Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 71


قُلۡ اَنَدۡعُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَنۡفَعُنَا وَ لَا یَضُرُّنَا وَ نُرَدُّ عَلٰۤی اَعۡقَابِنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ کَالَّذِی اسۡتَہۡوَتۡہُ الشَّیٰطِیۡنُ فِی الۡاَرۡضِ حَیۡرَانَ ۪ لَہٗۤ اَصۡحٰبٌ یَّدۡعُوۡنَہٗۤ اِلَی الۡہُدَی ائۡتِنَا ؕ قُلۡ اِنَّ ہُدَی اللّٰہِ ہُوَ الۡہُدٰی ؕ وَ اُمِرۡنَا لِنُسۡلِمَ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
Qul anad’uu min duunillahi maa laa yanfa’unaa walaa yadhurrunaa wanuraddu ‘ala a’qaabinaa ba’da idz hadaanaallahu kaal-ladziiistahwathusy-syayaathiinu fiil ardhi hairaana lahu ashhaabun yad’uunahu ilal hudaa-atinaa qul inna hudallahi huwal huda wa-umirnaa linuslima lirabbil ‘aalamiin(a);

Katakanlah:
“Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan, dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan):
“Marilah ikuti kami”.
Katakanlah:
“Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,
―QS. 6:71
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
6:71, 6 71, 6-71, Al An ‘aam 71, AlAnaam 71, Al Anaam 71, Al Anam 71, AlAnam 71, Al An’am 71
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 71. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan kepada orang-orang yang mengajak beliau untuk mengikuti agama mereka lalu bersama-sama menyembah berhala, bahwa beliau dan pengikut-pengikutnya tidak mau meminta pertolongan kepada selain Allah seperti menyembah batu atau pepohonan dan lain-lainya yang nyata-nyata tidak dapat memberikan manfaat atau menolak mudarat.
Akan tetapi dia hanya beribadah kepada Allah semata, yang mempunyai kekuasaan, Yang memberikan manfaat atau mudarat dan yang menguasai makhluk, yang menghidupkan dan mematikan.

Orang-orang yang berpikir secara wajar, tentu dapat membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah karena tidak dapat diragukan lagi, bahwa menghambakan diri kepada Zat yang dapat diharapkan manfaat-Nya dan ditakuti siksaan-Nya, lebih utama dan lebih baik dari pada menghambakan diri kepada sesuatu yang tak dapat diharapkan suatu apapun dari padanya juga lebih baik pula menghambakan diri kepada Allah dari pada kembali kepada jalan yang sesat dan bergelimang dalam kemusyrikan.

Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa menyembah selain Allah tidak patut terjadi karena sebab-sebab sebagai berikut:

1.
Bahwa orang yang berpikir secara wajar tetap memohon pertolongan kepada Zat Yang Berkuasa, Yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat.
2.
Mereka tidak mau menjadi murtad kembali seperti keadaan mereka sebelum memeluk agama Islam.
3.
Bahwa orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah yang telah diselamatkan dari jurang kesesatan tidak mungkin bisa disesatkan oleh siapapun juga, seperti ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya.
Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab.

(Q.S Az Zumar: 37)

Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bahwa orang-orang yang murtad sesudah beriman adalah seperti orang yang terkena bisikan setan atau seperti orang kebingungan dalam mencapai sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mencapainya.
Mereka dalam keadaan bimbang, karena merasa bahwa dirinya berada di antara persimpangan jalan.
Mereka telah meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat tak tentu arah dan tujuannya.
Di tengah-tengah kebingungan itu mereka digambarkan pula seolah-olah di panggil oleh kawan-kawannya yang beriman untuk kembali kepada jalan yang lurus, akan tetapi mereka itu tidak dapat memenuhi panggilan tersebut karena mereka telah berpisah jauh, pandangan dan pikirannya terarah kepada bisikan setan itu, sehingga tidak dapat lagi mendengar seruan itu.
Gambaran ini sesuai dengan Firman Allah:

Seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.
(Q.S Al Baqarah: 275)

Sesudah itu Allah memberikan dorongan kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya selalu berusaha agar orang-orang musyrikin dapat memenuhi panggilan untuk kembali ke jalan yang lurus, menjauhi jalan yang sesat yang membingungkan pikirannya.
Allah menegaskan bahwa petunjuk yang benar ialah petunjuk yang diturunkan Allah yang termuat dalam ayat-ayat-Nya.
Di dalam petunjuk itulah terdapat bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran-Nya yang tidak mengandung kebatilan.
Berbeda dengan seruan yang dikumandangkan oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya yang hanya mengekor kepada jejak nenek moyang mereka.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar menegaskan bahwa tugas yang dibebankan pada beliau ialah untuk menyerahkan jiwa raganya semata-mata kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Al An 'aam (6) ayat 71 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada mereka, “Apakah pantas disembah, sesuatu selain Allah yang tidak bisa mendatangkan keuntungan maupun kerugian?
Lalu, karena hal itu, kita kembali kepada kemusyrikan setelah mendapat petunjuk menuju keimanan dari Allah, hingga kita menjadi seperti orang yang di dunia digoda dan disesatkan oleh setan hingga bingung dan tidak bisa mendapatkan jalan yang lurus.
Orang seperti itu seringkali akan diselamatkan oleh kawan-kawannya yang mendapat petunjuk dengan mengatakan, ‘Kembalilah kepada jalan kami yang lurus,’ tapi tidak menuruti.” Katakan lagi, wahai Nabi, “Sesungguhnya hanya Islamlah petunjuk itu, sedang yang lain-lain adalah kesesatan.
Kami sungguh telah diperintah oleh Allah agar tunduk kepada-Nya.
Dia pencipta seluruh alam, pemberi rezeki, dan yang mengatur urusannya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru) apakah kita akan menyembah (selain daripada Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita) karena menyembahnya (dan tidak pula mendatangkan kemudaratan kepada kita) oleh sebab tidak menyembahnya, yang dimaksud adalah berhala-berhala (dan apakah kita akan dikembalikan ke belakang) dikembalikan kepada kemusyrikan (sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita) kepada agama Islam (seperti orang yang digoda) yang disesatkan (oleh setan dipesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung) bingung tidak tahu jalan yang akan ditempuhnya, Lafal ini menjadi hal bagi dhamir ha (dia mempunyai kawan-kawan) teman-teman (yang memanggilnya ke jalan yang lurus) artinya mereka bermaksud memberikan petunjuk jalan yang benar kepadanya kemudian berkata kepadanya:
(Marilah ikuti kami.”) akan tetapi ia tidak mengikuti ajakan mereka sehingga binasalah ia dalam kesesatan.
Istifham/kata tanya di sini bermakna ingkar dan kalimat yang ada tasybihnya adalah menjadi hal bagi dhamir yang terdapat di dalam Lafal nuraddu (Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah) yakni agama Islam (ialah sebenar-benar petunjuk) dan yang selain petunjuk-Nya adalah kesesatan belaka (dan kita disuruh agar menyerahkan diri) diperintahkan agar kita berserah diri (kepada Tuhan semesta alam).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Apakah kami menyembah selain Allah dalam bentuk berhala-berhala yang tidak bisa memberi manfaat dan mudharat?
Lalu kami kembali kepada kekufuran setelah Allah memberi hidayah kepada kami kepada Islam.
Maka kami (bila kembali kepada kekufuran) seperti orang yang rusak akalnya karena gangguan setan kepadanya, sehingga dia tersesat di muka bumi.
Dia mempunyai kawan-kawan mukmin yang berakal yang mengajaknya ke jalan yang benar yang mereka lalui, namun dia menolaknya.
Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin, sesungguhnya hidayah dimana Allah mengutusku dengannya adalah hidayah yang haq, dan kami semua diperintahkan agar berserah diri kepada Allah, Rabb alam raya dengan menyembah-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya.
Dia adalah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

As-Saddi mengatakan bahwa orang-orang musyrik berkata kepada orang-orang muslim, “Ikutilah kami, dan tinggalkanlah agama Muhammad itu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita, tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang.
(Al An’am:71) Yakni kembali kepada kekafiran.
sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita.
(Al An’am:71) Yang akibatnya perumpamaan kita sama dengan orang yang disesatkan oleh setan di tanah yang mengerikan.
Dikatakan bahwa perumpamaan kalian —jika kalian kembali kepada kekafiran sesudah kalian beriman— sama halnya dengan seorang lelaki yang berangkat bersama suatu kaum dalam suatu perjalanan, dan ternyata ia tersesat, lalu setan datang menyesatkannya di tempat ia tersesat sehingga ia kebingungan, padahal teman-temannya berada di jalan yang sebenarnya.
Lalu teman-temannya menyerunya agar ia bergabung dengan mereka seraya berkata, “Kemarilah, ikutilah kami!” Tetapi ia tidak mau bergabung dengan mereka.
Demikianlah perumpamaan orang yang mengikuti orang-orang kafir sesudah ia mengetahui keadaan Nabi Muhammad ﷺ Sedangkan dalam perumpamaan ini orang yang memanggilnya ke jalan yang benar adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan Islam diserupakan sebagai jalannya.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan.
(Al An’am:71) Artinya, disesatkan oleh setan dari jalan yang ditempuhnya, yakni setan membujuknya dari jalan yang ditempuhnya.
Pengertian istahwa ini sama dengan lafaz tahwi yang terdapat di dalam firman-Nya: cenderung kepada mereka.
(Ibrahim:37)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita, tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita.
(Al An’am:71), hingga akhir ayat.
Ungkapan ini merupakan tamsil yang dibuat oleh Allah, ditujukan kepada tuhan-tuhan (sesembahan-sesembahan) dan orang-orang yang menyeru kepadanya, serta orang-orang yang menyeru kepada petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Disamakan dengan seorang lelaki yang sesat jalan dalam keadaan kebingungan, tiba-tiba ia mendengar suara yang berseru, “Hai Fulan ibnu Anu, kemarilah, ikutilah jalan ini!” Sedangkan dia mempunyai teman-teman yang juga menyerunya dengan panggilan, “Hai Fulan ibnu Anu, ikutilah jalan kami ini!” Jika dia mengikuti penyeru pertama, maka penyeru pertama itu akan membawanya kepada kebinasaan, dan jika ia mengikuti penyeru yang mengajaknya ke jalan petunjuk, niscaya dia akan memperoleh petunjuk.
Seruan seperti ini —yang sering terdengar di padang pasir— disebut gailan (hantu).
Hal ini diungkapkan sebagai perumpamaan orang yang menyembah tuhan-tuhan tersebut selain Allah.
Karena sesungguhnya dia menduga bahwa dirinya berada dalam suatu pegangan hingga masa kematiannya, maka saat itulah ia akan menghadapi penyesalan dan kebinasaannya.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala.: seperti orang yang disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan.
(Al An’am:71) Setan-setan tersebut adalah gailan (hantu-hantu) yang memanggil-manggil namanya lengkap dengan nama ayah dan kakeknya, sehingga ia mengikuti suara itu.
Karena itu, ia merasa bahwa dirinya mempunyai pegangan.
Tetapi pada pagi harinya ternyata dia dilemparkan ke dalam kebinasaan, dan barangkali hantu-hantu itu memakannya atau melemparnya di tanah yang jauh, di mana dia akan binasa karena kehausan.
Hal ini merupakan perumpamaan bagi orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan, dalam keadaan bingung.
(Al An’am:71) Makna yang dimaksud ialah seorang lelaki dalam keadaan bingung, lalu dipanggil-panggil oleh teman-temannya untuk mengikuti jalan mereka.
Hal ini merupakan perumpamaan bagi orang yang sesat sesudah mendapat petunjuk.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan, dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan.
(Al An’am:71) Bahwa dia adalah orang yang tidak mau memenuhi seruan yang mengajak kepada hidayah Allah, dia orang yang menaati setan dan gemar melakukan maksiat di muka bumi dan menyimpang dari perkara yang hak serta tersesat jauh darinya.
Dia mempunyai kawan-kawan yang menyerunya ke jalan hidayah, mereka menduga bahwa apa yang mereka perintahkan kepadanya merupakan petunjuk yang telah dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
kepada kekasih-kekasih-Nya dari kalangan manusia.
Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).
(Al An’am:71) Sedangkan kesesatan itu adalah yang diserukan jin (setan) kepadanya.

Demikianlah riwayat Ibnu Jarir.

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan, pengertian ini menunjukkan bahwa teman-temannya menyerukan kepada kesesatan, dan mereka menduga bahwa apa yang mereka serukan itu adalah jalan petunjuk.

Ibnu Jarir mengatakan, pengertian ini bertentangan dengan makna lahiriah ayat, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan bahwa teman-temannya mengajaknya ke jalan petunjuk, maka mustahil bila hal ini dikatakan sebagai jalan kesesatan.
Allah subhanahu wa ta’ala.
dengan tegas menceritakan bahwa hal itu adalah jalan petunjuk.

Pendapat Ibnu Jarir benar, mengingat konteks pembicaraan menunjukkan bahwa orang yang disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan ini berada dalam kebingungan.
Lafaz hairana yang ada dalam ayat dinasabkan karena menjadi hal atau kata keterangan keadaan.
Dengan kata lain, dalam keadaan kebingungan, kesesatan, dan ketidaktahuannya akan jalan yang harus ditempuhnya, dia mempunyai teman-teman yang berada di jalan yang sedang mereka tempuh.
Lalu mereka menyerunya untuk bergabung dengan mereka dan berangkat bersama-sama mereka meniti jalan yang benar.
Akan tetapi, dia menolak ajakan mereka dan tidak mau menoleh kepada mereka.
Seandainya Allah menghendakinya mendapat petunjuk, niscaya Allah memberinya petunjuk dan mengembalikannya ke jalan yang benar.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk.

Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam ayat lain, yaitu:

Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya.
(Az Zumar:37)

Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.
(An Nahl:37)

Arti firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.

ialah ikhlaslah dalam beribadah kepada-Nya, hanya untuk Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 71

A’QAAB
أَعْقَٰب

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari kata ‘aqib, yang bermakna anak atau anak dari anak (cucu). ‘Aqib juga berarti bagian belakang tapak kaki atau tumit. Kata ‘aqib berasal dari kata ‘aqaba yang bermakna setiap sesuatu yang datang sesudah yang lain, atau yang datang kemudian dan yang mengikutinya. Darinya lahir kata al ‘aqibah yang bermaksud anak dan akhir setiap sesuatu.

Lafaz a’qaab disebut sebanyak 4 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
– Ali Imran (3) ayat 144, 149;
– Al An’aam (6) ayat 71;
– Al Mu’minuun (23) ayat 66.

Asy Syawkani berkata,
lafaz a’qaab adalah bentuk jamak dari ‘aqab, asalnya ialah dari lafaz al mu’aqabah dan al ‘uqba, yaitu perkara yang datang mengiringi sesuatu yang harus diikutinya, sebagaimana firman Allah, wal ‘aaqibatu lil muttaqiin dan dari lafaz al mu’aqabah dan al ‘uqb juga berasalnya kata ‘aqib (belakang tapak kaki lelaki, atau tumit), serta darinya juga timbul kata al­ ‘uqubah (siksaan atau hukuman), karena ia adalah suatu perkara yang datang setelah melakukan dosa.

Abu Ubaidah mengatakan lafaz a’qaab dikatakan bagi orang yang memulangkan hajatnya dan belum mengambil keuntungan daripadanya.

Al Mubarrad pula berkata makna a’qaab ialah kembali membuat jahat setelah berbuat baik.

At Tabari menafsirkan kata a’qaab yang terdapat pada ayat 66 dari surah Al Mu’minuun dengan “ke belakang” dan “berpaling ke belakang”

Semua ayat-ayat yang menyebut lafaz ini berkaitan dengan iman dan kufur, di mana orang yang mendapat keimanan berpaling kembali ke belakang dan kembali kepada kekufuran, sehingga akhirnya mereka tidak mendapat faedah malah berada dalam kerugian. Itu karena mereka tidak mau mengindahkan ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka lalu mereka berpaling muka. Maka tangisan mereka di akhirat tidak ada gunanya Iagi.” Justru, makna kata a’qaab yang terdapat pada semua ayat yang disebut tadi bermakna “berpaling” atau “kembali ke belakang.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:7

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 71 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 71



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku