Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 82


اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ لَمۡ یَلۡبِسُوۡۤا اِیۡمَانَہُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰٓئِکَ لَہُمُ الۡاَمۡنُ وَ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ
Al-ladziina aamanuu walam yalbisuu iimaanahum bizhulmin uula-ika lahumul amnu wahum muhtaduun(a);

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
―QS. 6:82
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Allah menepati janji
6:82, 6 82, 6-82, Al An ‘aam 82, AlAnaam 82, Al Anaam 82, Al Anam 82, AlAnam 82, Al An’am 82
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 82. Oleh Kementrian Agama RI

Karena mereka tidak akan memberikan jawaban, maka Allah subhanahu wa ta’ala memberikan penjelasan siapakah yang berhak mendapatkan perlindungan?
Mereka itu ialah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman, yaitu kemusyrikan baik dalam akidah maupun dalam ibadah seperti dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Mereka menyangka biarpun mereka menyembah berhala ataupun bintang-bintang, mereka tetap beriman juga kepada Allah Azza wa Jalla, karena mereka menyembah berhala-berhala itu adalah sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai perantaraan untuk menyampaikan doa kepada-Nya, atau dapat memberikan manfaat atau mudarat juga dapat mempengaruhi kehendak dan kekuasaan-Nya yang diterangkan dalam firman Allah:

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
(Q.S Az Zumar: 3)

Aniaya yang dimaksudkan di sini ialah syirik sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari ahli-ahli hadis yang lain dari Abdullah bin Masud ia berkata, “Setelah turun ayat tersebut kami yang tidak pernah menganiaya diri (maksud pertanyaan ini ialah karena sahabat-sahabat Nabi sebelum memeluk Islam telah biasa melakukan perbuatan-perbuatan Jahiliah), maka turun ayat:

Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kelaliman yang besar.
(Q.S Luqman: 13)

Maka orang-orang yang berhak mendapat perlindungan dalam ayat ini ialah orang-orang yang beragama tauhid yang murni tidak dicampuri dengan syirik sedikitpun.
Mereka itu akan mendapatkan perlindungan dan bencana, bukan saja dari bencana yang akan ditimbulkan oleh patung-patung dan bintang-bintang seperti dugaan orang-orang musyrik, bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat perlindungan dari azab Allah dan mendapatkan jaminan untuk mengharapkan pahala dari Allah.
Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus.

Al An 'aam (6) ayat 82 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 82 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 82 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang beriman kepada Allah, dan tidak mencampur keimanan mereka itu dengan penyembahan siapa pun selain-Nya, hanya merekalah yang lebih berhak untuk mendapatkan ketenangan, dan petunjuk menuju jalan kebenaran dan kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan) tidak mencampurkan (keimanan mereka dengan kelaliman) yakni kemusyrikan demikianlah menurut penafsiran yang tersebutkan di dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim (mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan) dari siksaan (dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan ketenangan, mereka adalah orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk

Yakni mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan mereka tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Mereka adalah orang-orang yang mendapat keamanan pada hari kiamat, dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah di dunia dan akhirat.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Syu’bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah sehubungan dengan firman berikut, bahwa ketika ayat berikut diturunkan: dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.
(Al An’am:82) Maka berkatalah para sahabat Nabi ﷺ, “Siapakah di antara kita yang-tidak berbuat zalim terhadap dirinya sendiri?”
Lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
(Luqman:13)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.
(Al An’am:82) Maka hal ini terasa berat oleh mereka (para sahabat).
Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri?”
Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya hal itu bukan seperti apa yang kalian maksudkan.
Tidakkah kalian mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba yang saleh (Luqman), “Hai anakku, janganlah kalian mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Luqman:13).
Sesungguhnya yang dimaksud dengan zalim hanyalah syirik (mempersekutukan Allah).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Ibnu Idris, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika diturunkannya firman-Nya: dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.
(Al An’am:82) Hal tersebut terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ Mereka berkata, “Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Tidak seperti yang kalian duga, melainkan seperti yang dikatakan kepada anaknya, yaitu: “Hai anakku, janganlah kalian mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman:13)

Telah menceritakan pula kepada kami Umar ibnu Taglab An-Namiri, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, hal tersebut terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ Maka turunlah ayat lainnya, yaitu: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
(Luqman:13)

Hadis riwayat Imam Bukhari.

Menurut lafaz yang lain,

para sahabat berkata, “Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri?”
Maka Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah seperti yang kalian maksudkan, tidakkah kalian pernah mendengar apa yang telah diucapkan oleh seorang hamba yang saleh (Luqman), yaitu: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
Sesungguhnya yang dimaksudkannya hanyalah kemusyrikan.

Menurut apa yang ada pada Ibnu Abu Hatim, dari Abdullah, secara marfu’ disebutkan:

dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.
Yang dimaksud dengan zalim adalah syirik (mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.).

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa hal yang semisal dengan hadis di atas telah diriwayatkan melalui Abu Bakar As-Siddiq, Umar, Ubay ibnu Ka’b, Salman, Huzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Amr ibnu Syurahbil, Abu Abdur Rahman As-Sulami, Mujahid, Ikrimah, An-Nakha’i, Ad-Dahhak, Qatadah,dan As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Asy-Syafi’i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syaddad Al-Masma’i, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika diturunkannya firman Allah subhanahu wa ta’ala.
ini:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Diwahyukan kepadaku bahwa engkau (yakni Abdullah ibnu Mas’ud) termasuk salah seorang dari mereka.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu Janab, dari Zazan, dari Jarir ibnu Abdullah yang menceritakan, “Kami (para sahabat) berangkat bersama Rasulullah ﷺ Ketika kami keluar dari perbatasan kota Madinah, tiba-tiba ada seorang pengendara menuju ke arah kami, maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Seakan-akan pengendara ini bermaksud menemui kalian.’ Lalu orang tersebut sampai kepada kami dan mengucapkan salam penghormatan kepada kami, dan kami membalas salamnya.
Nabi ﷺ bertanya kepadanya, ‘Dari manakah engkau?’ Lelaki itu menjawab, ‘Dari tempat keluarga, anak-anak, dan handai tolanku.’ Nabi ﷺ bertanya.
‘Hendak ke mana?’ Ia menjawab, ‘Aku bermaksud menemui Rasulullah ﷺ’.
Nabi ﷺ menjawab, ‘Sekarang ia ada di hadapanmu.’ Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apakah iman itu?’ Rasulullah ﷺ bersabda: Hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau dirikan salat, engkau tunaikan zakat, engkau puasa dalam bulan Ramadan, dan engkau berhaji ke Baitullah.
Lelaki itu menjawab, ‘Aku berikrar (untuk mengamalkannya).’ Kemudian unta kendaraan lelaki itu terperosok ke dalam liang tikus padang pasir, maka untanya terjatuh, dan ia pun terjatuh pula dengan posisi kepala di bawah, hingga mengakibatkan ia mati.
Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kemarikanlah lelaki itu!’ Maka Ammar ibnu Yasir dan Huzaifah ibnul Yaman melompat ke arahnya memberikan pertolongan, lalu mendudukkannya.
Keduanya berkata, ‘Wahai Rasulullah, lelaki ini telah meninggal dunia.’ Rasulullah ﷺ berpaling dari keduanya, lalu bersabda: Tidakkah kalian berdua melihat mengapa aku berpaling dari lelaki ini?
Sesungguhnya aku melihat dua malaikat sedang menyuapkan buah surga ke dalam mulutnya, maka aku mengetahui bahwa lelaki ini meninggal dunia karena kelaparan.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda pula, Lelaki ini termasuk orang-orang yang perihalnya disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik).’ (Al An’am:82) Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Urusilah jenazah saudara kalian ini!’ Lalu kami membawanya ke tempat air dan memandikannya, memberinya wewangian, mengafaninya, dan kami usung ke kuburnya.” Rasulullah ﷺ datang, lalu duduk di pinggir kuburnya dan bersabda: Buatlah liang lahad, dan janganlah kalian membelahnya, karena sesungguhnya liang lahad adalah bagi kita, sedangkan belahan hanya bagi selain kita.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Aswad ibnu Amir, dari Abdul Humaid ibnu Ja’far Al-Farra, dari Sabit, dari Zazan, dari Jarir ibnu Abdullah, kemudian disebutkan hal yang semisal.
Sehubungan dengan hadis ini Imam Ahmad pun memberikan komentarnya, “Orang ini termasuk di antara orang-orang yang sedikit beramal, tetapi berpahala banyak.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Mahran ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa kami bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, tiba-tiba di tengah jalan ada seorang lelaki Badui yang menghalang-halanginya, lalu lelaki Badui itu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan benar, sesungguhnya aku tinggalkan tempat kelahiranku dan semua harta bendaku dengan tujuan mengikuti petunjukmu dan mengambil ucapanmu.
Dan tidak sekali-kali aku dapat sampai kepadamu melainkan setelah semua perbekalanku habis dan makananku hanyalah dedaunan, maka aku mohon sudilah engkau menerimaku.” Lalu Rasulullah ﷺ menuju ke arahnya dan menerimanya.
Kami (para sahabat) berdesak-desakan di sekitar lelaki Badui itu, dan ternyata kaki depan unta kendaraannya terperosok ke dalam liang tikus padang pasir, sehingga lelaki itu terjatuh dan lehernya patah (meninggal dunia).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan benar, dia benar berangkat (meninggalkan) negeri kelahirannya dan semua harta bendanya untuk mengikuti petunjukku dan mengambil dari ucapanku, serta tidak sekali-kali dia sampai kepadaku melainkan setelah makanan perbekalannya habis, kecuali hanya makan dari dedaunan pepohonan.
Tidakkah kalian dengar perihal orang yang sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak?
Dia termasuk salah seorang dari mereka.
Tidakkah kalian dengar perihal orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka’ dengan kezaliman?
Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sesungguhnya orang ini termasuk salah seorang dari mereka.
Menurut lafaz lain disebutkan: Orang ini sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Muhammad ibnu Ya’la Al-Kufi yang bertempat tinggal di Ar-Ray, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Khaisamah, dari Abu Daud, dari Abdullah ibnu Sakhbarah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang diberi, lalu bersyukur, dan (barang siapa yang) dicegah (tidak diberi), lalu bersabar, dan (barang siapa yang) berbuat aniaya, lalu meminta ampun, dan (barang siapa yang) dianiaya, lalu memaafkan….
Rasulullah ﷺ diam sejenak.
Maka mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa dia (bagaimana kelanjutannya)?”
Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:

mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al An 'aam (6) ayat 82
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Ibrahim dari Alqomah dari Abdullah ra., mengatakan, “Dikala diturunkan ayat, Sesungguhnya orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman ‘Siapakah diantara kami yang tidak mencampur keimananya dengan kezjhaliman?” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjawab,
“Bukan itu yang dimaksudkan, tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman, sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar” (QS. Luqman 13)

Shahih Bukhari, Kitab Meminta Taubat Orang Orang Murtad dan Para Pembangkan Serta Memerangi Mereka – Nomor Hadits: 6407

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 82

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ubaidullah bin Zuhr yang bersumber dari Bakr bin Sawadah bahwa ada seorang musyrik yang menyerang seorang Muslim dan membunuhnya, kemudian menyerang seorang Muslim lainnya dan membunuhnya pula, lalu menyerang yang lainnya lagi serta membunuhnya pula.
Sesudah itu ia bertanya kepada Nabi ﷺ, apakah akan diterima Islamnya setelah ia melakukan perbuatan tadi.
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ya.” Kemudian ia memukul kudanya dan menyerbu musuh Islam serta membunuh beberapa orang.
Akhirnya ia sendiri terbunuh.

Menurut Bakr bin Sawadah, para sahabat menganggap ayat ini (an-An’am: 82) turun berkenaan dengan peristiwa orang itu, yang menegaskan bahwa iman seseorang yang tidak dicampuri syirik dijamin keamanannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 82 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 82



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku