Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 54


وَ اِذَا جَآءَکَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰیٰتِنَا فَقُلۡ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ کَتَبَ رَبُّکُمۡ عَلٰی نَفۡسِہِ الرَّحۡمَۃَ ۙ اَنَّہٗ مَنۡ عَمِلَ مِنۡکُمۡ سُوۡٓءًۢ ابِجَہَالَۃٍ ثُمَّ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ وَ اَصۡلَحَ فَاَنَّہٗ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Wa-idzaa jaa-akal-ladziina yu’minuuna biaayaatinaa faqul salaamun ‘alaikum kataba rabbukum ‘ala nafsihirrahmata annahu man ‘amila minkum suu-an bijahaalatin tsumma taaba min ba’dihi wa-ashlaha fa-annahu ghafuurun rahiimun;

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah:
“Salaamun alaikum.
Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 6:54
Topik ▪ Taubat ▪ Cara bertaubat ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
6:54, 6 54, 6-54, Al An ‘aam 54, AlAnaam 54, Al Anaam 54, Al Anam 54, AlAnam 54, Al An’am 54
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 54. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala, memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
dan orang-orang yang beriman agar mengucapkan “salam” kepada orang-orang beriman yang mereka temui, atau bila berpisah antara satu dengan yang lain.
Ucapan salam itu adakalanya “salamun alaikum”,
adakalanya “Assalamu alaikum” atau “Assalamu alaikum warahmatulloh wabarakatuh”.

Perkataan salam berarti selamat, sejahtera atau damai.
Assalam ialah salah satu dari nama-nama Allah, yang berarti bahwa Allah subhanahu wa ta’ala selamat dari sifat-sifat yang tidak layak baginya, seperti sifat lemah, miskin, baharu, mati dan sebagainya.

Ucapan Salam yang diperintahkan Allah agar orang-orang mukmin mengucapkannya dalam ayat ini, mengandung pengertian bahwa Allah menyatakan kepada orang-orang yang telah masuk Islam, mereka telah selamat dan sejahtera dengan masuk Islam itu, karena dosa-dosa mereka telah diampuni, jiwa dan darah mereka telah dipelihara oleh kaum muslim dan mereka telah mengikuti petunjuk yang membawa mereka kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan salam dalam ayat ini, ialah salam yang harus diucapkan Rasulullah ﷺ kepada orang orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh orang-orang Quraisy, yang datang kepada Rasulullah ﷺ di waktu beliau sedang berbicara dengan pembesar-pembesar Quraisy.
Janganlah mereka diusir, sehingga menyakitkan hatinya.
ekalipun mereka miskin tetapi kedudukan mereka lebih tinggi di sisi Allah, karena itu ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik atau suruhlah mereka menunggu sampai pembicaraan dengan pembesar-pembesar Quraisy itu selesai.
Menurut golongan ini bahwa pendapat mereka sesuai dengan sebab ayat diturunkan.

Kepada orang-orang yang masuk Islam itu Allah menjanjikan akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, sebagai suatu kemurahan dari pada-Nya.
Di antara rahmat yang dilimpahkan Allah itu ialah tidak dihukumnya orang orang yang:

1.
Berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah perbuatan maksiat.
2.
Mengerjakan larangan karena tidak sadar, lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.
Kemudian mereka bertobat dan menyesal atas perbuatan itu, mereka berjanji tidak akan mengulangi lagi, serta mengadakan perbaikan dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik dan mengikis habis pengaruh perkataan buruk itu dalam hatinya, hingga jadilah hati dan jiwanya bersih dan dirinya bertambah dekat kepada Allah.

Dari ayat ini dapat diambil suatu dasar dalam menetapkan hukuman bahwa hal-hal yang dapat menghapuskan, mengurangi atau meringankan hukuman bagi seorang yang akan atau telah diputuskan hukumannya ialah:

1.
Kesalahan yang diperbuatnya itu dilakukan tanpa disadarinya, atau perbuatan itu dilakukan tanpa iradah (kemauan) dan ikhtiarnya.
2.
Tindak tanduk atau tingkah lakunya menunjukkan bahwa ia telah berjanji hatinya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, ia telah menyesal karena mengerjakan kejahatan tersebut, serta ia telah melakukan perbuatan perbuatan baik.

Al An 'aam (6) ayat 54 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila kamu didatangi oleh orang-orang yang mempercayai Al Quran, katakan kepada mereka, sebagai penghormatan, “Selamat atas kalian.
Aku beri kabar gembira tentang kasih sayang yang Allah wajibkan kepada diri-Nya.
Suatu kasih sayang yang mengharuskan bahwa bila seseorang di antara kalian berbuat kejahatan karena tidak mengetahui akibatnya, kemudian ia kembali kepada Allah dengan perasaan menyesal dan bertobat serta memperbaiki perbuatannya, Allah pasti akan memaafkannya.
Sebab ampunan dan rahmat Allah amat luas.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah) kepada mereka (“Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu telah menetapkan) telah memastikan (Tuhanmu atas diri-Nya kasih sayang, yaitu bahwasanya) yakni perihalnya, di dalam suatu qiraat dibaca dengan fathah yaitu annahu sebagai badal atau kata ganti dari Lafal ar-rahmah (siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan) terhadap perbuatan itu sewaktu ia melakukannya (kemudian ia bertobat) kembali ke jalan yang benar (setelah itu) setelah mengerjakannya (dan mengadakan perbaikan) terhadap amal perbuatannya (maka sesungguhnya Ia) yakni Allah subhanahu wa ta’ala (Maha Pengampun) kepadanya (lagi Maha Penyayang.”) kepada dirinya.
Menurut qiraat lainnya dibaca dengan fatah, artinya maka Dialah yang memberi ampunan dan kasih sayang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila kamu wahai Nabi didatangi oleh orang-orang yang membenarkan ayat-ayat Allah yang membuktikan kebenaranmu sebagai nabi, baik ayat tersebut adalah al-Qur an atau selainnya, mereka bertanya kepadamu tentang dosa-dosa masa lalu, maka hormatilah mereka dengan menjawab salam mereka.
Sampaikan berita gembira dengan rahmat Allah yang luas, karena Allah telah menetapkan rahmat untuk hamba-hamba-Nya sebagai karunia dari-Nya, bahwa siapa yang melakukan dosa karena ketidaktahuan darinya terhadap akibatnya, bahwa ia menghadirkan murka Allah.
Semua pendurhaka kepada Allah, sengaja atau tidak sengaja adalah orang bodoh dengan pertimbangan ini, sekalipun dia mengetahui larangan.
Kemudian dia bertaubat setelahnya dan selalu menjaga amal shalih, maka sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosanya, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat.
Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah :

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, “SaTamun ‘alaikum.”

Artinya, hormatilah mereka dengan menjawab salam mereka, dan sampaikan berita gembira kepada mereka bahwa rahmat Allah yang luas mencakup mereka semua.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Tuhan kalian telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.

Yakni Dia telah mewajibkan rahmat atas diri-Nya Yang Mahamulia sebagai karunia dari-Nya, kebaikan, dan anugerah-Nya buat mereka.

Yaitu bahwa barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kalian lantaran kejahilan.

Sebagian ulama Salaf mengatakan, semua orang yang durhaka kepada Allah adalah orang yang jahil.

Mu’tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari Al-Hakam ibnu Aban ibnu Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya: Barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kalian lantaran kejahilan.
(Al An’am:54) Bahwa dunia seluruhnya merupakan kejahilan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

…kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan.

Yakni kembali kepada jalan yang benar dari kebiasaan maksiatnya dan kapok serta bertekad tidak akan mengulanginya lagi, serta memperbaiki amal perbuatannya di masa mendatang.

…maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah apa yang telah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami, yaitu bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Setelah Allah melakukan peradilan terhadap makhluk-(Nya), maka Dia menetapkan pada kitab-Nya yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arasy, bahwa sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Sahihain.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah.
Musa ibnu Uqbah meriwayatkannya dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Lais dan lain-lainnya, dari Muhammad ibnu Ajian, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang sama.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui jalur Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila Allah telah menyelesaikan peradilan-Nya di antara makhluk semuanya, maka Dia mengeluarkan suatu kitab dari bawah ‘Arasy (yang tercantum padanya), “Sesungguhnya rahmat­Ku mendahului murka-Ku, dan Aku adalah Yang Maha Pelimpah Rahmat.” Lalu Allah menggenggam sekali atau dua kali genggaman dan mengeluarkan dari neraka sejumlah banyak makhluk yang tidak pernah melakukan suatu kebaikan pun, di antara kedua mata mereka (yakni pada kening mereka) tertuliskan, “Orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah (dari neraka).”

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Asim ibnu Sulaiman, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Salman sehubungan dengan firman-Nya: Tuhan kalian telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.
(Al An’am:54) Bahwa sesungguhnya di dalam kitab Taurat Kami menjumpai dua jenis kasih sayang, yaitu: Allah subhanahu wa ta’ala.
menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat, atau Dia menjadikan seratus rahmat sebelum menciptakan makhluk.
Kemudian Dia menciptakan makhluk dan meletakkan sebuah rahmat di antara mereka, sedangkan yang sembilan puluh sembilan rahmat Dia pegang di sisi-Nya.
Salman melanjutkan kisahnya, “Dengan satu rahmat itulah para makhluk berkasih sayang, saling mengasihi, saling memberi, dan saling menolong.
Dengan satu rahmat itulah unta betina mengasihi anaknya, sapi betina mengasihi anaknya, kambing betina mengasihi anaknya, dan ikan-ikan di laut saling beriringan.
Maka apabila datang hari kiamat, Allah mengumpulkan rahmat itu dengan rahmat yang ada di sisi-Nya, dan rahmat-Nya jauh lebih utama dan lebih luas.

Hal ini telah diriwayatkan pula secara marfu melalui jalur lain.
Dalam pembahasan berikutnya akan disebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah ini, yaitu pada tafsir firman-Nya:

dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.
(Al A’raf:156)

Di antara hadis-hadis yang berkaitan dengan ayat ini ialah sabda Nabi ﷺ kepada sahabat Mu’az ibnu Jabal:

“Tahukah kamu, apakah hak Allah yang dibebankan atas hamba-hamba-Nya?
Yaitu hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda pula: Tahukah kamu, apakah hak hamba-hamba Allah atas Allah apabila mereka melakukan hal tersebut?
Yaitu hendaknya Dia tidak mengazab mereka.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya melalui jalur Kumail ibnu Ziyad, dari Abu Hurairah r.a.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 54

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 52-53) berkenaan dengan enam orang, diantaranya Sa’d bin Abi Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud.
Kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi ﷺ: “Usir mereka (keenam orang hina itu), karena kami malu menjadi pengikutmu setingkat dengan mereka.” Perkataan itu tidak menyenangkan Nabi.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 52-53) sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk membeda-bedakan martabat sesama manusia.

Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan Ibnu Abii Hatim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah ﷺ yang sedang duduk bersama Khabbab bin al Arat, Shuhail, Bilal, dan ‘Ammar (para ‘abid yang sudah dimerdekakan).
Mereka berkata: “Hai Muhammad, apakah engkau rela duduk setingkat dengan mereka.
Adakah mereka itu telah diberi nikmat oleh Allah lebih dari kami?
Sekiranya engkau mengusir mereka, kami akan menjadi pengikutmu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 51-55) yang melarang kaum Mukminin membeda-bedakan martabat seseorang, karena sesungguhnya Allah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin ‘Adi, dan al-Harits bin Naufal dari kalangan pembesar-pembesar kafir Bani ‘Abdi Manaf, datang kepada Abu Thalib dan berkata: “Jika anak saudaramu (Muhammad) mengusir budak-budak itu, kami akan merasa lebih bangga, dan kami akan lebih taat dan setia kepadanya.”
Adapun budak-budak tersebut adalah Bilal, ‘Ammar bin Yasir, Salim maulaa Abu Hudzaifah, Shalih maulaa Usaid, Ibnu Mas’ud, al-Miqdad bin ‘Abdillah, Waqid bin ‘Abdillah al-Hanzhali, dan teman-temannya.
Lalu Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Nabi ﷺ.
Maka berkatalah ‘Umar bin al-Khaththab: “Sekiranya tuan melaksanakan permintaan mereka, kita lihat nanti apa sebenarnya yang mereka inginkan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 51-53) yang memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan wahyu yang melarang mengusir orang-orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan melarang menilai derajat seseorang.
Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur kepada-Nya.
Setelah itu ‘Umar meminta maaf atas ucapannya itu, dan turunlah ayat selanjutnya (al-An’am: 54) sebagai jaminan ampunan bagi orang-orang yang bertobat dari kesalahan, karena ketidaktahuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Khabbab bahwa al-Aqra bin Habis dan ‘Uyainah bin Hishn datang menghadap Rasulullah ﷺ, di saat beliau duduk dikelilingi Shuhaib, Bilal, ‘Ammar bin Yasir, dan Khabbab dari kalangan kaum Mukminin yang dianggap hina.
Mereka meminta Nabi, dengan sikap meremehkan orang-orang yang hadir, untuk dapat berbicara di luar mereka.
Dalam pembicaraan tersebut mereka menginginkan agar diadakan suatu majelis khusus untuk menerima delegasi-delegasi pembesar bangsa Arab, karena mereka merasa malu harus duduk bersama-sama dengan orang-orang yang dianggap hina oleh mereka.
Mereka juga mengusulkan agar orang-orang yang dianggap hina itu diusir saja jika pembesar-pembesar itu datang, dan baru boleh duduk kembali bersama mereka apabila sudah selesai.
Nabi ﷺ mengiyakannya.
Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 52).
Ayat tersebut dibacakan pada al-Aqra dan temannya, kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya (al-An’am: 53)

Pada waktu itu Rasulullah ﷺ duduk kembali beserta kaum Mukminin.
Dan ketika Aqra akan pergi, Rasulullah berdiri meninggalkan kaum Mukminin.
Maka turunlah ayat, washbir nafsaka ma’al ladziina yad’uuna rabbahum…(dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya…) sampai akhir ayat (al-Kahfi: 28), yang menyuruh Nabi untuk tetap duduk bersama kaum Mukminin yang dianggap hina oleh kaum zalim.

Keterangan: menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib, karena ayat ini Makkiyyah, sedang al-Aqra dan ‘Unaiyah masuk Islam beberapa lama setelah hijrah.

Diriwayatkan oleh al-Farabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Mahan bahwa suatu waktu orang-orang datang menghadap Rasulullah ﷺ seraya berkata: “Kami mengerjakan dosa-dosa yang besar.” Rasulullah ﷺ tidak menjawab apa-apa, sampai turun ayat ini (al-An’am: 54) yang menjelaskan bahwa tobat orang-orang yang berbuat dosa tanda pengetahuan dan kemudian berbuat baik, akan diampuni Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 54 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 54



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku