QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 57 [QS. 6:57]

قُلۡ اِنِّیۡ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ وَ کَذَّبۡتُمۡ بِہٖ ؕ مَا عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ یَقُصُّ الۡحَقَّ وَ ہُوَ خَیۡرُ الۡفٰصِلِیۡنَ
Qul innii ‘ala bai-yinatin min rabbii wakadz-dzabtum bihi maa ‘indii maa tasta’jiluuna bihi inil hukmu ilaa lillahi yaqush-shul haqqa wahuwa khairul faashiliin(a);

Katakanlah:
“Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.
Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya.
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.
Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.
―QS. 6:57
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
6:57, 6 57, 6-57, Al An ‘aam 57, AlAnaam 57, Al Anaam 57, Al Anam 57, AlAnam 57, Al An’am 57

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 57

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 57. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi ﷺ.
agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa dia dan pengikut-pengikutnya tidak mengikuti ajakan mereka, karena agama yang disampaikannya disertai dengan dasar-dasar, dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang kuat, berdasarkan yang diwahyukan Allah yang terdapat di dalam Alquran.
Adapun orang-orang musyrik itu mereka mengajak Nabi dan kaum muslimin mengikuti agama mereka.
tetapi mereka tidak mengemukakan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat menguatkan dasar kepercayaan mereka, agar dengan demikian timbul keyakinan pada diri seseorang yang mereka ajak itu akan kebenaran agama mereka.

Di antara sebab mereka mengingkari dan mendustakan Alquran dan kenabian Muhammad adalah karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak memperkenankan permintaan mereka, agar kepada mereka diturunkan azab, seperti yang telah diturunkan kepada umat Nabi-nabi yang dahulu, sebagai bukti kerasulan Muhammad, sebagai yang diterangkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman Nya:

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah! Jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 32)

Telah diketahui, bahwa yang menetapkan dan menentukan segala sesuatu itu hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada yang lain selain Dia.
Hanya Dialah yang mengetahui hikmah terjadi atau tidak terjadinya sesuatu di alam ini.
Dalam menentukan terjadinya sesuatu atau tidak terjadinya, Dia mempunyai aturan-aturan dan hukum-hukum.
Terjadinya sesuatu adalah sesuai aturan-aturan dan hukum-hukum-Nya itu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya
(Q.S. Ar Ra’d: 8)

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa segala sesuatu yang tersebut di dalam Alquran adalah benar dan benar-benar akan terjadi, sesuai dengan firman-Nya:

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya.
Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu

(Q.S. Al-Hajj [22]: 47)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiap-tiap umat mempunyai ajal.
Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.

(Q.S. Yunus [10]: 49)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada mereka lagi, “Aku benar-benar berada pada syariat yang jelas yang diturunkan dari Tuhanku melalui Al Quran yang kalian tidak percayai.
Di luar kemampuanku, mempercepat azab seperti yang kalian tantang.
Hal itu hanya ada dalam kekuasaan Allah dan tergantung kepada kehendak, kebijaksanaan, dan wewenang-Nya.
Bila Dia menghendaki, Dia akan mempercepatnya, dan bila menghendaki, Dia akan melambatkannya.
Semuanya menurut hikmah yang Dia ketahui.
Dia adalah sebaik- baik pemutus persoalan antara aku dan kalian.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Sesungguhnya aku berada di atas hujah) penjelasan yang nyata (dari Tuhanku dan) ternyata (kamu mendustakannya) mendustakan Tuhanku karena kamu telah menyekutukan-Nya.

(Tidak ada padaku apa yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya) yaitu berupa azab.

(Tidak lain) tiada lain (menetapkan hukum itu) dalam masalah tersebut dan masalah-masalah lainnya (hanyalah hak Allah.

Dia memutuskan) menentukan (yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.”) pemberi ketentuan hukum yang paling baik.

Menurut suatu qiraat dibaca yaqushshu/menerangkan bukannya yaqdhii/memutuskan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Sesungguhnya aku diatas ilmu yang nyata berupa syariat Allah yang Dai wahyukan kepadaku, hal itu dengan mengesakan-Nya semata dalam beribadah, namun kalian mendustakannya.
Bukan dalam kekuasaanku menurunkan siksa yang kalian minta agar disegerakan.
Keputusan penundaan siksa ada di tangan Allah.
Dia menjelaskan kebenaran dan Dia adalah sebaik-baik pemilah antara yang haq dengan yang batil dalam keputusan dan hukum-Nya

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Katakanlah, “Sesungguhnya aku berada di atas hujah yang nyata dari Tuhanku.”

Maksudnya, aku berada di atas pengetahuan dari syariat Allah yang telah diwahyukan oleh-Nya kepadaku.

…sedangkan kalian mendustakannya.

Yakni kalian mendustakan perkara hak yang disampaikan kepadaku dari Allah.

Tidak ada padaku apa yang kalian minta supaya disegerakan.

Yaitu siksaan atau azab.

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.

Artinya, sesungguhnya rujukan mengenai hal tersebut hanyalah kepada Allah.
Dengan kata lain, jika dia menghendaki untuk menyegerakannya kepada kalian, niscaya Dia akan menyegerakan azab yang kalian minta itu.
Dan jika Dia menghendaki penangguhannya terhadap kalian, niscaya Dia menangguhkannya karena dalam penangguhan itu terkandung hikmah yang besar yang hanya Dia saja yang mengetahuinya.
Karena itulah pada firman selanjutnya disebutkan:

Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik

Yakni Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan peradilan dan sebaik-baik Pemberi penyelesaian dalam memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 57 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 57 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 57 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:57
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.9
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-57









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim