Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 74


وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہِیۡمُ لِاَبِیۡہِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصۡنَامًا اٰلِہَۃً ۚ اِنِّیۡۤ اَرٰىکَ وَ قَوۡمَکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ
Wa-idz qaala ibraahiimu abiihi aazara atattakhidzu ashnaaman aalihatan innii araaka waqaumaka fii dhalalin mubiinin;

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?
Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.
―QS. 6:74
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
6:74, 6 74, 6-74, Al An ‘aam 74, AlAnaam 74, Al Anaam 74, Al Anam 74, AlAnam 74, Al An’am 74
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 74. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
agar mengingatkan orang-orang musyrik kepada kisah nenek moyangnya yang dimuliakan, yaitu Nabi Ibrahim a.s.
agar mereka mengikuti agama nenek moyang mereka.
Ibrahim a.s.
menyeru manusia untuk beragama tauhid dan menghentikan perbuatan syirik.

Dalam kisah ini diungkapkan percakapan antara Nabi Ibrahim dengan bapaknya Azar.
Nabi Ibrahim menanyakan kepada bapaknya dan kaumnya mereka itu menjadikan berhala-berhala yang mereka buat sendiri itu sebagai tuhan-tuhan.
Mengapa mereka tidak menyembah Allah yang menciptakan mereka dan menguasai berhala-berhala itu.
Semestinya mereka tahu bahwa Allahlah yang berhak disembah.
Itulah sebabnya maka Nabi Ibrahim a.s.
menegaskan bahwa dirinya betul-betul mengetahui bahwa bapak dan kaumnya terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang nyata, jauh menyimpang dari yang lurus.

Perbuatan mereka nyata-nyata tersesat dari ajaran wahyu dan menyimpang dari akal yang sehat, karena berhala-berhala itu tidak lain hanyalah patung-patung hasil pahatan yang dibuat dari batu, kayu atau logam dan lain-lain.
Semestinya berhala itu tidak melebihi derajatnya dari pemahatnya.
Merekapun tentu sudah mengerti bahwa berhala-berhala itu bukanlah Tuhan.
Akan tetapi merekalah yang menjadikannya sebagai Tuhan.
Oleh sebab itu tidak masuk akal apabila ada manusia yang menyembah sesama makhluk karena makhluk itu tidak sanggup menguasai jagat raya dan segala isinya, apalagi yang disembah itu patung yang tak dapat berbuat apa-apa.

Al An 'aam (6) ayat 74 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 74 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 74 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Tidak selayaknya engkau menjadikan patung-patung itu sebagai Tuhan.
Aku melihatmu dan kaum yang menyertaimu dalam penyembahan itu berada dalam jarak yang sangat jauh dari jalan kebenaran.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar) julukan dan nama aslinya adalah Tarikh (“Pantaskah kamu menjadikan patung-patung sebagai tuhan-tuhan?) yang kamu sembah.
Kata tanya di sini bermakna celaan.
(Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu) karena menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan (dalam kesesatan) yakni tersesat dari jalan yang benar (yang nyata.”) yang jelas.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah wahai Rasul perkataan Ibrahim kepada Azar bapaknya.
Saat itu dia berkata kepadanya :
Apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan selain Allah?
Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata dari jalan kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya nama ayah Nabi Ibrahim bukan Azar, melainkan yang sebenarnya adalah Tarikh (Terakh).
Demikianlah riwayat Imam Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnu Abu Asim An-Nabil, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Syabib, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar.
(Al An’am:74)

Yakni Azar si penyembah berhala.
Ayah Nabi Ibrahim yang sebenarnya adalah Tarikh, dan nama ibunya adalah Syani, istri Nabi Ibrahim ialah Sarah, dan ibunya Nabi Ismail yaitu Hajar, budak Nabi Ibrahim.
Demikianlah menurut apa yang telah dikatakan oleh bukan hanya seorang dari ulama nasab, bahwa ayah Nabi Ibrahim bernama Tarikh (sedangkan Azar adalah pamannya, pent).

Mujahid dan As-Saddi mengatakan bahwa Azar adalah nama berhala.
Berdasarkan pendapat ini dia dikenal dengan nama Azar, karena dialah yang menjadi pelayan dan yang mengurus berhala itu, wallahu a’lam.

Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya berpendapat bahwa Azar menurut bahasa mereka artinya kata cacian dan keaiban, maknanya ialah menyimpang (sesat).
Akan tetapi, pendapat ini tidak disandarkan kepada seorang perawi pun oleh Ibnu Jarir, tidak pernah pula diriwayatkan oleh seorang pun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah disebutkan dari Mu’tamir ibnu Sulaiman bahwa ia pernah mendengar ayahnya membacakan firman: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada Azar bapaknya.
(Al An’am:74) Lalu ia mengatakan bahwa telah sampai kepadanya suatu riwayat yang mengatakan bahwa Azar artinya bengkok (menyimpang), dan kata-kata ini merupakan kata-kata yang paling keras yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa nama ayah Nabi Ibrahim adalah Azar.
Lalu Ibnu Jarir mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan penilaiannya itu, yaitu pendapat ulama ahli nasab yang mengatakan bahwa nama ayah Nabi Ibrahim adalah Tarikh.
Selanjutnya ia mengulasnya bahwa barangkali ayah Nabi Ibrahim mempunyai dua nama seperti yang banyak dimiliki oleh orang lain, atau barangkali salah satunya merupakan nama julukan, sedangkan yang lain adalah nama aslinya.
Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir ini cukup baik lagi kuat.

Para ahli qiraah berbeda pendapat sehubungan dengan takwil dari firman-Nya: Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri dan Abu Yazid Al-Madini, bahwa keduanya membaca ayat ini dengan bacaan berikut:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?”

Yang artinya, “Hai Azar, pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?”

Jumhur ulama membaca fathah lafaz azara dengan anggapan sebagai ‘alam ‘ajam (nama asing) tidak menerima harakat tanwin.
Kedudukan i’rab-nya adalah badal (kata ganti) dari lafaz abihi, atau ataf bayan yang lebih dekat kepada kebenaran.
Menurut pendapat orang yang menjadikannya sebagai na’at.
lafaz azar ini tidak menerima tanwin pula karena wazan-nya sama dengan lafaz ahmar dan aswad.

Adapun menurut pendapat orang yang menduga bahwa lafaz azara dinasabkan karena menjadi ma’mul dari firman-Nya:

Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?

Yang berarti, “Hai ayahku, pantaskah kamu menjadikan Azar sebagai berhala-berhala yang disembah-sembah?”
Maka pendapat ini jauh dari kebenaran menurut penilaian lugah (bahasa), karena lafaz yang jatuh sesudah huruf istifham tidak dapat beramal terhadap lafaz sebelumnya, mengingat huruf istifham mempunyai kedudukan pada permulaan kalimat.
Demikianlah menurut ketetapan Ibnu Jarir dan lain-lainnya, dan pendapat inilah yang terkenal pada kaidah bahasa Arab.

Kesimpulannya, Nabi Ibrahim menasihati ayahnya yang menyembah berhala dan melarangnya serta memperingatkannya agar meninggalkan berhala-berhala itu, tetapi si ayah tidak mau menghentikan perbuatannya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?”

Artinya, apakah kamu menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan yang kamu sembah selain Allah?

Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu.

Yakni orang-orang yang mengikuti jejak langkahmu.

…dalam kesesatan yang nyata.

Maksudnya sesat jalan, tidak mengetahui petunjuk jalan yang ditem­puhnya, bahkan dalam keadaan kebingungan dan kebodohan.
Dengan kata lain, kalian berada dalam keadaan bodoh dan dalam kesesatan yang nyata bagi penilaian orang yang mempunyai akal sehat.
Di dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi.
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu.
Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan.
Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim?
Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku.
Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku ” (Maryam:41-48)

Maka tersebutlah bahwa sejak itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam selalu berdoa kepada Tuhannya, memohonkan ampun buat bapaknya.
Ketika bapaknya meninggal dunia dalam keadaan tetap musyrik, dan hal itu sudah jelas bagi Nabi Ibrahim, maka Nabi Ibrahim mencabut kembali permohonan ampun buat ayahnya dan berlepas diri dari perbuatan ayahnya, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat lain:

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu.
Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya.
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(At Taubah:114)

Di dalam kitab Sahih telah disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti Nabi Ibrahim melemparkan Azar ayahnya (ke dalam neraka).
Maka Azar berkata kepadanya, “Wahai anakku, hari ini aku tidak mendurhakaimu.” Ibrahim ‘alaihis salam berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak akan membuatku sedih pada hari mereka dibangkitkan?
Maka tiada suatu kehinaan pun yang lebih berat daripada mempunyai seorang ayah yang terusir (dari rahmat-Mu).” Maka dijawab, “Hai Ibrahim, lihatlah ke arah belakangmu!” Maka tiba-tiba Ibrahim melihat suatu sembelihan yang berlumuran darah, kemudian sembelihan itu diambil pada bagian kaki-kakinya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 74

ASHNAAM
أَصْنَام

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya ash shanam, artinya sesuatu yang dibuat dari kayu, perak dan tembaga untuk disembah.

Al Kafawi berkata,
“Ia terbuat dari batu'”

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ash shanam ialah setiap benda yang disembah selain Allah, atau setiap yang disembah oleh penyembah-penyembah berhala dari gambar atau patung.”

Lafaz ashnaam disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Al An’aam (6), ayat 74
-Al A’raaf (7), ayat 138
-Ibrahim (14), ayat 35
-Asy Syu’araa (26), ayat 71
-Al Anbiyaa’ (21), ayat 57.

Al Fayruz berkata,
“Ia bermakna setiap tubuh yang dijadikan dari perak atau tembaga. Orang musyrik menyembahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Malah setiap sesuatu yang menyibukkan sehingga berpaling dari Allah dikatakan shanam. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim berkata,
“Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari perbuatan menyembah berhala.” Nabi Ibrahim mendapat ilmu makrifah dan hikmah tetapi masih takut kembali kepada penyembahan berhala yang disembah oleh mereka, seakan-akan beliau berkata,
“Jauhkanlah aku daripada disibukkan selain Engkau.

Ibn Juraij menjelaskan, “Makna ashnaam dalam surah Al A’raaf ialah patung-patung sapi dan ia adalah anak patung yang pertama dibuat oleh kaum Lakhm atau kaum Kanan yang diperintahkan oleh Nabi Musa untuk memerangi mereka. Mereka mendirikannya dan mengagungkannya sebagaimana orang yang duduk (mengagungkan Allah. pen.) di dalam masjid.”

At Tabari berkata,
“Ia adalah patung dari batu atau kayu dan dalam bentuk manusia, dan ia adalah berhala (watsan). Kadangkala gambar yang dilukis dalam bentuk manusia di atas dinding dikatakan shanam dan watsan.”

Kesimpulannya, makna lafaz ashnaam ialah patung atau berhala yang menjadi tuhan bagi orang musyrik.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:74-75

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 74 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 74



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku