Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 52


وَ لَا تَطۡرُدِ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَدٰوۃِ وَ الۡعَشِیِّ یُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَہٗ ؕ مَا عَلَیۡکَ مِنۡ حِسَابِہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ وَّ مَا مِنۡ حِسَابِکَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَتَطۡرُدَہُمۡ فَتَکُوۡنَ مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ
Walaa tathrudil-ladziina yad’uuna rabbahum bil ghadaati wal ‘asyii-yi yuriiduuna wajhahu maa ‘alaika min hisaabihim min syai-in wamaa min hisaabika ‘alaihim min syai-in fatathrudahum fatakuuna minazh-zhaalimiin(a);

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.
Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).
―QS. 6:52
Topik ▪ Takwa ▪ Ikhlas dalam berbuat ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
6:52, 6 52, 6-52, Al An ‘aam 52, AlAnaam 52, Al Anaam 52, Al Anam 52, AlAnam 52, Al An’am 52
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 52. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Hatim dan Tabrani dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah ﷺ dan di dekat Nabi ada sahabat nabi yang dianggap rendah kedudukannya oleh orang-orang quraisy, seperti Suhaib, Ammar, Khabbab dan yang lainnya.
Para pembesar quraisy itu berkata, “Ya Muhammad! Apakah kamu rela mereka yang rendah derajat itu menjadi pengganti kami?
Apakah mereka itu orang-orang yang dikaruniai Allah di antara kita?
Apakah kami akan menjadi pengikut mereka?
Maka singkirkanlah mereka dari kamu, mudah-mudahan jika mereka telah tersingkir, kami akan mengikuti “engkau”.
Maka Allah menurunkan ayat 50, 52 dan 53 surah ini.

Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan agar Rasulullah jangan sekali-kali mengabaikan orang-orang yang menyembah dan menyeru Allah pagi dan petang, semata-mata untuk mencari keridaan Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya, walaupun mereka itu adalah orang-orang miskin atau orang-orang yang termasuk orang-orang yang rendah di dalam masyarakat.

Mereka beribadah, beramal dan bersedekah semata-mata karena Allah, tidak menginginkan puja dan puji dari manusia, sebagaimana tersebut dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu, hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah.
Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

(Q.S Al Insan: 9)

Dan firman Allah:

Padahal tidak ada seorangpun memberikan sesuatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya yang Maha Tinggi dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
(Q.S Al Lail: 19-21)

Sekalipun di antara mereka ada orang dipandang rendah kedudukannya dalam masyarakat tetapi dia di sisi Allah adalah orang yang paling mulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

(Q.S Al Hujurat: 13)

Ayat di atas dan asbabnuzulnya mengisyaratkan pada Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa telah berlaku pula sunah Allah pada beliau seperti yang telah berlaku pada Rasul-rasul yang terdahulu, yaitu kebanyakan dari orang-orang yang mula-mula beriman dan mengikuti seruan mereka adalah orang-orang yang mempergunakan akal pikirannya tetapi mereka adalah orang-orang yarg miskin atau orang-orang yang dipandang hina oleh masyarakatnya, sedang pemuka-pemuka masyarakat dan orang-orang kaya memusuhi dan mengingkari seruan Rasul, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala

Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seoang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negara itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (dari pada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.
(Q.S Saba’: 34-35)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-arang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.
(Q.S Hud: 27)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala, memperingatkan Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa dia tidak berwenang menilai perbuatan orang-orang yang menyeru dan menyembah Allah pagi dan petang itu, sebagaimana pula mereka tidak berwenang menilai perbuatan Rasul.
Yang berwenang menilai semuanya hanyalah Allah karena Dia Pemilik dan Penguasa Semesta Alam.
Orang-orang Mukmin bukanlah budak dan bukan pula pesuruh atau pegawai Rasul, mereka adalah hamba Allah bertugas menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kami hanyalah orang-orang memberi peringatan.
Kamu bukanlah orang yang berkuasa alas mereka.

(Q.S Al Ghasiyah: 21-22)

Oleh sebab itu janganlah sekali-sekali Nabi Muhammad mengusir orang-orang yang menyembah dan menghambakan diri pagi atau petang itu.
Jika Nabi ﷺ.
melakukannya maka berarti ia termasuk orang-orang yang zalim karena yang berwenang menilai dan memberi balasan itu hanyalah Allah semata.

Al An 'aam (6) ayat 52 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 52 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 52 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, jangan engkau penuhi seruan orang-orang kafir yang sombong hingga engkau mengusir orang-orang Mukmin lemah yang selalu menyembah Allah dan hanya mengharapkan rida-Nya! Jangan engkau perhatikan penindasan mereka terhadap orang-orang Mukmin! Karena kamu tidak bertanggung jawab di hadapan Allah atas sesuatu yang mereka perbuat, sebagaimana mereka juga tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatanmu.
Apabila engkau memenuhi seruan orang-orang kafir yang keras kepala itu, lalu engkau mengusir orang-orang Mukmin, maka engkau telah termasuk orang-orang yang lalim.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari sedangkan mereka menghendaki) dengan ibadahnya itu (keridaan-Nya) Yang Maha Tinggi bukannya untuk tujuan meraih sesuatu dari keduniaan.
Mereka adalah kaum muslimin yang miskin sedangkan kaum musyrikin sangat tidak menyukai mereka lalu orang-orang musyrik meminta kepada Nabi ﷺ agar beliau mengusir mereka dari sisinya supaya orang-orang musyrik itu dapat duduk bersama-sama dengan beliau.
Kemudian Nabi ﷺ bermaksud untuk memenuhi permintaan orang-orang musyrik itu agar mereka mau masuk Islam.
(Kamu tidak memikul tanggung jawab terhadap perbuatan mereka) huruf min adalah tambahan (sedikit pun) jika hati mereka tidak rela (dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu yang menyebabkan kamu berhak mengusir mereka) sebagai jawab dari nafi (sehingga kamu termasuk orang-orang yang lalim) jika kamu melakukan hal itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jangan mengusir wahai Nabi dari majlismu orang-orang muslim yang lemah yang menyembah Tuhan mereka di awal siang dan akhirnya.
Mereka berharap wajah Allah dengan amal-amal shalih mereka.
Kamu bukanlah petugas hisab atas mereka, karena hisab mereka ada di tangan Allah, dan bukan menjadi kewenanganmu sedikit pun.
Bila kamu menjauhkan mereka maka kamu termasuk orang-orang yang melampaui batasan-batasan Allah, yang meletakkan suatu perkara bukan pada tempatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dengan kata lain, janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyandang predikat tersebut dari sisimu, melainkan jadikanlah mereka sebagai teman-teman dudukmu dan teman-teman dekatmu.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
(Al Kahfi:28)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…orang-orang yang menyeru Tuhannya.

Yakni menyembah-Nya dan memohon kepada-Nya.

…di pagi hari dan petang hari.

Menurut Sa’id ibnul Musayyab, Mujahid, dan Qatadah, makna yang dimaksud ialah salat fardu.
Makna doa dalam ayat ini adalah seperti yang dianjurkan oleh firman-Nya:

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku (serulah Aku), niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian.”

Maksudnya, Aku menerima doa kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…sedangkan mereka menghendaki keridaan-Nya.

Yakni dengan amalnya itu mereka menghendaki rida Allah, mereka kerjakan semua ibadah dan amal ketaatan dengan hati yang ikhlas karena Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.

Seperti yang dikatakan oleh Nabi Nuh ‘alaihis salam dalam menjawab ucapan orang-orang yang mengatakan, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”

Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?
Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kalian menyadari.
(Asy Syu’ara:112-113)

Dengan kata lain, sesungguhnya perhitungan amal perbuatan mereka hanyalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala., dan aku tidak memikul tanggung jawab hisab mereka barang sedikit pun, sebagaimana mereka pun tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap perhitungan amal perbuatanku.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Yakni jika kamu melakukan hal tersebut, akibatnya adalah seperti itu.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Asbat (yaitu Ibnu Muhammad), telah menceritakan kepadaku Asy’as, dari Kardus, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ada segolongan pemuka Quraisy lewat di hadapan Rasulullah ﷺ Pada saat itu di sisi beliau terdapat Khabbab, Suhaib, Bilal, dan Ammar.
Lalu mereka (para pemuka Quraisy) berkata, “Hai Muhammad, apakah kamu rela menjadi teman orang-orang itu (yakni yang ada di sisi Nabi ﷺ)?”
Maka turunlah ayat ini: Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya.
(Al An’am:51) sampai dengan firman-Nya: Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?
(Al An’am:53)

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Asy’as, dari Kardus, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa segolongan pemuka Quraisy lewat di hadapan Nabi ﷺ yang ketika itu sedang ditemani oleh Suhaib, Bilal, Ammar, Khabbab, dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang muslim yang daif.
Lalu para pemuka Quraisy itu berkata, “Hai Muhammad, apakah engkau rela orang-orang itu sebagai kaummu?
Apakah mereka adalah orang-orang yang dianugerahi oleh Allah di antara kami?
Apakah pantas kami akan mengikuti jejak orang-orang itu?
Usirlah mereka! Barangkali jika engkau mengusir mereka, kami akan mengikutimu.” Maka turunlah firman-Nya: Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridaan-Nya.
(Al An’am:52) Sampai dengan firman-Nya: Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang-orang miskin).
(Al An’am:53), hingga akhir ayat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Sa’id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Muhammad Al-Anqazi, telah menceritakan kepada kami Asbat ibnu Nasr, dari As-Saddi, dari Abu Sa’id Al-Azdi —qari’ Al-Azdi—, dari Abul Kunud, dari Khabbab sehubungan dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari.
(Al An’am:52) Bahwa Al-Aqra’ ibnu Habis At-Tamimi dan Uyaynah ibnu Hasan Al-Fazzari datang, lalu mereka menjumpai Rasulullah ﷺ yang pada saat itu sedang ditemani oleh Suhaib, Bilal, Ammar, dan Khabbab.
Ketika itu Rasulullah ﷺ sedang duduk di antara segolongan kaum mukmin yang duafa.
Ketika mereka melihat orang-orang itu berada di sekitar Nabi ﷺ, mereka menghina orang-orang duafa itu di hadapan teman-teman mereka.
Lalu mereka datang kepada Nabi ﷺ, dan kaum duafa membiarkan Nabi ﷺ menemui mereka.
Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kami menginginkan agar engkau membuat suatu majelis khusus buat kami, mengingat semua orang Arab telah mengenal keutamaan kami.
Karena delegasi-delegasi dari banyak kalangan orang-orang Arab sering datang kepadamu, maka kami akan merasa malu bila mereka melihat kami ada bersama para budak ini.
Untuk itu apabila kami datang kepadamu, tolong usirlah mereka dari kami, dan jika kami telah selesai dengan urusan kami, silakan engkau duduk kembali bersama mereka jika engkau suka.” Nabi ﷺ menjawab, “Baiklah.” Mereka berkata, “Kalau demikian, tentukanlah olehmu hari-harinya buat kami secara tertulis.” MakaNabi ﷺ memanggil sahabat Ali dan meminta sebuah lembaran, kemudian beliau ﷺ memerintah­kan Ali untuk mencatat hal tersebut, sedangkan ketika itu kaum duafa berada di suatu sudut yang agak jauh dari mereka.
Dan pada saat itu juga turunlah Malaikat Jibril seraya membawa firman-Nya: Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya (Al An’am:52), hingga akhir ayat.
Maka Rasulullah ﷺ melemparkan lembaran itu dari tangannya, kemudian beliau memanggil kami, maka kami pun datang kepadanya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Asbat dengan lafaz yang sama.
Tetapi hadis ini garib, karena sesungguhnya ayat ini Makkiyyah, sedangkan Al-Aqra’ ibnu Habis dan Uyaynah baru masuk Islam hanya setelah hijrah selang beberapa tahun kemudian.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-Miqdam ibnu Syuraih, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Sa’d pernah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan enam orang sahabat Nabi ﷺ, antara lain Ibnu Mas’ud.

Sa’d melanjutkan kisahnya, “Kami selalu menemani Rasulullah ﷺ dan dekat dengannya untuk mendengar sabda-sabda beliau ﷺ Maka orang-orang Quraisy berkata, ‘Engkau selalu mendekati mereka dan menjauh dari kami’.” Maka turunlah ayat ini:

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan di petang hari.

Imam Hakim meriwayatkannya dalam kitab Mustadrak melalui jalur Sufyan.
Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sesuai dengan syarat Syaikhain.
Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya telah mengetengahkan hadis ini melalui jalur Al-Miqdam ibnu Syuraih dengan lafaz yang sama.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 52 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 52



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku