QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 56 [QS. 6:56]

قُلۡ اِنِّیۡ نُہِیۡتُ اَنۡ اَعۡبُدَ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قُلۡ لَّاۤ اَتَّبِعُ اَہۡوَآءَکُمۡ ۙ قَدۡ ضَلَلۡتُ اِذًا وَّ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ
Qul innii nuhiitu an a’budal-ladziina tad’uuna min duunillahi qul laa attabi’u ahwaa-akum qad dhalaltu idzan wamaa anaa minal muhtadiin(a);

Katakanlah:
“Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah”.
Katakanlah:
“Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.
―QS. 6:56
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
6:56, 6 56, 6-56, Al An ‘aam 56, AlAnaam 56, Al Anaam 56, Al Anam 56, AlAnam 56, Al An’am 56

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 56

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 56. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik, bahwa dia telah dilarang Allah menyembah sembahan-sembahan mereka, meminta dan memohon pertolongan kepada patung-patung yang mereka buat, atau menyembah dan menghambakan diri kepada para malaikat, kepada orang-orang atau kuburan-kuburan yang mereka anggap keramat dan sebagainya.
Larangan itu terdapat di dalam Alquran yang telah diturunkan Allah kepadanya, disertai bukti-bukti dan yang kuat yang dapat menambah keyakinan akan kebenaran larangan Allah itu.

Diterangkan pula bahwa yang disembah orang-orang musyrik itu adalah yang tidak dapat memberi manfaat dan memberi mudarat sedikitpun, tidak dapat memberi pertolongan kepada orang-orang yang memohon kepadanya dan tidak sanggup mengelakkan suatu malapetakapun yang menimpa penyembah penyembahnya.
Mereka menyembah yang selain Allah itu semata-mata mengikuti hawa nafsu dan keinginan mereka saja mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh nenek moyang mereka, tanpa bukti bukti dan dalil-dalil yang kuat.
Karena itu Nabi dan kaum muslimin tidak akan mengikuti ajakan mereka itu.

Jika Nabi Muhammad ﷺ dan kaum muslimin mengikuti ajakan mereka itu berarti mereka mengikuti sesuatu yang tidak mempunyai keterangan yang kuat, mengikuti jalan yang sesat dan jalan orang-orang yang berdosa.
Jalan yang demikian adalah jalan orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada orang-orang kafir itu, wahai Nabi, “Sesungguhnya Allah telah melarangku untuk menyembah apa yang kalian sembah selain Allah.
Aku tidak mengikuti hawa nafsu kalian.
Karena, bila aku mengikuti kalian, pasti akan menyeleweng dari kebenaran dan tidak termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu seru) kamu sembah (selain Allah.” Katakanlah, “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu) dalam menyembah tuhan-tuhanmu itu (sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian) jika aku ikut menyembah tuhan-tuhan itu (dan tidak pula aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Sesungguhnya Allah melarangku untuk menyembah berhala yang kalian sembah selain Allah.
Katakan kepada mereka :
Aku tidak mau mengikuti hawa nafsu kalian.
Bila aku mengikuti maka aku akan tersesat dari jalan yang lurus, dan aku bukan termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tafsir ayat ini tidak diterangkan secara terpisah pada kitab aslinya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 56

AHWAA
أَهْوَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al hawa yang berarti kerinduan (al-‘isyq) dan kemauan baik itu dalam kebaikan ataupun kejahatan, kemauan diri dan kecenderungannya kepada apa yang mengasyikkannya. Ia juga bermakna kasih sayang dan kecenderungan diri kepada syahwat. Dikatakan seperti itu bagi jiwa atau diri yang cenderung kepada syahwat sebagaimana Allah menyatakan, walaa tat tabi’ul hawaa (Dan janganlah engkau mengikuti hawa [kecenderungan diri kepada syahwat]).

Oleh karena itu, seseorang yang disebut mengikut hawanya berarti mengikut keaiban atau kehinaannya. Seseorang ahlal ahwa’ dikatakan sebagai orang yang sesat dari jalan yang patut diteladani atau ia termasuk ahli bidaah. Dan orang seperti itu dicela Allah

Lafaz ahwaa’ disebut sebanyak 17 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2), ayat 120, 145;
-Al Maa’idah (5), ayat 48, 49, 77;
-Al An’aam (6), ayat 56, 119, 150;
-Ar Ra’d (13), ayat 37;
-Al Mu’minuun (23), ayat 71;
-Al­ Qashash (28), ayat 50;
-Ar Rum (30), ayat 29;
-Asy Syuura (42), ayat 15;
-Al Jatsiyah (45), ayat 18;
-Muhammad (47), ayat 14, 16;
-Al Qamar (54), ayat 3.

Al Qurtubi mengatakan lafaz ahwaa’, bentuk jamak dari al hawa, apabila disandarkan kepada individu yang beragama memiliki maksud nafsu atau syahwatnya. Oleh karena itu, beliau menafsirkan al hawa dalam surah Muhammad, ayat 14 dengan isytaha (kemahuan mereka atau hawa nafsu).

Al­ Fayruz Abadi berkata,
penggunaan lafaz jamak ahwaa’ di dalam Al Qur’an bertujuan mengingatkan setiap individu memiliki kemauan yang berbeda dengan kemauan yang lain. Namun, kemauan setiap individu itu tidak ada penghujungnya. Apabila nabi mengikuti kemahuan mereka, natijahnya adalah kesesatan dan keraguan.

Kesimpulannya, al ahwaa bermakna ke­mauan dan hawa nafsu yang membawa kepada kesesatan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:33-34

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 56 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 56 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 56 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:56
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.8
Ratingmu: 4.6 (12 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-56









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim