, 6 83, 6-83, Al An ‘aam 83, AlAnaam 83, Al Anaam 83, Al Anam 83, AlAnam 83, Al An’am 83

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 83

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 83. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dari pada itu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ketegasan bahwa bukti-bukti kebenaran yang diberikan oleh Allah kepadanya dengan maksud agar supaya kaumnya dapat menggunakan pikirannya agar dapat menilai kebenaran bukti-bukti itu dan menerimanya dengan sepenuh hati, sehingga mereka meninggalkan kemusyrikan, berpindah kepada agama tauhid yang memang sesuai dengan fitrahnya.

Untuk menarik gairah kaumnya agar kembali kepada agama tauhid dan sebagai hiburan terhadap perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya beberapa derajat, dalam bidang ilmu pengetahuan dan hikmah dan derajat yang diperoleh Nabi Ibrahim adalah kemampuan memberikan hujah, kemampuan memimpin dan bertindak bijaksana.
Kesemuanya adalah derajat-derajat kesempurnaan.

Selain dan itu diberi derajat kenabian dan kerasulan yang merupakan derajat yang tertinggi yang dicapai manusia.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.
Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 253)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Maha Bijaksana dalam mengangkat derajat seseorang atau menjatuhkannya, lagi Maha Mengetahui keadaan orang yang patut diberi derajat itu dan mempunyai bakat-bakat kesanggupan untuk menerimanya

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bukti besar tentang ketuhanan dan keesaan Kami itu, Kami berikan kepada Ibrahim agar ia menyampaikannya kepada kaumnya.
Dengan begitu ia menjadi lebih tinggi dari kaumnya.
Sesuai dengan hukum Kami yang berlaku bagi hamba-hamba Kami, Kami akan mengangkat, dengan ilmu dan kebijaksanaan, derajat siapa saja yang Kami kehendaki.
Sesungguhnya Tuhanmu, wahai Muhammad, Mahabijaksana, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapat derajat tinggi dan siapa yang tidak berhak.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan itulah) menjadi mubtada lalu dijelaskan (hujah Kami) yang dijadikan sebagai hujah oleh Nabi Ibrahim untuk membuktikan keesaan Allah, yakni tenggelamnya bintang-bintang itu.

Dan jumlah yang sesudahnya menjadi khabar dari tilka (yang Kami berikan kepada Ibrahim) yang Kami tunjukkan kepada Ibrahim sebagai hujah (untuk menghadapi kaumnya.

Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat) dengan dibaca idhafah dan juga dibaca tanwin, yakni dalam masalah ilmu dan hikmah.

(Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana) dalam mengatur ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) seluk-beluk makhluk-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hujjah yang dipakai oleh Ibrahim dalam mendebat kaumnya adalah hujjah yang Kami bisikkan kepada Ibrahim untuk mengalahkan hujjah mereka.
Kami mengangkat siapa yang Kami kehendaki beberapa tingkat di dunia dan di akhirat.
Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana dalam pengaturan makhluk-Nya, Maha Mengetahui mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya

Artinya, Kami arahkan dan Kami ajarkan kepadanya cara mendebat mereka.
Menurut Mujahid dan lain-lainnya, hal yang dimaksud ialah seperti yang tertera di dalam firman-Nya:

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kalian per­sekutukan (dengan Allah), padahal kalian tidak takut memper­sekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sen­diri tidak menurunkan hujah kepada kalian untuk memper­sekutukan-Nya.
Maka manakah di antara dua golongan itu yang berhak mendapat keamanan?
(Q.S. Al-An’am [6]: 81), hingga akhir ayat.

Dan Allah telah membenarkannya serta menceritakan baginya akan mendapat keamanan dan hidayah melalui firman-Nya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(Q.S. Al-An’am [6]: 82)

Setelah kesemuanya itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.

Lafaz darajatin man dapat dibaca dengan susunan idafah, dapat pula dibaca tanpa susunan idafah, seperti halnya yang ada pada surat Yusuf, kedua bacaan tersebut mempunyai makna yang hampir sama (berdekatan).

Firman Allah :

Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Yakni Mahabijaksana dalam semua ucapan dan perbuatan-Nya, lagi Maha Mengetahui terhadap siapa yang akan diberi-Nya hidayah dan siapa yang akan disesatkan-Nya, sekalipun telah terbukti baginya semua hujah dan bukti-bukti.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam ayat lain:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Q.S. Yunus [10]: 96-97)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 83 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 83 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 83 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:83
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.5
Ratingmu: 4.9 (11 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-83









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim